TUGAS K3-4 STELA

Nama : Rheka Astri Gurning

NIM : 175040200111178

Kelas : C
TUGAS MINGGU KE-4

1. Pengayaan materi/pengerjaan bahan diskusi minggu ke-3 (Pelaksanaan Survei Tanah)

Dalam melaksanakan survei tanah, ada 3 tahap kegiatan yaitu:

A. Tahap Persiapan

1. Menentukan Tujuan Survei Tanah Tujuan survei tanah dibedakan atas survei bertujuan umum yang ditujukan untuk dapat memberikan keterangan dan data sebagai dasar penafsiran untuk berbagai penggunaan yang berbeda biasanya menghasilkan peta pedologi,dan survei bertujuan khusus yang dilakukan jika telah diketahui tujuan dan kegunaan survei tersebut misalnya untuk irigasi dan penanaman tanaman.

2. Mengestimasi Biaya Survei Tanah Macam survei dan skala peta yang akan dihasilkan sangat berhubungan dengan intensitas pengamatan lapangan dengan demikian sangat menentukan besarnya biaya yang diperlukan. Semakin detail survei maka semakin tinggi intensitas pengamatan lapangan yang diperlukan sehingga biaya persatuan luas semakin tinggi. Komponen biaya dibagi dua yaitu upah atau gaji yaitu meliputi gaji tenaga ahli, anggota, tenaga kerja lokal dan juga biaya survei meliputi biaya transportasi, membeli alat survei.

3. Merumuskan Kerangka Acuan (TOR=Terms of Reference) Perumusan kerangka acuan perlu dilakukan agar pihak pelaksana survei maupun pihak pengguna, mencapai kesepakatan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan survei tanah tersebut.

4. Membuat Surat Perjanjian Kerjasama Dilakukan agar kedua belah pihak mempunyai landasan dan kekuatan hukum , seandainya salah satu pihak tidak menepati hal-hal yang telah disetujui dalam TOR.

5. Mengurus Perijinan

6. Mengumpulkan Data-Data Sekunder Data yang perlu dikumpulkan meliputi:

a. Iklim dan hidrologi. Informasi mengenai iklim diperlukan dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan pertanian. Data iklim diambil dari semua stasiun iklim atau stasiun penakaran curag hujan maupun dari publikasi yang dikeluarkan Badan Metereologi dan Geofisika. Stasiun pewakil ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan kesamaan ekosistem meliputi: tanah, ketinggian, posisi geografis dan penggunaan lahan.

b. Keadaan geologi dan bahan induk. Keadaan geologi dan pengetahuan tentang litologi setempat mempengaruhi penetapan nama bahan induk. Bahan induk bersusunan bahan anorganik berasal dari pelapukan batuan induk sedangkan yang bersusun bahan organik berasal dari bahan infuk organik. Bahan induk dibagi dua grup yaitu lepas/lunak dan kukuh.

c. Keadaan topografi (relief dan lereng). Keadaan topografi daerah tercermin dari peta topografi atau peta rupa bumi. Keadaan lereng suatu daerah sangat mempengaruhi penggunaan lahan.

d. Keadaan vegetasi dan penggunaan lahan. Vegetasi dan penggunaan lahan secara umum dipengaruhi oleh keadaan tanah dan ketersediaan air. Tipe penggunaan lahan yang dapat dikembangkan di daerah survei sangat dipengaruhi oleh keadaan sifat tanah dan fisik lingkungannya. Kriteria utama yang digunakan dalam menentukan klasifikasi penggunaan lahan dan vegetasi diutamakan pada jenis dan vegetasi permanen di daerah itu.

e. Keadaan tanah. Informasi awal keadaan tanah yang akan diteliti sangat bermanfaat sebagai pembanding tentang tanah-tanah yang dijumpai di daerah survei.

f. Keadaan sosial ekonomi penduduk. Data ini diperlukan terutama untuk perencanaan penggunaan lahan yang akan diusulkan didaerah tersebut.

7. Melakukan Pengadaan Foto Udara dan Citra Satelit Diperlukan untuk memberikan informasi tambahan bagi foto udara. Idelanya skala foto udara yang digunakan untuk survei tanah adalah 2 kali lebih besar dari skala peta publikasi.

8. Menyiapkan Peta Dasar Peta dasar dari peta rupa bumi harus disederhanakan dengan menghilangkan detail-detail yang tidak diperlukan, seperti garis kontur yang terlalu rapat. Informasi maupun objek yang terdapat pada peta dasar harus diperbaharui sesuai informasi baru yang diperoleh.

9. Melakukan Interpretasi Foto Udara dan Citra Satelit

10. Menyiapkan Peta Lapangan. Peta lapangan merupakan peta rencana rintisan dibuat dengan wujud lahan. Perlu diperhatikan letak sebaran dan proporsi daerah kunci atau key area.

11. Menyusun Jadwal Pelaksanaan.

12. Menyiapkan Alat dan Bahan Survei.
B. Tahap Survei Lapangan

1. Pra-survei Hal yang dilakukan dalam pra-survei:

a. Mengurus ijin didaerah survei, mulai tingakt desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

b. Melakukan overview keseluruh daerah survei.

c. Menyiapkan basecamp dan tenaga kerja.

d. Memantapkan perencanaan survei utama.

2. Survei Utama

a. Mengadakan pengamatan lapangan Pengamatan identifikasi dilakukan dengan jalan pemboran atau pengamatan lainnya yang bertujuan mengenal satuan taksonomi. Karakteristik tanah yang penting diamati meliputi tebal horison, warna, tekstur, keadaan batuan, kedalaman efektif tanah, keadaan drainase tanah dan lainnya. pengamatan detail delakukan pada minipit yaitu lubang pengamatan tanh yang dibuat menggunakan skop dengan ukuran 40x40x50 cm. Deskripsi profil tanahdilakukan menurut pedoman yang berlaku. Cara pengamatan dalam suatu survei yaitu pada taraf permulaan survei, pengamatan detail/minipit dilakukan terlebuh dahulu dengan tujuan membangun kisaran karakteristik bagi satuan taksonomi. Kemudian dilakukan seleksi untuk menentukan modal-profile dengan jalan membuat kisaran sifat masing-masing satuan tanah yang sama yang dihasilkan dari pengamatan minipit dan pemboran. Selanjutnya pada tahap akhir survei tanah dilakukan tambahan pengamatan berupa pemboran dan minipit secara bergantian untuk melakukan pengecekan apakah komponen tanah pada setiap satuan peta tanah, telah sesuai dengan yang tercantum dalam legenda peta tanah sementara.

b. Pengamatan pada Daerah Kunci (Key-area) Daerah kunci merupakan daerah terpilih dalam suatu daerah survei yang didalamnya secara berdekatan, terdapat sebanyak mungkin satuan peta yang ada di seluruh daerah survei tersebut. Fungsinya yaitu mempelajai tanah secara lebih detail, membuat definisi satuan peta satuan peta dengan jalan menyusun legenda peta sementara. Beberapa syarat untuk daerah kunci harus dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di daerah survei dan haru smudah diakses atau tidak sulit dikunjungi.
Transek juga merupakan daerah kunci sederhana dalam bentuk jalur atau rintisan yang mencakup sebanyak mungkin satuan peta atau satuan wujud-lahan.

3. Pengambilan Contoh Tanah

Contoh tanah diambil mulai dari horizon bawah ke horizon paling atas dialkukan agar terhindar dari pencemaran. Contoh tanah diambil sekitar 1-1,5 kg dan sebaiknya mencakup seluruh horizon yang bersangkutan. Dalam rangka menekan keragaman musim, terutama dalam lapisan tanah atas yang banyak mengandung bahan organik, kegiatan pengambilan contoh tanah harus dilakukan pada periode dengan aktivitas biologi yang rendah misalnya pada saat musim dingin atau musim kemarau.

4. Pembuatan Peta Tanah Sementara

Titik-titik pengamatan baik berupa minipit, pemboran maupun profil tanah langsung diplot pada foto udara atau peta pengamatan lapangan pada saat pengamatan, sesuai dengan kode pengamatannya. Yang sangat penting didiskusikan adalah mengenai penamaan tanah sesuai dengan sistem klasifikasi tanah yang digunakan, serta sebaran dan proporsi tanah tersebut dalam satuan wujud-lahan. Selanjutnya menyusun legenda peta tanah sementara.

C. Pelaksanaan Survei pada berbagai Skala Survei Tanah

1. Surve Tanah Tingkat Tinjau / Reconnaissance Soil Survey. Survei tanah tingkat tinjau dengan skala 1:250.000 umumnya merupakan suatu kegiatan untuk keperluan perencanaan tingkat regional atau provinsi. Satuan tanah yang digunakan adalah grup/great grup atau subgrup dari sistem taksonomi tanah.

2. Survei Tanah Tingkat Semi Detail/ Semi Detailed Soil Map. Peta tanah semi detail dengan skala 1:50.000 sampai dengan 1:25.000, digunakan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada tingkat kabupaten atau proyek pengmbangan peta. Satuan tanah yang digunakan adalh tingkat famili dan atau seri. Setiap seri tanah harus diwakili paling tidak oleh dua pedon pewakil. Untuk menyusun selang sifatnya digunakan semua data minipit dan pemboran.

3. Survei Tanah Tingkat Detail Survei tanah ini untuk keperluan operasional lapangan misalnya pembagian suatu perkebunan kedalam blok-blok, keperluan budidaya pertanian dan perencanaan detail dari suatu wilayah desa hingga tingkat kecamatan. Skala yang dihasilkan antara 1:10.00- 1:25.000. pengamatan lapangan digunakan
dengan menggunkan foto udara skala 1:5.000 atau 10.000. Batas sataun peta tanah langsung didelineasi pada foto udara didasarkan atas physiographic approach denagan satuan fisiografi berupa faset (lereng atas, lereng tengah, lereng bawah) yang ditunjang oleh hasil pengamatan tanah di lapangan.

4. Analisi Laboratorium Contoh Tanah, Pembuatan Peta, dan Pelaporan Analisi kesuburan tanah meliputi tekstur, pH, bahan organik, nitrogen, pospat, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, Al- dan H+ ditukar dan besi bebas. Beberapa analisis khusus seperti kandungan unsur mikro dan lainnya kadang diperlukan tergantung tujuan survei. Analisi susunan mineralogi tanah meliputi mineral fraksi pasir dan analisis mineral liat/debu. Analisis ini diperlukan untuk menunjang penetapan bahan induk tanah, klasifikasi tanah, kesuburan tanah serta untuk evaluasi lahan.

2. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

Penentuan luasan SPT terkecil 0.4cm² dilakukan untuk memudahkan menghitung dan memperkirakan perbesaran dalam keadaan yang sebenarnya dalam pembuatan peta. Hal ini sesuai dengan pendapat Forbes (1986) satuan peta tanah dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta kompleks tidak dapat membentuk satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1:24.000. Pada skala tersebut luasan 0,4 pada peta adalah 2,3 ha di lapangan dapat membentuk satuan peta tersendiri. Dengan kata lain pada spt 0,4 jika komponen petanya di delineasi maka akan terbentuk satuan yang kompleks.

Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Dibenarkan jika kita membesarkan peta analog dengan scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000, karena akan semakin kecil kenampakkan wilayah yang digambarkan dan semakin sedikit pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu. Sebaliknya apabila kita mengecilkan skala peta, semakin luas areal kenampakkan permukaan bumi yang tergambar dalam peta dan semakin banyak pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu.

2.3. Skala peta

1. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

 Eksplorasi (1: 1000.000)

 Tinjau (1:250.000)

 Semi detil (1:50.000)

 Detil (1:25.000)

 Sangat Detil (1:5 000)

Jawaban :

1. Diketahui : 1: 10.000, luas peta : 0,8 cm2 Luas asli = 0,8 x (10.000)² = 8 x 10⁸ = 8 x 10⁷ = 0,8 ha

 Eksplorasi Diketahui : 1:1.000.000 Luas sebenarnya = 0,8 cm2 x (1.000.000)2 = 0,8 x 1012 cm2 = 8000 ha
 Tinjau Diketahui : 1: 250.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (250.000)2 = 0,8 x 625 x cm8 = 500 ha

 Semi detil Diketahui : 1 : 50.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (50.000) 2 = 0,8 x 25 x 108 = 20 ha

 Detil Diketahui : 1 : 25.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (25.000)2 = 0,8 x 625 x 106 = 5 ha

 Sangat detil Diketahui : 1 : 5.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (5.000)2 = 0,8 x 25 x 106 = 20 x 106 = 0,2 ha

2. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

Jawab

a. Eksplorasi (1: 1000.000) Peta tanah eksplorasi menyajikan keterangan tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Survei yang dilakukan untuk membuat peta ini dengan cara menggunakan helikopter atau dilakukan sepanjang jalan, serta dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra satelit. Intensitas pengamatan sangat rendah dengan skala bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:1.000.000.

b. Tinjau (1:250.000) Peta tanah tinjau biasanya dibuat dengan skala 1:250.000. Satuan peta didasarkan atas satuan tanah-bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Pengamatan di lapangan kurang lebih 1 untuk 12,5 km2.

c. Semi detil (1:50.000) Peta ini dibuat dengan skala 1:50.000, dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan. Biasanya dilakukan dengan sistem grid yang dibantu oleh hasil interpretasi foto udara dan citra satelit.

d. Detil (1:25.000) Peta detil dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000, digunakan untuk menyiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah sehingga informasi sifat dan ciri tanah diuraikan sedetil mungkin. Jumlah pengamatan untuk tanah adalah sekitar 1 untuk setiap 2 ha sampai 12,5 ha.

e. Sangat Detil (1:5 000) Peta tanah sangat detil mempunyai skala > 1:10.000. Pengamatannya dua atau lebih untuk setiap hektarnya. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus, misalnya untuk petak percobaan pertanian guna mempelajari variabilitas respons tanaman terhadap pemupukan atau perlakuan tertentu dan lain-lain.