Makalah Citosan udang

By Rani Rehulina Tarigan
Isolasi dan Karakterisasi Fisiokimia-Fungsional Kitosan udang Air Tawar
Nama : Rani Rehulina Tarigan
NIM     : 105080512011001
Kelas E
Pendahuluan
            Teknologi polimer saat ini berkembang dengan pesat sehingga semakin beragam produk polimer. Kitin sebagai biopolymer terbanyak kedua telah diproduksi setelah selulosa dan merupakan sumber potensial citosan. Focus utama pada penelitian adalah mengisolasikan  deasetilasi kitin serta karakterisasi secara fisiokimia kitosan cangkang udang air tawar. Pada derajat deaselisasi maksimum. Selain itu pula ditentukan kondisi optimum proses kitin untuk memperoleh kitosan dengan kondisi temperature yang berbeda.
Bahan penelitian
            Bahan yang digunakan adalah sebangai berikut:
1. kemikalia dari Merck
2. fluka-Biochemia beaker, Inc.
3. kitosan murni
4. sigma Chemical
5. kolesterol Murni sebagai bahan control
            Isolasi dan deasetilasi kitin
Tahan demineralisasi dan deproteinasi dilakukan berdasarkan  metode No dan Meyer, eksistensi protein dan residu berdasarkan metode Lowry. Absorbs campur dibaca damlam panjang gelombang 500nm.  Kadar air dinyatakan dengan metode gravimetric sebangai prosentasi rasio pengurangan berat basah dan berat kering. Kadar abu dinyatakan dalam metode AOAC sebagai prosentasi dari berat residu terhadap berat citosan sampel.
Karakteristik fisikokimia kitosan
Karakter ini meliputi karakteristik spectrum infra merah dan visible, kadar nitrogen kadar air/ kelembaban dan kadar abu.  Kurva standar  dan tahap dekolorasi dilakukan berdasarkan penggunaan BSA dengan konsentrasi 2.5, 5.0, 15.0, dan 20. . derajat deasetilisasi dengan temperature berbeda (100, 120, dan 140ºC. dilakukan berdasarkan metode baseline. Analisis data dilakukan berdasarkan kaidah statistic kuadrat terkecil regresi Galton.
Hasil dan pembahasan
Pada penelitian yang dilakukan hasil yang diperoleh dari limbah udang regang yang ditangkap pada perairan di perairan darat kabupaten Bondowoso. Tahap ini menghasilkan produk yang sangat besar yaitu mencapai  52.92%. kitin hasil dari deproteinisasi dengan penambahan NaOH pada tahap ini dimaksudkan agar protein lepas pada saat demineralisasi yang diharapkan perubahan antara pH dan NaOH (basa kuat)dapat mengendapkan protein sehingga terjadi prespitas.karena pada pembutan ini protein yidak dibutukan karena dapat mengganggu efektifitas dari proses deasetilasi. Kitosan yang dihasilkan tanpa deproteinisasi mempunyai deasetilasi yang rendah.
            Kadar nitrogen kitosan  yang terdapat pda larutan sampel menjadi parameter proses deproteinisasi karena nitrogen berhubungan dengan protein yang terkandung dalam cangkkang udang  kadar air/ kelembaban kitosan  bertujuan untuk megetahui daya serap membrane kitosan terhadap uap air kadar air dalam penelitiaan adalah sebesar 0.45% dari berat kering membrane. Kapasitas pengikat lemak (FBC) dinyatakan sebagai salah satu karakteristik fungsional kitosan. Kapasirtas absorbs lemak oleh membrane kitosan  cangkang udang sebesar 0.3196%. kal ini berhubungan dengan gugus amina  yang merupakan sisi aktif yang paling penting untuk mendukung kemampuan kitosan untuk membentuk ikatan.
Kesimpulan
Pemanfaatan limbah cangkang udang sebagai bahan kitin yang selanjutnya diubah menjadi nilai ekonomis tinggi. Isolasi dan deatilisasi kitin melalui beberapa tahapan untuk menghasilkan derajat deasetilasi yang maksimal. Kesempurnaan tahap tersebut akan berkaitan dengan fisikokimia dan fungsional kitosan.