laporan Biologi laut

Posted: 15th November 2012 by Rani Rehulina Tarigan in Biologi Laut

 

Laporan Biologi Laut (Fak. Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya)

1. PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang

Keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga di tentukan oleh karakteristik habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat di pengaruhi oleh kecepatan aliran sungai. Kecepatan aliran tersebut di tentukan oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan hutan atau tumbuhan sepanjang daerah aliran sungai yang akan berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya (Rouse, 2001).

Estuari merupakan daerah ekosistem pesisir yang produktif, tapi lingkunganya paling mudah terganggu akibat dari kegiatan manusia, maupun proses alamiah. Dampak yang tidak langsung akan di rasakan sebagai adanya kerusakan ekosistem misalnya pencemaran air di buangan (Salmin, 2005).

Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan, khususnya di wilayah pesisir, peningkatan peredaran dan pengetahuan masyarakat tentang arti penting mangrove dalam mendukung kehidupan ekonomi masyarakat pesisir perlu terus di laksanakan (Anwar, 2006).

1.2          Maksud dan Tujuan

1.2.1      Maksud

Maksud dari praktikum biologi laut adalah untuk mengetahui biota-biota yang ada di dalam zona mangrove, zona estuari, dan zona intertidal. Serta untuk mengetahui nilai suhu, pH, DO, salinitas dan kecerahan pada suatu perairan.

1.2.2      Tujuan

Tujuan dari praktikum biologi laut adalah untuk mengetahui spesies-spesies yang ada pada zona mangrove, zona estuari, dan zona intertidal. Agar di peroleh jumlah atau hasil dari perhitungan suhu, pH, DO, salinitas dan kecerahan pada suatu perairan.

1.3          Waktu dan Tempat

1.3.1      Tempat

Praktikum biologi laut ini di lakukan pada dua lokasi, lokasi pertama di pantai Ngliyep, Malang. Lokasi kedua di laksanakan di Laboratorium Ilmu-Ilmu Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Zonasi

2.1.1 Interidal

A. Pengertian Zona Interidal

Zona intertidal biasanya disebut dengan zone pasang surut yang merupakan daerah terpencil dari semua daerah si samudra. Zona ini merupakan pinggiran yang sempit dengan luasan hanya beberapa meter, yang terletak di antara ait tinggi dan air terindah (Prajitno, 2007).

 

Zona intertidal adalah pinggiran menuju ke pantai dari dasar laut antara tingkat tertinggi dan terendah pasang surut. Bagian atas dari zona pasang surut mudah untuk menentukan di daerah air yang tenang, tetapi pada ombak pantai terbuka banyak kaki splash di atas batas normal mencapai pasang surut ini memperluas jangkauan spesies-spesies intertidal (Levinton, 2001).

Salah satu bagian dari pembagian di kawasan oleh sistem pesisir dan laut adalah kawasan intertidal (intertidal zone). Wilayah pesisir atau coastal adalah salah satu sistem lingkungan yang ada, di mana zona intertidal atau lebih dikenal dengan zona pasang adalah daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samidera dunia, merupakan pinggiran yang sempit sekali, hanya beberapa meter luasnya. Zona ini merupakan bagian laut yang paling dikenal dan dekat dengan kegiatan kita, apalagi dalam melakukan berbagai macam aktivitas, hanya di daerah inilah penelitian dapat langsung kita laksanakan secara langsung tanpa alat khusus (Biomassa, 2009).

B. Faktor-Faktor di Zona Intertidal

Menurut Nybakken (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi organisme antara lain :

  • Pasang surut

Naik dan turunnya permukaan laut secara periodik selama waktu tertentu disebut pasang surut. Pasang surut merupakan faktor lingkungan yang paling penting mempengaruhi zona intertidal. Penyebabnya terjadinya pasang surut dan kisaran yang berbeda sangant kompleks dan berhubungan dengan interaksi tenaga penggerak pasang surut, matahari, bulan, rotasi bumi, geomorfologi, pasu samudera dan asilasi alami sebagai pasu samudera.

  • Suhu

Daerah intertidal biasanya dipengaruhi oleh salah satu cara selama periode yang berbeda-beda dan suhu ini mempunyai sarana yang luas baik secara harian ataupun musiman.

  • Gerakan Ombak

Peleburan ombak yang terus menerus ini membuat organisme di laut dapat hidup di daerah yang lebih tinggi di daerah yang terkena terpaan ombak daripada di daerah karang pada kisaran pasut yang sama.

  • Faktor-faktor lain

Adanya substrat yang berbeda-beda yaitu pasir, batu dan lumpur menyebabkan perbedaan fauna dan struktur komunitas dari daerah intertidal.

Mungkin faktor tunggal yang paling penting yang memodifikasi ketinggian di zona tertentu dipantau dari sifat organisme hidup terhadap tingkat penjagaan terhadap aksi gelombang. Sebagaimana telah disebutkan di atas ada berbagai faktor pasang surut seperti waktu makan terbatas untuk organisme pemakan suspensi, pengeringan dan suhu ekstrim yang cenderung untuk membatasi distribusi ke atas yaitu ke litoral. Selain itu gelombang beroperasi di arah sebaliknya dan cenderung untuk melembabkan tingkat atas baik oleh gelombang splash atau semprot dengan demikian akan bertambah periode perandaman yang efektif memungkinkan suatu distribusi perluasan organisme intertidal ke atas (Newell, 1979).

C. Biota Pada Zona Intertidal

Didasarkan pada pengertian bahwa intertidal adalah wilayah pantai transisi, maka siklus ombakpun mempengaruhi keadaan wilayah ini, sehingga terdapat berbagai macam habitat yang mendiaminya. Dengan berbagai jenis hewan invertebrata yang mendominasi seperti bintang laut; barnacles, muscles, siput, anemon laut, kepiting, keong dan beberapa jenis spesies terubu karang (Rouse, 2007).

Hampir semua ikan intertidal berukuran kecil, karena keadaan lingkungan yang bergolak, bentuk tubuh biasanya memipih dan memanjang (Blenntidae, Polidae) atau gepeng yang menunjukkan mereka tinggal di lubang saluran, celah atau lengkungan untuk berlindung dari kekeringan dan gerakan ombak. Sebagian besar mempunyai gelembung renang dan sangat bervariasi dengan substrat. Banyak dari ikan ini yang beradaptasi untuk menahan kisaran salinitas dan suhu yang besar dibandingkan dengan familinya di daerah subtidal. Beberapa dari mereka beradaptasi dengan cara berada di luar air untuk beberapa saat. Ketika pasut turun berbagai burung biasanya berasosiasi dengan zona intertidal merupakan burung karnivora dan omnivora (Nybakken, 1992).

2.1.2  Mangrove

A. Pengertian Zona Mangrove

Mangrove berasal dari kata mangal yang menunjukan suatu tumbuhan (Odum, 1983). Di Suriname, kata mangro pada mulanya merupakan kata yang umum dipakai untuk jenis Rhizopora mangle (Karsten 1890 dalam Chapman 1976). Di Portugal, kata mangue digunakan untuk menunjukan suatu individu pohon & kata mangal untuk komunitas pohon tersebut (Rahmawaty, 2006).

Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya di sepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang dilepas pantai yang terlindung (Nontji, 1987 ; Nybakken, 1992 dalam Anwar & Hendra, 2006).

B. Biota Pada Zona Mangrove

Ekosistem mangrove di Provinsi NAD adalah sebagai tempat habitat berbagai macam ikan, crustacea, mollusca, dan burung serta mendukung kehidupan reptile dan mamalia.  Masyarakat percaya bahwa akar mangrove dapat berperan dalam melindungi ikan kecil dari pemangsa.  Ketika ikan menjadi dewasa, mereka meninggalkan payau dan pindah ke estuaria, karang, dan laut lepas (Indra, 2011).

Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan burung (Nirarita et al, 1996 dalam Anwar & Hendra, 2006).

C. Susunan Tanaman dari Perairan ke Daratan Mangrove

Komposisi flora yang terdapat pada ekosistem mangrove ditentukan oleh beberapa faktor penting seperti kondisi jenis tanah dan genangan pasang surut. Di pantai terbuka pohon perintis (pionir). Umumnya adalah api-api (Avicennia) dan pedada (Sonneratia). Api-api cenderung hidup pada tanah yang berlumpur lembut. Pada tempat yang terlindung dari hempasan ombak komunitas mangrove terutama Blunguli oleh bakau Rhizopora mucronata atau Rhizopora apiculata lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas (Bruguiera gymnorhiza). Sejenis paku laut (Acrostichium aureum) dari jeruju (Acanthus ilucifolius) seringkali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nypa (Nypa  fruticans) merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acapkali ditemui di tepi sungai ke hulu (Nontji, 1984 dalam Citra, 2011).

Pada tempat yang terlindung dari hamparan komunitas mangrove terutama diungguli oleh bakau Rhizopora Mucranata atau Rhizopora apiculata. Lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas panjang (Bruguigera gymnohirzo). Sejenis paku laut (Acrostichum dureum) dan jeruju (Achantus niafdolrus) sering kali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nypa (Nypa fruticans) merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acapkali ditemukan di tepian sungai yang lebih ke hulu (Russady, 2011).

D. Manfaat Hutan Mangrove

Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Hutan Mangorove dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur danmemijah (spawning ground) dan tempat berlindung yang aman bagi berbagai ikan-ikan kecil dari predator (Rahmawaty, 2006).

Keberadaan hutan mangrove dapat sebagai penahan angin (win breaker) sehingga kecepatan dan kekuatan angin dapat berkurang atau dibelokkan  sebelum sampai ke permukiman penduduk. Hutan mangrove secara umum mampu mempertahankan keberadaan daratan di tepi pantai. Batang mangrove yang rapat dengan banyak akar nafas disekitarnya mampu menahan tanah di daerah pantai dari kikisan air laut.  Hutan mangrove memiliki produktifitas primer yang tinggi karena dapat memberikan kontribusi yang besar berupa bahan organik (Triatmoko dan Kade, 2007).

E. Kebijakan Hutan Mangrove di Indonesia

Hutan mangrove sebagai sumberdaya alam dari sektor kehutanan pengembangan pemanfaatanya dari segi ekonomi secara langsung selama ini belum banyak dilakukan apalagi secara terencana dan intensif. Padahal dengan pengolahan hutan mangrove secara komersial misalnya sebagai usaha budidaya ikan dan objek wisata dengan tetap memperhatikan fungsi ekologinya merupakan sumberdaya potensial dan menjanjikan. Usaha ini bila dilakukan terencana dan berkesinambungan, bukan saja usaha yang meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir terutama nelayan melainkan juga sumber pendapatan asli daerah (Dephut, 2010).

Departemen kehutanan sebagai departemen teknis yang mengemban tugas dan pengolahan hutan dan konvensi konvensi nasional dimana indonesia turut meratifikasinya kebijakan tersebut yaitu pengolahan hutan lestari, desentralisasi kewenangan pengolahan konservasi dan rehabilitasi secara partisipatif dalam upaya ini pemerintah berperan sebagai mediator dan fasilitator sedangkan masyarakat sebagai pelaksana yang mampu mengambil inisiatif. Kemudian kelembagaan pengolahan hutan mangrove dalam menyelenggarakan kewenanganya dalam pengolahan hutan mangrove, departemen kehutanan membawahi UPI bekerja di daerah tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitas dilaksanakan pemerintah propinsi dan terutama pemerintah kabupaten atau kota (dinas kehutanan di indonesia) (Citra, 2011).

F. Rantai Makanan di Mangrove

Rantai makanan yang terdapat pada ekosistem mangrove ini tidak terputus. Pada dasarnya rantai makanan pada ekosistem mangrove ini terbagi atas dua jenis yaitu rantai makanan secara langsung dan rantai makanan secara tidak langsung. Pada rantai makanan langsung yang bertindak sebagai produsen adalah tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove ini akan menghasilkan serasah yang berbentuk daun, ranting, dan bunga yang jatuh ke perairan. Selanjutnya sebagai konsumen tingkat satu adalah ikan-ikan kecil dan udang yang langsung memakan serasah mangrove yang jatuh tersebut. Untuk konsumen tingkat dua adalah organisme  karnivora yang memakan ikan-ikan kecil dan udang tersebut. Selanjutnya untuk konsumen tingkat tiga terdiri atas ikan-ikan besar maupun burung – burung pemakan ikan. Pada akhirnya konsumen tingkat tiga ini akan mati dan diuraikan oleh detritus sehingga akan menghasilkan senyawa  organik yang bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan mangrove. Sedangkan rantai tidak langsung melibatkan lebih banyak organisme, bertindak sebagai produsen adalah mangrove yang akan mengahasilkan serasa selanjutnya akan di uraikan pengurai yang mengandung senyawa organik yang akan dimakan crustacea lalu di makan ikan kecil kemudian dimakan ikan besar dan konsumen tingkat 6 adalah burung burung pemangsa ikan (Reza, 2010).

2.1.3    Estuaria

            A. Pengertian Zona Estuari

Estuaria merupakan tempat pertemuan air tawar dan air asin. Tempat ini berperan sebagai daerah perairan antara kedua ekosistem akuatik di planet bumi ini. Estuaria sudah dan tetap berhubungan erat dengan manusia karena banyak kota umum di dunia dibangun di estuaria (Nybakken, 1992).

Estuari adalah suatu daerah dimana air tawar dan sungai dan air asin dari laut bertemu serta sebagian dari perairan dari semi tertutup yang mempunyai hubungan batas dengan laut. Di estuaria pasut sangat dominan pengaruhnya di bandingkan dengan arus yang di timbulkan oleh angin dan gelombang sehingga perilaku estuaria sangat tergantung dengan aksi pasut dan aliran sungai dimana keduanya adalah perubahan bebas (Idmandang, 2007).

            B. Biota Pada Estuaria

Menurut Nybakken (1992), genera diatom yang dominan termasuk Skeletonema, Asterionella, Chaethoresos, Nitzehia, Thaxasionema dan Melosira. Genera Dinoflagulata yang melimpah termasuk Eymnodinium, Eonyawan, Peridinium dan Ceratum. Zooplankton yang khas meliputi spesies dari genera Copepoda eurytemcosta, Acrtia pseududioptomus centropages.

Biota yang hidup di ekosistem umumnya adalah pencampuran antara yang hidup di estuari dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal dari perairan air tawar. Khususnya yang mempunyai osmoregulasi yang tinggi bagi kehidupan banyak biota akuatik komersial, ekosistem estuari merupakan daerah pemijahan atau asuhan kepiting (Soilia sorata), tiram (Crossostrea tuculla). Dan banyak ikan komersial merupakan hewan estuari (Junaidi, 2010).

2.2 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Organisme dan Keanekaragaman Populasi

2.2.1 Intertidal

Menurut Nybakken (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi zona intertidal adalah :

  • Pasang surut
  • Suhu
  • Gerakan ombak
  • Salinitas

Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka. Selama waktu tertentu dalam setahun & kebanyakan faktor fisiknya menunjukan kisaran yang lebih besar daripada di air.

Faktor-faktor lain menyebabkan perbedaan fauna & struktur komunitas di daerah intertidal, seperti pantai intertidal berbatu, pantai pasir juga disusun oleh faktor-faktor fisik yang sama, tetapi kepentingan relativ dari faktor ini adalah dalam menyusun komunitas & pengaruhnya terhadap substrat yang berbeda. Mungkin faktor fisik yang paling penting adalah gerakan ombak & pengaruh yang menyertainya pada ukuran partikel (Newell, 1979).

2.2.2 Mangrove

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi zona mangrove adalah faktor fisik yang diterangkan yaitu pasang surut. Kisaran pasang surut dan tipenya bervariasi bergantung pada keadaan geografi bakau. Periodisitas penggenangan ini kelihatannya penting dalam membedakan kumpulan bakau yang dapat tumbuh pada suatu daerah perairan dan berperan membedakan tipe zonasi (Nybakken, 1992).

Menurut Rahmawaty (2006), beberapa faktor lingkungan fisik adalah :

a.    Jenis tanah, sebagai wilayah pengendapan, substrat dipasir bisa sangat berbeda, yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur. Tanah liat bercampur bahan organik.

b.    Terpaan ombak, bagian luar atau depan hutan bakau perpaduan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran yang kuat.

c.    Penggenangan oleh air pasang, bagian luar juga mengalami genangan air yang panas lama dibandingkan bagian yang lainnya, bahkan terus menerus terendam.

2.2.3 Estuaria

Parameter lingkungan utama untuk ekosistem estuaria adalah aliran sungai, seperti lembah, toksikan sedmen dan nutrient, sifat-sifat fisik air laut seperti pasang surut, arus laut, dan gelombang. Jumlah organisme yang menghuni estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup diperairan tawar dan laut. Sedikitnya jumlah spesies ini karena fluktuasi kondisi lingkungan, terutama salinitas yang sangat besar (Dahuri et all, 1999).

Menurut Hutabarat & Evans (2008), ada 4 faktor yang dipercaya yang menyebabkan daerah ini mempunyai nilai produktivitas tinggi, yaitu :

o  Disana terdapat suatu penambahan bahan-bahan organik secara terus menerus yang berasal dari daerah aliran sungai.

o  Perairan estuari umumnya adalah dangkal, sehingga cukup menerima sinar matahari untuk menyokong kehidupan tumbuhan yang banyak.

o  Daerah ini merupakan tempat yang relatif kecil menerima aksi gelombang, akibatnya detritus dapat menumpuk didalamnya.

o  Aksi panjang selalu mengaduk bahan-bahan organik yang berada disekitar tumbuhan.

 

2.3 Kualitas Air

2.3.1 pH

pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hydrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hydrogen tidak dapat di ukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis (Wikipedia, 2011).

pH larutan dapat diukur dengan beberapa cara. Secara kualitatif pH dapat diperkirakan dengan kertas lakmus (litmus) atau suatu indikator (kertas indikator pH). Secara kuantitatif pengukuran pH dapat digunakan elektroda potensiometrik. Elektroda ini memonitor perubahan voltase yang disebabkan oleh perubahan aktivitas ion hydrogen (H+) dalam larutan. Elektroda potensiometrik sederhana untuk tipe ini (Rahayu, 2009).

 

2.3.2 Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor penting untuk kelangsungan hidup ikan disuatu perairan Indonesia untuk sekarang ini, semakin tinggi fluktuasinya, sehingga kelangsungan kehidupan makhluk hidup di perairan semakin terancam, karena tidak mampu menyesuaikan dengan suhu lingkungan yang terkadang tiba-tiba berubah dengan drastis pada musim pancaroba. Fluktuasi suhu perairan sangat dipengaruhi oleh kedalaman suatu perairan, berarti semakin rendah suhunya, massa air terberat dicapai pada suhu 40 C. Sehingga bila suhu air lebih dari itu akan menjadi es dan akan langsung mengapung ke atas perairan (Ikan, 2010).

Keadaan suhu perairan laut banyak ditentukan oleh penyinaran matahari yang disebut proses insolation. Pemanasan di daerah tropik atau khatulistiwa akan berbeda dengan hasil pemanasan di daerah lintang tengah atau kutub. Oleh karena itu, bentuk bumi bulat, di daerah tropis sinar matahari  jatuh hampir tegak lurus, sedangkan di daerah kutub, umumnya menerima sinar matahari dengan sinar yang condong (Devo, 2009).

2.3.3 Salinitas

Menurut Wikipedia (2011), Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Salinitas berdasarkan presentase garam terlarut :

Air tawar             : < 0,05 ppm

Air payau            : 0,05-3 pm

Air saline            : 5 ppm

Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam 1 kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida. Semua bromide dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan organik dioksidasi (Darmadi, 2011).

2.3.4 DO

Oksigen terlarut (dissolved oxygen) atau sering juga disebut dengan kebutuhan (oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur menunjukan jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu bahan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus (Wikipedia, 2011).

Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesis & absorbs atomosfer atau udara. Oksigen terlarut disuatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan makanan oleh makhluk hidup dalam air. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati parameter kimia seperti oksigen terlarut (DO) (Salmin, 2000).

2.3.5 Kecerahan

Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan oleh proses fotosintesis tumbuhan laut akan berkurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40 meter (Devo, 2009).

Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan, begitu juga sebaliknya (Erikarianto, 2008).

 4. DATA HASIL, PERHITUNGAN DAN ANALISA

 4.1 Data Hasil

4.1.1 Pantai Berbatu

a. Biota Pantai Berbatu

Tabel 1. Biota Pantai Berbatu

Transek

Jumlah

Klasifikasi

Ciri-ciri

Literatur

3

2

Caulerpa turpressades

 

Alga Merah

P=4,5 cm

L=5 cm

-  Alga merah ini hidup di bebatuan

-  Bentuknya bercabang

-  Secara fisik berbentuk mikroskopik

-  Berwarna merah

3

2

Laurentia obtose

 

Alga Hijau

P=1,5 cm

L=1 cm

-  Hidup di bebatuan

-  Berwarna hijau

-  Berbentuk bulat

-  Tidak bercabang

4

1

Morula granulata

 

Keong Laut

P=1,3 cm

L=0,7 cm

-  Habitatnya di batuan pantai

-  Cangkangnya keras

-  Ukuran tubuhnya kecil berkisar 1-3 cm

5

1

Paneus monodon

 

Udang Laut

P=1,8 cm

L=0,2 cm

-  Habitatnya di dasar

-  Ukuran tubuhnya kecil

-  Berwarna tubuh putih kekuningan

4.1.2 Pantai Berpasir

a. Biota Pantai Berpasir

Tabel 2. Biota Pantai Berpasir

Transek

Jumlah

Klasifikasi

Ciri-ciri

Literatur

3

3

Abudefduf  notalus

 

P = 1 cm

L = 0,5 cm

- tubuhnya bercorak garis-garis

- biasanya hidup bergerombol

- compressed

 

 

          4.1.3 Mangrove

a. Biota Mangrove

Tabel 3. Biota Mangrove

Transek

Jumlah

Klasifikasi

Ciri-ciri

G.litertur

1

1

Marmaratus rivulus

 

P= 4,5 cm

L= 0,1 cm

-   Sirip caudal homocercal

-   Bentuk tubuhnya Compressed

-   Tubuhnya transparan

-   Hidupnya solider

 

2

1

P= 2,6 cm

L= 1,5 cm

-   Habitatnya daerah lumpur

-   Warnanya kecoklatan

-   Cangkangnya keras

-   Kerangnya berduri

 

 

4

2

Scylla sp

 

P= 2,5 cm

L= 1,2 cm

-   Habitatnya daerah berlumpur

-   Warnanya kecoklatan

-   Cangkangnya keras

-   Panjang tubuh berkisar 1-10 cm

4

1

Scylla serrata

 

P= 2 cm

L= 0,5 cm

-   Habitatnya daerah berlumpur

-   Warnanya orange

-   Cangkangnya keras

-   Panjang tubuh berkisar 1-15 cm

4.1.4 Data Kualitas Air

Zona

Suhu

Kecerahan

pH

DO

Salinitas

Estuari

300 C

35,5 cm

8

Permukaan = 6,29 ppm

Tengah = 4,96 ppm

Dasar = 7 ppm

25 0/00

Tabel 4. Data Hasil Pengukuran Kualitas Air

4.1.5 Profil Pantai, Estuari dan Mangrove

a. Profil Pantai

Pantai sering juga disebut dengan zona intertidal yaitu zona yang tempat terjadinya pasang surut air laut. Zona yang terletak di pesisir pantai dengan daerah terkecil yang terkena pasang tertinggi dan surut terendah. Tipe intertidal yaitu pantai berbatu, pantai berpasir, dan pantai berkarang.

b.  Profil Estuari

Estuary merupakan zona pertemuan antara air tawar dengan air laut. Zona estuary sering terdapat di muara dan juga terdapat seperti teluk. Salinitas pada estuary sekitar 5% sampai 30%.

      c. Profil Mangrove

Hutan mangrove merupakan hutan yang letaknya di bagian muara sungai, terdapat di daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan penyusun mangrove dari laut ke darat meliputi Avicennia, Sonnertia, Rizopora, Bruguiera, Cerriop dan Nypa.

4.2 Analisa Prosedur dan Analisa Hasil

4.2.1 Mangrove

a. Analisa Prosedur

Dalam praktikum biologi laut, hal yang pertama dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan. Alat-alatnya diantaranya adalah transek ukuran 1 x 1 m untuk mengetahui jenis dan kepadatan biota, cetok untuk mempermudah pencarian biota, kamera digital untuk mengambil gambar profil mangrove, kantong plastik besar untuk tempat menyimpan alat-alat, pensil untuk menandai kertas label dan ember untuk meletakkan alat-alat. Dan bahan-bahan yang dipakai adalah kertas label untuk menandai plastik, karet gelang untuk mengikat plastik dan plastik bening untuk tempat menyimpan biota.

Langkah selanjutnya pada zona ini dilakukan kegiatan pengamatan organisme dengan menggunakan transek dengan metode transek belt. Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Pengamatan organisme dari arah laut ke darat dengan menggunakan transek belt yang digunakan untuk memepermudah pengamatan biota di zona mangrove agar dapat mengetahui penyabaran organisme pada zona mangrove dan memudahkan dalam mengidentifikasi. Transek 1 diletakkan di daerah yang telah ditentukan, kemudian dipindah ke lokasi lain sampai 5 kali pengamatan atau 5 kali transek. Sampel sebagai bahan yang akan diamati di laboratorium, yang terdapat dalam transek diambil dan dimasukkan ke dalam kantong plastik sebagai tempat atau wadah biota yang ditemukan. Selanjutnya diberi kertas label untuk memberi keterangan sampel pada plastik untuk memberi keterangan pada sampel yang telah ditemukan.

b.    Analisa Hasil

Berdasarkan hasil praktikum lapang di zona mangrove, beberapa biota yang diperoleh di zona mangrove yaitu : ikan marmarotus rivulus berjumlah 1 pada transek 1, kerang berduri berjumlah 1 pada transek 2, kepiting capit merah berjumlah 2 pada transek 4, kepiting capit orange berjumlah 1 pada transek 4. Dari hasil di atas dapat diambil kesimpulan bahwa biota terbanyak yang ditemukan di zona mangrove di pantai ngeliyep adalah biota kepiting.

Analisa Grafik Mangrove

Dari hasil biota-biota yang terdapat di zona mangrove, dapat dijelaskan juga dengan grafik hubungan biota dengan tansek. Dapat kita ketahui bahwa pada transek 1 terdapat 1 ekor ikan rivulus, pada transek 4 terdapat kepiting capit merah berjumlah 2, pada transek 2 terdapat kerang berduri berjumlah 1 dan pada transek 4 terdapat kepiting capit orange berjumlah 1. Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa pada transek 5 tidak terdapat biota dan pada zona mangrove biota terbanyak yang ditemukan adalah kepiting.

Menurut Romi Montarto (2001), tumbuh-tumbuhan mangrove yang khas kebanyakan beradaptasi seperti yang telah diterangkan. Beberapa jenis seperti Avicennia hidup di habitat perairan yang lebih asam. Beberapa hewan mangrove beradaptasi hidup melekat pada akar Rhizophora dan Bruguiera. Bersama mereka biasanya terdapat masyarakat kecil yang terdiri dari keong, karang, udang, teritip, bopoda, amphipoda, cacing, siput dan ikan.

       


 

4.2.2 Pantai

a. Analisa Prosedur

Pada daerah intertidal ini dilakukan dua macam pengamatan yaitu pengukuran kelandaian pantai atau pengamatan profil pantai dan pengamatan organisme di zona intertidal. Hal yang pertama dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan. Alat-alatnya diantaranya adalah transek ukuran 1 x 1 m untuk mengetahui jenis dan kepadatan biota, selang aerator untuk mengetahui kedataran permukaan air laut, cetok untuk mempermudah pencarian biota, tali raffia untuk mengetahui kemiringan pantai, tongkat skala untuk membantu pengukuran tinggi air pada permukaan kelandaian, seser untuk mencari biota di pantai, kamera digital untuk mengambil gambar profil pantai, pensil untuk menandai kertas label dan ember untuk meletakkan alat-alat. Dan bahan-bahan yang dipakai adalah kertas label untuk menandai plastik, karet gelang untuk mengikat plastik dan plastik bening untuk tempat menyimpan biota.

Untuk pengukuran kelandaian dilakukan dengan menentukan titik awal di daratan, yang kemudian ditarik sejauh pinggiran pantai mendekati tongkat skala yang digunakan untuk mengukur kelandaian pantai, yang diletakkan sejajar dengan titik awal. Dengan panjang tali raffia digunakan untuk mengetahui kelandaian pantai, yang didapat sebagai sumbu x dan tinggi tongkat skala sebagai y dan diukur dengan tan α, maka hasil dari α yang didapat merupakan kelandaian pantai.

Untuk pengamatan organisme sebagai bahan atau sampel yang akan diamati di laboratorium, dilakukan dengan metode transek kuadrat sebanyak 10 kali transek. Transek digunakan untuk mempermudah pengamatan biota, pertamt diletakkan sesuai dengan titik awal pada pengukuran kelandaian tersebut. Saat transek diletakkan maka organisme yang ada pada daerah yang dibatasi oleh transek tersebut juga diamati. Pengamatan atau pencarian organisme pada daerah intertidal yang berpasir dan berbatu digunakan cetok untuk memepermudah pencarian biota yang ada dalam batu dan tanah, dan seser untuk mempermudah mencari biota yang ada dalam air digunakan untuk pengamatan organisme pada daerah intertidal yang berair agar lebih mudah pengamatannya, kemudian transek dietakkan dengan jarak 2 meter sampai didapat hingga transek ke 10. Organisme yang didapatkan pada tiap transek dimasukkan ke dalam kantong plastik sebagai tempat atau wadah untuk biota, kemudian pada tiap kantong diberi kertas label untuk memeberi keterangan pada biota yang ada di dalam kantong plastik sebagai keterangan.

b. Analisa Hasil

Pada zona intertidal dilakukan pengamatan dengan metode transek kuadrat. Adapun hasil yang diperoleh pada zona intertidal adalah : pada pantai berbatu ditemukan beberapa organisme yakni Algae merah berjumlah 2 pada transek 3, Algae hijau berjumlah 2 pada transek 3, udang berjumlah 1 pada transek 5 dan keong laut berjumlah 1 pada transek 4. Sedangkan pada zona intertidal pantai berpasir ditemukan ikan sersan mayor berjumlah 3 pada transek 3.

Analisa Grafik Pantai

Dari hasil biota-biota yang terdapat di zona interidal pantai berbatu dan berpasir, dapat dijelaskan juga dengan grafik hubungan biota dengan tansek, ditemukan bahwa pada transek 3 terdapat ikan sersan mayor bejumlah 3, pada transek 3 terdapat algae merah berjumlah 2, keong laut berjumlah 1 pada transek 4, terdapat udang laut berjumlah 1 pada transek 5, serta algae hijau berjumlah 2 pada transek 3. Dari hasil data grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa pada transek 1 dan 2 tidak terdapat biota karena transek 1 dan 2 terletak di pantai yang bepasir, serta pada zona intertidal biota terbanyak adalah ikan sersan mayor dengan jumlah 3.

Menurut Nybakken (1992), walaupun banyak penelitian yang sudah dilakukan dalam ekologi invertebrata dan zona pertumbuhan dari zona intertidal dengan 3 tipe pantai, tetapi hanya sedikit keterangan tentang ikan di daerah ini atau tentang peranannya di dalam organisasi komunitas yang baik sebagai grazer maupun predator. Ketika pasang surut, berbagai burung biasanya terasosiasi dengan zona intertidal. Kebanyakan burung biasanya merupakan burung karnivora atau omnivora.

4.2.3 Estuari

a. Analisa Prosedur

  Dalam praktikum biologi laut hal yang pertama dilakukan adalah disiapkan alat-alat dan bahan. Alat-alatnya diantaranya adalah thermometer untuk mengukur suhu, secchidisk untuk mengukur kecerahan, pH paper untuk mengukur derajat keasaman, refraktometer untuk mengukur salinitas, kamera digital untuk mengambil gambar profil estuary, botol aqua untuk mengambil sample air di zona estuary, botol DO untuk mengambil dan menyimpan sample air di permukaan, pipet tetes untuk mengambil dan memindahkan larutan dalam skala kecil, kertas lakmus untuk indikator asam dan basa, water sampler untuk membantu mengambil sample air di bagian tengah dan dasar, pensil untuk menandai kertas label, dan ember untuk meletakkan alat.

Bahan-bahan yang dipakai antara lain MnSO4 untuk mengikat oksigen, NaOH+KI untuk membentuk endapan dan kertas label untuk menandai bahan. Pada daerah estuari dilakukukan beberapa pengamatan dengan melakukan uji parameter kualitas air, yaitu : pengamatan suhu perairan, DO (kadar oksigen terlarut), kecerahan perairan, pH dan salinitas perairan.

Ø  Suhu

Dimulai dengan pengukuran suhu dengan langkah pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian thermometer yang digunakan untuk mengukur atau menentukan suhu perairan, dimasukkan ke dalam perairan dengan syarat membelakangi matahari, tidak boleh disentuh oleh tangan dan thermometer jangan sampai ke dasar perairan agar data yang diperoleh akurat. Saat skala pada thermometer telihat, segera dicatat agar tidak berubah dan didapatkan hasilnya.

Ø  DO (Oksigen Terlarut)

Untuk pengukuran DO, pertama-tama botol DO yang digunakan untuk mengukur kadar O2 terlarut di permukaan, tengah dan dasar perairan, dimasukkan ke dalam water sampler untuk mengambil sampel air pada permukaan, tengah dan dasar perairan, kemudian water sampler ditutup, selanjutnya selang untuk mengalirkan air ke dalam botol DO ditutup dengan tangan agar udara tidak keluar dan masuk, kemudian water sampler dibawa mendekati perairan, dan kemudian selang penghubung tersebut dimasukkan ke dasar perairan sampai terdengar bunyi “bulb”, lalu diangkat dan dibawa ke darat, kemudian water sampler dibuka tutupnya dan botol DO diambil (tidak boleh ada gelembung di dalamnya) kemudian botol  DO ditutup.

Setelah didapatkan oksigen terlarut dalam botol DO, kemudian botol DO diangkat dan dibolak-balik. Setelah itu tutup botol DO dibuka kemudian sample air dalam botol DO ditetesi dengan 2 ml larutan MnSO4, guna larutan MnSO4 ini untuk mengikat oksigen lalu dihomogenkan agar sample air dan larutan MnSO4 tercampur merata. Setelah dihomogenkan ditetesi dengan 2 ml NaOH+KI yang bertujuan sebagai pembentuk endapan dan dihomogenkan agar sample air dan larutan tercampur merata. Kemudian diendapkan selama 30 menit dan ditutup botol DO, lalu didapatkan hasilnya.

Ø  Kecerahan

Untuk pengukuran kecerahan perairan, hal yang pertama dilakukan adalah mnyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian membersihkan alat pengukur kecerahan yaitu secchidisk untuk mengukur kecerahan suatu perairan dengan menggunakan tissue. Secchidisk dibawa ke tengah perairan, kemudian dimasukkan ke dalam perairan sampai tidak terlihat warnanya (hitam dan putih) sebagai D1, lalu diberi tanda dengan karet gelang untuk menandai D1 dan D2 pada pegangan secchidisk, kemudian diangkat ke luar sampai warnanya terlihat kembali (hitam dan putih) seagai D2 dan terakhir adalah jarak antara D1 dan D2 dihitung.

Ø  pH

Pertama disiapkan pH paper, kemudian dicelupkan ke dalam perairan dan ditunggu sampai 2-3 menit. Lalu dikibaskan sampai setengah kering dan dicocokkan dengan parameter warna atau kotak standart pH, apakah pH asam atau basa dan didapatkan hasilnya.

Ø  Salinitas

Langkah pertama adalah disiapkan alat dan bahannya, selanjutnya yang dilakukan adalah dibuka terlebih dahulu tutup refraktometer dan dikalibrasi dengan aquadest pada kaca prisma refraktometer lalu dibersihkan dengan tissue. Kemudian ditetesi sample air pada kaca prisma refraktometer, lalu ditutup dengan kemiringan 450agar tidak terjadi gelembung udara. Setelah itu refraktometer diarahkan menuju cahaya agar pengukuran terlihat jelas. Dan dilihat skala bagian kanan pada refraktometer yang menunjukkan salinitas sample air, kemudian didapatkan hasilnya.

b.    Analisa Hasil

Berdasarkan hasil praktikum lapang di zona estuary hasil yang didapatkan adalah :

Ø  Kecerahan

Dalam perhitungan kecerahan pada kualitas air, telah didapatkan data data d1 = 39 dan d2 = 82, sehingga  =  = 35,5 cm. Sehingga kecerahan pada zona estuary adalah 35,5 cm.

Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut sendiri. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200m, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40 meter (Devo, 2009).

Ø  DO

Untuk melakukan perhitungan DO ada 3 zonasi yaitu :

-       Permukaan

Telah didapatkan data V titran = 9,5 ; N titran = 0,025 dan V botol DO = 306

Dengan rumus yang ada, yaitu   didapatkan DO nya 6,29 mg/l

-       Tengah

Telah didapatkan data V titran = 6,5 ; N titran = 0,025 dan V botol DO = 266

Dengan rumus yang ada, yaitu   didapatkan DOnya 4,96 mg/l

-       Dasar

Telah didapatkan data V titran = 7 ; N titran = 0,025 dan V botol DO = 281.

Dengan rumus yang ada, yaitu   didapatkan DOnya 5,05 mg/l.

Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme (Wikipedia, 2011).

Ø  Suhu

Dalam praktikum biologi laut di zona estuary, pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer didapatkan suhunya adalah 30⁰C.

Suhu air dan suhu badan ikan bervariasi dari waktu ke waktu. Suhu badan ikan ditempat yang sama berkisar antara 28⁰ C – 30⁰ C dengan rata-rata 29⁰ C (Burhanuddin, 2009).

Ø  Salinitas

Dalam praktikum biologi laut di zona estuary, pengukuran salinitas dengan menggunakan refraktometer didapatkan salinitasnya adalah 25‰.

Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikatagorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%, ia disebut brine (Darmadi, 2010).

Ø  pH

Dalam praktikum biologi laut di zona estuary, pengukuran pH dengan menggunakan pH paper didapatkan pH nya adalah 8.

pH sangat berkaitan dengan air. Air laut yang normal mempunyai nilai pH antara 7,8 dan 8,3 dan mempunyai kapasitas yang bagus untuk bikarbonat yang tersedia (Blackwell, 2007).

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum Biologi Laut maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Ø  Zona intertidal adalah daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat dari samudera dunia, merupakan pinggiran yang sempit yang terkena pasang tertinggi dan surut terendah.

Ø  Faktor-faktor yang mempengaruhi zona intertidal adalah suhu, gerakan ombak, pasang surut, substrat.

Ø  Zona mangrove adalah pantai tropik yang didominasi oleh beberapa species pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Ø  Susunan tanaman dari darat ke laut adalah Nypa, Ceriops, Bruguiera, Rhizopora, Sonneratia, Avicennia.

Ø  Zona estuary adalah perairan muara sungai yang semi tertutup berhubungan bebas dengan laut.

Ø  Faktor yang mempengaruhi kehidupan organisme populasi

a.    Intertidal                : suhu, gerakan ombak dan faktor biologis

b.    Mangrove              : penyebaran kondisi fisik hutan bakau dan

organisme yang berasosiasi

c.    Estuary                  : salinitas, substrat, suhu

Ø  pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.

Ø  Suhu adalah parameter fisika yang dipengaruhi oleh kecerahan dan kedalaman.

Ø  Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.

Ø  DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesis dan absorbsi atmosfer.

Ø  Rumus DO                  :

Ø  Rumus kecerahan

Ø  Data hasil kualitas air

a.    Kecerahan            :

b.    pH                         : 8

c.    Suhu                      : 300 C

d.    Salinitas                 : 25 0/00

e.    DO (oksigen terlarut) permukaan

DO

DO (oksigen terlarut) tengah

DO

DO (oksigen terlarut) dasar

DO

Ø  Pada ekosistem zona pantai ditemukan alga merah, alga hijau, keong laut, dan udang laut (pantai berbatu), serta ikan sersan mayor pada pantai berpasir.

Ø  Pada zona mangrove biota yang ditemukan adalah ikan rivus (Marmarotus rivulus), ikan gelodok, tumbuhan mangrove (Brugueira sexangula), kepiting bakau capit merah, orange, hitam dan kuning.

5.2 Saran

Saran untuk praktikum Biologi Laut yaitu agar para asisten lebih memperhatikan para praktikan dalam melakukan praktikum lapang dan laboratorium serta lebih kerjasama lagi. Dan perlu disiapkan terlebih dahulu alat-alat dan bahan yang dipakai praktikum, agar praktikum bejalan dengan lancar dan koefisien.

  1. Awesome blog article.Much thanks again. Fantastic.

  2. Beneficial document helps make frequent advance, appreciate it write about, this pile-up connected with expertise is usually to hold finding out, focus is usually the beginning of money.

  3. Major thanks for the blog.Really looking forward to read more. Really Great.

  4. Canon ink says:

    I really like and appreciate your blog article.Really thank you! Want more.

  5. hp ink says:

    Great, thanks for sharing this post.Really thank you! Want more.

  6. Thanks so much for the post.Thanks Again. Awesome.

  7. Canon CL-511 says:

    Fantastic blog article.Really thank you! Keep writing.

  8. Epson T1281 says:

    Thanks a lot for the blog article.Really looking forward to read more.

  9. Thank you ever so for you blog.Really looking forward to read more. Cool.

  10. Very informative blog post.Much thanks again. Really Great.

CAPTCHA Image
*