KOLEKSI PETA/ TUGAS MINGGU KE-3

March 14th, 2018

Nama : Rheka Astri Gurning

NIM : 175040200111178

Kelas : C

KOLEKSI PETA
A. Pengayaan pertemuan ke-3

Peta adalah suatu cara untuk merepresentasikan gambaran permukaan bumi (lokasi, obyek bumi) secara nyata pada permukaan 2D (berupa kertas, layar monitor) yang diperkecil (dalam skala tertentu) dan dapat dilihat dari atas serta didalamnya memuat berbagai informasi tentang wilayah tersebut. Skala ideal yang digunakan untuk pengamatan lapangan adalah dua kali lebih besar dari skala peta publikasi. Peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi. Pada setiap peta tanah digambarkan garis-garis batas (delineasi) tanah-tanah yang dijumpai dilapangan. Garis batas tersebut berupa poligon-poligon yang digambarkan pada peta tanah yang lazim disebut satuan peta tanah (SPT), merupakan tubuh tanah yang mewakili keadaan sebenarnya dilapangan.. Dalam sebuah peta tanah selalu berisikan lebih dari satu satuan peta tanah. Pada setiap satuan peta tanah, dapat terdiri atas satuan (taksa) tanah tertentu atau dapat pula terdiri atas dua atau lebih taksa tanah, baik berupa asosiasi maupun kompleks tanah yang didefinisikan sebagai taksonomi tanah atau sistem klasifikasi tanah lainnya.dengan demikian, peta yang hanya menyajikan karakteristik tunggal (single value) bukanlah merupakan peta tanah. Peta tanah terdiri dari beberapa macam, yaitu:

a. Berdasarkan Cara Penyajian

1. Peta tanah bersimbolkan titik (point soil maps). Peta yang menunjukkan peta titiktitik pengamatan yang sesungguhnya dilakukan, disertai dengan nama taksa tanah atau satu atau lebih sifat tanah.

2. Peta tanah poligon kelas-areal. Daerah survei dibagi atas beberapa poligon dengan menggunakan garis batas secara tegas. Nama lain dari peta ini adalah peta tanah ‘chloropleth’nyaitu peta yang menggunakan gradasi rona atau warna yang berbeda untuk menyajikan perbedaan satuan peta.

3. Peta lapangan kontinyu yang dibuat dengan metode interpolasi. Peta ini umumnya disajikan dengan isoline atau pada grid halus (model Raster dalam SIG).

4. Peta lapangan kontinyu yang dibuat melalui pengamatan langsung diseluruh daerah survei. Pada peta ini terdapat pengukuran aktual yang dilakukan pada tiap-tiap titik.

b. Berdarkan Teknik Pelaksanaannya
1. Mengamati, mendeskripsi dan mengklasifikasi profil-profil tanah/pedon pada beberapa lokasi di daerah survei.

2. Membagi kontinum atas pertil-pertil atau satuan-satuan berdasarkan pada pengamatan perubahan dalam sifat-sifat tanah eksternal, melalui interpretasi foto udara yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang dibuat tersebut.

c. Berdasarkan Tujuan

1. Peta tanah bagan dibuat sebgai hasil kompilasi dan generalisasi peta-peta tanah eksplorasi atau peta tanah tinjau. 2. Peta tanah eksplorasi menyajikan keterangan yang sangat umum tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Skala peta bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:5.000.000.

3. Peta tanah tinjau umumnya berskala 1:250.000. Peta ini dapat menggambarkan daerah-daerah yang berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.

4. Peta tanah semi-detail, umumnya dibuat dengan skala 1:50.000 dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 ha tergantung dari kemiringan bentang lahan.

5. Peta tanah detail biasanya dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000 serta ditujukan untuk mempersiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah.

6. Peta tanah sangat detail. Peta ini sangat detain mempunyai skala >1:10.000. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus .

Prinsip-prinsip survei tanah:

1. Satuan Peta Tanah Satuan peta ialah satuan lahan yang mempunyai sistem fisiografi/landform yang sama, yang dibedakan satu sama lain dilapangan oleh batas-batas alami dan dapat dipakai sebagai satuna evaluasi lahan. Satuan-satuan yang dihasilkan umumnya berupa tubuh lahan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang dibedakan oleh batas-batas alami ditempat terjadinya perubahan ciri-ciri yang paling cepat ke arah lateral. Pendekatannya merupakan pendekatan fisiografis. Satuan peta tanah disusun untuk menampung informasi penting dari suatu luasan/poligon tentang hal-hal yang berkaitan dengan survei tanah. Satuan peta tanah harus dengan mudah dapat dikenali, diukur dan dapat dipetakan pada skala yang tersedia dari peta dasarnya, waktu yang tersedia, kemampuan dari para pemetanya dan tujuan dari survei tersebut. Menurut Soil Survei Divission Staff (1993), satuan peta merupakan kumpulan daerah-daerah yang didefinisikan dan komponen tanah atau daerah aneka atau kedua

duanya diberi nama yang sama. Setiap peta tanah berbeda dalam beberapa dengan yang lainnya dalam suatu daerah survei dan daerah/luasan pada peta tersebut disebut delineasi.

2. Satuan Taksonomi Satuan taksonomi adalah sekelompok tanah dari suatu sistem klasifikasi tanah, masing-masing diwakili oleh suatu profil tanah yang mencerminkan ‘central concept’ atau konsep pusat dengan sejumlah kisaran penyimpanan sifat-sifat dari konsep pusat tersebut. Satuan taksonomi tanah seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan faktafakta yang ada dilapangan. Misalnya kita dapat saja mengelompokkan tanah-tanah dengan lapisan-bawah berwarna kelabu sebagai kelas tersendiri dan yang memiliki kontak litik yang dangkal sebagai kelas yang lain. Pengelompokan ini mungkin dapat didelineasi pada peta, tetapi pada umunya sangat sukar dilakukan karena tidak terlihat di lapangan secara langsung. Hampir tidak mungkin mendeleneasi secara akurat pada peta daerah-daerah yang benar-benar termasuk kedalam satu kelas taksonomi dilapangan. Artinya tidak seorangpun yang mampu memetakan tanah dengan satuan taksonomi. Semua tanah tersembunyi dibawah permukaan. Hanya kenampakan permukaan dan sifat-sifat permukaan tanah yang terlihat. Menurut van Wambeke dan Forbes (1986), pebedaan yang prinsip antara satuan taksonomi dan satuan peta adalah satuan taksanomi merupakan suatu konsep yang dihasilkan dari membagi tanah sejagat (soil universal) sedangkan satuan peta merupakan hasil dari pengelompokan delineasi tanah yang mempunyai nama, simbol, nama, atau lambang khas lainnya yang sama pada suatu peta yang dapat dikenali, diukur, dan dipetakan dilapangan dengan mudah. Klasifikasi (taksonomi) tanah merupakan pengembangan konsep fikiran manusia. Dalam hal ini satuan taksonomi tanah adalah buatan manusia, sedangkan satuan peta merupakan batas tanah sesungguhnya (merupakan tubuh tanah alami). Fungsi sistem klasifikasi yaitu:

a. Sebagai media komunikasi bagi para pakar tanah, penyuluh, penelitian dan lainlain.

b. Mengekstrapolasikan hasil-hasil penelitian.

Satuan Peta Tanah dalam Survei Tanah Satuan peta tanah dibuat tergantung tingkat ketelitian survei atau tingkat pemetaan yang dilakukan, sehingga satuan peta tanah dapat memiliki kisaran karakteristik yang luas maupun sempit. Macam satuan peta tanah menurut Wambeke dan Forbes (1986) yaitu konsosiasi, asosiasi, kompleks dan kelompok tak dibedakan yang dibagi menjadi:

1. Satuan peta tanah sederhana (simple mapping unit). Satuan peta ini hanya mengandung satu satuan tanah saja atau terdapat tanah lain yang disebut sebagai inklusi. Satuan peta tanah ini banyak dijumpai pada survei tanah detail, dari daerah yang relatif seragam, satuan peta ini disebut konsosiasi. Menurut Wambeke dan Forbes (1986) konsosiasi merupakan satuan peta yang didominasi oleh satu satuan tanah dan tanah yang mirip.

2. Satuan peta tanah majemuk (compound mapping unit), terdiri atas dua sataun tanah atau lebih yang berbeda. Satuan peta tanah ini dibedakan menjadi:

a. Asosiasi tanah, yaitu sekelompok tanah yang berhubungan secara geografis, tersebar dalam suatu satuan peta menurut pola tertentu yang dapat diduga posisinya, tetapi karena kecilnya skala peta, taksa-taksa tanah itu tidak dapat dipisahkan.

b. Kompleks tanah, merupakan sekelompok tanah dari taksa yang berbeda, yang berbaur satu dengan yang lainnya dalam suatu delineasi (satuan peta) tanpa memperlihatkan pola tertentu atau menunjukkan pola yang tidak beraturan.

c. Kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups), terdiri atas dua atau lebih tanah yang secara geografis tidak selalu berupa konsosiasi tetapi termasuk dalam satuan peta yang sama karena penggunaan dan pengelolaannya sama atau mirip. Tanah-tanah tersebut dimasukkan dalam sataun peta yang sama karena mempunyai sifat berlereng terjal, berbatu, mengalami pengaruh banjir yang cukup parah sehingga membatasi penggunaan dan pengelolaannya. Metode Survei Tanah terdiri dari beberapa macam, yaitu:

1. Survei Grid Metode ini disebut juga metode grid kaku. Skema pengambilan contoh tanah secara sistematik dirancang dengan mempertimbangkan kisaran spasial autokorelasi yang diharapkan. Jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segi empat/rectangular grid di seluruh daerah survei. Titik-titik pengamatan tanah ditempatkan tanah ditempatkan dilapangan dan diamati karakteristiknya,. Dengan menggunakan metode statistik baku atau geostatistik, dilakuka variabilitas tanah. Keuntungan metode ini adalah:

a. Tidak memerlukan penyurvei yang berpengalaman, karena lokasi titik-titik pengamatan sudah diplot pada peta rencana pengamatan.

b. Sangat baik diterapkan pada daerah yang luas yang memerlukan penyurvei dalam jumlah besar.

c. Cukup teliti dalam menentukan batas satuan peta tanah pada daerah survei yang relatif datar.
d. Denagan menerapkan teknik analisis komponen utama/principal component analysis dapat memperkecil atau mengurangi sejumlah sifat tanah pada suatu variate yang menggambarkan proporsi yang besar dari data yang tersedia.

Kerugian metode ini adalah:

a. Memerlukan waktu yang lama terutama pada medan yang berat.

b. Pemanfaatan seluruh titik-titik pengamatan sehingga tidak efektif.

c. Sebagian lokasi pengamatan tidak mewakili satuan peta yang dikehendaki, misalnya tempat pemukiman, daerah peralihan dua satuan lahan dan lain-lain.

2. Survei Fisiografi (IFU) Survei ini diawali dengan melakukan intrepretasi foto udara (IFU) untuk mendelineasi landform yang terdapat didaerah yang disurvei, diikuti dengan pengecekan lapangan terhadap komposisi satuan peta, biasanya hanya didaerah pewakil. Tidak semua delineasi dikunjungi. Contohnya adalah pendekatan geopedologi yang dikembangkan oleh ITC Belanda. Survei ini umumnya diterapkan pada skala 1:50.000 – 1:200.000. Jumlah pengamatan setiap satuan peta ditentukan oleh:

– Ketelitian hasil interpretasi foto udara dan keahlian/kemampuan penyurvei dalam memahami hubungan fisiografi dan keadaan tanah.

– Kerumitan satuan peta; semakin rumit semakin banyak pengamatan.

– Luas satuan peta: semakin luas semakin banyak pengamatan.

3. Metode Grid Bebas Merupakan perpaduan metode grid-kaku dan metode fisiografi. Metode ini diterapkan pada survei detail hingga semi-detail, foto udara berkemampuan terbatas dan di tempat-tempat yang orientasi dilapangan cukup sulit dilakukan. Survei ini sangat baik dilakukan oleh penyurvei yang belum banyak berpengalaman dalam interpretasi fotoudara. Menurut Rossitter (2000), metode survei ini merupakan kelanjutan dari survei fisiografi dan biasanya dilaksanakan pada skala 1:12.500 – 1:25.000. pelaksanaan survei ini diawali dengan analisis fisiografi melalui interpretasi foto udara secara detail. Semua batas harus dilakukan pengecekan delapangan dengan teliti dan dilakukan beberapa modifikasi sesuai dengan hasil pengamatan lapangan. Untuk dapat melakukan survei bebas, pertimbangan dan pengalaman pemeta sangat penting. Di daerah dengan pola tanah yang dapt diprediksi dengan mudah (sesuai dengan model mental), pengamatan dapat dilakukan lebih sedikit, sedangkan daerah lainnya (terutama daerah yang bermasalah) perlu dilakukan pengamatan lebih banyak (lebih mendetil).

4. Survei Nonsistematik
Dalam survei ini batas tanah ditentukan dari peta lain, seperti peta geologi dan peta fisiografi. Pengecekan lapangan hanya dilakukan di beberapa tempat dengan intensitas sangat rendah untukmenentukan sifat-sifat tanah tipikal. Dalam metode ini tidak dipertimbangkan keragaman internal tanah. Metode survei ini diterapkan pada skala lebih kecil dari 1:500.000. peta yang dihasilkan bukanlah peta tanah, melainkan peta bagan dan tidak dapat digabungkan dengan Sistem Informasi Geografi (SIG).

B. Koleksi peta daerah sendiri (Medan, Sumatera Utara)

 

1. Judul : Peta Geologi Teknik Daerah Medan dan Sekitarnya

2. Tahun Penerbitan: 1995

3. Pembuat Peta: GTL/THAMRIN, MH; WAFID AN, Muhammad; HERMAWAN

4. Skala: 1:100.0000

5. Lokasi peta : Medan

1. Judul : Peta Kota Medan

2. Tahun penerbitan: 2005

3. Pembuat peta : Angkasa

4. Skala : 1:250.000

5. Sistem proyeksi : Silinder

1. Judul : Penutupan Lahan Provinsi Sumatera Utara

2. Tahun penerbitan: 2006

3. Pembuat peta : Hasil Interpretasi Landsat, Plamologi

4. Skala : 1:6.000.000

1. Judul : Peta Indeks Risiko Bencana Gerakan Tanah/Landslide Disaster Risk Index Map

2. Tahun penerbitan: 2010

3. Pembuat peta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

4. Skala : 1:250.000

TUGAS K3-4 STELA

March 9th, 2018

Nama : Rheka Astri Gurning

NIM : 175040200111178

Kelas : C
TUGAS MINGGU KE-4

1. Pengayaan materi/pengerjaan bahan diskusi minggu ke-3 (Pelaksanaan Survei Tanah)

Dalam melaksanakan survei tanah, ada 3 tahap kegiatan yaitu:

A. Tahap Persiapan

1. Menentukan Tujuan Survei Tanah Tujuan survei tanah dibedakan atas survei bertujuan umum yang ditujukan untuk dapat memberikan keterangan dan data sebagai dasar penafsiran untuk berbagai penggunaan yang berbeda biasanya menghasilkan peta pedologi,dan survei bertujuan khusus yang dilakukan jika telah diketahui tujuan dan kegunaan survei tersebut misalnya untuk irigasi dan penanaman tanaman.

2. Mengestimasi Biaya Survei Tanah Macam survei dan skala peta yang akan dihasilkan sangat berhubungan dengan intensitas pengamatan lapangan dengan demikian sangat menentukan besarnya biaya yang diperlukan. Semakin detail survei maka semakin tinggi intensitas pengamatan lapangan yang diperlukan sehingga biaya persatuan luas semakin tinggi. Komponen biaya dibagi dua yaitu upah atau gaji yaitu meliputi gaji tenaga ahli, anggota, tenaga kerja lokal dan juga biaya survei meliputi biaya transportasi, membeli alat survei.

3. Merumuskan Kerangka Acuan (TOR=Terms of Reference) Perumusan kerangka acuan perlu dilakukan agar pihak pelaksana survei maupun pihak pengguna, mencapai kesepakatan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan survei tanah tersebut.

4. Membuat Surat Perjanjian Kerjasama Dilakukan agar kedua belah pihak mempunyai landasan dan kekuatan hukum , seandainya salah satu pihak tidak menepati hal-hal yang telah disetujui dalam TOR.

5. Mengurus Perijinan

6. Mengumpulkan Data-Data Sekunder Data yang perlu dikumpulkan meliputi:

a. Iklim dan hidrologi. Informasi mengenai iklim diperlukan dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan pertanian. Data iklim diambil dari semua stasiun iklim atau stasiun penakaran curag hujan maupun dari publikasi yang dikeluarkan Badan Metereologi dan Geofisika. Stasiun pewakil ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan kesamaan ekosistem meliputi: tanah, ketinggian, posisi geografis dan penggunaan lahan.

b. Keadaan geologi dan bahan induk. Keadaan geologi dan pengetahuan tentang litologi setempat mempengaruhi penetapan nama bahan induk. Bahan induk bersusunan bahan anorganik berasal dari pelapukan batuan induk sedangkan yang bersusun bahan organik berasal dari bahan infuk organik. Bahan induk dibagi dua grup yaitu lepas/lunak dan kukuh.

c. Keadaan topografi (relief dan lereng). Keadaan topografi daerah tercermin dari peta topografi atau peta rupa bumi. Keadaan lereng suatu daerah sangat mempengaruhi penggunaan lahan.

d. Keadaan vegetasi dan penggunaan lahan. Vegetasi dan penggunaan lahan secara umum dipengaruhi oleh keadaan tanah dan ketersediaan air. Tipe penggunaan lahan yang dapat dikembangkan di daerah survei sangat dipengaruhi oleh keadaan sifat tanah dan fisik lingkungannya. Kriteria utama yang digunakan dalam menentukan klasifikasi penggunaan lahan dan vegetasi diutamakan pada jenis dan vegetasi permanen di daerah itu.

e. Keadaan tanah. Informasi awal keadaan tanah yang akan diteliti sangat bermanfaat sebagai pembanding tentang tanah-tanah yang dijumpai di daerah survei.

f. Keadaan sosial ekonomi penduduk. Data ini diperlukan terutama untuk perencanaan penggunaan lahan yang akan diusulkan didaerah tersebut.

7. Melakukan Pengadaan Foto Udara dan Citra Satelit Diperlukan untuk memberikan informasi tambahan bagi foto udara. Idelanya skala foto udara yang digunakan untuk survei tanah adalah 2 kali lebih besar dari skala peta publikasi.

8. Menyiapkan Peta Dasar Peta dasar dari peta rupa bumi harus disederhanakan dengan menghilangkan detail-detail yang tidak diperlukan, seperti garis kontur yang terlalu rapat. Informasi maupun objek yang terdapat pada peta dasar harus diperbaharui sesuai informasi baru yang diperoleh.

9. Melakukan Interpretasi Foto Udara dan Citra Satelit

10. Menyiapkan Peta Lapangan. Peta lapangan merupakan peta rencana rintisan dibuat dengan wujud lahan. Perlu diperhatikan letak sebaran dan proporsi daerah kunci atau key area.

11. Menyusun Jadwal Pelaksanaan.

12. Menyiapkan Alat dan Bahan Survei.
B. Tahap Survei Lapangan

1. Pra-survei Hal yang dilakukan dalam pra-survei:

a. Mengurus ijin didaerah survei, mulai tingakt desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

b. Melakukan overview keseluruh daerah survei.

c. Menyiapkan basecamp dan tenaga kerja.

d. Memantapkan perencanaan survei utama.

2. Survei Utama

a. Mengadakan pengamatan lapangan Pengamatan identifikasi dilakukan dengan jalan pemboran atau pengamatan lainnya yang bertujuan mengenal satuan taksonomi. Karakteristik tanah yang penting diamati meliputi tebal horison, warna, tekstur, keadaan batuan, kedalaman efektif tanah, keadaan drainase tanah dan lainnya. pengamatan detail delakukan pada minipit yaitu lubang pengamatan tanh yang dibuat menggunakan skop dengan ukuran 40x40x50 cm. Deskripsi profil tanahdilakukan menurut pedoman yang berlaku. Cara pengamatan dalam suatu survei yaitu pada taraf permulaan survei, pengamatan detail/minipit dilakukan terlebuh dahulu dengan tujuan membangun kisaran karakteristik bagi satuan taksonomi. Kemudian dilakukan seleksi untuk menentukan modal-profile dengan jalan membuat kisaran sifat masing-masing satuan tanah yang sama yang dihasilkan dari pengamatan minipit dan pemboran. Selanjutnya pada tahap akhir survei tanah dilakukan tambahan pengamatan berupa pemboran dan minipit secara bergantian untuk melakukan pengecekan apakah komponen tanah pada setiap satuan peta tanah, telah sesuai dengan yang tercantum dalam legenda peta tanah sementara.

b. Pengamatan pada Daerah Kunci (Key-area) Daerah kunci merupakan daerah terpilih dalam suatu daerah survei yang didalamnya secara berdekatan, terdapat sebanyak mungkin satuan peta yang ada di seluruh daerah survei tersebut. Fungsinya yaitu mempelajai tanah secara lebih detail, membuat definisi satuan peta satuan peta dengan jalan menyusun legenda peta sementara. Beberapa syarat untuk daerah kunci harus dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di daerah survei dan haru smudah diakses atau tidak sulit dikunjungi.
Transek juga merupakan daerah kunci sederhana dalam bentuk jalur atau rintisan yang mencakup sebanyak mungkin satuan peta atau satuan wujud-lahan.

3. Pengambilan Contoh Tanah

Contoh tanah diambil mulai dari horizon bawah ke horizon paling atas dialkukan agar terhindar dari pencemaran. Contoh tanah diambil sekitar 1-1,5 kg dan sebaiknya mencakup seluruh horizon yang bersangkutan. Dalam rangka menekan keragaman musim, terutama dalam lapisan tanah atas yang banyak mengandung bahan organik, kegiatan pengambilan contoh tanah harus dilakukan pada periode dengan aktivitas biologi yang rendah misalnya pada saat musim dingin atau musim kemarau.

4. Pembuatan Peta Tanah Sementara

Titik-titik pengamatan baik berupa minipit, pemboran maupun profil tanah langsung diplot pada foto udara atau peta pengamatan lapangan pada saat pengamatan, sesuai dengan kode pengamatannya. Yang sangat penting didiskusikan adalah mengenai penamaan tanah sesuai dengan sistem klasifikasi tanah yang digunakan, serta sebaran dan proporsi tanah tersebut dalam satuan wujud-lahan. Selanjutnya menyusun legenda peta tanah sementara.

C. Pelaksanaan Survei pada berbagai Skala Survei Tanah

1. Surve Tanah Tingkat Tinjau / Reconnaissance Soil Survey. Survei tanah tingkat tinjau dengan skala 1:250.000 umumnya merupakan suatu kegiatan untuk keperluan perencanaan tingkat regional atau provinsi. Satuan tanah yang digunakan adalah grup/great grup atau subgrup dari sistem taksonomi tanah.

2. Survei Tanah Tingkat Semi Detail/ Semi Detailed Soil Map. Peta tanah semi detail dengan skala 1:50.000 sampai dengan 1:25.000, digunakan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada tingkat kabupaten atau proyek pengmbangan peta. Satuan tanah yang digunakan adalh tingkat famili dan atau seri. Setiap seri tanah harus diwakili paling tidak oleh dua pedon pewakil. Untuk menyusun selang sifatnya digunakan semua data minipit dan pemboran.

3. Survei Tanah Tingkat Detail Survei tanah ini untuk keperluan operasional lapangan misalnya pembagian suatu perkebunan kedalam blok-blok, keperluan budidaya pertanian dan perencanaan detail dari suatu wilayah desa hingga tingkat kecamatan. Skala yang dihasilkan antara 1:10.00- 1:25.000. pengamatan lapangan digunakan
dengan menggunkan foto udara skala 1:5.000 atau 10.000. Batas sataun peta tanah langsung didelineasi pada foto udara didasarkan atas physiographic approach denagan satuan fisiografi berupa faset (lereng atas, lereng tengah, lereng bawah) yang ditunjang oleh hasil pengamatan tanah di lapangan.

4. Analisi Laboratorium Contoh Tanah, Pembuatan Peta, dan Pelaporan Analisi kesuburan tanah meliputi tekstur, pH, bahan organik, nitrogen, pospat, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, Al- dan H+ ditukar dan besi bebas. Beberapa analisis khusus seperti kandungan unsur mikro dan lainnya kadang diperlukan tergantung tujuan survei. Analisi susunan mineralogi tanah meliputi mineral fraksi pasir dan analisis mineral liat/debu. Analisis ini diperlukan untuk menunjang penetapan bahan induk tanah, klasifikasi tanah, kesuburan tanah serta untuk evaluasi lahan.

2. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

Penentuan luasan SPT terkecil 0.4cm² dilakukan untuk memudahkan menghitung dan memperkirakan perbesaran dalam keadaan yang sebenarnya dalam pembuatan peta. Hal ini sesuai dengan pendapat Forbes (1986) satuan peta tanah dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta kompleks tidak dapat membentuk satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1:24.000. Pada skala tersebut luasan 0,4 pada peta adalah 2,3 ha di lapangan dapat membentuk satuan peta tersendiri. Dengan kata lain pada spt 0,4 jika komponen petanya di delineasi maka akan terbentuk satuan yang kompleks.

Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Dibenarkan jika kita membesarkan peta analog dengan scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000, karena akan semakin kecil kenampakkan wilayah yang digambarkan dan semakin sedikit pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu. Sebaliknya apabila kita mengecilkan skala peta, semakin luas areal kenampakkan permukaan bumi yang tergambar dalam peta dan semakin banyak pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu.

2.3. Skala peta

1. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

 Eksplorasi (1: 1000.000)

 Tinjau (1:250.000)

 Semi detil (1:50.000)

 Detil (1:25.000)

 Sangat Detil (1:5 000)

Jawaban :

1. Diketahui : 1: 10.000, luas peta : 0,8 cm2 Luas asli = 0,8 x (10.000)² = 8 x 10⁸ = 8 x 10⁷ = 0,8 ha

 Eksplorasi Diketahui : 1:1.000.000 Luas sebenarnya = 0,8 cm2 x (1.000.000)2 = 0,8 x 1012 cm2 = 8000 ha
 Tinjau Diketahui : 1: 250.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (250.000)2 = 0,8 x 625 x cm8 = 500 ha

 Semi detil Diketahui : 1 : 50.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (50.000) 2 = 0,8 x 25 x 108 = 20 ha

 Detil Diketahui : 1 : 25.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (25.000)2 = 0,8 x 625 x 106 = 5 ha

 Sangat detil Diketahui : 1 : 5.000 Luas sebenarnya : 0,8 cm2 x (5.000)2 = 0,8 x 25 x 106 = 20 x 106 = 0,2 ha

2. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

Jawab

a. Eksplorasi (1: 1000.000) Peta tanah eksplorasi menyajikan keterangan tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Survei yang dilakukan untuk membuat peta ini dengan cara menggunakan helikopter atau dilakukan sepanjang jalan, serta dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra satelit. Intensitas pengamatan sangat rendah dengan skala bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:1.000.000.

b. Tinjau (1:250.000) Peta tanah tinjau biasanya dibuat dengan skala 1:250.000. Satuan peta didasarkan atas satuan tanah-bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Pengamatan di lapangan kurang lebih 1 untuk 12,5 km2.

c. Semi detil (1:50.000) Peta ini dibuat dengan skala 1:50.000, dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan. Biasanya dilakukan dengan sistem grid yang dibantu oleh hasil interpretasi foto udara dan citra satelit.

d. Detil (1:25.000) Peta detil dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000, digunakan untuk menyiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah sehingga informasi sifat dan ciri tanah diuraikan sedetil mungkin. Jumlah pengamatan untuk tanah adalah sekitar 1 untuk setiap 2 ha sampai 12,5 ha.

e. Sangat Detil (1:5 000) Peta tanah sangat detil mempunyai skala > 1:10.000. Pengamatannya dua atau lebih untuk setiap hektarnya. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus, misalnya untuk petak percobaan pertanian guna mempelajari variabilitas respons tanaman terhadap pemupukan atau perlakuan tertentu dan lain-lain.

Hello world!

March 8th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!