Pragmatisme dan Pancasila

October 8, 2012 in Green by Rachmad Hadjarati

Sudah lama kita kenal Pancasila sebagai ideologi bangsa, sebagai dasar negara. Semenjak duduk di Sekolah Dasar kita dikenalkan bahwa sila pertama adalah ketuhanan yang maha esa, sila kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ketiga adalah persatuan indonesia, sila keempat adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan sila lima sebagai sila terakhir adalah keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.Namun waktu tak menjadi jaminan untuk bangsa ini cukup untuk mengenal dan menjadikan pancasila sebagai ideologi diri, tidak hanya sekedar ideologi bangsa yang tercetak rapi di buku pelajaran kewarganegaraan. Sejak diciptakan hingga kini, pancasila hanya dianggap ketika akan menjalani ujian mata pelajaran kewarganegaraan, atau sebagai pengisi acara saat upacara bendera.

Pancasila yang diharapkan oleh para bapak bangsa bisa menjadi solusi bangsa ini, ternyata kini telah digantikan oleh berbagai nilai yang tidak jelas kini. Kemarin kita memperingati hari kesaktian Pancasila. Saktikah Pancasila kini? Dalam perjalanan sejarah, Pancasila (mungkin) hanya akan selalu menjadi (sekedar) ideologi lusuh di selembar kertas. Malah di orde baru, Pancasila menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan. Setelah orde baru tumbang pun, masa reformasi tidak mampu menjadikan sakti Pancasila. Salah satu buktinya yaitu dengan masih maraknya korupsi di negeri tercinta ini. Berbagai lini diserang, mulai dari PNS, Swasta, Anggota DPR & DPRD, Walikota, Bupati dan wakil-wakilnya, Gubernur, serta tak ketinggalan para penegak hukum seperti Polisi dan Hakim. Data Litbang Kompas tentang Aktor Korupsi (2004-Juni 2012) menempatkan Eselon I, II dan II sebagai jabatan yang paling sering tersangkut kasus korupsi dengan angka 98 orang. Disusul oleh Swasta dengan 70 orang dan di tempat ketiga ada anggota DPR dan DPRD dengan angka 65 orang.

Beginilah kemudian yang dikatakan ada pergantian nilai-nilai, subtitusi nilai. Nilai-nilai Pancasila yang diharapkan menjadi solusi bangsa dengan kesaktiannya, kini mulai digantikan oleh nilai-nilai pragmatisme yang tak bermoral. Ya, pragmatisme. Sebuah nilai yang kemudian bermaksud mencapai tujuan tanpa melihat halal haram nya jalan yang dilalui. Tidak lagi memperhatikan cara-cara yang etis dalam mencapai mimpi, asal cepat sampai (re: kaya) saya akan ambil jalan itu. Nilai inilah yang kemudian menggerus nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya adalah merupakan intisari yang diambil dari semua nilai-nilai moral asli nusantara, yang kemudian di sederhanakan menjadi lima pasal.

Pragmatisme kemudian tidak hanya melanda para koruptor-koruptor di senayan, kantor bupati, gubernur atau kantor-kantor kementerian di Jakarta sana. Pragmatisme kini telah tumbuh dan berkembang di Menara-menara Gading Ilmu Pengetahuan, yaitu Kampus atau dalam bahasa undang-undang dibahasakan Universitas. Ya, sadar atau tidak kita kini telah dikepung oleh pragmatisme ala universitas. Semua lini universitas seakan telah dikepung oleh pragmatisme semacam ini, pragmatisme yang dijalankan oleh para intelektual.

Pragmatisme semacam ini lebih samar daripada pragmatisme jenis lain. Karena pragmatisme kampus, terutama di kalangan mahasiswa sudah dari dahulu kala telah menjadi bobrok yang seakan dibiarkan tumbuh dan berkembang, sehinggan lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan yang kemudian diklaim sebagai kebenaran, karena telah lama dijalankan. Salah satu paling dekat, yang mungkin telah jadi kebiasaan sejak kita SD, yaitu mencontek. Pragmatisme dalam mencari nilai, asal nilai saya bagus, entah dapat jawaban dari mana saja, dari teman kah, dari contekan kah, saya akan jalani. Lain lagi dengan jenis satunya, yaitu titip absen. Ini juga kemudian menjadi salah satu bobrok yang kemudian digampangkan. Ya, digampangkan. Tidak dianggap dosa, bohong kecil itu biasa.

Ini yang kemudian ditakutkan oleh penulis. Dimana sila kemanusiaan yang adil dan beradab? Apakah berbohon seperti diatas bisa dikatakan sebagai manusia yang beradab? Atau yang berbohong itu memakai sila persatuan indonesia? Karena teman juga titip absen ke saya, maka suatu saat saya juga akan minta tolong ke dia. Bersatu dalam kebohongan. Ketakutan ini kemudian berlanjut ketika sang intelektual yang suka mencontek dan titip absen ini kemudian lulus dengan IP bagus, mentereng lah istilahnya. Kemudian menduduki jabatan penting di tempat kerjanya. Karena ketika kuliah terbiasa menggampangkan dosa kecil, hal ini akan terbawa ketika sampai menjadi pejabat negara. Bahkan akan terbiasa menjadi melakukan dosa besar ketika menjabat. Kenapa? Karena saat menjadi mahasiswa kita tidak punya wewenang sebesar saat menjadi mahasiswa. Kebiasaan menggampangkan inilah yang kemudian penulis katakan bukanlah nilai-nilai pancasila yang sebenarnya adalah nilai-nilai yang luhur, bebas dari kebohongan, sekecil apapun kebohongan itu, tetaplah kebohongan dan berpotensi memunculkan kebohongan lain yang bahkan lebih besar.

Mari kembali ke nilai-nilai asli pancasila. Mahasiswa Pancasila, Pemimpin juga berjiwa pancasila, niscaya Indonesia Sejahtera.

Adhyaksa H.
Staf Kementerian Publik BEM FH-UB

nb: Adhyaksa adalah nama kecil penulis, Rachmad Hadjarati.