verticulture

2012
05.12

DEFINISI VERTICULTUR

Sistem pertanian vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini cocok diterapkan di lahan-lahan sempit atau di pemukiman yang padat penduduknya. Sistem ini dapat menjadi solusi kesulitan mencari lahan pertanian yang tergusur oleh perumahan dan industri.

Istilah vertikultur berasal dari bahasa Inggris, verticulture. Terdiri dari dua kata,vertical dan culture. Di dalam dunia pertanian, pengertian vertikultur adalah budidaya tanaman dengan cara bertingkat atau bersusun, memanfaatkan ruang ke arah atas.

Pada dasarnya jenis bertani semacam ini tidak jauh berbeda dengan bertani di kebun atau ladang. Sama-sama membutuhkan sinar matahari, air dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhannya. Perbedaannya hanya terletak pada lahan yang digunakan. Dalam sistem pertanian konvensional, misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima pohon. Dengan vertikultur, lahan seluas itu bisa ditanami sampai 20 pohon.

Teknik pertanian bertingkat seperti ini biasanya untuk membudidayakan tanaman semusim atau berumur pendek, seperti sayuran. Aneka sayuran yang dapat ditanam antara lain seledri, selada, kangkung, bayam, kemangi, sawi, caisim atau kailan. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh dengan cara ini. Jenis tanaman obat-obatan atau tanaman hias pun layak untuk dicoba.

Kelebihan sistem pertanian vertikultur :

  1. Ef isiensi penggunaan lahan karena y ang ditanam jumlahny a lebih bany ak dibandingkan sistem konv ensional
  2. Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida
  3. Kemungkinan tumbuhny a rumput dan gulma lebih kecil
  4. Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkan dalam wadah tertentu
  5. Mempermudah monitoring/pemeliharaan tanaman
  6. Adanya atap plastik memberikan keuntungan.

Jenis tanaman yang dapat ditanam dengan sistem ini sangat banyak, misalnya tanaman buah dan sayur semusim (sawi, selada, kubis, wortel, tomat, terong, cabai dan lain-lainnya), juga bunga seperti anggrek, bougenville, mawar, melati, azelea dan kembang sepatu yang diatur tingginya dengan pemangkasan.

Pelaksanaan vertikultur dapat menggunakan bangunan khusus (modif ikasi dari sistem green house) maupun tanpa bangunan khusus, misalnya dipot gantung dan penempelan di tembok-tembok. Wadah tanaman sebaiknya disesuaikan dengan bahan yang banyak tersedia di pasar lokal. Bahan yang dapat digunakan, misalnya kayu, bambu, pipa paralon, pot, kantong plastik dan gerabah. Bentuk bangunan dapat dimodif ikasi menurut kreativitas dan lahan yang tersedia. Yang penting perlu diketahui lebih dahulu adalah karakteristik tanaman yang ingin di budidaya akan sehingga kita dapat merancang sistemnya dengan benar.

Media yang digunakan biasanya terdiri dari :

  1. top soil; yaitu berupa lapisan tanah yang banyak mengandung humus.
  2. pasir halus.
  3. pupuk kandang.
  4. pupuk hijau.
  5. kapur pertanian.

Cara penanaman tergantung pada jenis tanamannya. Ada yang dapat ditanam langsung di wadah vertikultur, ada yang harus disemai dulu baru ditanam, dan ada yang harus disemai kemudian disapih dan baru ditanam di wadah. Pesemaian dibutuhkan oleh tanaman yang berbiji kecil, misalnya sawi, kubis, tomat, cabai, terong, lobak, selada dan wortel. Untuk tanaman y ang bernilai ekonomis tinggi dan membutuhkan perawatan yang agak khusus, misalnya paprika, cabai hot beauty atau cabai keriting dan tomat buah dilakukan cara penanaman y ang terakhir.

Contoh Sistem pertanian vertikultur :

 

 

 

 

 

Penyusunan tanaman diusahakan maksimal dengan memperhatikan kelembaban udara, kerapian dan kemungkinan berjangkitnya penyakit. Penyiraman harus dilakukan secara teratur sesuai kebutuhan tanaman, misalnya pagi dan sore. Penggantian tanaman yang sakit dan mati perlu dilakukan agar tidak menyebar ke tanaman yang ada didekatnya. Penyiangan dari gulma perlu juga dilakukan karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk juga dilakukan sesuai dengan jenis dan kondisi tanamannya. Intinya, monitoring tanaman diperlukan untuk mencegah kerusakan tanaman akibat hama dan penyakit tanaman.

Pemeliharaan Tanaman

Tanaman juga memerlukan perawatan, seperti halnya makhluk hidup yang lain. Tanaman memerlukan perhatian dan kasih sayang. Selain penyiraman dilakukan setiap hari juga perlu pemupukan, dan juga pengendalian hama penyakit.

A. Pemupukan

Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos, pupuk kandang atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi mikroorganisme 4 (EM4) atau simbal.

Ir. Joko Purnomosidi dari Dinas Pertanian DKI Jaya menyarankan agar buah tidak mudah rontok sebaiknya menggunakan KCL satu sendok teh atau sendok makan tergantung besar kecilnya pohon. Pemberian KCL sebaiknya setiap 5 sampai 6 bulan sekali.

Di perkotaan, pupuk kandang atau kompos harganya menjadi mahal. Kalau kita mau irit/berhemat, kita bisa membuatnya sendiri. Limbah dapur atau daun-daun kering bisa kita manfaatkan untuk pembuatan pupuk bokashi (lihat artikel resep bokashi).

Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk.

Pupuk Bokashi sangat benguna sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam waktu
singkat. Bahan-bahannya juga mudah didapat dan sekaligus baik untuk kebersihan lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian atau limbah rumah tangga, seperti jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam, dan serbuk gergaji.

Kalau di daerah pedesaan, biasanya sampah atau kotoran hewan dimasukkan ke sebuah lubang. Kalau lubangnya sudah penuh, sampah dibakar dan sebagai pupuk. Dengan catatan, pupuk buatan kotoran hewan yang akan digunakan hendaknya sudah tidak berbau busuk. Dewasa ini di swalayan-swalayan banyak dijual pupuk kandang yang sudah kering, tidak berbau, dan steril. Dewasa ini masyarakat mulai banyak mempertimbangkan mengkonsumsi hasil panen yang Iebih sehat cara penanamannya, yakni yang menggunakan pupuk dan pengendalian hama alami. Meski lebih mahal tetap dibeli karena dirasa lebih aman dikonsumsi untuk kesehatan.

B. Pengendalian Hama

Saat ini banyak dijual racun pestisida yang menggunakan bahan kimia. Sayuran yang penampilannya tampak cantik, segar dan bersih kadang kala malah berbahaya untuk dikonsumsi, karena banyak menggunakan pestisida kimia. lni bisa membahayakan kesehatan. Hal yang perlu diperhatikan apabila kita terpaksa menggunakan bahan kimia harus benar-benar selektif agar tanaman yang kita usahakan tidak tercemar. Sebaiknya dua minggu sebelum masa panen jangan menggunakan obat/racun pestisida.

Ada satu masukan dari Suku Dinas Pertanian Jakarta Utara, yakni Bp. Memed Achmad, ahli pengendali hama penyakit tanaman. Untuk berkebun di rumah sebaiknya jangan menggunakan bahan kimia. Ditekankan pula jangan menggunakan furadan untuk membunuh hama yang ada di dalam tanah. Penggunaan furadan bisa mengurangi tingkat kesuburan tanah dan juga mencemari tanaman kurang lebih selama sebulan. Jadi, sebaiknya untuk tanaman sayuran tidak perlu digunakan furadan.

Dalam praktik, penulis menggunakan furadan enam bulan sekali atau kalau benar-benar terpaksa sekali untuk tanaman keras saja, seperti belimbing, jeruk, mangga, dan jambu air. Apabila kita menyebarkan furadan di sekitar tanaman, maka cacing, lipan atau uret yang ada di dalam tanah akan muncul ke permukaan dan mati. Bangkai-bangkainya jangan dibuang, namun kubur saja di sekitar tanaman karena bisa menjadi pupuk.

Pemanenan dan Pascapanen

Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, slada, kangkung dan sebagainya). Apabila kita punya tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri akan lebih menghemat apabila kita potong daunnya. Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih lama dan kita bisa panen berulang-ulang.

Selain tanaman sayuran dan obat-obatan, tanaman buah-buahan juga bisa ditanam secara vertikultur dengan wadah pot atau drum bekas dan rnenggunakan tangga berjenjang.

Secara teori tanaman buah yang disusun secara vertikultur tidak bisa menghasilkan buah yang maksimal. Untuk pasca panen kita bisa membuat aneka macam minuman, sirup dan selai. Apabila kita menanam tomat, selain bisa dibuat saus tomat, juga bisa dibuat minuman sari buah. Bila tomat dicampur belimbing, jadilah sari buah tobing (tomat dan belimbing) yang bergizi tinggi, juga sebagal obat penurun darah tinggi dan penurun kolestrol.

Belimbing wuluh yang sering terbuang-buang bila sedang berbuah lebat bisa kita buat manisan atau sirop segar. Beberapa kelompok tani di Jakarta yang sebagian besar anggotanya ibu-ibu rumah tangga, banyak yang berhasil membuat produksi pasca panen.

Ada pula yang berhasil memproduksi kapsul-kapsul tanaman obat dan kebun sendiri dan masyarakat di sekitarnya banyak yang terbantu dengan obat tradisional yang murah dan mujarab. Buah makuto dewo yang penampilannya seperti jambu bol dan buahnya nempel di pohon, kalau matang berwarna merah tua awalnya tidak diperhatikan, bahkan dibuang-buang karena tidak enak dimakan. Kini orang mulai memburu buah tersebut.

Kelemahan petani di daerah adalah penyimpanan dan pengolahan hasil pascapanen. Seringkali pula mereka tidak melihat dan mempertimbangkan pemasarannya. Juga petani sering ikut-ikutan. Begitu harga cabai mahal, semuanya menanam cabai. Akibatnya, hasil panen melimpah, harga anjlok dan petani merugi. Sebelum menanam sesuatu sebaiknya dipertimbangkan dulu situasi pasar. Untuk petani yang sukses, langkah mereka justru mencari pasarnya terlebih dulu baru menanam apa yang dibutuhkan pasar.

Upaya lain agar hasil Pasca Panen punya nilai lebih dan tahan lama hendaknya dilakukan pengolahan menjadi suatu produk yang mempunyai nilai lebih. Kelompok Wanita Tani Bunga Lili memanfaatkan buah-buah musiman untuk dijadikan sirup yang bisa bertahan kurang lebih 3 (tiga) bulan, juga sirup berkhasiat obat yang mulai digemari masyarakat. Bahan-bahannya memanfaatkan hasil panen petani yang dijual sangat murah, seperti jahe, sereh, daun pandan, daun jeruk dan lain-lain.

Your Reply

CAPTCHA Image
*