Probiotik

Posted: 23rd May 2014 by Rani Rehulina Tarigan in Lingkungan

Fungsi probiotik menurut Verschuhuere et al,.(2000) antara lain:
Meningkatkan respon inang terhadap penyakit
Modifikasi komuditas mikroba
Meningkatkan nilai nutrisi
Memperbaiki kualitas lingkungan
Karakteristik yang harus dimiliki oleh probiotik menurut Fuller (1987), adalah sebagai berikut :
Menguntungkan inangnya
Mampu hidup (tidak harus tumbuh) di intestinum
Dapat disiapkan sebagai produk sel hidup pada skala industri
Dapat terjaga stabilitas dan sintasan untuk waktu yang lama pada penyimpanan maupun lapangan.

Menurut Irianto (2003), menyatakan bahwa probiotik harus mampu berkompetisi terhadap mikroorganisme patogenik; yaitu yang pertama, kompetisi nutrisi, produksi senyawa-senyawa antrimikroba dan kompetisi tempat pelekatan. Yang kedua, probiitik harus mampu merubah metabolisme mikrobial yaitu meningkatkan atau menurunkan aktivitas enzim serta yang ketiga adalah mampu menstimulasi imunitas yaitu dengan meningkatkan kadar antibodi dan aktifitas makrofag.
Mekanisme kerja bakteri probiotik menurut Verschuere et al,(2000) adalah
1. Produksi senyawa inhibitor
2. Kompetisi terhadap sumber energi atau senyawa kimia
3. Kompetisi terhadap tempat pelekatan
4. Peningkatan respon imun
5. Interaksi dengan fitoplankton
Sedangkan kriteria seleksi untuk probiotik adalah pertimbangan biosafety, metode produksi dan pengolahan, metode pemberian dan lokasi di dalam tubuh dimana probiotik tersebut diharapkan aktif.
Probiotik untuk krustasea
Salah satu penyakit yang umum menyerang larva udang khususnya udang paneid dan sering menyebabkan kematian massal adalah bakteri vibrio berpendar (Luminescen), Vibrio harveyi. Seleksi dan penggunaan probiotik pada kustaseabanyak ditunjukkan untuk mengatasi serangan patogen tersebut. Beberapa contoh probiotik yang telah banyak digunakan adalah Vibrio alginolyticus non patogenik, Bacillus dan Rhodobacter sp.
Probiotik untuk moluska
Bakteri strain CA2 ( Alteromonas) yang diberikan bersama-sama alga mampu meningkatkan SR larva tiram (Douillet dan langdon, 1994). Aeromonas media (strain A 199) menghasilkan senyawa penghambat sejenis bakteriosin yang dapat menghambat infeksi Vibrio tubiashii pada larva tiram Pasifik (Gibson, 1999, Gibson et al 1998). Alteromonas haloplanktis dan vibrio strain 11 yang diisolasi dari induk bivalvae scallop mampu menghambat infeksi Vibrio anguillarum (Riquelme et al. 1997).