Teori Perubahan Kelembagan

October 21st, 2019

Teori Perubahan Kelembagaan

Perubahahan kelembagaan di dalam masyarakat berarti terjadinya perubahan di dalam prinsip regulasi dan organisasi, perilaku, dan pola – pola interaksi. Arah perubahan tersebut biasanya menuju pada peningkatan perbedaan prinsip – prinsip dan pola – pola umum di dalam kelembagaan yang salingberhubungan, sementara pada waktu yang bersamaan terdapat peningkatan kebutuhan untuk melakukan integrasi di dalam sistem social yang kompleks.

Tujuan dari perubahan kelembagaan adalah untuk menginternalisasikan potensi produktivitas yang lebih besar dari perbaikan pemanfaatan sumber daya yang kemudian secara stimultan menciptakan keseimbangan baru misalnya keadilan social.

Terdapat lima proporsi yang mendefinisikan karakteristik dasar dari perubahan kelembagaan diantaranya yaitu :

  1. Interaksi kelembagaan dan organisasi yang terjadi secara terus menerus di dalam setting ekonomi kelangkaan, dan kemudian diperkuat oleh kompetisi, merupakan kunci terjadinya perubahan kelembagaan
  2. Kompetisi akan membuat organisasi menginvestasikan ketrampilan dan pengetahuan untuk bertahan hidup. Jenis ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan oleh individu dan organisasi akan membentuk perkembangan persepsi tentang kesempatan dan kemudian dipilih yang akan mengubah kelembagaan
  3. Kerangka kelembagaan mendikte jenis ketrampilan dan pengetahuan yang dianggap memiliki hasil maksimum
  4. Persepsi berasal dari kontruksi atau bangunan mental para pemain atau pelaku
  5. Cakupan ekonomi, komplementaritas, dan eksternalitas jaringan matriks kelembagaan menciptakan perubahan kelembagaan yang meningkat dan meiliki jalur ketergantungan

Perubahan kelembagaan muncul dari perubahan tuntutan pemilih (demands of consituents) atau perubahan kekuasaan pemasok kelembagaan (suppliers of institutions). Dapat dikatakan bahwa proses perubahan kelembagaan tidaklah terjadi secara cepat dan tanpa ganjalan. Sebaliknya walaupun proses perubahan kelembagaan terjadi secara permanen, proses perubahan kelembagaan tersebut penuh liku dan tidak selalu menuju kepada perbaikan efisiensi.

Dalam menganalisis perubahan kelembagaan terdapat dua pendekatan diantaranya yaitu :

  1. Pendekatan pertama, meilihat perubahan kelembagaan hanya dari aspek biaya dan manfaat dan meyakini bahwa kekuatan motif seperti perubahan harga relative dalam jangka panjang dapat membangun kelembagaan yang lebih efisien
  2. Pendekatan lain memandang perubahan kelembagaan perubahan kelembagaan sebagai hasil dari perjuangan antara kelompok – kelompok kepentingan yang kemudian popular disebut sebagai “teori kelompok kepentingan “

Model perubahan kelembagaan dapat dideskripsikan sebagai proses interaksi antara dua entitas :”wirausahawan ekonomi” dan “wirausahawan politik”. Wirausahawan ekonomi dan politik didefiniskan sebagai kelas orang – orang atau kelompok bersama yang memiliki level berbeda dalam hirarki kelembagaan.

Terdapat dua faktor yang menjadi penyebab perubahan kelembagaan diantaranya yaitu :

  1. Permintaan dari pelaku

Dalam hal ini serikat pekerja sering menekan pemilik modal perusahaan untuk meningkatkan upah yang diterima atau fasilitas kesehatan sebagai imbalan atas peningkatan produktivitas perusahaan

  1. Penawaran dari pelaku

Dalam hal ini pemerintah memiliki iktikad untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan tenaga kerja melalui penerapan tingakt upah minimum.

Jadi, perubahan kelembagaan yang mendasarkan kepada organisasi dipastikan akan berjalan lebih rumit karena harus menunggu proses kesepakatan di dalam organisasi. Perubahan kelembagaan di atas bisa di petakan menjadi dua tahapan diantaranya yaitu :

  1. Peningkatan pendapatan (increase return)
  2. Pasar tidak sempurn ayang mengakibatkan tingginya biaya transaksi

Dalam kasus ekspektasi terhadap peningkatan pendapatan, perubahan, kelembagaan akan dikerjakan baik secara spontan maupun tersistemasi, karena manfaat yang diterima lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, bila ekspektasi perubahan kelembagaan tersebut dikerjakan lewat koordinasi pasar maupun organisasi.

sumber (Prof Erani, 2012)