Standar Taman Kota

Taman kota merupakan  salah satu area publik  dimana para pengunjung bebas melakukan berbagai macam  kegiatan untuk memenuhi rasa keindahan dan rasa kepuasan batinnya. Alun-alun kota menjadi pusat kegiatan masyarakat seperti; perdagangan, keagamaan, dan pemerintahan, oleh karena itu taman kota terletak dipusat kota untuk memberikan tempat beristirahat atau sekedar berkumpul bersama teman dan sanak saudara.

Di Indonesia belum memiliki standar taman yang disusun secara terperinci, akan tetapi dalam menentukan standar taman kota dapat ditentukan melalui unsur-unsur yang menyusun taman tersebut,. Unsur yang ada di suatu taman adalah sebagai berikut :

Ø  Material Landscape atau Vegetasi

  • Pohon : Tanaman yang memiliki fisik yang tinggi besar yang berfungsi sebagai naungan alami taman. Misalnya beringin, lamtorogung, cemara, akasia, dan lainnya.
  • Perdu : Tanaman sejenis pohon dengan ukuran kecil dengan bunga-bunga yang berwarna-warni. Misalnya Pandan bali, kembang sepatu, bougenvillle, dan lainnya.
  • Semak : Tanaman berkayu yang agak kecil dan rendah tetapi tidak memiliki batang utama. Misalnya Kedondong laut, Puring, dan lainnya.
  • Tanaman penutup tanah : Tanaman yang lebih tinggi rumputnya, berdaun dan berbunga indah. Misalnya Mandevila, Pasiflora, nanas hias dan lainnya.
  • Rumput : Tanaman yang berukuran sangat kecil yang berfungsi menutupi tanah. Misalnya rumput embun, rumput manila dan lainnya.

Ø  Material Pendukung atau Elemen Keras.

  • Kolam : Dengan adanya kolam dapat memberikan sentuhan alami pada suatu taman sehingga taman akan lebih menjadi lebih indah dan menarik, selain itu adanya kolam juga bisa memberikan kesan segar pada area disekitar taman.
  • Batuan : Batuan yang ada di taman dapat memperkuat sentuhan alami yang ada di taman, selain itu batuan yang ada juga bisa menyelaraskan penggunaan vegetasi agar tidak terlihat terlalu memonopoli suasana taman.
  • Gazebo: merupakan bangunan permanen atau semi permanen yang diletakkan di taman atau di atas kolam. Adapun fungsi Gazabo untuk sekedar santai sambil menikmati kenindahan pemandangan sekitarnya.
  • Jalan Setapak (Stepping Stone) : Jalan setapak merupakan elemen yang memper indah taman, selain itu berfungsi menjaga tanaman kecil yang ada di taman agar tidak mengalami tekanan yang terlalu banyak akibat terinjak.
  • Perkerasan : Perkerasan merupakan unsur taman yang terdiri dari aspal, batu bata tegel, paving , dan bahan lainnya. Perkerasan memiliki fungsi sebagai pembatas dan penganti vegetasi .
  • Lampu Taman : Lampu taman merupakan ornament yang memberikan sentuhan keingahan dan memberikan penerangan pada malam hari.

Ø  Unsur non fisik keindahan

  • Kesatuan dan keteraturan : adanya kesatuan dalam ide maupun dalam ekspresi fisik. Dimana semua unsur harus mempunyai hubungan satu dengan lain secara harmonis.
  • Skala : terdapat beberapa macam skala taman kota yakni skala ruang intim, skala ruang menumental, dan skala ruang kota.
  • Daya tarik : taman memiliki kesan mengundang secara permanen ke seluruh arah.

Contoh Taman kota di Kota Malang

Alun-Alun Kota Malang


Alun-alun merupakan salah satu bagian pusat kota yang mempunyai fungsi sebagai pusat kemasyarakatan dan pusat pemerintahan. Alun-alun sebagai elemen kota merupakan ruang terbuka yang diperuntukkan bagi siapa saja, alun-alun juga merupakan tempat berbagai macam kegiatan berlangsung misalnya; sebagai tempat rekreasi, bermain , dan berkumpul keluarga atau teman. Selain itu alun-alun juga menjadi tempat mencari penghasilan, pada pagi sampai malam hari alun-alun yang menjajakan dagangannya berupa makanan atau mainan anak-anak. Meskipun terlihat sedikit mengganggu suasana taman, tetapi dengan ada para pedagang tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung alun-alun serta memudahkan pengunjung untuk sekedar membeli minum ataupun camilan. Pada malam hari pengunjung biasanya bisa melihat pertunjukan air mancur dan topeng monyet yang ada di sekitar alun-alun  tersebut

Alun-alun kota Malang merupakan salah satu dari sekian banyak taman yang ada dikota malang kini telah mengalami banyak perubahan misalnya, hilangnya pohon beringan di tengah alun-alun sebagai pusat atau titik sentral dari mancapat pancer lima yang ada dialun-alun, pada akhir tahun 80-an, dan akhirnya diganti dengan  air mancur di tengahnya. Pemberian pagar yang mengeliling alun-alun yang menjadi “closed space”padahal sebelumnya merupakan “open space” memberikan kesan yang kurang baik. Fungsi-fungsi perubahan itu disebabkan oleh “wilayah ekonomi” yang mendominasi kawasan alun-alun. Hal itu terlihat dengan adanya perubahan fisik alun-alun dengan pemberian pagar keliling, ditambah dengan fungsi “taman” sebagai tempat parkir kendaraan roda empat, yang menggunakan sebagian lahan dari alun-alun itu sendiri.

Masjid Ja’mi yang berada disisi barat alun-alun mempunyai keterkaitan erat dengan alun-alun. Apabila dilihat dari aspek filosofis-religius, alun-alun berfungsi sebagai tempat untuk menampung luapan jamaah dari Masjid Ja’mi. Seharusnya pemerintah kota memperhatikan konsep dasar religius-filosofis pada kawasan alun-alun di atas. Salah satunya dengan menghilangkan pagar yang terdapat di depan Masjid Ja’mi tersebut. Upaya pelestarian alun-alun dan kawasan yang ada disekitarnya bias merupakan  proses untuk memelihara bangunan dan kawasan sedemikian rupa, sehingga makna kulturalnya yang berupa; nilai keindahan, sejarah, atau nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini dan masa mendatang akan dapat terpelihara. Hal ini akan memperkaya pengalaman visual, menyalurkan hasrat kesinambungan dan memberi tautan bermakna dengan masa lampau.

Di tengah perubahan dan pertumbuhan kawasan alun-alun yang semakin pesat saat ini, penataan alun-alun kembali pada konsep awalnya akan menawarkan suasana baru yang menyegarkan dan memberikan daya pikat bagi pengunjung karena kenyamanan psikologis yang diperolehnya. Mempertahankan alun-alun sebagai bagian kota akan membantu hadirnya sense of place, identitas diri dan suasana kontras.

Di dalam konteks pembangunan kota, perlu ada motivasi dari pemerintah kota untuk mempertahankan warisan budaya (cultural heritage), menjamin terwujudnya atau terpeliharanya tata ruang kota yang khas, dan motivasi ekonomi bahwa alun-alun kota Malang merupakan bentuk peninggalan memiliki nilai atau daya tarik yang perlu dipertahankan sebagai modal kawasan. Penataan atau pun pelestarian dari kawasan alun-alun semuanya tergantung pada kebijakan pemerintah kota dalam menentukan langkah-langkah penanganannya.