Eelco sekeluarga akan memutuskan untuk keliling dunia dengan mengendarai mobilnya. Perjalanan juga diawali dengan menelusuri Malaysia. Eelco serta keluarga keliling dunia gunakan Pajero Sport berpelat nomer Jakarta. Satu keluarga turut dibawa semua. Eelco Koudijs (Bapak), Vryedta Ilfia Koudijs (Ibu), bersama putri-putra mereka Raneshsya Abelona serta Bramantyo Aditya.

“Kami dikejar deadline keberangkatan sebab agenda trip melewati China telah fixed, tidak dapat mundur kembali. Serta agenda itu terkait dengan pengiriman mobil dari Jakarta ke Pontianak dan dari Kuching ke Port Klang. Meleset 1 hari saja akan berefek panjang,” catat Eelco.

“Sebetulnya kami masih tetap perlu waktu minimum 3 minggu untuk mengakhiri semua persiapan, tetapi memang tidak ada pilihan. Waktu kami banyak terbuang karena coba semua pilihan dalam pilih mobil yang akan kami pakai. Hingga pada saat pilihan telah tidak ada tidak hanya memakai Cappuccino (panggilan untuk mobilnya), waktu sangatlah minim sesaat pengurusan surat-surat dan melakukan modifikasi mobil harus tetap dikerjakan.

Baca Pula : Teknik Dasar Melodi Gitar dan Memahami Teknik Dasar Melodi

Ini yang sangat kuras tenaga, pikiran dan waktu diwaktu yang begitu pendek itu,” lebih Eelco. Serta, sesudah hampir 2 minggu kurang tidur, pas tanggal 13 Juli 2018, Eelco serta keluarga mengawali perjalanan panjang bersejarah. Mereka akan melewati setidaknya 35 negara dalam 1 tahun.

“Jam 03.00 WIB pintu rumah diketuk, waktu dibuka beberapa rekan-rekan dari Caldera memberikan kejutan. Mereka hadir jam 03.00 pagi untuk menolong mengusung semua barang, memasukkan ke mobil serta meluncur cepat ke arah Bandara. Thanks god …, that’s what real friends are like,” narasi Eelco.

“Cappuccino telah pergi terlebih dulu 5 hari yang lantas dengan memakai kapal roro serta telah datang dengan aman di Pontianak. Kami berempat terbang menyusul ke Pontianak dengan memakai Garuda jam 05.00 WIB pagi hari. Tiada pertolongan rekan-rekan Caldera, tentu kami akan ketinggalan pesawat. Sampai di pesawat, Kami berempat tertidur kecapekan di pesawat,” tuturnya. Pada akhirnya mereka datang di Pontianak. Mobil mereka juga telah menanti di kapal.

“Semua mobil telah diambil pemiliknya, cuma tersisa Cappuccino di dalam kapal tsb. Proses serah terima berjalan cepat serta tiada masalah. Kami langsung masukkan semua barang dalam Cappuccino. Ketentuan kirim barang dengan memakai kapal roro ialah, semua barang harus terkunci rapi. Bila ada barang yang bergeletakan di dalam mobil, biasanya akan hilang,” kata Eelco.

“Tidak dapat semua barang kami kunci di dalam mobil, sebab peti tempat semua “harta karun”, nyatanya pembuatnya salah ukuran. Perlu penambahan 3 hari untuk bikin yang baru. Jadi peti pergi bersama dengan kami, Karena itu barang yang kami bawa serta dipesawat banyak sekali serta konsekuensinya overweight.

Jam 10.00 pagi, semua masalah packing darurat diatas kapal roro telah tuntas, kami langsung melaju ke arah perbatasan Indonesia – Malaysia, Entikong lewat trans Kalimantan. Jalan trans Kalimantan waktu sekarang telah tambah lebih mulus di banding beberapa tahun lantas waktu saya turut team “Women Across Borneo”. Waktu itu ada banyak jalanan dengan medan yang rusak serta aspalnya juga banyak yang berlubang. Dahulu, berasa sekali ketidaksamaan muka Malaysia serta Indonesia di area perbatasan ini,” imbuhnya.

Menurut gagasan keluarga Eelco, mereka mesti menguber waktu untuk dapat sampai Kota Kuching sebelum jam 17.00, supaya bisa menyerahkan mobil pada pihak cargo. Sebab Cappuccino harus turut kapal kembali dari Kuching ke arah Port Klang. Prediksi waktu tempuh Pontianak Kuching ialah 7 jam, jadi memang waktu keluarga Eelco sangat-sangat ketat. Lebih sisi yang susah di Malaysia adalah melalui perbatasan.

“Bagaimana juga kami berupaya menguber waktu serta menyopir bergantian tiada istirahat, nyatanya kami baru dapat sampai border (Entikong) jam 16.30 sore. Berlari-lari mengatur cap keluar Indonesia di passport serta carnet (passport spesial mobil) di petugas yang berlainan telah habiskan waktu 15 menit. Tersisa waktu 15 menit kembali untuk menguber masuk Malaysia,” tuturnya.

Baca Pula : Teknik Melodi Gitar Untuk Pemula dengan Membaca Notasi Drum

“Waktu kami masuk gerbang imigrasi Malaysia petugas telah siap-siap tutup. Cap untuk masuk Malaysia di passport kami telah tuntas, tinggal cap di passport Cappuccino yang belumlah. Petugas telah tutup rolling door, serta mukanya telah mulai kurang ramah.

Untung saatnya pas-pasan, walau harus melawan muka kurang ramah petugas. Kami selekasnya kontak ke pihak cargo jika kami tidak dapat on time datang di Kuching, sebab dari Entikong ke arah Kuching memerlukan waktu 1,5-2 jam. Untungnya pihak cargo bermurah hati. Mereka mengijinkan untuk terima mobil sampai sabtu keesokannya sangat lamban pkl 12.00 siang,” tuturnya.

Masih tetap dapat bernafas lega, tetapi masih menguber perjalanan ke kota Kuching yang tersisa 2 jam mengemudi, keluarga Eelco juga begitu capek serta tegang. Tetapi masih harus ditempuh dengan bersukur. Bayangkan bila pihak cargo tidak ingin terima mobil yang digunakannya untuk keliling dunia.

“Kami datang di kota Kuching pkl 20.30. Langsung cek in di Majestic Riverside Hotel, makan malam cepat serta tidur kecapekan. Bangun pagi hari dengan tubuh yang masih tetap pegal-pegal serta lemas. Sesudah makan, harus langsung re-packing cepat serta mengantarkan Cappuccino ke pihak cargo. Nyatanya packing banyaknya barang supaya bisa terkunci di dalam peti dimobil, sangat tidak gampang. Kami baru dapat mengakhiri packing jam 11.00 siang. Langsung melaju ke arah cargo,” tuturnya.

“Tetapi ada yang aneh, nama kantor cargo itu berlainan dengan nama kantor yang sampai kini kami kontak. Keanehan makin berasa, sesudah kami berikan Cappuccino, sang staff menuturkan jika kapal baru akan jalan tgl 17 Juli (seharusnya tgl 15 Juli 2018), mobil sendiri baru dapat masuk kapal tgl 16 pagi, waktu itu masih tetap tgl 14 Juli pagi. Lantas mengapa kami harus diburu-buru sampai kami demikian tegangnya.

Perihal yang lain, bila agenda kapal mundur, bagaimana dengan agenda kami. Itu bermakna agenda kami pun beralih banyak, sebab mundur 2 hari dari gagasan sebelumnya. Banyak dari gagasan yang harus dirombak serta itu tidak gampang,” imbuhnya. Tidak semulus yang prediksi, sebab memang ada-ada saja petugas yang ‘nakal’.

“Keliatannya, petugas di cargo yang pertama ‘bermain belakang’ serta menyerahkan kami pada temannya di perusahaan cargo lainnya. Karena itu kami tidak dapat turut sesuai dengan agenda awal, tetapi turut di kapal yang berlainan. Memprotes kami tidak digubris, bila kami tidak senang, ya silahkan mencari kapal lainnya serta mengingat itu memerlukan waktu jadi peluang kami akan agenda kapal yang lebih mundur kembali. Jadi ya, sangat terpaksa tutup mulut dengan jengkel. Sore itu kami butuhkan dengan utak atik lagi rencana kami serta mengendalikan gagasan baru sebab menambahkan hari yang menggantung tiada Cappuccino,” katanya.

Simak Juga : Cara Membaca Notasi Drum dan Membaca Notasi Drum Untuk Pemula

“Tanggal 15 Juli 2018, kami miliki penambahan waktu di Kuching. Karena itu berpeluang untuk lihat Rainforest World Music Festival 2018 sepanjang hari penuh di Serawak cultural village, satu taman dengan contoh2 rumah Dayak dari 9 suku Dayak yang berlainan. Festival music yang mengagumkan menurut kami.

Beralih dari 1 stage ke stage yang lain yang tampilkan pemusik-pemusik dunia yang begitu bagus itu betul-betul menyenangkan. Raneeshya begitu ketertarikan untuk dapat lihat semua stage. Stage yang sangat menarik ialah waktu Flamenco yang datang dari Spanyol bekerjasama dengan musisi dari Rajahstan, begitu mengagumkan. Beberapa musisi banyak yang tidak dapat berbahasa Inggris, tetapi dalam tempo 30 menit mereka dapat membuahkan pertunjukkan yang begitu mengagumkan. Ini menuturkan jika music ialah bahasa Universal,” imbuhnya.

Perjalanan di Kuching pada akhirnya ditutup dengan keliling Kuching. “Hari selanjutnya, kami berpeluang untuk sightseeing kota Kuching. Ke Semanggoh Wildcare Centre serta River Front. Buat anak-anak, lihat Semanggoh Rehabilitation Centre, dimana beberapa Orang Utan yang diselamatkan dari tangan manusia.

Dilepaskan di rimba sesudah disiapkan untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungan rimba, sebetulnya, betul-betul perihal yang positive. Mengerti kehidupan orang utan serta bedanya dengan kera / monyet perihal yang lain yang bagus untuk pengetahuan mereka,” imbuhnya.