laporan metode penangkapan ikan

2013
07.12

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penangkapan ikan merupakan salah satu profesi yang telah lama dilakukan oleh manusia. Menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu. Manusia Neanderthal telah melakukan kegiatan penangkapan dengan menggunakan tangan kemudian profesi ini berkembang terus secara perlahan-lahan dengan menggunakan berbagai alat yang masih sangat tradisional yang terbuat dari berbagai jenis bahan seperti batu, kayu, tulang dan tanduk (Sudirman dan Mallawa, 2004).

Alat tangkap dan teknik penangkapan ikan yang digunakan nelayan di Indonesia umumnya masih bersifat tradisional. Pendapat ini ada benarnya tetapi juga ada ketidakbenarannya. Jika ditinjau dari segi prinsip teknik penangkapan yang digunakan nelayan di tanah air akan terlihat bahwa telah banyak pemanfaatan tingkah laku ikan (behavior) untuk tujuan penangkapan ikan yang yang telah digunakan (Ayodhyoa dalam Sudirman dan Mallawa, 2004).

Dalam beberapa hal yang prinsip dapat dikatakan bahwa perkembangan beberapa fishing methods sangatlah lambat. Sebagai misal dapat dilihat pada prinsip pancing. Dari zaman dahulu prinsipnya tidak berubah, yaitu dengan meletakkan umpan pada kail, dan mata kail ini di hubungkan dengan tali ke nelayan, ikan memakan umpan, lalu terkait pada mata kail, dan nelayan menarik pancing kearahnya. Akan tetapi, tidaklah benar jika kita katakan tidak ada perkembangan sama sekali. Semakin berkembang kemajuan peradaban manusia, maka kebutuhan manusia pun akan bertambah ragamnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari Praktikum tentang Metode Penangkapan Ikan adalah untuk mengetahui jenis-jenis alat tangkap ikan yang digunakan nelayan pada umumnya..

Tujuan dari Praktikum tentang Metode Penangkapan Ikan adalah agar praktikan dapat mengidentifikasi alat tangkap dengan baik dan benar.

 

 

1.3 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum Metode Penangkapan Ikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Mei 2012 pukul 06.00 – 13.00 WIB dan bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Trenggalek, Jawa Timur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Alat Tangkap Purse Seine

2.1.1 Klasifikasi Berdasarkan FAO

Klasifikasi Sesuai dengan International Standards Stastistic Classification of Fishing Gear – FAO, klasifikasi jaring lingkar menggunakan singkatan dan berkode ISSCFG 01.0.0. Tipe jaring lingkar dengan singkatan dan kode sebagai berikut 1. Jaring lingkar 01.0.0. 2. Jaring lingkar bertali kerut PS 01.1.0 3. Jaring lingkar satu kapal PS 01.1.1 4. Jaring lingkar dua kapal PS 01.1.2 5. Jaring lingkar tanpa tali kerut / lampara LA 01.2.0

  1. Jaring lingkar, adalah jaring yang terdiri dari: sayap, badan dan kantong semu membentuk empat persegi panjang atau trapesium yang pengoperasiannya melingkari kawanan ikan ikan. 2. Jaring lingkar bertali kerut yaitu : jaring lingkar yang dilengkapi cincin dan tali kerut, pengoperasiannya dengan mengkerutkan jaring pada bagian bawah. 3. Jaring lingkar satu kapal yaitu : jaring lingkar bertali kerut yang pengoperasiannya menggunakan satu kapal. 4. Jaring lingkar dua kapal yaitu :jaring lingkar bertali kerut yang pengoperasiannya menggunakan dua kapal 5. Jaring lingkar tanpa tali kerut / lampara yaitu: jaring lingkar tanpa menggunakan tali kerut.

Menurut Von  Brandt  (1984)  klasifikasi atau penggolongan alat penangkapanikan dunia yang distandarisasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), purse seine termasuk kelompok jaring lingkar (surrounding net). Jaring lingkar menurut FAO terdiri dari jarring (lingkar) yang bertali kerut dan jaring (lingkar) tanpa tali kerut. Purse seine yang disingkat PS dimasukkan ke dalam kelompok  jaring lingkar bertali kerut dengan kode 01.01.00, sedangkan Lampara yang disingkat LA dimasukkan ke dalam kelompok jarring lingkar tanpa tali kerut dengan kode 01.2.0.

 

 

 

 

2.1.2  Klasifikasi Berdasarkan Kepmen 06/men/2010

            Dalam Keputusan Menteri KP Nomor : KEP.06/MEN/2010 ditetapkan 10 (sepuluh) kelompok alat penangkap ikan. Penjelasan singkat untuk memudahkan pemahaman terhadap masing-masing kelompok alat tangkap dapat dijelaskan sebagaimana uraian pada Bab III, mulai Pasal 6 sampai dengan Pasal 16 Peraturan Menteri KP Nomor PER.02/MEN/2011, sebagai berikut :

Alat penangkapan ikan di WPP-NRI menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok, yaitu :

a. Jaring lingkar (surrounding nets) ;

b. Pukat tarik (seine nets) ;

c. Pukat hela (trawls) ;

d. Penggaruk (dregdes) ;

e. Jaring angkat (lift nets) ;

f. Alat yang dijatuhkan (falling gears) ;

g. Jaring insang (gill nets and entangling nets) ;

h. Perangkap (traps) ;

i. Pancing (hooks and lines) ;

j. Alat penjepit dan melukai (grappling and wounding).

Masing-masing kelompok alat tangkap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Jaring lingkar (surrounding nets).

1). Jaring lingkar (surounding nets) terdiri dari :

(1). Jaring lingkar bertali kerut (with purse lines/purse seine) ;

(2). Jaring lingkar tanpa tali kerut (without purse lines / Lampara).

2). Jaring lingkar bertali kerut (with purse lines/purse seine), terdiri dari :

(1). Pukat cincin dengan satu kapal ( one boat operated purse seines) ;

(2). Pukat cincin dengan dua kapal (two boats operated purse seines).

3). Pukat cincin dengan satu kapal ( one boat operated purse seines) terdiri dari :

(1). Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal ;

(2). Pukat cincin pelagis besar dengan dua kapal.

4). Pukat cincin dengan dua kapal (two boats operated purse seines) terdiri dari :

(1). Pukat cincin grup pelagis kecil ;

(2). Pukat cincin grup pelagis besar.

 

 

Jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0

1. Jaring lingkar bertali kerut (With purse lines/Purse seine), PS,01.1.0:

a. Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines),PS1,01.1.1:

1) Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal, PS1-K, 01.1.1.1

2) Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal, PS1-B, 01.1.1.2

b. Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:

1) Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K, 01.1.2.1

2) Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B, 01.1.2.2

2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara): LA, 01.2.0

 

2.1.3 Spesifikasi Alat Tangkap

Menurut Von  Brandt dalam Sudirman dan Mallawa  (2004)  menyatakan bahwa berdasarkan  standar  klasifikasi  alat  penangkap  perikanan  laut,  purse  seine termasuk  dalam  klasifikasi  pukat  cincin. purse  seine  merupakan  alat  tangkap  yang  lebih  efektif  untuk  menangkap  ikan-ikan pelagis kecil di sekitar permukaan air.  Purse seine dibuat dengan dinding jaring yang panjang,  dengan  panjang  jaring  bagian  bawah  sama  atau  lebih  panjang  dari  bagian atas.    Dengan  bentuk  konstruksi  jaring  seperti ini, tidak ada  kantong  yang  berbentuk permanen  pada  jaring  purse  seine.    Karakteristik  jaring  purse  seine  terletak  pada cincin yang terdapat pada bagian bawah jaring.

Konstruksi purse seine menurut Sudirman dan Mallawa (2004), terdiri atas:

  1. Bagian jaring, terdiri atas jaring utama, jaring sayap, dan jaring kantong sebagai tempat tertangkapnya ikan.
  2. Selambar (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring  yang berfungsi memperkuat jaring sewaktu dioperasikan, terutama saat penarikan jaring.
  3. Tali temali, terdiri atas tali pelampung, tali ris atas, tali ris bawah, tali pemberat sebagai pengkondisian jaraing saat dioperasikan.
  4. Pelampung sebagai pengapung.
  5. Tali kolor, dan tali selambar untuk menarik jaring sehingga membentuk cincin.
  6. Pemberat sebagai pemberat alat saat dioperasikan.

2.1.4 Metode dan Tekhnik Penangkapan Alat Tangkap

Ada beberapa tahap dalam penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine menurut Sudirman dan Mallawa (2004), yaitu:

  1. Persiapan Penangkapan

Penyusunan alat tangkap sebelum kapal purse seiner (kapal penangkap ikan dengan purse seine) merupakan pekerjaan yang harus dikerjakan. Penyusunan jaring di atas dek kapal biasanya disusun pada : samping kiri, samping kanan, atau buritan kapal.

  1. Waktu Penangkapan

Penangkapan dengan purse seine biasanya dilakukan pada sore (setelah matahari terbenam sampai dengan pagi hari (menjelang matahari terbit), kadang kala dilakukan siang hari.

Pada umumnya nelayan mengoperasikan 2 s/d 4 kali sehari, hal ini tergantung   dari jumlah ikan yang tertangkap. Bila hasilnya banyak maka operasi penangkapan sampai dengan penyimpanan hasil ke dalam palkah relatif membutuhkan waktu yang lama, sehingga dalam satu hari hanya melakukan dua kali penangkapan. Demikian sebaliknya bila hasil tangkapan sedikit maka operasi penangkan sampai dengan penyimpanan memerlukan waktu yang sedikit pula, sehingga dalam satu hari dapat dioperasikan purse seine lebih dari empat kali.

  1. Daerah penangkapan

Daerah penangkapan atau lazim disebut “fishing ground” adalah suatu daerah dimana ikan dapat ditangkap dengan hasil tangkapan ikan yang mengguntungkan.

Operasi penangkapan yang membutuhkan rumpon sebagai alat bantu menangkap ikan, maka kapal penangkap tersebut setelah sampai daerah penangkapan yang diinginkan maka rumpon diturunnkan ke dalam perairan dan diberi pelampung tanda kemudian ditinggalkan, biasanya nelayan membawa lebih dari satu rumpon.

  1. Penurunan Alat (setting)

Ikan-ikan akan bergerombol di sekitar rumpon yang diberi penerangan telah terlihat padat maka operasi penangkapan dapat dilaksanakan. Pertama adalah melepas rumpon dari haluan kapal, rumpon yang di buritan dinaikan ke atas kapal. Rumpon yang dilepas dan diberi tanda serta penerangan, kemudian kapal hibob jangkar (menaikan jangkar) menjauhi rumpon sampai dengan jarak yang optimum untuk melingkari gerombolan ikan di sekitar rumpon.

Operasi penangkapan dengan purse seine perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a)    Arah angin

jaring harus di atas, maksudnya jaring berada dimana arah angin datang sedangkan kapal penangkap berada setelah alat tangkap. Sehingga kapal tidak akan masuk ke dalam lingkaran purse seine, sebab

kapal lebih cepat terbawa angin dibandingkan dengan alat tangkap.

b)    Arah arus

Kebalikan dari arah angin, yaitu kapal harus berada di atas arus sehingga alat tangkap tidak hanyut di bawah kapal, sehingga menyulitkan penarikan alat tangkap ke atas dek kapal.

c)    Arah pergerakan gerombolan ikan

Jaring harus menghadang arah pergerakan gerombolan ikan sehingga ikan yang telah dilingkari tidak dapat meloloskan diri. Jaring diturunkan di depan gerombolan ikan sehingga setelah selesai setting kapal berada di belakang gerombolan ikan.

  1. Pengangkatan Alat dan Hasil Tangkapan

Pada keadaan tali kerut sudah ditarik cincin dan jaring bagian bwah sudah terkumpul menjadi satu, maka:

  1. Penarikan badan jaring dimulai dari ujung-ujung sayap, hal ini dilakukan pada purse seine yang menggunakan kantong yang di tenggah-tenggah jaring atau yang ditarik oleh tenaga manusia. Tetapi pada purse seine yang ditarik dengan tenaga hidrolik (power block), biasanya kantong dibuat pada salah satu ujung sayap. Penarikan jaring dilakukan mulai dari ujung sayap yang tidak berkantong. Penarikan dilakukan dengan melepas ring dari badan jaring, tetapi pada purse seine yang ditarik manusia cincin tidak dilepaskan.
  2. Setelah bagian wing, midle, shoulder naik keatas kapal, maka ikan ikan terkurung pada bagian bunt yang relatif lebih sempit. Kemudian ikan dinaikan ke atas kapal dengan memaki serok sampai dengan ikan-ikan yang ada di dalam bunt terambil semua.
  3. Bagian yang masih berada di dalam air di naikan keatas kapal dan disusun kembali sehingga kapal siap setting.
  4. Ikan hasil tangkapan dicuci bersih dan di simapan ke dalam palkah pendingin. Cara penangan ikan di atas kapal dapat dilihat pada modul penangan hasil tangkap.

 

2.1.5 Alat Bantu Penangkapan

Menurut Sudirman dan Mallawa (2004), alat bantu penangkapan pada alat tangkap purse seine adalah :

  1. Rumpon
  2. Fish finder
  3. GPS

 

2.1.6 Hasil Tangkapan Alat Tangkap

Menurut Ayodhyoa (1979), hasil tangkapan dari alat tangkap purse seine adalah ikan Pelagic Shoaling Species, yaitu :

  • Layang (Decapterus spp)
  • Tembang (Sardinella fimbriata)
  • Kembung (Rastreliger sp)
  • Lemuru (Sardinella lemuru)
  • Tongkol (Euthynnus afinis)
  • Cakalang (Katsuwonus pelamis), dan
  • Tuna (Thunnus sp)

 

 

 

2.1.6.1 Klasifikasi ikan Beserta Gambar

  • Ikan Layang (Decapterus russelli), nama lokalnya benggol doles.

Gambar 1. Ikan layang (google.image, 2012)

  • Ikan Kembung (Rastreliger sp), nama lokalnya katombo.

Gambar 2. Ikan kembung (google.image, 2012)

  • Ikan Tuna (Thunnus sp ), nama lokalnya tuna sirip kuning, yellowfin tuna.

Gambar 3. Ikan tuna (google.image, 2012)

 

 

 

 

2.2 ALAT TANGKAP PAYANG

2.2.1 Klasifikasi Berdasarkan FAO

Seine nets atau pukat atau pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa alat pembuka mulut jaring. Pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap tali selambar. Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan terget ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pukat tarik terdiri dari :

  1. Beach seines
  2. Boat or vessel seines

a)   Danish seines

b)   Scottish seines

c)   Pair seines

  1. Seine nets (not specified)

(Tadjuddah, 2009)

 

2.2.2 Klasifikasi Berdasarkan Kepmen 06/Men/2010

Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008).

 

Jenis alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:

  1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0
  2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:

a)    Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1

b)    Scottish seines, SSC 02.2.2

c)    Pair Seines, SPR, 02.2.3

d)    Payang, SV-PYG, 02.2.0.1

e)    Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3

 

2.2.3 Spesifikasi Alat Tangkap

Menurut Sudirman dan Mallawa (2004), bagian-bagian payang terdiri dari:

  1. Sayap: payang mempunyai dua bagian sayap yaitu bagian sayap kiri dan bagian sayap kanan.  Konstruksi bagian atas dan bawah dari sayap berbeda ukuran dan bahan dari sayap ini terbuat dari bahan PA.
  2. Badan, terdiri atas 6 bagian
  3. Kantong (cod end) adalah merupakan tempat berkumpulnya ikan yang terjaring.
  4. Tali ris atas (Head Rope): berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.
  5. Tali ris bawah (Ground Rope): berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.
  6. Tari penarik (selambar): Berfungsi untuk menarik jaring selama di operasikan.
  7. Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.

Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus. Payang berbadan jarring panjang adalah alat tangkap ikan berbentuk kantong yang terbuat dari njaring dan terdiri dari dua bagian sayap,bagian medan jarring bawah(bossom),bagian badan serta bagian kantong jarring.

Bagian-bagian dari alat tangkap payang:
1.sayap/kaki jarring (wing)
bagian jarring yang terpanjang dan terletak di ujung depan,dari pukat kantong paying.

2.medan jarring bawah(bossom)

Bagian jarring yang terletak di bawah mulut jarring yang menjorok ke depan.

3.badan jarring (body)
bagian jarring yang terletak diantara bagian kantong dan bagian sayap jarring

4.kantong jarring (cod end)
bagian jarring yang terpendek dan terletak di ujung belekang dari pukat kantong

5.bagian total jarring
hasil penjumblahan dari panjang bagian sayap/kaki bagian badan dan bagian kantong jarring

6.keliling mulut jarring

7.tali riss atas(head rope)
tali yang berfungsi untuk menggantungkan dan menghubungkan kedua sayap jarring bagian atas.

8.tali riss bawah(ground rope)
tali yang berfungsi untuk menghubungkan kedua sayap jarring bagian bawah.

9.tali selembar(warp rope)
tali yang berfungsi sebagai tali penarik(to wing)pukat kantong ke atas geladak kapal.(SNI,2005)

 

 

 

 

 

2.2.4  Metode dan Teknik Pengoperasian Alat Tangkap

Operasi penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap payang terbagi dalam 2 tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pengoperasian alat tangkap. Persiapan operasi meliputi penyusunan alat tangkap di atas perahu, persiapan bahan bakar dan pencarian daerah penangkapan. Pencarian daerah penangkapan dilakukan oleh seorang pengamat yang duduk di tempat khusus di bagian atas perahu. Pengamat ini mencari gerombolan ikan berdasarkan pengalaman dan keahliannya untuk melihat ciri-ciri gerombolan ikan. Ciri khas adanya kelompok ikan ditandai dengan adanya perubahan warna air laut karena pengaruh dari buih-buih yang ditimbulkan dan juga warna dari kelompok ikan tersebut, adanya ikan yang berloncatan di atas permukaan air dan adanya ikan yang berloncatan di atas permukaan air. Tahapan pengoperasian alat tangkap meliputi penurunan jaring dan penarikan jaring. Setelah gerombolan ikan telah ditemukan, jarring diturunkan dengan terlebih dahulu menurunkan tali selambar depan dengan pelampung tanda yang dibawa oleh seorang perenang. Kemudian perahu dengan kecepatan penuh melingkari kelompok ikan hingga seluruh jarring terentang dan mengurung ikan. Setelah seluruh jarring terentang, semua nelayan berada di sisi perahu dan terbagi menjadi dua kelompok untuk melakukan penarikan. Kelompok I menarik sayap kiri dari arah haluan perahu dan kelompok II menarik sayap kanan dari arah buritan perahu. Setelah seluruh bagian jaring dinaikkan ke atas perahu, kemudian dilakukan pemindahan ikan ke tempat penampungan ikan (Wratsongko, 2002).

 

2.2.5 Alat Bantu Penangkapan

Penangkapan dengan jaring payang dapat dilakukan baik pada malam maupun pada siang hari. Pada malam hari terutama hari-hari gelap ( tidak dalam keadaan terang bulan), penangkapan ikan dibantu dengan menggunakan lampu petromak. Sedangkan penangkapan yang dilakukan pada siang hari dengan menggunakan alat bantu payaos /rumpon. Namun, penangkapan ikan kadangkala tanpa alat bantu rumpon, yaitu dengan cara menduga-duga di tempat banyaknya ikan atau mencari gerombolan ikan (Aprilia, 2011).

 

 

2.2.6 Hasil Tangkapan Alat Tangkap

Hasil tangkapan ikan yang diperoleh oleh payang adalah ikan pelagis. Pada alat tangkap payang, hasil tangkapan utamanya adalah teri nasi (Stolephorus commersonnii), sedangkan hasil tangkapan sampingannya yaitu tongkol (Auxiust hazard), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), manyung ( Arius thalassimus), layang (Decapterus russelli). Pada alat tangkap payang ampere, hasil tangkapan utamanya adalah lemuru (Sardinella longiceps), sedangkan hasil tangkapan sampingannya adalah kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), teri nasi (Stolephorus commersonnii), bawal putih (Pampus argentus), kakap putih (Latescal carifer), tembang (Sardinella  fimbriata), tongkol (Auxist hazard) dan layang (Decapterus russelli). Pada alat tangkap payang bondet, hasil tangkapan utamanya adalah belanak (Valamugil speigleri), sedangkan hasil tangkapan sampingannya adalah udang, rebon, dan kakap putih (Lates calcarifer) (Aprilia, 2011).

 

2.2.6.1 Klasifikasi Ikan Beserata Gambar Ikan

  • Ikan Selar (caranx leptolepis), nama lokalnya selar bentong, aji.

Gambar 4. Ikan selar (google image, 2012)

  • Ikan Kembung (Scomber canagoria), nama lokalnya katombo.

Gambar 5. Ikan kembung (google image, 2012)

  • Ikan Layang (Decapterus ruselli), nama lokalnya benggol doles.

Gambar 6. Ikan layang (google image, 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3 ALAT TANGKAP PANCING

2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan FAO

Menurut International Standard Statistical Classification on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado), kelompok alat tangkap hooks and lines ini terdiri dari :

  • Handlines and pole-lines (hand operated)
  • Handlines and pole-lines (mechanized)
  • Set longlines
  • Drifting longlines
  • Longlines (not specified)
  • Trolling lines
  • Hooks and lines

 

2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Kepmen 06/Men/2010

Kelompok jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008). Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.

 

 

2.3.3 Spesifikasi Alat Tangkap

Menurut Sudirman dan Mallawa (2004), pada umumnya bagian-bagian alat tangkap long line terdiri dari:

  1. Pelampung (float): sebagai sarana apung alat tangkap, menandai, dan mengenali alat tangkap yang diletakkan.
  2. Tali Pelampung: sebagai pengatur kedalaman dari alat tangkap yang sesuai dengan yang dikehendaki.
  3. Tali Utama (Main line): bagian dari potongan-potongan tali yang disambung antara satu dengan yang lain sehingga membentuk rangkaian tali yang sangat panjang. Juga merupakan tempat pemasangan branch line.
  4. Tali Cabang (Branch line): sebagai tempat pemasangan mata pancing. Terdiri dari tali pangkal, tali cabang utama, dan wire leader yang berfungsi menahan gesekan saat ikan terkait pada pancing.
  5. Mata Pancing (hook): agar ikan terkait.

2.3.4 Metode dan Teknik Penangkapan

Setelah semua persiapan selesai telah selesai dan telah tiba pada suatu fishing ground yang telah ditentukan. Setting diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasang umpan. Rata-rata waktu yang digunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/pancing. Pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus pada arus. Penarikan alat tangkap dilakukan jika telah berada dalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya (Sudirman dan Mallawa, 2004).

 

2.3.5 Alat Bantu Penangkapan

Pancing memilki komponen-komponen lain seperti gandar atau tangkai (pole, rode), pemberat (sinker), pelampung (float), kili-kili (swivel) adalah alat penyambung tali pancing dengan tali pancing berikutnya agar tidak mudah terbelit bila pancing dimakan ikan. Alat tangkap pancing biasanya menggunakan alat bantu jenis kapal atau perahu motor dalam operasi penangkapan ikan. Pada prinsipnya pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali (line) dan mata pancing (hook) (Subani dalam Sudirman dan Mallawa, 2004).

 

2.3.6 Hasil Tangkapan Alat Tangkap

Dalam tahun 1985 dengan alat-alat ini dihasilkan ikan sekitar 58.900 ton ikan (kira-kira 3,2% produksi ikan laut Indonesia) yang sebagian besar terdiri dari tongkol, cakalang, dan ikan-ikan tuna phase muida (1-5 kg) (Sudirman dan Mallawa, 2004).

Pada alat tangkap pancing, hasil utamanya biasanya seperti tenggiri (Scomberomorus commerson) untuk mata kail no.16, sedangkan hasil tangkapan sampingannya yaitu tongkol (Auxis thazard) dan tembang (Sardinella fimbriata) (Subani & Barus, 1989).

2.3.6.1 Klasifikasi Ikan Beserta Gambar Ikan

  • Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson), nama lokalnya tenggiri.

Gambar 7. Ikan tenggiri (google image, 2012)

 

  • ·         Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis), nama lokalnya cakalan, cakang, kausa, kambojo, karamojo dan turingan.

Gambar 8. Ikan cakalang (google image, 2012)

  • Ikan Tongkol (Thunnus tonggol), nama lokalnya tongkok kurik, sembak dan ambu-ambu.

Gambar 9. Ikan tongkol (google image, 2012)

  • Ikan Tuna (Thunnus albacores), nama lokalnya tuna sirip kuning, yellowfin tuna.

Gambar 10. Ikan tuna (google image, 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODOLOGI

 

3.1 Alat Praktikum dan Fungsinya

Alat yang digunakan dalam praktikum Metode Penangkapan Ikan tentang alat-alat tangkap adalah :

  1. a.    Payang
  • Roll Meteran 5 meter  : untuk mengukur alat tangkap payang.
  • Jangka sorong            : untuk mengukur ketebalan benang,

diameter pelampung, pemberat, tali ris

atas dan tali ris bawah.

  • Tali urai                       : sebagai tanda jumlah hitungan.
  • Counter point              : untuk mengukur jumlah hitungan.
  • Net gauge                   : untuk mengukur mata jaring.
  • Buku catatan               : untuk mencatat hasil pengukuran.

 

  1. b.    Pancing Ulur (Hand Line)
  • Roll Meteran 5 meter  : untuk mengukur alat tangkap pancing.
  • Jangka sorong            : untuk mengukur diameter pancing.
  • Buku catatan               : untuk mencatat hasil pengukuran.

 

  1. c.     Purse Seine
  • Roll Meteran 5 meter  : untuk mengukur alat tangkap purse seine.
  • Jangka sorong                        : untuk mengukur diameter pelampung,                                                        pemberat, tali ris atasdan tali ris bawah.
  • Benang                        : untuk mengukur ketebalan benang                                                              jaring.
  • Penggaris                    : untuk mengukur panjang benang yang                                                        digunakan untuk mengukur ketebalan                                                           benang jaring.
  • Buku catatan               : untuk mencatat hasil pengukuran.

 

 

3.2 Metode Pengambilan Data

Metode pengambilan data dalam praktikum Metode Penangkapan Ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi Trenggalek pada hari sabtu tanggal 19 Mei 2012 adalah observasi dan wawancara.

  1. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan. Data yang dihasilkan adalah data kualitatif.

Observasi dalam praktikum ini akan dilakukan dengan melakukan pengukuran secara langsung. Pengukuran tersebut meliputi pengukuran-pengukuran pada komponen alat tangkap payang, purse seine, dan pancing. Komponen yang diukur dalam alat tangkap payang yaitu tali-temali jaring(tali sayap payang dan tali pada mulut jaring), pelampung dalam 1 unit, pelampung tambahan dalam 1 unit, pemberat, jaring(jaring pada sayap, badan jaring dan kantong), dan sarana apung. Komponen yang diukur dalam alat tangkap pancing yaitu tali-temali, pemberat dan sarana apung. Sedangkan komponen yang diukur dalam alat tangkap purse seine yaitu tali-temali jaring, pelampung dalam 1 unit, pelampung tambahan dalam 1 unit, pemberat, jaring (penguat atas, tubuh jaring lapis, penguat bawah, dan sarana apung.

  1. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara lisan, biasanya dilakukan jika ingin diketahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden. Data yang dihasilkan adalah data yang kualitatif.

Wawancara yang dilakukan dalam praktikum ini adalah wawancara semi terstuktur yang dipandu dengan interview guide yang telah disiapkan asisten sebelum wawancara dilakukan. Teknik ini akan digunakan untuk mengumpulkan data awal maupun dalam rangka pendalaman berkaitan dengan pemahaman tentang alat tangkap payang, purse seine, dan pancing.

 

c.  Keaktifan Bertanya

keaktifan bertanya juga merupakan cara untuk memahami tujuan praktikum dengan baik dan benar, dengan aktif bertanya para praktikan tentu akan lebih paham tentang beberapa hal penting yang belum mereka ketahui.

Keaktifan bertanya yang dimaksud pada saat praktikum berlangsung adalah keaktifan para praktikan untuk mengenali beberapa hal yang belum dimengerti. Contohnya yaitu mempertanyakan tentang cara pengoperasian alat, spesefikasi kapal yang digunakan sampai kepada hal-hal ekonomi para nelayan seperti sistim pengupahan para nelayan maupun ABK.

3.3 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam praktikum ini adalah data primer dan data sekunder.

  1. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung diambil dari sumbernya atau data lapang. Data primer contohnya melalui observasi dan wawancara.

  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diambil dari dokumen yang sudah ada. Data sekunder contohnya diambil dari jurnal, skripsi, thesis, buku, web dan blog.

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL PRATIKUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Praktikum

4.1.1  Alat Tangkap Payang

  1. Komponen Utama Jaring Payang
    1. Tali-temali jaring

1)     Tali sayap payang  :

  • Ø Bahan             = Nilon
  • Ø Diameter (→) = 20 mm
  • Ø Panjang          = 30 m

2)     Tali pada mulut payang :

  • Ø Bahan             = Arnet
  • Ø Diameter (→) = 7 inchi
  • Ø Panjang          = 50 m
  1. Pelampung dalam 1 unit : 111 buah

1)    Bahan  = Stereofoam padat

2)    Bentuk = Bola

3)    Ukuran per  buah :

  • Diameter lubang    = 4 inchi
  • Diameter (tebal)     = 82,3 mm
  • Panjang                 = 134,2 mm

4)    Jarak antara pelampung : 50 cm

5)    Jumlah : 60 buah

  1. Pelampung tambahan dalam 1 unit : 30 buah

1)    Bahan  = Plastik

2)    Bentuk = Bola

3)    Ukuran per buah :

  • Ø Diameter lubang      = 12 mm
  • Ø Diameter (tebal)       = 200 mm
  • Ø Panjang                    = 80 mm

4)    Jarak antar pelampung = 12 m

5)    Jumlah                           = 30 buah

  1. Pemberat :

1)    Bahan : Batu cor semen

2)    Bentuk : Campuran

3)    Ukuran per buah :

  • Ø Diameter lubang      = 5,4 mm
  • Ø Diameter (tebal)       = 8 mm
  • Ø Panjang                    = 14,8 cm
  • Ø Berat :                      = 2 g

4)    Jarak antar pemberat    = 12 m

5)    Jumlah                           = 16 buah

  1. Jaring :

1)    Jaring pada sayap :

  • Ø Bahan(multifilament/monofilament)       = monofilament 6
  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) = D9
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = 4 mm/inchi
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)  = 100# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)     = 8# m

2)    Badan jaring :

  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) = D6
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = ¾  mm/inchi
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)  = 100# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)     = 8# m

3)    Kantong :

  • Ø Bahan(multifilament/monofilament)       = Tali rafia
  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) = D9
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = 0,5 mm/inchi
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)  = 10# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)     = 5# ms

 

 

 

  1. Sarana apung :

1)    Jenis = Kapal Motor

2)    Nama dan alamat :

  • Ø Nama kapal dan tanda selar    = Sebar / 8GT
  • Ø Nama pemilik                           = H. Hasan
  • Ø Nama Nahkoda                        = H. Hasan

3)    Bahan = Kayu

4)    Ukuran :

  • Ø Panjang          = 13 m
  • Ø Lebar              = 3,5 m
  • Ø Tinggi/dalam   = 1,6 m
  • Ø Tonase            = 15 GT

5)    Anak Buah Kapal (ABK) / Nelayan = 15 orang

4.1.2      Alat Tangkap Pancing

  1. Komponen utama pancing
    1. Tali-temali

1)    Tali utama pancing

  • Ø Bahan             = Nilon
  • Ø Diameter (→) = 10 mm
  • Ø Panjang          = 10 m

2)    Tali cabang

  • Ø Bahan             = senar
  • Ø Diameter (→) = 50 mm
  • Ø Panjang          = 200 m
  1. Pemberat

1)    Bahan = Timah

2)    Ukuran per buah :

  • Ø Diameter(tebar)   = 3,05 mm
  • Ø Panjang               = 7 m
  • Ø Berat                    = 3 gr

3)    Jumlah = 21 buah

  1. Sarana apung

1)    Jenis    = Perahu

2)    Nama dan alamat :

  • Ø Nama kapal dan tanda selar    = Putra Lasaid
  • Ø Nama pemilik                           = Pak Asri
  • Ø Nama Nahkoda                        = Pak Rudi

3)    Bahan = Kayu

4)    Ukuran :

  • Ø Panjang          = 15 m
  • Ø Lebar              = 3 m
  • Ø Tinggi/dalam   = 5 m
  • Ø Tonase            = 5 GT

5)    Anak Buah Kapal(ABK) / Nelayan = 4 orang

 

4.1.3  Alat Tangkap Purse Saine

  1. Komponen Utama Jaring Tiga Lapis
    1. Tali-temali jaring = nilon D12, D3

1)    Tali pelampung

  • Ø Diameter (→)           = 20,2 mm
  • Ø Panjang                    = 500 m

2)    Tali ris atas

  • Ø Diameter (→)           = 8,3 mm
  • Ø Panjang                    = 500 m

3)    Tali pemberat

  • Ø Diameter (→)           = 25,2 mm
  • Ø Panjang                    = 6 cm

4)    Tali ris bawah

  • Ø Diameter (→)           = 4,2 mm
  • Ø Panjang                    = 600 m
  1. Pelampung dalam 1 unit = 12 Pelampung/ 2 m

1)    Bahan = Stearofoam padat

2)    Bentuk = Ellips

3)    Ukuran per buah :

  • Ø Diameter lubang      = 0,44 mm
  • Ø Diameter(tebal)        = 93,1 mm
  • Ø Panjang                    = 14 mm

4)    Jarak antar pelampung = 27 cm

5)    Jumlah                           = 10 buah

  1. Pemberat :

1)    Bahan = Timah

2)    Ukuran per buah :

  • Ø Diameter lubang    = 0,1 mm
  • Ø Diameter(tebal)      = 26,6 mm
  • Ø Panjang                  = 0,6 m
  • Ø Berat                      = 1 kg bagi 6 = gr

3)    Jarak antar pemberat  = 13 cm

4)    Jumlah = 5400 buah

  1. Jaring =

1)    Penguat atas(selvedge/srampat atas) dalam :

  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) = 1,5 mm
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = ¾ inchi
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)      = 1# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)         = 1# m

2)    Tubuh jaring lapis :

  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) = D6
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = 0,7 mm
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)      = 3# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)         = 3# m

3)    Penguat bawah(selvedge/srampat bawah) dalam 1 pis :

  • Ø Bahan = Nilon
  • Ø Diameter benang(untuk monofilament) =  50 mm
  • Ø Ukuran mata jaring(Mesh Size/MS)       = ¾ mm
  • Ø Ukuran jaring :
    • Jumlah mata jaring ke arah panjang(Mesh Legth/ML)      = 4# m
    • Jumlah mata jaring ke arah lebar(Mesh Depth/MD)         = 4# m

 

  1. Sarana Apung :

1)    Jenis    = Kapal Motor

2)    Nama dan Alamat :

  • Ø Nama Kapal Dan Tanda Selar = Dwi Jaya
  • Ø Nama Pemilik                           = Dedi Hermanto
  • Ø Alamat Pemilik                         = Prigi Watulimo, Trenggalek
  • Ø Nama Nahkoda                        = Rusmanto
  • Ø Alamat Nahkoda                      = Tasikmadu Watulimo,                                                                     Trenggalek

3)    Bahan = Kayu

4)    Ukuran :

  • Ø Panjang          = 18 m
  • Ø Lebar              = 4 m
  • Ø Tinggi/dalam   = 180 m
  • Ø Tonase            = 10 GT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1  Alat Tangkap Dan Metode Penangkapan Ikan di PPN Prigi Trenggalek

  1. 1.    Alat Tangkap Purse Saine

Purse saine adalah alat tangkap yang terbuat dari gabungan beberapa jaring. Alat ini digunakan untuk menangkap ikan pelagis yang suka bergerombol di permukaan. Alat ini biasanya berbentuk persegi panjang atau trapesium. Prinsip kerja alat ini yaitu dengan melingkari gerombolan ikan. Penangkapan dengan pureseineini adalah termasuk usaha penangkapan yang sifatnya aktif, yaitu mencari kawanan ikan dan bila perlu dilakukan pengejaran. Penangkapan dilakukan pada malam hari,namun tanpa lampu untuk mengumpulkan kawanan ikan.

Untuk pengoprasian Purse Saine di Prigi sendiri sama seperti umumnya namun, masyarakat Prigi biasanya menggunakan sistem 2 kapal. Kapal 1 digununakan untuk menangkap ikan dan kapal 2 digunakan untuk menaruh hasil tangkapan. Jika sistem 2 kapal posisi kantong berada disamping kapal dan jika sistem 1 kapal posisi kantong berada ditengah kapal.

Sitem penangkapan di Prigi ada 3 macam yaitu :

  • Gedangan            : Penangkapan yang dilakukan pada malam hari. Alat bantu yang digunakan yaiutu rumpon dan lampu/petromak.
  • Gerakar                : Penangkapan yang dilakukan pada siang hari. Alat bantu yang digunakan GPS dan berpacu pada gerombolan burung laut yang ada disekitar laut.
  • Oncor                  : Penangkapan yang dilakukan pada malam hari. Alat bantu yang digunakan yaiutu rumpon dan lampu/petromak.

 

Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan. Prinsip menangkap ikan dengan Purse Seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong. Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap (Setianegara, 2011).

 

 

  1. 2.    Alat Tangkap Payang

Payang adalah alat tangkap yang termasuk dalam pukat kantong pertengahan atau permukaan. Alat tangkap ini ramah lingkungan. Penangkapan dengan jaring payang dapat dilakukan baik pada malam hari maupun siang hari. Untuk malam hari terutama pada hari-hari gelap (tidak dalam terang bulan) dengan gunakan alat bantu lampu. Sedang penangkapan yang dilakukan pada siang hari menggunakan alat bantu rumpon atau kapal tanpa alat bantu rumpon,yaitu dengan menduga-duga di tempat-tempat yang dikira banyak ikan atau mencari gerombolan ikan.

Sama seperti purse saine, payang juga menggunakan 2 kapal. Kapal 1 digununakan untuk menangkap ikan dan kapal 2 digunakan untuk menaruh hasil tangkapan. Jika sistem 2 kapal posisi kantong berada disamping kapal dan jika sistem 1 kapal posisi kantong berada ditengah kapal. Waktu menurunkan jaring di bantu kapal.

 

Alat tangkap Payang merupakan alat tangkap yang dioperasikan di permukaan peraiaran. Konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, tetapi tidak menggunakan otter board. Pengoperasian Payang dilakukan pada permukaan perairan. Payang mempunyai tingkat selektifitas yang rendah disebabkan penggunaan mesh size yang kecil, sehingga dapat menangkap ikan-ikan kecil seperti Teri sampai ikan yang berukuran lebih besar seperti Tongkol dan sebagainya (Rizkha, 2011).

 

  1. 3.    Alat Tangkap Pancing

Di Prigi masyarakan mengenal 5 macam alat tangkap pancing yaitu :

  1. Pancing Renta: waktu operasi dari pukul 04.00-06.00 WIB.
  2. Pancing Copeng: cara pengoprasiannya dilempar-lempar.
  3. Pancing Layang-Layang: memancing dengan bantuan layanng-layang. Agar saat kita memancing kita tidak terlihat oleh ikan. Gerakan layang-layang yang tertiup angin akan menggerakan umpan seperti hidup.
  4.  Pancing Umbaran: rol pancing di gulung dengan dirigen. Menggunakan umpan hidup.
  5. Pancing Tonda: Pada prinsipnya pancing ini terdiri dari tali panjang, mata pancing, tanpa pemberat yang cara pengoprasiannya diseret. Pada umumnya menggunakan umpan tiruan (imitation bait), tetapi ada pula yang menggunakan umpan benar (true bait).

 

Pancing tonda adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik oleh perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu yang karena pengaruh tarikan bergerak di dalam air sehingga merangsang ikan buas menyambarnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).

 

 

 

4.2.2  Analisa Ekonomi

  1. 1.    Alat Tangkap Payang

Alat tangkap payang merupakan alat tangkap modifikasi yang menyerupai trawl kecil yang dioperasikan dipermukaan perairan. Dari segi konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, yang membedakan adalah tidak digunakannya otter board dalam pengoperasiannya. Pengoperasian payang dilakukan pada lapisan permukaan perairan. Payang mempunyai tingkat selektifitas yang rendah, disebabkan penggunaan mesh size yang kecil, sehingga dapat menangkap ikan-ikan kecil, seperti teri sampai ikan yang berukuran lebih besar, seperti tongkol dan sebagainya. Alat tangkap payang di lokasi kajian banyak dioperasikan dengan kapal-kapal berukuran kecil (kurang dari 30 GT) dengan jumlah trip yang terbatas (umumnya one day fishing). Payang secara ekonomis termasuk alat tangkap yang menguntungkan karena menghasilkan tangkapan ikan yang bernilai ekonomis tinggi (teri nasi) dan juga dapat juga untuk menangkap ikan-ikan besar semacam tongkol, tengiri dan sebagainya. Pengoperasiannya dimulai dengan penurunan atau penebaran jaring, kemudian dilanjutkan dengan penarikan jaring, hingga akhirnya ikan terkumpul dan jaring kemudian diangkat. Selanjutnya ikan akan diambil dan dimasukkan ke dalam palka.Jika menggunakan payang biaya lebih irit karena hanya menggunakan 1 kapal. Dalam 1 kapal ada 21 ABK.

 

Rincian dana dalam mengoprasikan alat tangkap payang adalah sebagai berikut :

  • Biaya tetap                    : Rp 6.000.000
  • Biaya tidak tetap           : Rp 500.000
  • Biaya pengeluaran        : Rp 6.500.000
  • Biaya pendapatan         : hasil tangkapan ikan teri 649.794 kg/tahun 23.634 kg/trip biaya pendapatannya Rp. 11.520.923.142
  • Sistem bagi hasil           :  50:50

Payang  termasuk  dalam  alat  tangkap  jaring  kantong.  Cara pengoperasiannya dengan menggiring kawanan ikan untuk masuk dalam kantong jaring.

Dimensi kapal payang di PPN Prigi memiliki ukuran panjang 15-17 m; lebar 3,5-5 m; tinggi 1,1-1,25 m dengan  kekuatan  mesin  sekitar  70-90  PK.  Panjang  jaring  rata-rata  50  m  dengan rata-rata panjang kantong 15 m. ABK kapal payang berjumlah 15-20 orang.

Lama satu kali trip operasi payang sama seperti purse seine, hanya sekitar 12  jam.  Operasi  penangkapan  dilakukan  siang  atau  malam  hari.  Daerah penangkapan  masih  terkonsentrasi  di  perairan  teluk  yaitu  sekitar  10-20 mil  dari pantai. Rata-rata nelayan melaut 22 hari tiap bulan pada musim puncak yaitu pada bulan  Juli-November,  sedangkan  pada  musim  paceklik  (Desember-Juni)  dalam satu bulan rata-rata nelayan melaut sekitar 10 hari.

Hasil tangkapan utama payang adalah ikan layang dan lemuru. Sistem bagi hasil  antara  pemilik  dan  ABK  adalah  2:1.  Pembagian  hasil  pada  ABK  berdasar pekerjaan  yang  dilakukan.  Juru  mudi  mendapat  2  bagian;  juru  mesin,  penebar jaring,  penata  jaring  (setelah hauling)  mendapat  1,5  bagian  dan  ABK  lain  satu bagian.

Total  investasi  unit  penangkapan  payang sebesar Rp87.340.000,00  ;  total biaya  yang  dikeluarkan  Rp56.569.000,00/tahun;  penerimaan  sebesar Rp14.400.000,00/tahun  berasal  dari  penjualan  hasil  tangkapan  dengan  asumsi hanya ditangkap ikan layang dan lemuru; penyusutan investasi tiap tahun sebesar Rp11.833.333,33 dan total bagi hasil Rp 25.910.333,33. Laba bersih yang diterima pemilik  sebesar  Rp 19.137.333,33/tahun.  Perbandingan  penerimaan  dengan  biaya yang  harus  dikeluarkan  (R/C)  adalah  1,99.  Lama  modal  investasi  akan  kembali (PP) adalah 4,56 tahun atau setara dengan  55 bulan.

Asumsi  yang  digunakan  untuk  menghitung  kriteria  investasi  sama  dengan asumsi yang digunakan pada unit penangkapan purse seine. Hanya saja kenaikan harga alat tangkap payang dihitung sebesar 9% per tahun.

Nilai  NPV  selama  umur  teknis  unit  payang (10  tahun)  yang  telah  di-discount rate dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp32.324.561,47. Tingkat keuntungan atas investasi bersih selama umur teknis payang (IRR) adalah 10,08% lebih  rendah  dibanding  tingkat  suku  bunga  yang  digunakan.  Artinya  lebih menguntungkan  menanam  investasi di  bank  dengan  tingkat  suku  bunga  12% dibanding be rinvestasi pada unit penangkapan payang. Nilai net B/C 1,47 adalah perbandingan  nilai benefit  positif  dengan  benefit  negatif  selama  umur  teknis payang.

Analisis cashflow  dan  investment  criteria  menunjukkan  bahwa  usaha perikanan  payang  menghasilkan  keuntungan  yang  sedikit,  perbandingan keuntungan-biaya  yang  hampir  mendekati  impas  dan  pengembalian  modal  yang lama dibandingkan dengan unit penangkapan yang lain. Analisis kriteria investasi menunjukkan  bahwa  penanaman  investasi  pada  unit  penangkapan  payang  tidak menguntungkan  karena  tingkat  investasinya  hanya  sebesar  10,08%  atau lebih kecil  dibandingkan  dengan  tingkat  suku  bunga  bank  yang  digunakan  yaitu  12%. Perbandingan  kriteria  kelayakan  usaha  dari  unit  penangkap  ikan  pelagis  di  PPN Prigi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan  kriteria  kelayakan  usaha  unit  penangkap  ikan  pelagis  di PPN Prigi.

 

Secara  keseluruhan,  semua  unit  penangkapan  ikan  pelagis  di  PPN  Prigi layak diusa hakan kecuali unit penangkapan payang dengan perhitungan IRR. Unit penangkap  ikan  unggulan  memiliki nilai  kriteria  yang  bervariasi,  untuk itu  perlu diberikan  urutan  prioritas.  Hal  ini  dilakukan  untuk  mempermudah  mengetahui alat  tangkap  apa  yang  lebih  diprioritaskan  berdasarkan  perhitungan  kelayakan usaha.

Urutan  prioritas  unit  penangkapan  ikan  berdasarkan  kriteria cashflow  dan investment criteria dapat dilihat pada Tabel 2. Urutan prioritas unit penangkapan ikan  pelagis  berdasarkan  kriteria  kelayakan  usaha  yaitu    purse  seine,  disusul gillnet dan pancing tonda. Unit penangkapan payang memiliki total nilai 0 karena dibanding unit penangkap ikan yang lain, payang memiliki nilai kelayakan usaha yang  paling  rendah  pada  semua  kriteria.  Hal  ini  menyebabkan  payang  di  PPN Prigi tidak mengalami perkembangan yang nyata dari tahun ke tahun.

Tabel 2. Prioritas unit penangkapan berdasarkan cashflow dan investment criteria.

 

 

 

 

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari tiga alat tangkap yang diamati mempunyai sifat masing-masing, yakni sebagai berikut:
  • Purse seine merupakan alat yang bersifat aktif dalam pengoperasiannya, yakni menghadang pergerakan ikan dengan cara melingkarinya dari samping.
  • Payang merupakan alat yang bersifat aktif dalam pengoperasiannya, yakni di mana kedua sayapnya berguna menakuti ikan atau mengejutkan serta menggiring ikan supaya masuk ke dalam kantong.
  • Pancing merupakan alat tangkap yang bersifat pasif, yakni dengan meletakkan di perairan menggunakan umpan agar ikan dapat tertangkap.
  1. Hasil tangkapan yang didapat dari tiga alat yang dibahas antara lain:
  • Purse seine menangkap ikan-ikan “pelagic shoaling species” yang berarti ikan yang membentuk gerombolan seperti ikan layang, tembang, lemuru, cakalang, tuna dan lain-lain.
  • Payang menangkap gerombolan ikan permukaan “pelagic fish”, antara lain ikan layang, tongkol, selar, kembung, bawal hitam, dan lain-lain.
  • Pancing menangkap ikan demersal, ikan pelagis tergantung dari model pancingnya. Ikan yang tertangkap biasanya ikan tanggiri, cakalang, tongkol, dan tuna.
  1. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Prigi memiliki jenis-jenis tersendiri, yakni
  • Purse seine yang dioperasikan dengan sistem gadangan (sore hingga malam), gerakar (siang hari), dan oncor (malam hari).
  • Payang
  • Pancing yang terdiri dari beberapa macam yakni pancing renta, pancing copeng, pancing layang-layang dan pancing tonda.
  1. Urutan prioritas penggunaan alat tangkap nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi berturut-turut adalah menggunakan Purse seine, Pancing tonda, Gill net, dan Payang.

5.2 Saran

 

            Ketika pada saat praktikum di lapang seharusnya diberikan waktu yang banyak, karena bila dengan 1 kelompok dibagi menjadi 3 kurang memuaskan dikarenakan praktikan kurang memahami dan mengetahui alat tangkap yang ada di kelompok lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aprilia, Siska, 2011. Trofik Level Hasil Tangkapan Bedasarkan Alat Tangkap Yang Digunakan Nelayan Di Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ayodhyoa, A.U, 1999. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut Pertanian: Bogor.

Beny dkk, 2008. Tinjauan Aspek Ekonomi Keberlanjutan Perikanan Tangkapn Skala Kecil. Jurnal balai perikanan vol.viii IPB. Bogor.

Muhammad, Fadel, 2010. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomer. Kep.06/MEN/2010. Jakarta.

Mulyani, Sri, 2004. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Teri dengan Menggunakan Alat Tangkap Payang Jabur Di Perairan Tegal. Jurnal.

Rizkha, 2011. Proposal Studi Perikanan Tangkap Payang Lemuru di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Perigi, Trenggalek, Jawa Timur. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang.

Siswanto, Budi, 2006. Memahami Resistensi Nelayan Perigi Terhadap Juragan, Pedagang, dan TPI. Jurnal.

Subani dan Barus,1972. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia. Jakarta: Jilid I. Lembaga Penelitian Perikanan Laut.

Sudirman dan Mallawa, 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta: Jakarta.

Tadjuddah, 2009. Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut FAO. www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 23.00 WIB.

Wratsongko, Bayu, 2002. Analisis unit-unit Penangkapan Ikan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  .Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Vont Brandt, A, 1984. Fish Catching Methods of The World. Third Edition. Fishing News Book. Farnham.

LAMPIRAN

 

 

PURSE SEINE

Pengukuran diameter pemberat pada Purse seine

Pengukuran panjang pemberat

 

 

 

Pengukuran jarak pemberat satu dengan pemberat lainnya

 

 

 

Pengukuran diameter pelampung

 

 

 

Pengukuran diameter tali ris atas

 

 

 

Kapal Purse seine

 

PAYANG

Pengukuran panjang pelampung

 

Pengukuran diameter tali pelampung

 

 

Pengukuran jarak antar pelampung

 

 

 

Pelampung dari bola

Pemberat dari batu

 

 

 

Pengukuran diameter pemberat dari batu

 

Pengukuran panjang pemberat

Lampu sebagai alat bantu penangkapan pada malam hari

 

 

 

Kapal Payang

Gambar 1. Purse Seine (google image, 2012)

 

Gambar rumpon

(google image, 2012)

 

Gambar fish finder

(google image, 2012)

 

Gambar GPS

(google image, 2012)

 

Gambar Payang

(google image, 2012)

 

Gambar Rumpon

(google image, 2012)

Gambar lampu petromak

(google image, 2012)

Gambar Pancing longline

(google image, 2012)

 

 

 

 

 

 

Your Reply

CAPTCHA Image
*