Tugas Minggu ke-4

March 22nd, 2018

Nama : Pritty Nahangken Tarihoran

NIM : 165040200111168

Kelas : C

TUGAS MINGGU 4

SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN

 

Soal

1. Meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua

Jawab: Pada minggu ketiga dan keempat mempelajari terkait prinsip-prinsip survei tanah dan pra survei. Prinsip-prinsip survei tanah dilakukan dengan cara memahami satuan peta, satuan tanah yang kemudian menjadi satuan peta tanah. Yang terdiri dari satuan peta tanah dan taksonomi, satuan peta tanah dalam survei tanah, penamaan satuan peta tanah, penentuan batas tanah, peran korelator dalam survei tanah, memberi nama satuan peta tanah pada berbagai kategori dan berbagai skala peta, serta menjelaskan cara-cara membuat peta tanah di lapangan. Sedangkan hal yag perlu diperhatikan saat pra survei yaitu mengurus perijinan, melakukan ground check point dengan data hasil interpretasi foto udara, mempersiapkan base camp dan tenaga survei, serta memantapkan perencanaan survei.

2. Kerjakan bahan diskusi pada slide no 4 di bahan kuliah minggu 3
A. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?
B. Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy  skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Jawab: A.  Karena 0,4 cm2 sebagai unit terkecil dalam pembuatan dan penentuan luasan Satuan Peta Tanah yang digunakan untuk mendapatkan kompleks tanah. Hal ini dilakukan untuk menentukan penamaan peta tanah secara geografis baik berupa asosiasi, konsosiasi, dan kompleks. Pada saat skala pada peta diperbesar (ex: 1:25.000) maka pada luasan 0,4 cm2 akan muncul dengan jelas semua legenda yang terdapat pada satuan peta, akan tetapi apabila skala peta diperkecil (ex: 1:50.000) maka terdapat data yang tidak muncul tetapi tidak dapat dipisahkan kecuali pada tingkat amat detail. Oleh karena itu, dibuat unit satuan terkecil yaitu 0,4 cm2. Sehingga dilakukan dengan luasan terkecil 0.4 cm2.

a. Konsosiasi adalah satuan peta tanah yang hanya terdiri dari satu taksa tanah yang didominasi oleh satu satuan tanah dan tanah-tanah yang mirip. Minimal 50% dari pedon-pedon yang ada dalam SPT tersebut.
b. Asosiasi adalah satuan peta tanah yang terdiri dari lebih dari satu jenis atau taksa tanah.
c. Kompleks adalah SPT ini mirip dengan SPT asosiasi karena terdapat dua atau lebih satuan-satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam penamaan SPT, demikian juga komposisi masing-masing satuan tanahnya serupa dengan SPT asosiasi. Persebaran satuan tanah yang ada pada SPT ini tidak mengikuti pola tertentu sehingga dalam skala pemetaan yang lebih besar, satuan-satuan tanah yang menyusunnya tetap tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

B. Tidak dibenarkan, hal ini karena dapat menghilangkan keterangan data yang terdapat pada peta apabila skala pada peta diperkecil. Sehingga keaslian dari peta tersebut menjadi hilang, selain itu peta yang dibesarkan tidak akan memiliki perbandingan skala peta yang sama, hanya ukurannya medianya saja yang sama,tetapi perbadingan skalanya berbeda kecuali jika kita membuat ulang dan memperkecil skala sebelumnya.

3. Skala peta
a. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?
b. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

  • Eksplorasi (1: 1000.000)
  • Tinjau (1:250.000)
  • Semi detil (1:50.000)
  • Detil (1:25.000)
  • Sangat Detil (1:5 000)

Jawab: a. Eksplorasi 1:1.000.000

L.sebenarnya = 0.8 cm2 x (1.000.000)2

= 0.8 x 1012 cm2

= 800 ha

b. Tinjau 1:250.000

L.sebenarnya = 0.8 cm2 x (250.000)2

=  0.8 x 625 x 108

= 500 x 108 cm2

= 500 ha

c. Semi detil 1:50.000

L.sebenarnya = 0.8 cm2 x (50.000)2

=  0.8 x 25 x 108

= 20 x 108  cm2

= 20 ha

d. Detil 1:25.000

L.sebenarnya = 0.8 cm2 x (25.000)2

=  0.8 x 625 x 106

= 500 x 106 cm2

= 5 ha

e. Sangat Detail 1:5000

L.sebenarnya = 0.8 cm2 x (5000)2

=  0.8 x 25 x 106

= 20 x 106 cm2

= 20-1 ha

 

Tugas Minggu ke-3

March 22nd, 2018

Nama : Pritty Nahangken Tarihoran

NIM : 165040200111168

Kelas : C

 

TUGAS MINGGU 3

SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN

  1.    Meneruskan pengayaan bahan kajian
    a. Dinamika inklusi adalah keadaan di mana suatu daerah dengan luas tertentu tidak dapat digambarkan di peta dengan skala tertentu tapi kenyataan di lapang daerah tersebut ada.
    b. Delineasi adalah menghubungkan garis-garis batas pada peta
    c. Peta adalah suatu cara untuk merepresentasikan gambaran permukaan bumi (lokasi, obyek bumi) secara nyata pada  permukaan 2D (berupa kertas, layar monitor) yang diperkecil (dalam skala tertentu) dan dapat dilihat dari atas serta didalamnya memuat berbagai informasi tentang wilayah tersebut. Skala ideal yang digunakan untuk pengamatan lapangan adalah dua kali lebih besar dari skala peta publikasi.
    d. Peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi. Pada setiap peta tanah digambarkan garis-garis batas (delineasi) tanah-tanah yang dijumpai dilapangan. Garis batas tersebut berupa poligon-poligon yang digambarkan pada peta tanah yang lazim disebut satuan peta tanah (SPT), merupakan tubuh tanah yang mewakili keadaan sebenarnya dilapangan.
    Dalam sebuah peta tanah selalu berisikan lebih dari satu satuan peta tanah. Pada setiap satuan peta tanah, dapat terdiri atas satuan (taksa) tanah tertentu atau dapat pula terdiri atas dua atau lebih taksa tanah, baik berupa asosiasi maupun kompleks tanah yang didefinisikan sebagai taksonomi tanah atau sistem klasifikasi tanah lainnya.dengan demikian, peta yang hanya menyajikan karakteristik tunggal (single value) bukanlah merupakan peta tanah. Peta tanah terdiri dari beberapa macam, yaitu:
    * Berdasarkan Cara Penyajian
    1)Peta tanah bersimbolkan titik (point soil maps). Peta yang menunjukkan peta titik-titik pengamatan yang sesungguhnya dilakukan, disertai dengan nama taksa tanah atau satu atau lebih sifat tanah.
    2)Peta tanah poligon kelas-areal. Daerah survei dibagi atas beberapa poligon dengan menggunakan garis batas secara tegas. Nama lain dari peta ini adalah peta tanah ‘chloropleth’nyaitu peta yang menggunakan gradasi rona atau warna yang berbeda untuk menyajikan perbedaan satuan peta.
    3)Peta lapangan kontinyu yang dibuat dengan metode interpolasi. Peta ini umumnya disajikan dengan isoline atau pada grid halus (model Raster dalam SIG).
    4)Peta lapangan kontinyu yang dibuat melalui pengamatan langsung diseluruh daerah survei. Pada peta ini terdapat pengukuran aktual yang dilakukan pada tiap-tiap titik.

    *Berdasarkan Teknik Pelaksanaannya
    1)Mengamati, mendeskripsi dan mengklasifikasi profil-profil tanah/pedon pada beberapa lokasi di daerah survei.
    2)Membagi kontinum atas pertil-pertil atau satuan-satuan berdasarkan pada pengamatan perubahan dalam sifat-sifat tanah eksternal, melalui interpretasi foto udara yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang dibuat tersebut.

    *Berdasarkan Tujuan
    1)Peta tanah bagan dibuat sebgai hasil kompilasi dan generalisasi peta-peta tanah eksplorasi atau peta tanah tinjau.
    2)Peta tanah eksplorasi menyajikan keterangan yang sangat umum tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Skala peta bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:5.000.000.
    3)Peta tanah tinjau umumnya berskala 1:250.000. Peta ini dapat menggambarkan daerah-daerah yang berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.
    4)Peta tanah semi-detail, umumnya dibuat dengan skala 1:50.000 dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 ha tergantung dari kemiringan bentang lahan.
    5)Peta tanah detail biasanya dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000 serta ditujukan untuk mempersiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah.
    6)Peta tanah sangat detail. Peta ini sangat detain mempunyai skala >1:10.000. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus .

    e. Prinsip-prinsip survei tanah:

1)Satuan Peta Tanah

Satuan peta ialah satuan lahan yang mempunyai sistem fisiografi/landform yang sama, yang dibedakan satu sama lain dilapangan oleh batas-batas alami dan dapat dipakai sebagai satuna evaluasi lahan. Satuan-satuan yang dihasilkan umumnya berupa tubuh lahan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang dibedakan oleh batas-batas alami ditempat terjadinya perubahan ciri-ciri yang paling cepat ke arah lateral. Pendekatannya merupakan pendekatan fisiografis.

Satuan peta tanah disusun untuk menampung informasi penting dari suatu luasan/poligon tentang hal-hal yang berkaitan dengan survei tanah. Satuan peta tanah harus dengan mudah dapat dikenali, diukur dan dapat dipetakan pada skala yang tersedia dari peta dasarnya, waktu yang tersedia, kemampuan dari para pemetanya dan tujuan dari survei tersebut.

Menurut Soil Survei Divission Staff (1993), satuan peta merupakan kumpulan daerah-daerah yang didefinisikan dan komponen tanah atau daerah aneka atau kedua-duanya diberi nama yang sama. Setiap peta tanah berbeda dalam beberapa dengan yang lainnya dalam suatu daerah survei dan daerah/luasan pada peta tersebut disebut delineasi.

2)Satuan Taksonomi

Satuan taksonomi adalah sekelompok tanah dari suatu sistem klasifikasi tanah, masing-masing diwakili oleh suatu profil tanah yang mencerminkan ‘central concept’ atau konsep pusat dengan sejumlah kisaran penyimpanan sifat-sifat dari konsep pusat tersebut. Satuan taksonomi tanah seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan fakta-fakta yang ada dilapangan. Misalnya kita dapat saja mengelompokkan tanah-tanah dengan lapisan-bawah berwarna kelabu sebagai kelas tersendiri dan yang memiliki kontak litik yang dangkal sebagai kelas yang lain. Pengelompokan ini mungkin dapat didelineasi pada peta, tetapi pada umunya sangat sukar dilakukan karena tidak terlihat di lapangan secara langsung.

Hampir tidak mungkin mendeleneasi secara akurat pada peta daerah-daerah yang benar-benar termasuk kedalam satu kelas taksonomi dilapangan. Artinya tidak seorangpun yang mampu memetakan tanah dengan satuan taksonomi. Semua tanah tersembunyi dibawah permukaan. Hanya kenampakan permukaan dan sifat-sifat permukaan tanah yang terlihat.

Menurut van Wambeke dan Forbes (1986), pebedaan yang prinsip antara satuan taksonomi dan satuan peta adalah satuan taksanomi merupakan suatu konsep yang dihasilkan dari membagi tanah sejagat (soil universal) sedangkan satuan peta merupakan hasil dari pengelompokan delineasi tanah yang mempunyai nama, simbol, nama, atau lambang khas lainnya yang sama pada suatu peta yang dapat dikenali, diukur, dan dipetakan dilapangan dengan mudah.

Klasifikasi (taksonomi) tanah merupakan pengembangan konsep fikiran manusia. Dalam hal ini satuan taksonomi tanah adalah buatan manusia, sedangkan satuan peta merupakan batas tanah sesungguhnya (merupakan tubuh tanah alami). Fungsi sistem klasifikasi yaitu:

  • Sebagai media komunikasi bagi para pakar tanah, penyuluh, penelitian dan lain-lain.
  • Mengekstrapolasikan hasil-hasil penelitian.

    f. Satuan Peta Tanah dalam Survei Tanah

Satuan peta tanah dibuat tergantung tingkat ketelitian survei atau tingkat pemetaan yang dilakukan, sehingga satuan peta tanah dapat memiliki kisaran karakteristik yang luas maupun sempit. Macam satuan peta tanah menurut Wambeke dan Forbes (1986) yaitu konsosiasi, asosiasi, kompleks dan kelompok tak dibedakan yang dibagi menjadi:

Satuan peta tanah sederhana (simple mapping unit). Satuan peta ini hanya mengandung satu satuan tanah saja atau terdapat tanah lain yang disebut sebagai inklusi. Satuan peta tanah ini banyak dijumpai pada survei tanah detail, dari daerah yang relatif seragam, satuan peta ini disebut konsosiasi. Menurut Wambeke dan Forbes (1986) konsosiasi merupakan satuan peta yang didominasi oleh satu satuan tanah dan tanah yang mirip.

Satuan peta tanah majemuk (compound mapping unit), terdiri atas dua sataun tanah atau lebih yang berbeda. Satuan peta tanah ini dibedakan menjadi:

Asosiasi tanah, yaitu sekelompok tanah yang berhubungan secara geografis, tersebar dalam suatu satuan peta menurut pola tertentu yang dapat diduga posisinya, tetapi karena kecilnya skala peta, taksa-taksa tanah itu tidak dapat dipisahkan.

Kompleks tanah, merupakan sekelompok tanah dari taksa yang berbeda, yang berbaur satu dengan yang lainnya dalam suatu delineasi (satuan peta) tanpa memperlihatkan pola tertentu atau menunjukkan pola yang tidak beraturan.

g. Kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups), terdiri atas dua atau lebih tanah yang secara geografis tidak selalu berupa konsosiasi tetapi termasuk dalam satuan peta yang sama karena penggunaan dan pengelolaannya sama atau mirip. Tanah-tanah tersebut dimasukkan dalam sataun peta yang sama karena mempunyai sifat berlereng terjal, berbatu, mengalami pengaruh banjir yang cukup parah sehingga membatasi penggunaan dan pengelolaannya.

2.Koleksi foto peta rupa bumi/topografi, geologi, peta tanah, dan peta penggunaan lahan provinsi Sumatera Utara

Peta geologi Provinsi Sumatera Utara

  1. Judul : Peta Geologi Teknik Daerah Medan dan Sekitarnya
  2. Tahun Penerbitan: 1995
  3. Pembuat Peta: GTL/THAMRIN, MH; WAFID AN, Muhammad; HERMAWAN
  4. Skala: 1:100.0000
  5. Lokasi peta : Medan

Peta rupa bumi Provinsi Sumatera Utara

  1. Judul : Peta Kota Medan
  2. Tahun penerbitan: 2005
  3. Pembuat peta : Angkasa
  4. Skala : 1:250.000
  5. Sistem proyeksi : Silinder

Peta penggunaan lahan Provinsi Sumatera Utara

  1. Judul : Penutupan Lahan Provinsi Sumatera Utara
  2. Tahun penerbitan: 2006
  3. Pembuat peta : Hasil Interpretasi Landsat, Plamologi
  4. Skala : 1:6.000.000

Peta tanah Provinsi Sumatera Utara

  1. Judul : Peta Indeks Risiko Bencana Gerakan Tanah/Landslide Disaster Risk Index Map
  2. Tahun penerbitan: 2010
  3. Pembuat peta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana
  4. Skala : 1:250.000

 

 

Hello world!

March 8th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!