• Definisi Personal Selling dan Definisi Public Relation

    Date: 2012.05.07 | Category: Tugas Bulan Mei | Tags: ,,,,

    Definisi Personal Selling

    definisi atau pengertian personal selling menurut beberapa pakaratau ahli, antara lain : (1) Swastha (1998 : 226) memberikan definisi atau pengertian personal selling sebagai interaksi antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai, atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain. (2) Sameto (2004 : 520 memberikan definisi atau pengertian personal selling adalah menjual produk atau sekelompok produk dengan cara mengandalakna tenaga penjual terlatih yang mendatangi semua pembeli potensial untuk secara pribadi menerangkan kelebihan dan kegunaan produk tersebut sehingga mereka bisa diyakinkan. (3) Winardi (2001 :113) memberikan definisi atau pengertian personal selling sebagai interaksi antar pribadi dan secara tatap muka untuk mencapai tujuan menciptakan, memodifikasi, mengeksploitasi atau mengusahakan timbulnya suatu hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain.

    Dari definisi tersebut dapat digaris bawahi bahwa dalam kegiatan personal selling terkandung usaha tenaga penjual, sebagai wakil perusahaan, untuk membangun kepercayaan calon konsumen terhadap produk yang ditawarkan dengan cara persuasif, yaitu menciptakan, memodifikasi, mengeksploitasi atau mengusahakan suatu transaksi penjualan yang saling menguntungkan. Sementara itu Swastha dan Irawan (2000 :350) memberikan definisi atau pengertian personal selling sebagai prentasi secara lisan dalam suatu percakapan dengan satu atau lebih calon pembeli yang ditujukan untuk menciptakan penjualan. Winardi (2001 :114) menyebutkan bahwa dalam personal selling, tenaga penjual diharapkan dapat menciptakan, memodifikasi dan mengeksploitasi atau mengusahakan terjadinya suatu hubungan pertukaran yang saling menguntungkan. Menciptakan, berarti tenaga penjual harus mencari calon pembeli untuk terjadinya suatu transaksi. Memodifikasi, berarti setelah terjadinya pertukaran antara penjual dengan pembeli harus diikuti dengan usaha melanggengkan hubungan baik yang telah terjalin. Mengeksploitasi artinya dalam hubungan tersebut harus dapat dimanfaatkan terjadinya pertukaran secara berkesinambungan dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Dengan demikian tenaga penjual harus dapat memberikan kesan baik terhadap para langganan. Personal selling dalam pelaksanaannya lebih fleksibel dibandingkan dengan metode promosi lainnya, karena dalam personal selling tenaga penjual dapat mengadakan penyesuaian seperlunya. Selanjutnya dengan personal selling, kegiatan promosi yang tidak perlu dapat mengadakan penyesuaian seperlunya. Selanjutnya dengan personal selling, kegiatan promosi yang tidak perlu dapat terhindari karena sasaran penjualan telah ditetapkan. Disamping itu tenaga penjual juga dapat berperan sebagai pemberi informasi mengenai sikap, perilaku dan keadaan pasar lainnya yang berhubungan dengan produk perusahaan sekaligus kondisi persaingan yang sedang terjadi.

     

    Pengertian Public Relations

    Definisi Public Relations (humas) menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Center, dan Glen M. Broom, seperti dikutip oleh Onong Uchjana Effendy yaitu :

    “Public Relations adalahh fungsi manajemen yang menilai sikap public, mengidentifikasikan kebijakan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan public, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih dan pengertian dan dukungan public.”

    Sedangkan definisi PR menurut Frank Jeffkins “Semua bentuk komunikasi yang terencana dengan baik ke dalam maupun keluar antara suatu organisasi dengan khalayak dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.”

     

    Menurut Dr. Rex Harlow dalam bukunya yang berjudul A Model Public Relations Educations For Profesional Practise yang diterbitkan oleh IPRA (Internasional Public Relations Association) menyatakan bahwa definisi dari Public Relations adalah :

    “Fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, dan kerja sama, melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan/permasalahan, membantu manajemen untuk mampu menanggapi opini public, mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efetif, bertindak sebagai system peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.”

    Para ahli PR menanggapi definisi yang dirumuskan oleh DR. Rex Harlow tersebut, dan kemudian dilengkapi dengan definisi yang dihasilkan pada pertemuan di Mexico City, bulan Agustus 1978 yang dinamakan The Statemen of Mexico. Definisi tersebut yakni :

    “Praktik PR adalah seni dan ilmu pengetahuan social yang dapat dipergunakan untuk menganalasis kecendurangan, memprediksi konsekuensi-konsekuensina, menasihati para pemimpin organisasi, dan melaksanaan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik untuk kepentingan organisasi maupun kepentingan public atas umum.”

    Menurut H. Fayol beberapa kegiatan dan sasaran PR, adalah sebagai berikut :

    1. Membangun identitas dan citra perusahaan (Building corporate identity and image)

    -          Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif

    -          Mendukung kegiatan komunikasi timbale balik dua arah dengan berbagai pihak

    1. Menghadapi krisis (Facing of crisi)

    -          Menangani keluhan (complaint) dan menghadapi krisis yang terjadi dengan membentuk manajemen krisis dan PR Recovery Image yang bertugas memperbaiki lost of image and damage.

    1. Mempromosikan aspek kemasyarakatan aspek kemasyarakatan (Promotion public causes)

    -          Mempromosikan yang menyangkut kepentingan public

     

    Fungsi dan peran PR

    Menurut Onong Uchjana Effendy fungsi utama seorang PR adalaha :

    1. Bertindak sebagai communicator dalam kegiatan pada organisasi perusahaan, prosesnya berlangsung dalam dua arah timbale balik (two way traffic reciprocal communications). Dalam hal ini, disatu pihak melakukan fungsi komunikasi merupakan bentuk penyebaran informasi, dilain pihak komunikasi berlangsung dalam bentuk penyampaian pesan dan menciptakan opini public.
    2. Membangun atau membina hubungan (relationship) yang positif dan baik dengan pihak public sebagai target sasaran yaitu public internal dan public eksternal. Khususnya dalam menciptakan saling mempercayai (mutually understanding) dan saling memperoleh manfaat bersama (mutually symbiosis) antara lembaga/organisasi perusahaan dan publiknya.
    3. Sebagai back up management yang melekat pada fungsi management PR melalui proses tahapan POAC, yaitu singkatan dari planting (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggiatan), dan controlling (pengawasan)
    4. Menciptakan citra perusahaan atau lembaga (corporate image) yang merupakan tujuan akhir dari suatu aktivitas program kerja PR campaign (kampanye PR), baik untuk keperluan publikasi maupun promosi.

    Peranan PR dalam suatu organisasi dapat dibagi menjadi empat kategori (Dozier dan Broom, 1995) :

    1. Penasehat ahli (expert prescriber), seorang praktisi pakar PR yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah yang berhubungan dengan public.
    2. Fasilitator Komunikasi (communications fasilitator), dalam hal ini praktisi PR bertindak sebagai komunikator atau meditor untuk mambantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Dipihak lain, dapat juga dituntut mampu menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi kepada pihak publiknya. Sehingga dengan komunikasi timbale balik tersebut dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai, mendukung dan toleransi yang baik antara kedua belah pihak.
    3. Fasilitator proses pemecah masalah (problem solving process fasilitator). Peranan praktisi PR dalam proses pemecahan persoalan PR ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasehat (advisor) hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan professional.
    4. Teknisi komunikasi (communications technician), peranan communications technician ini menjadi praktisi PR yang hanya menyediakan teknik komunikasi atau dikenal dengan method of communication in organization.

    NAMA MAHASISWA : PRISMA NOHANDHINI (0910223092)

    DOSEN : NANANG SURYADI

    www.nanangs.ub.ac.id

    www.nanangsuryadi.lecture.ub. ac.id

    www.marcom.lecture.ub.ac.id