Studi Kasus Bencana yang Berada di Malang Raya dan Pemetaan

Hujan deras yang terjadi kurang lebih 5 jam terus menerus di Kota Batu, tepatnya di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo mengakibatkan beberapa bencana antaranya tanah longsor dan bajir yang menyebabkan kerusakan lahan pertanian. Akibat dari hujan deras tersebut mengakibatkan tanah longsor yang menimpa warga dan menyebabkan lumpur di jalan raya. Tidak hanya itu hujan yang terus melanda mengakibatkan gorong – gorong tidak mampu menampung luapan air sehingga mengakibatkan banjir dan merusak lahan pertanian. Lahan pertanian 800 meter persegi yang diantaranya tanaman salad, jagung, bawang merah terendam air.

Hujan deras yang terjadi membuat luapan air hingga 50 centimeter yang berimbas empat rumah tergenang air. Kemudian tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar membuat dan pembersihan saluran air yang tersumbat sampah. BPBD Kota Batu mengimbau kepada warga Kota Batu, jika terdapat bencana bisa langsung informasikan melalui RT/RW atau pihak desa.

Permasalahan yang terjadi yaitu terjadinya cuaca ekstrim yang mengakibatkan terjadinya longsor serta banjir yang mengakibatkan kerusakan pada lahan pertanian pada daerah Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Hal ini didukung oleh Anwar (2011), yang menyatakan Kota Batu yang dimana kota yang di kelilingi batu, maka jenis tanah pelapukan hasil letusan gunung api yang memiliki tingkat kesuburan tinggi. Komposisi tanah tersebut tersusun atas lempung dan sedikit pasir. Hal ini akan meninbulkan dampak negative akan potensi tanah longsor jika tanah tersebut berana di atas batuan kedap air pada perbukitan dengan kemiringan sedang hingga terjal serta tidak ada tenaman berakar.

Menurut Hartono (2016), kriteria kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tanah longsor/erosi. Untuk menyelesaikan masalah tersebut maka perlu adanya hasil kajian dari peta kontur, ketinggian, geologi dan jenis tanah serta vegetasi yang ada di wilayah berlereng (kemiringan diatas 50%) untuk kawasan rawan bencana di Kota Batu yang perlu dikendalikan secara ketat karena pengembangan kawasan budidaya terutama pada kegiatan pertanian.

Menurut Firdaus (2014) menyatakan, pemetaan zonasi area rawan longsor meliputi kondisi geologi, jenis tanah, curah hujan, tingkat kelerengan serta tutupan lahan hasil olahan citra satelit serta di lanjutkan dengan operasi spasial dari parameter tersebut. Katagori rawan longsor yang memiliki skor tinggi terdapat di sebelah timur laut Kota Batu di Kecamatan Bumiaji. Perlu adanya keselarasan dan kerjasama yang baik (sinergisme) antara pemerintah daerah, Perguruan tinggi, LSM dan masyarakat dalam mengelola dan menangani permasalahan lahan kritis ini.

Daftar Pustaka

Anwar, M. Ruslin. 2011. Model Optimasi Untuk Penyusunan Arahan Pemanfaatan Lahan Secara Optimal. Universitas Brawijaya. Malang

Firdaus, Hana Sugiastu. 2014. Pemeteaan Daerah Rawan Longsor dengan Metode Penginderaan Jauh dan Operasi Berbasis Spasial. Institut Sepuluh November. Surabaya

Hartono, Rudi. 2016. Identifikasi Bentuk Erosi Tanah Melalui Interpretasi Citra Google Earth Di Wilayah Sumber Brantas Kota Batu. Universitas Negeri Malang. Malang

Richa, Irsya. 2017. Hujan Deras Lima Jam, Tanah Logsor dan Banjir Serang Batu. Diakses online pada 11 Febuari 2018. http://m.jatimtimes.com/baca/162002/20171118/205913/hujan-deras-lima-jam-tanah-logsor-dan-banjir-serang-batu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CAPTCHA Image

*