Syarat Fitofarmaka sebagai Pengendalian Penyakit Ikan

Posted: 23rd May 2014 by Rani Rehulina Tarigan in Kesehatan Ikan
Comments Off on Syarat Fitofarmaka sebagai Pengendalian Penyakit Ikan

Fitofarmakan merasal dari bahasa Yunani yaitu phyto (tanaman) dan pharmakom (obat) atau biasa disebut tanaman obat/obat herbal. Penggunaan tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan adalah bentuk engobatan tertua di dunia. Pengertian fitofarmaka dalam istilah kedokteran juga adalah bahan yang disarikan dari tanaman dan digunakan dalam pengobatan. Sedangkan menurut POM, fitofarmaka adalah tanaman obat yang telah lolos proses standarisasi.
Obat tradisional telah dikenal secara turun temurun dan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan. Obat herbal ini dipercaya berkhasiat sejak jaman nenek moyang dan lebih aman dibandingkan dengan obat konvensional.
Dengan semakin berkembangnya obat tradisional ditambah dengan gema back to nature, telah meningkatkan popularitas obat tradisional. Hal ini terbukti dengan semakin banyak industri jamu dan industri farmasi yang memproduksi obat tradisional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Fitofarmaka untuk pencegahan dan pengobatan pada hewan belum banyak digunakan. Termasuk untuk pengobatan ikan, sekarang ini peneliti, petani dan instansi yang terkait mulai melirik obat herbal ini sebagai bahan imunostimulan, maupun pengganti antibiotik. Disamping harganya murah obat ini aman dan cukup efektif untuk penyakit-penyakit infeksi pada ikan.
Sebagai upaya meningkatkan status obat tradisional menjadi sediaan fitofarmaka sediaan tersebut harus dibuat dalam bentuk ekstrak atau fraksi terstandar serta memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
1. Jaminan kuality (kualitas), dimana bahan simplisia dan produk akhir harus memenuhi persyaratan tentang kekonsistenan dari kandungan aktif ()senyawa marker.
2. Jaminan safety (Keamanan), dimana produk akhir harus aman atau tidak toksik pada hewan coba yang dipersyaratkan dan,
3. Jaminan efficacy (manfaat), dimana produk akhir harus menunjukkan aktifitas biologis pada uji praklinik secara in vitro dan menunjukkan aktifitas biologis pada uji klinik dengan hewan uji secara in vivo.