Referensi Pendakian Arjuna Welirang Jalur Pura – Sumber Brantas

1 February 2014 by Pangageng Tlatah Andonyo

                Ada banyak jalur yang bisa digunakan untuk mencapai Puncak Arjuna. Beberapa diantaranya jalur Purwosari, Wonosari, Tretes, Cangar, Gabes, Sumber Brantas, dan masih banyak lagi beberapa jalur lain yang belum begitu popular. Tulisan ini berdasarkan hasil perjalanan kami sewaktu melakukan  Operasi Pendakian Arjuna Welirang (OPAW) dalam proses memperoleh nomor anggota organisasi YEPE. Harapannya semoga sedikit tulisan ini bisa menjadi bahan referensi teman-teman pendaki yang ingin mencoba jalur alternative menuju arjuna.

Kali ini yang menjadi jalur pilihan kami dalam proses OPAW adalah jalur Pura Junggo. Jalur Pura Junggo sendiri dikenal sebagai jalur tercepat dan jalan yang curam. Sebagai perbandingan jika biasanya perlu waktu dua hari untuk muncak Gunung Arjuna  dari jalur konvensional Tretes. Dari Jalur Pura Junggo hanya perlu waktu sekitar Sembilan jam perjalanan sampai ke puncak jika tanpa camp. Sedangkan untuk jalur turun kami memilih jalur Sumber Brantas. Perjalanan kami akan diawali dari Desa Junggo Kecamatan Bumiaji Batu.

Pura dan Ladang Apel

Jalur Pura diawali dari Desa Junggo kecamatan Bumiaji Kota Batu. Untuk menuju kesana dari Kota Batu kita bisa mengikuti arah ke Cangar. Bisa juga dari Terminal Kota Batu naik angkot jurusan Selecta. Sampai di pertigaan Coban Talun masih terus lagi kira-kira 500 meter sampai bertemu gapura besar beraksen pura di sisi kanan jalan. Belok kanan masuk ke gapura tersebut, mengikuti jalan aspal melewati perkampungan lalu berganti ladang dan perkebunan apel. Sampai jalan aspal berakhir di sebuah bangunan Pura.

Di sini kita menemui perkebunan apel yang terhampar luas. Perkebunan ini adalah batas kendaraan bisa mengantarkan kita. Sebenarnya kendaraan baik motor atau mobil masih bisa berjalan di jalur ini, tapi hitung-hitung jalur ini bisa untuk pemanasan sebelum memulai pendakian. Jika logistik dirasa kurang, di titik awal ini kita bisa memetik beberapa buah apel, atau membelinya langsung dari petani. Mengingat di jalur pura termasuk minim sumber air, kita harus mengisi penuh jerigen lima liter dari sini. Kita juga boleh meminta air di pura.

Hutan Lali Jiwa

GEDSC DIGITAL CAMERA

Belantara Hutan Lali Jiwa menjadi awal dari pendakian. Kamis (2/1/14)(Dok/Ipang)

 

Selanjutnya berawal dari perkebunan apel lalu memasuki hutan yang berada di ujung jalan perkebunan. Terdapat dua jalur yang agak membingungkan, bahkan percabangan ini sempat membuat tim salah jalur. Jalur yang satu belok ke kiri lalu yang kedua lurus, awalnya kami memilih untuk mengambil jalur ke kiri. Hingga menemui beberapa jalan bercabang yang agak tertutup tim mulai curiga sehingga tim berbalik arah dan mencoba jalur yang satunya.

                Jalur lurus dari perkebunan apel adalah jalur yang benar. Terdapat batang-batang pohon yang berjajar di sepanjang jalan ada juga bekas syatan parang di batang-batang pohon yang menandakan jalur pendakian. Hutan ini merupakan bagian dari Hutan Lali Jiwa yang mengelilingi Gunung Arjuna.  Beberapa kali akan ditemukan jalur-jalur alternative karena jalur utama tertutup oleh pohon tumbang maupun tergerus tanah longsor. Tanda-tanda string atau tali raffia yang menjadi penunjuk arah hampir tidak ada di jalur pura. Sebagai gantinya kita harus jeli melihat setiap tanda di pohon agar tidak salah memasuki jalur pencari kayu atau pemburu.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Pinus Kecil dengan jalan yang terbuat dari batu-batu besar. Kamis (2/1/14)(Dok/Ipang)

Pinus Kecil

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Pemandangan sore hari dari Pinus Kecil. Kamis (2/1/14)(Dok/Ipang)

                Sekitar dua jam perjalanan maka kita akan tiba di kawasan bernama Pinus Kecil. Kita terus bergerak menuju timur menyusuri punggungan lereng pegunungan arjuna. Di sisi kiri kanan terdapat jurang yang dalamnya sekitar 40 meter.  Jalan berupa susunan batu selebar dua meter yang tak beraturan. Di jalur ini cukup sulit untuk mengira-ngira mana jalur yang aman atau tidak. Di Kawasan Pinus Kecil kita juga bisa menemui beberapa perangkap burung berupa Jaring hitam yang terbentang sejauh sekitar 100 meter. Jaring ini dipasang oleh penduduk sekitar, melintang menghalangi jalur pendaki.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Menikmati golden time dari Pinus Kecil. Kamis (2/1/14)(Dok/Ipang)

                Saat hari menjelang sore, dari sini kita akan melihat matahari semakin turun ke peraduan hingga sinar emasnya berkilauan menerpa pepohonan yang menghitam bekas kebakaran hutan. Perasaan panik mungkin muncul di Kawasan Pinus Kecil jika waktu mulai beranjak petang, karena dapat dibayangkan jika harus berjalan di malam hari dengan jalur yang memiliki jurang di sisi kanan kirinya. Ketika matahari mulai menghilang, akan nampak pemandangan kota yang mulai gelap tertutup bayangan perbukitan, tinggal awan kabut diatasnya yang masih bercahaya.

                Sebelum matahari benar-benar tenggelam sebaiknya kita segera menemukan tanah yang datar untuk tempat kamp hari pertama. Dataran yang luas akan kita temui di akhir kawasan pinus kecil. Disini pohon pinus menjadi andalan untuk membuat api unggun. Jika keadaan memaksa mungkin kita perlu menebang satu batang pohon. Fungsi api unggun bisa dibilang penting, karena selain untuk mengusir dingin, juga untuk penghalau hewan-hewan liar yang masih banyak berkeliaran di jalur ini.

Tanaman besar  cukup jarang, ilalang juga tidak begitu padat, pohon-pohon pinus yang ada  masih kecil berdiameter sekitar 20cm. Pemandangan langit dan lampu-lampu kota bisa terlihat jelas tanpa terhalang apapun. Angin berhembus kencang karena lajunya tidak terhambat oleh pepohonan. Suara kucing hutan bersahut-sahutan sepanjang malam.

                Pagi menjelang di Pinus Kecil, setelah melewatkan malam pertama terasa sangat membeku, telapak tangan yang telah menggunakan glove masih terasa dingin. Matahari muncul setelah pukul 8 lebih, karena terhalang oleh rangkaian Pegunung Arjuna di sisi timur. Sebelum hari semakin siang perjalanan harus segera dilanjutkan ke kawasan berikutnya yaitu Hutan Semak Belukar.

Hutan Semak Belukar

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Hutan Semak Belukar dengan pepohonan rendah dan ranting-ranting yang menutup jalur. Kamis (3/1/14)(Dok/Ipang)

Memasuki vegetasi baru yaitu hutan dengan pepohonan rendah dan ranting yang malang-melintang menutupi jalur. Meskipun rendah batang dan ranting di semak belukar ini berbatang besar dan kokoh. Kawasan ini sangat menguras tenaga para pendaki, karena  sepanjang perjalanan harus terus merunduk agar tas carrier yang biasanya lebih tinggi dari kepala tidak tersangkut ranting.

Pinus Besar

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Arbei gunung di Kawasan Pinus Besar. Kamis (3/1/14)(Dok/Ipang)

                Setelah tiga jam perjalanan dari Hutan Semak Belukar mulai nampak beberapa pohon pinus lagi. Kawasan ini bernama Pinus Besar karena memang pohon pinus disini lebih besar. Pepohonan pinus berdiameter sekitar 30cm sampai 60cm dan menjulang. Jalur terbuka lebar, sehingga cukup rawan tersesat karena semua permukaan seperti dapat dilalui. Kemiringan hampir mencapai 30 derajat tanpa permukaan datar. Dibutuhkan beberapa kali istirahat untuk mengumpulkan tenaga dan kembali melanjutkan perjalanan. Perbedaan stamina antar anggota tim perlu diwaspadai. Anggota tim yang paling kuat harus berada di deretan paling belakang agar tidak meninggalkan anggota yang lainnya. Sebuah trik yang bisa digunakan adalah menggunakan peluit. Setiap terdengar bunyi peluit dari salah satu anggota menjadi kode bagi semua anggota untuk beristirahat.

                Satu jam kemudian kita akan tiba di sebuah dataran dengan beberapa susunan batu besar yang nyaman untuk bersandar. Disini adalah akhir dari kawasan Pinus Besar. Jika cuaca sedang cerah dan kabut berlalu, hamparan rumput berwarna kuning cerah yang disebut Kawasan Sabana telah berada sekitar lima puluh meter dari baris bebatuan tadi. Semangat untuk melangkah lebih cepat semakin terpompa, karena Kawasan Sabana berarti perjalanan menuju Puncak Arjuna tinggal sedikit lagi.

Sabana

             GEDSC DIGITAL CAMERA

Sabana sebagai penanda pendakian sudah mendekati puncak. Kamis (3/1/14)(Dok/Ipang)

Sabana merupakan rerumputan setinggi 30cm yang terbentang di kemiringan lereng. Dari sini pemandangan terlihat bagus ke berbagai arah. Di bawah terlihat rumpun hutan pinus, lebih jauh lagi ada gumpalan awan di langit diatas Kota Batu. Di sisi atas terdapat pemandang Puncak Arjuna dan hamparan Pohon Edelweiss dan Cantigi. Di akhir sabana terdapat sebuah tempat camp dan bekas api unggun. Selanjutnya kita akan menyusuri punggungan sabana menuju Puncak Arjuna yang sudah terlihat jelas lagi-lagi jika tidak berkabut. Untuk bahan referansi, spot camp disini tidak begitu dianjurkan untuk camp hari pertama pendakian. Karena ketinggiannya  sudah mencapai 2.800 mdpl, dikhawatirkan tubuh belum sempat melakukan proses aklimatisasi.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Makam seorang pertapa wanita di titik awal Lereng Gunung Arjuna. Kamis (3/1/14)(Dok/Ipang)

                Melanjutkan perjalanan dari tempat camp tadi kita akan melalui sekitar tiga kali naik turun deretan perbukitan hingga tiba di lereng terakhir menuju puncak. Di dasar lereng terdapat sebuah makam yang menurut cerita adalah makam seorang pertapa wanita yang meninggal karena kedinginan. Hal ini mengingatkan kita kepada ganasnya kondisi alam Gunung Arjuna, terlebih di musim penghujan.

Jalur Air

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Lereng Gunung Arjuna dari sisi barat. Jumat (3/1/14)(Dok/Ipang)

                Dari lereng menuju puncak ini berjalan menyusuri aliran air. Jalur ini selebar satu telapak kaki ini seperti susunan tangga yang akan dialiri air sewaktu hujan. Dengan terus menyusurinya kita tidak akan tersesat. Pohon cantigi dengan buahnya yang hitam dan berasa manis tumbuh dengan lebat. Beberapa aliran air yang bertangga-tangga agak tinggi, membuat kita kewalahan untuk memanjatnya. Sekitar dua jam berjalan mendaki jalur air, kita tiba di akhir lereng. Beberapa orang mungkin akan berterikak lantang “Puncak!”. Lalu setelah dari kejauhan terlihat bendera merah putih berkibar, tentu hal itu akan menyadarkan mereka untuk menambahkan teriakan “Dua!”. Maksudnya kita telah tiba di puncak dua, belum  di puncak sejati. Pada musim penghujan cuaca di sekitar puncak lebih ekstrim, sesekali hujan es sebesar kerikil berjatuhan.

Puncak Arjuna

Puncak Ogal-agil dilihat dari Puncak 2 Arjuna. Minggu (13/10/13)(Dok/Ipang)

                Sebaiknya carrier di tinggal di Puncak Dua karena nanti sekembalinya dari puncak, kita akan melalui tempat itu lagi. Tapi jika memang bertekad tetap membawanya sampai ke puncak sejati itupun tidak masalah. Dari puncak dua ke Puncak Sejati, kita menuruni tangga bebatuan yang tersusun tidak beraturan, terkadang juga harus memanjat, lalu menyusuri lembah diantar dua puncak, menaiki susunan batu lagi, kali ini bertangga-tangga rapi, dan tibalah di Puncak Sejati Arjuna yang bernama Puncak Ogal-agil yang artinya puncak yang tidak stabil.

                Di sini tradisi para pendaki adalah melakukan upacara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya agar selalu bergema di langit Puncak Arjuna. Selain itu juga bisa disertai dengan menyanyikan lagu mars masing-masing organisasi. Jika cuaca cerah, kita bisa berlama-lama di puncak. Mengamati pemandangan Puncak Kembar Dua dan Gunung Penanggungan di sekeliling, mengira-ngira jalur yang baru saja kita lalui dari atas. Atau melihat jauh rangkaian pegunungan yang ada di sekitar Kota Malang, Lawang sampai Pegunungan Argopura di timur dan Lawu di Barat.

Puncak Arjuna telah ditaklukan, perjalanan selanjutnya menuruni puncak menuju Puncak Welirang. Untuk menuju Gunung Welirang kita akan melalui jalur yang berbeda dari tempat kita berangkat. Kali ini kita menuruni jalur konvensional wisata Tretes. Meskipun berbeda tapi urutan vegetasi yang akan dilalui sama dengan jalur berangkat.  Misalnya awal turun dari arjuna akan melalui tumbuhan cantigi dan edelweiss, setelah itu melewati sabana, dan rumpun pinus besar.

Lapangan Kotak

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Hamparan rumput hijau di Lapangan Kotak. Sabtu (4/1/14)(Dok/Ipang)

GEDSC DIGITAL CAMERA

Lapangan Kotak sebagai tempat camp alternatif untuk melanjutkan pendakian Welirang. Sabtu (4/1/14)(Dok/Ipang)

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Rangka kayu bekas shelter pemburu di lapangan kotak. Sabtu (4/1/14)(Dok/Ipang)

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Penampungan air hujan di Lapangan Kotak. Sabtu (4/1/14)(Dok/Ipang)

GEDSC DIGITAL CAMERA

Penunjuk arah di Pertigaan Tretes. Jumat (3/1/14)(Dok/Ipang)

Sampai tiba di Pertigaan Arjuna Welirang Tretes untuk menuju welirang kita mengambil jalur belok ke kiri. Dari pertigaan rencananya  adalah meunuju Lapangan Kotak. Lapangan Kotak adalah tempat andalan untuk camp. Dari pertigaan Tretes jaraknya sekitar satu jam perjalanan, lalu kita akan menemukan hamparan rumput hijau di sebuah lembah yang dikelilingi lereng di keempat sisinya. Sehingga jika hujan turun lebat lapangan kotak akan digenangi air meskipun tidak sampai berbentuk danau. Luas lapangan Kotak sekitar 50X50 meter. Di beberapa titik terdapat penampungan air berupa batu-batu yang disusun melingkar lalu ditengahnya diberi plastic. Ada juga bekas shelter pemburu yang berbentuk rangka kayu lengkap dengan sebuah kurungan hewan.

Tempat untuk camp sendiri lebih baik di lereng yang agak mendatar bukan di lapangan kotaknya. Karena selain rawan tergenang air, angin bisa berhembus sangat kencang di Lapangan Kotak. Disini kita bisa mengisi penuh persediaan air yang mulai menipis, namun jika musim kemarau kita tidak bisa memastikan terdapat air di penampungan.  Camp malam kedua biasanya terasa lebih hangat daripada camp malam sebelumnya. Suara angin berderu seperti suara pesawat, tapi tidak disertai suara-suara hewan.

Lembah Kembar

Lembah Kembar tempat strategis untuk pendakian welirang dilihat dari lereng Kembar 1. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Cekungan yang menampung air hujan di Lembah Kembar. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Tanaman yang banyak tumbuh di Lembah Kembar. Minggu (5/1/14)(Dok/Isna)

Ada lagi spot camp yang biasa digunakan oleh pendaki namanya Lembah Kembar. Jaraknya tidak begitu jauh dari Lapangan Kotak. Sekitar setengah jam berjalan melintasi sisi kanan Lapangan Kotak, lalu berbelok ke kanan, melingkari kaki Gunung Kembar Dua. Menyebrangi sebuah jurang di sebuah jalur menikung ke kanan, lalu kita akan tiba di sebuah lembah antara Gunung Kembar Satu dan Kembar Dua.  Luas Lembah Kembar sekitar 80X50 meter. Di Lembah Kembar terdapat sekitar tiga gundukan batu sebesar dua ekor sapi. Lalu ada juga dua buah cekungan berdiameter sekitar 4 meter yang akan terisi air sewaktu musim hujan. Lembah Kembar adalah titik awal pendakian menuju Gunung Welirang. Terkadang di lembah welirang suhu bisa mencapai titik beku dan di pagi hari kita bisa menemukan butir-butir es di cover tenda.

Gunung Kembar Satu

Puncak Kembar Satu. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Menuruni Gunung Kembar Satu menuju Gunung Welirang. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Tidak perlu membawa banyak barang untuk menuju Gunung Welirang. Intinya setiap orang cukup membawa daypack atau hat carrier. Isinya kurang lebih alat P3K, Survival kit, mantel, masker, headlamp, air mineral 1,5Lt, roti atau biscuit, dan tambahan satu tabung oksigen jika dibutuhkan. Untuk menuju Gunung Welirang dari Lembah Kembar, kita terlebih dahulu harus mendaki Gunung Kembar Satu di sisi utara Lembah Kembar. Jalan menuju Puncak Kembar Satu berupa tanjakan yang curam, dengan beberapa alternative jalur yang intinya tetap kepada satu arah. Tidak perlu khawatir karena string yang dipasang sebagai penanda jalur sangat jelas. Di awal tidak begitu banyak tanaman selain rerumputan. Menjelang seperempat jalan terakhir, kita akan memasuki rumpun pepohonan cantigi yang sangat rapat. Beberapa goresan ranting mungkin menyebabkan lecet-lecet di lengan.

Setengah jam kemudian kita sudah tiba di Puncak Kembar Satu, tandanya adalah terdapat sebuah batu besar seukuran sebesar orang dewasa, tentunya sudah dipenuhi oleh coret-coretan. Tinggi Puncak Gunung Kembar Satu sekitar 2850mdpl, puncaknya luas berpasir kasar, dengan beberapa lubang yang menyemburkan uap panas, dan masih bisa ditemukan banyak tumbuhan. Terus menuju utara melewati gigiran dan beberapa percabangan, jika lurus tetap melewati gigiran, jika mengambil jalur kanan, melewati pinggiran lembah yang juga menjadi tempat penampungan air hujan. Di sekitar sini kadang-kadang terlihat kijang berkeliaran.

Gunung Welirang

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Tulisan-tulisan dari batu di sebuah lapangan menjelang Puncak Welirang. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Berikutnya menuruni Gunung Kembar Satu, melalui lagi rumpun cantigi rapat dengan jalur yang tidak beraturan, tanpa petunjuk string, atau bekas jalur pendaki sebelumnya. Setengah jam menuruni puncak, kita akan tiba di lembah antara Gunung Kembar Satu dengan Gunung Welirang. Aktivitas para penambang belerang mulai terlihat, seperti gerobak berlalu lalang membawa belerang di jalur yang sama dengan jalur pendaki. Untuk mendaki Puncak Welirang lebih mudah, jalur terbuka selebar satu meter, semakin melebar tergerus oleh roda-roda gerobak. Jalur ini dikenal dengan sebutan Jalur Naga, karena bentuknya seperti naga yang meliuk-liuk dari kejauhan. Setengah jam kemudian kita tiba di akhir Jalur Naga lalu menemui sebuah gua.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Gua Sriti yang biasa dijadikan shelter menjelang Puncak Welirang. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Di Puncak Welirang. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

Untuk mencapai puncak kita masih mendaki lagi, sampai tiba di pinggiran Kawah Welirang. Dari sini kita bisa melihat susunan batu berbentuk tulisan di sebuah lapangan pasir berukuran sekitar 100X100 meter. Dari bibir kawah, kita dihadapkan pada sebuah pertigaan, yang kadang-kadang membuat para pendaki salah puncak. Untuk mencapai puncak sejati kita mengambil jalur ke kanan. Setelah lima ratus meter dari pertigaan, kita tiba di Puncak Welirang yang ketinggiannya 3156mdpl. Tidak ada plakat atau bendera yag menunjukan secara pasti bahwa tempat itu adalah puncak welirang. Hanya terdapat tumpukan batu berbentuk segitiga di atas dataran berpasir, dan sebuah tongkat kayu tanpa bendera. Sebagai catatan, jika dari pertigaan bibir kawah tadi kita belok ke kiri, maka akan menemukan sebuah puncak yang hampir mirip dengan puncak sejati, tetapi tanpa tumpukan batu segitiga, dan kontur permukaannya berbatu-batu.

Jurang Kuali

Jalan Menuju Jurang Kuali. Minggu (5/1/14)(Dok/Hida)

                Setelah pendakian Arjuna – Welirang selesai, saatnya untuk turun gunung menuju desa Sumber Brantas. Dari Lembah Kembar, kita berjalan ke arah barat melewati jalur Jurang Kuali. Jurang Kuali diawali dengan vegetasi pepohonan rendah dan lebat, kemudian berganti vegetasi pepohonan pinus kecil, rumput-rumput tinggi, kemudian selepas rumput-rumput akan ditemui lagi beberapa pohon pinus kecil. Di sana terdapat beberapa gundukan batu berlubang yang mengeluarkan uap air hangat. Kemudian menemui vegetasi rumput-rumput dan tanaman merambat dengan jejeran Pohon Arbei Gunung di sepanjang kiri kanan jalan, hingga akhirnya tiba di Hutan Lali Jiwa.

Di Hutan Lali Jiwa yang perlu diwaspadai adalah sebuah pertigaan Sumber Brantas-Cangar. Jalur belok ke kiri yang diarahkan oleh string akan mengantarkan kita ke Sumber Brantas. Sedangkan jalur lurus tanpa dilengkapi string akan mengantarkan menuju Jalur Cangar. Jalanan setapak di Hutan Lali Jiwa hanya selebar satu tapak kaki, tanahnya licin sewaktu hujan. Di satu sisinya berhadapan dengan jurang, sedangkan sinar matahari tidak bisa menembus pepohonan tinggi yang juga rimbun. Dua setengah jam perjalanana menuju Sumber Brantas, hingga akhirnya keluar dari Hutan Lali Jiwa dan tiba di Ladang.

Ladang

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Pemandangan ladang Sumber Brantas. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

GEDSC DIGITAL CAMERA

Perbatasan antara Hutan Lali Jiwa dengan ladang. Minggu (5/1/14)(Dok/Ipang)

                 Ladang disini lebih banyak ditanami wortel, kacang, sayur kubis, ketela dan bawang. Setibanya di ladang peradaban manusia sudah bisa terlihat. Suara kendaraan pengangkut sayur, menara mesjid dan tower telekomunikasi  bisa menjadi penunjuk arah dari ladang yang terhampar luas untuk menuju desa.

Sampai di sebuah jalan utama ladang kita tinggal memilih mau mengambil jalan ke kiri atau ke kanan. Menyusuri jalan ke kanan akan lebih cepat mengantarkan kita mencapai perkampungan dan jalan utama Sumber Bratas, sedangkan jalan ke kiri sedikit lebih jauh. Setengah jam melewati ladang dan akhirnya kembali ke Jalan Raya Sumber Brantas. Dari Jalan Raya SUmber Brantas tinggal memilih untuk naik kendaraan umum angkot menuju Terminal Batu atau ojek atau dijemput oleh teman-teman sesama pendaki, dan akhirnya kembali ke kehidupan nyata lagi.

                Itulah sedikit cerita yang bisa kita bagi dari OPAW kami tanggal 2 – 5 Januari 2014 lalu. Mohon maaf jika ada beberapa kekeliruan, kritik dan saran tentu sangat membantu untuk kebaikan semua pihak, terlebih untuk para pecinta kegiatan alam bebas. Salam Penulis Penjelajah Alam.

Laporan Wawancara : Arti Perdamaian Bagi Anak Jalanan

3 December 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Kamis 28 November 2013

Oleh : Pangageng Tlatah Andonyo

                Malam yang dingin di Kota Malang, dan kilauan lampu yang terefleksikan oleh genangan air di sepanjang jalan. Udara masih menyisakan kelembapan karena hujan yang mengguyur sepanjang petang. Malam ini sebuah agenda menanti untuk direalisasikan. Setelah satu tombol kirim ku tekan, maka tersebarlah ajakan kepada segelintir suka relawan untuk berpartisipasi malam ini.

Waktu menunjukan pukul tujuh, saya sudah berada di titik pertemuan depan Musium Brawijaya Jalan Ijen. Dari semua sms yang terkirim, hanya satu orang yang memberi tanggapan positif. Akhirnya kami bertiga, Saya, Nova anak UM, dan Kahfi, bergegas menuju Perempatan Rampal. Tiga teman lain Ary, Herwin dan Opy, berjanji akan datang menyusul. Tempat itu sudah tidak asing bagi kami. Sebuah pelataran studio foto  dengan pencahayaan yang menembus dari dalam toko. Beberapa waktu yang lalu kami kesana, dan sambutan hangat dari teman-teman anak jalananlah yang membuat kami selalu ingin kembali.

Setibanya disana, yang pertama kita temui adalah Kangga, dia berusia kira-kira sepuluh tahun. Kangga putus sekolah setelah dia kelas lima SD. Tidak banyak yang kita tau dari Kangga karena ia terburu-buru untuk pulang. Selanjutnya seorang pengamen lagi kita temui. Namanya Angga, tapi jangan berfikir dia bersaudara dengan Kangga. Hanya kebetulan saja namanya mirip.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Angga (20) menjadi pengamen di sela-sela berjualan minuman, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Kahfi)

                 Angga berusia dua puluh tahun, dia pernah bersekolah hingga lulus bangku SMP. Dia bercerita terpaksa putus sekolah karena terjerat oleh kemiskinan. Ditambah lagi masalah keluarga yang membuat orangtuanya hampir pisah, sehingga saat ini dia ikut dengan Ibunya. Untuk membantu keuangan keluarga, dia membantu berjualan minuman dingin di depan sekolah-sekolah. Tetapi memasuki musim penghujan ini, dia beralih profesi menjadi pengamen tanpa sepengetahuan keluarganya. Dari hasil mengamen seharian Angga berhasil mendapatkan uang sekitar lima puluh ribu rupiah.

Ketika kami mulai menanyakan tentang arti damai, angga menjawab sama sekali tidak tahu. Untuk definisi yang lebih mudah, arti dari tenang dia menjelaskan ketika seseorang memiliki semua yang dia inginkan dan hidup tanpa masalah dengan siapapun. Angga sendiri belum merasa tenang mengingat keluarganya yang berantakan. Ketika bertemu dengan teman-teman SMP-nya, tidak jarang Angga mengalami ejekan dan hinaan. Sebagai orang yang terdiskriminasi Angga hanya menerima setiap ejekan, karena memang begitu keadaannya. Beberapa pertanyaan sudah kami sampaikan, lalu Angga menutup pemicaraan dengan alunan lagu Aku yang Dulu Bukanlah yang Sekarang.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Fery (9) menjadi pengamen agar adiknya bisa bersekolah, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

                Sebuah pengalaman hidup lagi diceritaka oleh Fery. Pengamen belia ini berusia sekitar Sembilan tahun. Dia terpaksa menerima kerasnya hidup di jalanan, setelah menjadi yatim. Sedangkan ibunya telah menikah dengan oranglain. Kini Fery memiliki tanggung jawab untuk menjaga adiknya yang masih bersekolah. Sehari-hari dia dan adiknya dirawat oleh nenek. Uang hasil Fery ngamen digunakan oleh mereka sekeluarga untuk mencukupi makan dan berbagai kebutuhan hidup.

Lebih jauh lagi, latar belakang keluarganya sebenarnya tidaklah terlalu suram. Tiga Kakak Fery, mereka sudah bekerja. Ada yang menjadi teknisi, pramuniaga dan ada yang menjadi TKW. Tapi tidak adanya perhatian penuh dari keluarga menjadikan Fery bagian dari kaum marginal yang terlupakan.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Beny (13) remaja asal Kupang. Menjadi pengamen karena gagal melanjutkan sekolah, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

                Di samping Fery ada lagi Beny. Beny dan keluarganya adalah perantauan dari Kupang Nusa Tenggara Timur. Dia berniat untuk bersekolah di tanah jawa. Karena alasan administrasi dan Ijazah yang tertinggal di tanah kelahiran, Beny terpaksa putus sekolah dan hidupannya terdampar di tengah hiruk-pikuk jalanan. Setibanya di Malang, Ibunya meninggal, Sedangkan bapaknya seringkali bersikap kasar kepada Beny.

Di Malang Bapaknya Beny menjadi pendeta di salah satu gereja. Hal ini membuat nilai religious tertanam kuat di kehidupan Beny. Setiap persoalan yang dihadapi selalu diimbangi dengan berdoa. Dia berharap  agar diampuni segala dosa-dosa bapaknya. Selain itu Ia juga mengakui jika sekarang tidak terlalu sering ikut ibadah minggu.

Selama ini dia tinggal di sebuah warnet di dekat Stasiun Kota Baru. Beny merasa lebih nyaman di warnet, dibandingkan rumah aslinya di asrama Markas polisi Militer. Di Markas PM, Beny mengalami diskriminasi dari lingkungannya. Dia tidak memiliki teman yang bisa menerima keberadaannya. Berbeda dengan di jalanan, dimana teman-teman pengamen bisa sangat akrab dengannya.

Mengenai perilaku kekerasan yang pernah dialaminya, Beny pernah suatu ketika dikeroyok oleh segerombol orang hingga babak belur. Awalnya karena Beny mengganggu seorang anak kecil, tidak disangka anak kecil itu mengadu kepada kakak-kakaknya, hingga akhirnya Beny menjadi korban kekerasan. Untungnya ada seseorang yang menyeamatkan Beny dari keroyokan tersebut.

Soal diskriminasi Beny juga mengalami hal yang agak menyakitkan. Karena dia adalah orang NTT, yang memiliki warna kulit lebih gelap dari ras jawa pada umumnya, dia seringkali diberi panggilan Kipli atau Simpanse. Beny marasa hal itu tidak mengganggu, dan menghadapi dengan woles penuh senyum. Harapannya ke depan Beny ingin menjadi seorang musisi, paling tidak menjadi seperti idolanya Avenged Sevenfold .

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Arif (15) sedang sibuk mengekspresikan diri melalui menggambar, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

                 Selanjutnya Arif berusia sekitar 15 tahun menyampaikan argumennya mengenai arti damai. Damai adalah ketika kita berteman satu sama lain. Tidak ada tindakan menantang, bikin ulah, tau diri dimana kandang dimana tandang. Jika orang lain tidak melakukan hal itu, berarti tidak damai. Bentuk kekerasan yang sering diterima Arif bukan secara fisik atau premanisme, hanya hinaan secara lisan. Arif tidak segan-segan untuk berkelahi, karena itu demi harga diri dan kelompoknya. Tidak ada kata menghindar, karena lari identik dengan cemen atau disebut banci.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Christian (18) terpaksa putus sekolah ketika menginjak bangku SMK, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Kahfi)

                Christian Gunawan umur delapan belas tahun, putus sekolah dari SMKN 6 Malang. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang penjahit. Anak ini tidak banyak bicara. Dia hanya mengakui kalau dirinya sering mengalami diskriminasi dari lingkungan sekitar, terlebih dari teman-temannya di SMK. Sikapnya yang lemah lembut dan pendiam, juga kadang-kadang menjadikan dia sering disebut banci oleh teman-temannya. Mengenai arti damai, Christian menangkapnya jika dia hidup berkecukupan dan kesejahteraan keluarganya terjamin itu adalah definisi damai.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Wahyu (15) (Foto tengah) adalah pengamen yang paling akrab dengan aktivis-aktivis mahasiswa, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Kahfi)

                Wahyu yang berusia sekitar 15 tahun menambahkan, beberapa orang terkadang memberi mereka perhatian lebih. Terutama para calon penerus bangsa yang tidak lain adalah mahasiswa. Seringkali mahasiswa mengajari mereka banyak hal yang tidak bisa mereka peroleh sendiri. Ada yang mengajak mereka belajar bahasa inggris, matematika, ilmu sejarah, menggambar, bermain music, atau hanya sekedar berbagi cerita sambil makan nasi bungkus beramai-ramai.

Satu lagi yang tidak terlupakan adalah Rudi yang berusia 19 tahun. Dia terlihat paling berbakat di bidang seni. Hasil karya dia menunjukan nilai-nilai seni yang tinggi. Dengan binaan yang baik akan menjadikannya seorang yang terpandang. Selama kami berkegiatan, rudi tidak henti-henti menyanyikan berbagai lagu berbau protes sosial menggunakan instrument kecruknya.

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Hasil karya Rudi(19) mengartikan akulturasi kebudayaan jawa lewat bunga dan Timur tengah sebagai kincir di dua sisinya, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Hasil karya Fery(9) membuat gambar sebuah denah rumah impiannya, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

 GEDSC DIGITAL CAMERA

Hasil karya Arief(15) ini adalah suara hatinya sebagai seorang pengamen yang menjadi objek intimidasi, Kamis (28/11) di Perempatan Rampal. (Dok/Ipang)

Mungkin ini salah satu tindakan ideal bagi para mahasiswa dalam perannya sebagai agent of change. Bukan politik praktis, bukan protes dan kericuhan, tapi saling berbagi dengan teman-teman sesama generasi penerus bangsa. Tidak perlu memandang latar belakang bendera, membantu mereka yang membutuhkan dan tidak membeda-bedakan. Kita harus bersyukur atas segala nikmat yang telah dititipkan oleh tuhan. Kemudia mencoba membagi nikmat itu terhadap mereka yang belum mampu. Berharap agar Segenap ketulusan dan perhatian menjadi sebuah motvasi yang membangun semangat serta moralitas untuk Indonesia yang lebih baik..

Merajut Rantai Budaya dengan Semangat Pemersatu Indonesia

29 October 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Selasa 29 Oktober 2013

Peringatan 85 Tahun Sumpah Pemuda

                Sumpah Pemuda moment yang terlalu luar biasa jika dilewatkan begitu saja. Itu adalah statement yang ku gunakan berkali-kali untuk memprovokasi awareness temen-temen. Mengajak mereka untuk bersedia di repotkan, demi terwujudnya sesuatu di hari Sumpah Pemuda. Hingga akhirnya Sesuatu itu menjadi sangat luar biasa mengharukan bagi kami semua.

Tanggal 27 Oktober 2013 hari Minggu di Pelataran Alun-alun Kota Malang depan Mesjid Agung, Sebuah orasi memperingati 85 tahun Sumpah Pemuda bergelora, membuat atmosfer ke Indonesiaan yang tiba-tiba menguat diantara warga masyarakat malang yang sedang berada di alun-alun.

Berbagai upaya dan haling rintang mewarnai persiapan project tersebut. Dimulai dari hari Rabu tanggal 9 Oktober 2013, ide ini ku sampaikan kepada temen-temen sewaktu lagi ngumpul di Warung STMJ SOB. Antusiasme mereka membuat ku yakin untuk melanjutkan project. Jeda berselang dua minggu karena kesibukan muncak Arjuna dan Diklap Karate, akhirnya kami berkumpul lagi untuk membuat sedikit konsep. Waktu itu tanggal 22 Oktober hari Selasa, rapat ala mahasiswa santai di angkringan depan Gereja Ijen, menghasilkan beberapa kesepakatan.

Tidak terasa tiba pada H-1 acara yaitu tanggal 26 Oktober hari Sabtu. Kami mempunyai agenda untuk gladi bersih. Namun sayang cuaca mendung dan awan hitam pekat, memaksa kita untuk mengurungkan niat. Agenda diganti hari berikutnya.

Minggu pukul tujuh, dengan instrument strap-strap yang melintang di pundak ku, menyerupai pelindung assassin, ku kayuh sepda BMX menuju alun-alun. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di alun-alun. Tidak terlihat ada satupun teman-teman yang standby disana. Memang setiap hal yang dicintai akan menuntut pengorbanan.

Orang pertama yang tiba di gathering point Sherly, dia datang sekitar jam 9. Kemudian satu-persatu teman-teman bertambah banyak. Tapi tetap saja kami tidak bisa segera melangsungkan gladi bersih. Karena tiga actor penting yaitu Ikhsan sebagai MC, Haqi sebagai orator, Herwin sebagai Co Lagu belum juga datang. Tunggu punya tunggu ternyata mereka baru bangun tidur.

Melihat respon teman-teman yang mulai hopeless, akhirnya saya putuskan agenda gladi bersih ditiadakan. Hanya beberapa briefing penting yang diharapkan mampu mengurangi beberapa persoalan yang mungkin tiba-tiba muncul.

Waktu yang singkat untuk sebuah persiapan mentah dimanfaatkan sebaik mungkin. Saya menemani Mbak Iyul membeli pita merah putih di Toko Petra daerah Pasar Besar. Herwin mencari persewaan Megaphone di sekitar ITN, Sabiq mencetak draft puisi-puisi perjuangan, Haqi memperbanyak draft orasi. Selesai persipan, saya kembali ke UKM karate untuk istirahat sejenak meringankan pikiran.

Setengah jam tidur, sebuah sms masuk, “Pang dimana?”, “Otw depan Matos” sedikit berbohong saya menjawab sms tersebut. Ke kamar mandi sebentar untuk sekedar mencuci muka, lalu langsung ku tancap pedal sepeda keluar kampus. Baru sampai di perempatan Oro-Oro Dowo, sms masuk lagi “Megaphonenya ga ada, rentalnya tutup”. Panas seketika kepalaku membaca sms tersebut. Dengan bijak ku membalas “Ya saya kembali ke kampus, pinjem ke Unit Suka Relawan”. Sayangnya Unit KSR tutup, tanpa tanda kehidupan.  Tidak habis akal, entah apa namanya di belakang kampus ada rental alat-alat camping, semoga masalah terselesaikan dengan ini.

Fluktuasi keuangan sedang tipis di saku, jadi baiknya saya pergi ke ATM dulu sebelum ke rental. Ketika perjalanan menuju ATM, dari kejauhan terlihat teman-teman, Mas Irul, Mas Sony, dan Herwin. Bantuan selalu datang tepat pada waktunya, ku ajak mereka menghampiri rental yang ternyata bernama Diaz Adventure (bukan promosi). Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, perihal megaphone is nothing. Belum sempat kaki melangkah keluar pagar, lagi-lagi sms masuk, membuat kepala ku seakan meleleh kepanasan. “Pang maaf ya, tadi tiba-tiba saya dijemput teman-teman temamorfosa ke Tumpang, sungkan mau nolak, sekarang saya di Tumpang. By Haqi”. Bukan perkara mudah untuk mencari pengganti orator, apalagi draft orasi tidak dia titipkan kepada teman-teman. Dengan segala hormat kami merelakan agenda orasi dipotong dari round down.

Di Alun-alun Kota Malang, sekelompok pemuda berkumpul dibawah pohon, menggunakan kostum hitam dan pita merah putih melilit di lengan. Sebagian diantara mereka membawa instrument music biola dan gitar. Merekalah teman-teman kami, para pemuda yang sadar betapa pentingnya arti sumpah pemuda, lambang dari integritas diatas perbedaan beragam suku di Indonesia. Pemuda dari berbagai latar belakang dengan semangat dan tujuan yang sama.

Hujan gerimis yang sedari siang membasahi Kota Malang, berhenti seakan mempersilahkan kami untuk memulai acara. Sepasang suami istri dengan dandanan gaya aktivis kampus, menggunakan jaket army dan kain sorban di leher menghampiri kami. Sedikit perkenalan nampaknya dia begitu antusias dengan apa yang akan kami lakukan. Namanya Mas Kholili, dia asal Mojokerto, kebetulan dia lagi main ke Malang.

Pembukaan dimulai oleh Ikhsan sebagai MC, lalu sambutan oleh Mas Irul sebagai yang paling senior diantara kita. Selesai kata sambutan selanjutnya pembacaan puisi diawali oleh Sabiq lalu dilanjutkan oleh seluruh teman-teman. Tak disangka ternyata Mas Kholili mau ambil bagian di sesi pembacaan puisi perjuangan. Mbak Vania, Opy, dan Mas Benu, tidak henti mengiringi dengan alunan instrument dari awal sampai akhir. Selanjutnya adalah pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda yang kebetulan oleh teman-teman dipercayakan kepada saya. Seumur-umur baru kali ini saya berbicara di depan umum dengan gaya orasi terbuka, syukurlah Pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda berhasil menggema. Selanjutnya kami menyanyikan lagu-lagu kebangsaan diantaranya Indonesia Raya, Bangun Pemuda-Pemudi, Satu Nusa Satu Bangsa, Mengheningkan Cipta, dan Garuda Pancasila. Ary menjadi dirijen untuk memimpin koor.

Sesi terakhir adalah pembacaan doa oleh Opy. Lalu dengan selesainya rangkaian acara, MC menutup orasi Peringatan Sumpah Pemuda. Sebelum bubar kami menyempatkan untuk mengambil moment foto bareng. Sekelompok wisatawan mancanegara dari Thailand Selatan yang sejak awal mengamati kami, juga ikut foto bareng. Dari yang kita tangkap, mungkin yang ada di pikiran mereka adalah sebuah kekaguman, karena hal ini kontras dengan apa yang ada di negara mereka. Dimana terdapat konflik antara Thailand dengan Thailand Selatan yang berbeda latar belakang.

Hujan deras kembali mengguyur tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lucunya kami tidak segera bubar, demi sepuluh detik timer kamera. Hingga lampu blitz berkilau, barulah kami resmi bubar dengan penuh haru dan direstui oleh mendung yang setia  menanti.

Oleh : Pangageng Tlatah A

Kala Nurani Berkata

8 October 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Senin 7 Oktober 2013

Ipaang, Bangun! Suara berat Mas Danda menyerap nyawa ku yang sedang berkelana kembali menyatu dalam raga. Ku buka jendela Rusunawa, terasa angin pagi mengalir memasuki ruang Unit Karate. Semburat langit pagi yang merah, mulai pudar oleh warna kebiruan. Ayo siap-siap, hari ini saya wisuda.

Sabtu itu, saya memang benar-benar akan mengikuti prosesi wisuda menggantikan temannya teman Mbak saya. Dengan semangat saya melangkah menuju kos baru saya yang jaraknya kurang lima langkah dari kampus. Kupersiapkan segalanya, setelan formal atas putih, bawah kain hitam, dasi, sepatu pantofel, lalu ku ambil setelan toga dari kos Mbak Ita. Tidak lupa urusan perut ku penuhi di warung Nasi Lengko sebelah kos.

Pukul enam tiga puluh, menuju Gazebo FTP untuk menemui Mas Pras yang akan menemani saya selama prosesi. Acara demi acara terlalui dan akhirnya Rapat Terbuka Wisuda selesai pukul 11.00. Dari tempat wisuda di Lapangan Rektorat, saya menuju Gedung Widya Loka untuk menemui Mbak Mei. Dia adalah teman baik saya beberapa waktu sebelumnya. Sampai saat ini hubungan kami tetap baik, namun karena perbedaan pendapat jadi belakangan ini kami hanya saling say hello.

“Mbaak”, sapa ku dengan penuh semangat. Senyum cerah Mbak Mei terlukis di wajahnya. Mungkin ini pertemuan pertama ku setelah empat bulan terakhir. Di depan Widlok saya bertemu dengan Ayah, Ibu, dan adik bungsu Mbak Mei yang masih kelas dua sd. Sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, saya menarik bunga mawar putih keluar dari balik jubah wisuda. “Taraaa, Selamat Wisuda ya mbaak, Sukses!”, Indah rasanya momen itu. Dengan sigap Omnya Mbak Mei memotret tepat ketika saya memberi kuntum bunga.

My delusion graduation

Ketika sedang asik cerita-cerita dengan Mbak Mei, lalu tidak lama seorang cowok datang menghampiri kami, rupanya itu teman Mbak Mei. Karena harus menghadiri pelepasan di fakultas mereka dan teman Mbak Mei bergegas menuju Gedung Graha Sainta. Saya memutuskan untuk menuju Gedung GKB ruang 1.9 untuk membantu teman-teman karate yang sedang mengadakan Diklat Ruang 2013. Diklat Karate berakhir pukul 3 sore. Setelah agenda rapat evaluasi dan kemas-kemas barang tuntas, saya dan teman-teman karate menuju Gedung Rusunawa untuk istirahat.

Pukul enam sore, terbesit pikiran untuk mengajak temen-temen Encompass untuk main ke anak-anak jalanan seperti yang saya lakukan tempo hari. Mengingat saya baru saja menerima uang dari karate yang nilainya lumayan banyak, sayang rasanya jika hanya saya habiskan untuk kesenangan pribadi. Orang pertama yang saya ajak Angga dan tanpa banyak kata-kata dia langsung affirmative. Kedua saya mengajak teman karate yang rada koplak. Namanya Anes, dia anggota baru angkatan13. Sekali lagi dia juga menanggapi dengan semangat. Pukul tujuh malam saya menuju check point di Tugu Bunga Ijen . Kali ini saya berbekal lima kotak pensil warna, 12 buku gambar, dan lima roti wisuda. Ada sebuah filosofi yang dapat ditarik tentang roti wisuda. Saya sengaja tidak memakannya. Bukan karena tidak suka, bahkan baunya sangat menggoda saat kotak kue dibuka. Tapi karena saya berfikir, kalau memang saya ingin memakannya,  saya harus mendapatkan roti ini di wisuda saya sendiri 1,5 tahun lagi.

Di Tugu Bunga, Angga sudah menunggu bersama dua temannya. Satu cowok bernama Fafa penggiat Sanggar Anak Pinoki, satu lagi bernama Erin adik sepupu Angga. Tinggal menunggu Ncus dan Pity yang katanya masih terjebak macet di jalan. Lama menunggu mereka berdua, akhirnya kami jengah. Lalu iseng-iseng kami mengajak seorang teman anak Bhineka Camp 2 bernama Berda. Katanya dia sedang di Alun-alun Kota. Kami pun bergeser kesana meninggalkan Jalan  Ijen. Baru sampai di Alun-alun Berda langsung menghampiri kami di pinggir jalan. Tidak lama kemudian Pity dan Ncus muncul pake wajah polos tanpa rasa bersalah. Lupakah kalian tentang penantian kita satu setengah jam tanpa kepastian?

Tujuan utama telah terkunci yaitu Perempatan Rampal. Betul saja, setibanya kami disana, tiga anak kecil telah menyambut kehadiran kami di bawah lampu lalu lintas. Kami parkir motor di depan Studio Foto persis di tempat saya kemarin. Kami berdelapan berpencar ke segala penjuru bagaikan menggelar operasi razia anak jalanan. Bedanya kami melakukan operasi ini pakai hati. Saya berhasil menarik tiga orang anak, teman-teman yang lain juga nampaknya telah membuahkan hasil. Lalu kami menggajak mereka untuk duduk bareng di pelataran ruko. Diawali dengan saling berkenalan, membagi roti wisuda seadanya, dan menanyakan sekilas latar belakang mereka. Kami sendiri tidak sempat mengenalkan latar belakang kami kepada adik-adik. Setelah itu kami sibuk dengan adik asuh masing-masing.

Belajar bareng anak jalanan

Angga terlibat adu argumentasi dengan Deo seorang anak jalanan yang terlihat paling terdidik rapi dan berwawasan luas. Saya sibuk menggambar  bersama Wahyu, Rizki, dan Feri. Erin mengobrol banyak hal dengan Rian, Pity dan Ncus bermain dengan De Agung dan adiknya yang imut-imut Anan. Setelah itu satu-pertsatu adik-adik kami bertambah, ada Amin, Putra, dan Mas Bakri. Mas Bakri bisa di bilang adalah ketua anak jalanan di wilayah rampal. Dia tidak menggubris kami yang sedang berkegiatan, namun sepertinya dia suka dengan apa yang kami lakukan.

Malam semakin larut, kehangatan yang tercipta diantara kami tidak membuat dinginnya malam mengganggu keakraban dan keceriaan. Satu hal yang ternyata membuat risau adalah ketika seorang anak mengatakan , “Kak minta makan”. Dalam hati saya berkata, “Hadduh, mati kon, mau cari makanan dimana, mana roti habis pula”. Tiba-tiba tanpa di komando Angga mengeluarkan lima nasi bungkus dari dalam tasnya. Alhamdullilah, problem solved. Angga sudah memikirkan hal ini lebih dulu, hal yang tidak terpikir olehku sebelumnya.

Pukul sepuluh lewat,  beberapa toko tutup, dan lampu-lampu mulai padam, tidak terkecuali lampu di pelataran ruko yang kami singgahi. Tidak habis pikir, headlamp yang setiap hari kubawa pulang pergi kuliah tanpa maksud jelas saya keluarkan. Adik-adik anak jalanan langsung girang seperti melihat mainan baru. Lalu headlamp itu saya ikatkan ke kening salah satu dari mereka. Penuh gaya dia menyorotkan sinar headlamp ke orang-orang di sekitarnya, yang lainnya tetap melanjutkan menggambar dengan penerangan dari sinar hand phone.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Ada beberapa hal menarik yang kami temukan dari pertemuan dengan mereka. Feri anak yang selalu ceria akan berjoget ala reagge ketika mengamen. Deo datang ke malang sendirian naik kereta tiap hari sabtu minggu untuk main dan ngamen. Uang hasil ngamen biasanya dia gunakan untuk bermain internet. Sedangkan hari senin sampai jumat dia pulang ke Surabaya di daerah Wonokromo dan sekolah seperti biasa. Rian adalah anak seorang tukang ojek dan ibunya penjual lalapan. Dia mengamen dengan keinginannya sendiri lalu uangnya diberikan ke ibunya untuk tambahan belanja. Wahyu tidak melanjutkan sekolah karena sewaktu akan mengambil ijazah sd, dia tidak sanggup membayari uang sejumlah tiga ratus ribu. Kabar baiknya ia akan segera melanjutkan sekolah dengan dibiayai oleh salah satu organisasi sosial.

Wahyu, Agung dan Anan, adalah saudara kandung. Orangtua mereka bekerja sebagai tukang becak dan tukang cuci baju.  Rizki seorang yang memiliki bakat menggambar, dia lebih suka menggambar garis-garis beraturan dan sangat rapi. Kadang dia mengingatkan pada kami untuk membawakan penggaris esok hari. Mas Bakri ketua dari mereka tidak segalak penampilan ketua anak-anak jalanan yang digambarkan di televisi. Amin berkeinginan kuat untuk menggambar peta kepulauan di Indonesia. masih banyak hal menarik yang terjadi diantara pertemuan kami dengan mereka.

Fireworks DN TNI

Ironisnya ketika kami sedang berkegiatan, di seberang sana orang-orang sedang berpesta merayakan Hari Ulang Tahun TNI dan pada puncak acaranya dimeriahkan oleh pesta kembang api yang begitu menawan. Beginilah Bangsa Indonesia memperlakukan rakyatnya. Ketika sebagian besar orang berjuang mempertahankan kelangsungan hidupnya, sebagian lain sibuk dalam membangga-banggakan apa yang ada pada dirinya. Tetap optimis bahwa semua orang sedang belajar, negara pun begitu. Ketika pada saatnya pemerintah berhenti bernyanyi, maka generasi baru yang lahir dari kerasnya penderitaan hidup akan mengambil alih tonggak perjuangan bangsa.

 

Oleh      : Pangageng Tlatah Andonyo

Generasi di Atas Debu Jalanan

4 October 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Kamis 3 Oktober 2013 23:27

Pagi yang cerah di pelajaran matkul perdamaian internasional. Tiba-tiba saja teman di belakang menegur ku, “ Pang uangmu jatuh”, “Oh, Iya makasih” tanpa ragu ku mengambil uang tersebut. Selembar dua puluh ribuan dan selembar dua ribuan. Beberapa saat sebelumnya, memang saya mengeluarkan dompet dan di dalam dompet ada kedua jenis pecahan tersebut. Ketika saya akan memasukan uang tersebut ke dalam dompet, ternyata uang pecahan dua puluh dua ribuan saya masih tertata rapi. Berarti uang yang saya pungut ini, bukan punya saya, batinku. Suara lain menyahut, ah tidak apalah, lagian tidak ada yang mengakui kepemilikannya juga.

Siang setalah semua mata kuliah usai saya menyempatkan mengobrol dengan teman sekelas saya. Berbicara tentang banyak hal, seperti wacana-wacana project sosial, filosofi hidup, etika berdebat, dan kadang-kadang tersandung ngobrol soal jodoh. Hingga di suatu pembahasan dia bercerita tentang project sosialnya yaitu Peri Buku. Peri Buku adalah program pengumpulan donasi dari para donator yang dermawan, lalu hasil dana yang terkumpul, akan digunakan untuk membeli buku-buku baru di toko buku, berikut mengajak anak-anak yang kurang mampu tersebut memilih-milih buku yang mereka sukai di toko buku. Terbayang betapa cerianya wajah anak-anak tersebut ketika mendapat kesempatan memiliki buku-buku yang amat tidak terjangkau bahkan pada level angan-angan mereka.

Cerita teman saya ini, kembali menyadarkanku pada rencana basi saya untuk membelikan anak-anak jalanan buku gambar dan pensil warna. Maksudnya agar mereka dapat membangun mimpi mereka dalam wujud gambar dan memberi mereka semangat lebih untuk meraih apa yang telah mereka visualisasikan. Ide ini sendiri sebenarnya berawal dari sahabat baik saya. Teringat kembali pada uang yang aku pungut tadi pagi. Akankah lebih bermakna jika uang tersebut dapat dinikmati oleh orang yang lebih membutuhkan. Memang jujur sampai sejauh ini, rencana saya selalu terkendala oleh faktor keuangan . Uang yang sudah saya sisihkan selalu terpakai jika keadaan mendesak.

Tekadku sudah bulat dan tak bisa ditunda-tunda lagi. Setelah magrib, saya meminjam motor adik saya. Berbelanja satu paket buku gambar A4 isi 5 seharga Rp11.000, dan dua kotak pensil warna seharga Rp8.000, tidak banyak tapi saya harap untuk mengawali niatan ini sudah cukup. Rasanya janggal bila berkegiatan sendiri. Saya menghubungi beberapa teman, mengajak mereka ikut membantu membagikan buku-buku gambar ini kepada anak jalanan yang masih terjaga. Mungkin karena sudah terlalu larut, sehingga tidak satupun teman yang bisa ikut denganku. Tidak ada yang bisa menghalangi, meskipun teman saya menyarankan untuk menunda rencananya. Sebagian lagi mengatakan jam segini mereka udah bobok cantik, saya tetap berkeras berangkat.

Pukul sebelas, kutelusuri jalan-jalan kota malang, angin dingin merasuk melalui celah-celah jaket, memandang cekatan ke setiap sudut perempatan Oro-oro Dowo, Ijen, Alun-alun, Kawi, hingga akhirnya saya temukan mereka di Perempatan Dieng. Seorang anak kecil perempuan berumur kira-kira enam tahun, memegang kotak kardus bertuliskan kata-kata yang memohon belas kasih. Motor aku parkir di bahu kiri jalan. Saya mendekati anak tersebut dan menyapanya hangat. “Adek udah malem belum tidur, ga dicariin ibu? Kakak punya sesuatu ni, suka ngegambar ga?” kalimat itu membuka pembicaraan ku dengan De Dewi. Miris melihat keadaan dia. Tangannya lemah ketika ia menjabat tangan saya, di wajahnya terdapat beberapa luka goresan, entah apa penyebabnya. Saat duduk di median jalan dia manggut-manggut, bukan karena paham dengan apa yang ku bicarakan, tapi karena dia tengah mengantuk. Setelah menyampaikan beberapa pesan kepadanya lalu ku berpamitan.

Perjalanan dilanjutkan, menuju daerah Mergan, Pasar Sukun, sampai Kacuk. Tidak terlihat ada tanda-tanda anak jalanan di sepanjang jalan lintas kota. Kuputuskan memutar arah, kembali ke alun-alun, stasiun kota baru, dan benar saja di perempatan Rampal saya menemukan seorang anak jalanan, berusia belia. Kuparkir motor di depan ruko studio foto. Lalu lintas tidak begitu ramai. “Adek, sini” ku menyapa dia yang sedang sibuk meminta-minta pada pengguna jalan, kehadiran ku rupanya tidak mengalihkan perhatiannya sampai aku menepuk pundaknya. Lagi-lagi saya mengajaknya untuk mengobrol beberapa hal yang agaknya sebuah common sense.

Disini saya berkenalan dengan tiga anak jalanan. Namanya De Feri, De Joko, dan De Wahyu. Mereka rupanya cukup akrab dengan para aktivis anak  jalanan. Joko bertanya pada saya “Mas dari Save Street Child ya, kok sendiri aja?” “Bukan de, saya memang suka aja ketemu sama anak-anak, biasanya rame-rame tapi ini yang lain lagi pada capek jadi saya sendiri”. Anak-anak disini lebih terbuka, ceria, dan sepertinya memiliki kekeluargaan yang lebih kental antar sesama mereka. Wahyu bercerita, dirinya akan melanjutkan sekolahnya di SLTP, biayanya akan dibantu oleh organisasi sosial katanya. Joko adalah yang tertua, dia berusia 16 tahun. Dulu dia bersekolah sampai kelas 2 SMP, namun katanya setelah itu dia putus sekolah dan memilih hidup di jalanan. Feri cenderung diam dia paling sigap mengambil koin-koin yang dilemparkan oleh pengguna kendaraan. “Mas-mas disini baik kak, mereka yang ngasih kita makan” kata Joko. Perbincangan dan saling curhat terus bergulir. Kadang mereka menatap dan membuka buku gambar kosong itu. Menggoreskan pensil warna pada lembar kertas. Terlalu tipis sampai tidak terlihat. Coretan yang menyiratkan kurangnya kepercayaan diri dan rasa takut melakukan kesalahan, atau takut mengotori lembaran itu. Saya masih belum mulai berbuat lebih jauh, anggaplah itu sebuah proses pengenalan.

Ini merupakan langkah awal untuk membangun generasi penerus bangsa. Tidak signifikan, tapi saya mencoba untuk berbagi nilai-nilai positif yang tidak selalu bisa mereka peroleh sendiri. Karena bangsa adalah milik kita semua, bukan hanya milik elit politik dan garis monarkinya. Ketika kita duduk sejajar dengan mereka, gap antar struktur sosial akan lenyap, percik-percik semangat mereka akan tersulut oleh bentuk perhatian dan sapaan hangat yang tumbuh dalam kebersamaan. Bagai pohon yang menjulang tinggi, kalian adalah akar-akar yang mengikat muka tanah, sehingga pucuk  tertinggi tidak goyah terhempas angin.

 

Oleh : Pangageng Tlatah A

Kerlip Cahaya Kunang-kunang

25 September 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Mittwoch 18 September 2013 12:20

Jilbab kuning, hari ini aku tau nama kamu. Pelajaran Geopolitik, geostrategi, yang saya tunggu seminggu lalu. Hari ini sinar terang bagai sebuah petunjuk, memberi jalan yang pasti. Dua setengah jam ku lalui dengan disela canda dengannya. Ku lirik coret-coretan di note nya. Ada tulisan doodle  MOVE ON! Lalu langsung saja ku mengucap keras ke arahnya “Move on!!”. Buru-buru dia menutup note nya, lalu menoleh malu kepadaku, “Apa si kamu ni”. Sekilas fikir ku melayang, mungkin saja dia sedang tidak memiliki hubungan special dengan seseorang.

Awal pertemuan ku dengannya sebenarnya  karena sebuah kebetulan. Seminggu yang lalu, Kelas geostrategi yang saya pilih ternyata fiktif. Akhirnya saya mencari tau ke bagian perlengkapan ruang. Namun karena kurang teliti maka terjadilah salah masuk kelas. Waktu itu saya belum sadar, mulai menyadari ketika Bu Dosen mengabsen untuk pembagian kelompok dan namaku tidak dipanggil. Karena dosen ini sangat baik, saya diperkenankan untuk tetap mengikuti kelas dan masuk kelompok lima, yang tidak lain sekelompok dengan dia.

Masih di kelas 3G, nampaknya dia tidak begitu fokus terhadap penjelasan dosen. Lagi-lagi sibuk memenuhi note nya dengan coretan-coretan doodle. Ku perhatikan dia dari ujung ekor mata, di balik jilbabnya terpancar aura keanggunan seorang wanita, kadang membuat ku kikuk di hadapannya. “Mana liat dong catetan mu”, “ga ada gak mood. Eh kamu ada PR loh”, “PR apa lagi?” “PR nya ajarin aku”,  Dengan senang hati kubalas “Hmm, beres lah”. Kuliah berakhir, dia mau langsung pulang katanya, dan aku masih harus kuliah Bahasa Perancis.

Selesai kuliah perancis, saya buru-buru menuju lapangan rektorat. Di sana temen-temen Encompass Indonesia udah pada nongkrong. Rapat dipimpin Mbak Putri. Ini adalah rapat persiapan Musyawarah Anggota EI. Pada akhir rapat saya mengkoordinir pembentukan panitia inti. Adzan maghrib berkumandang, memberi isyarat untuk segera berkemas dan menuju kampus untuk kuliah kewarganegaraan.

Berjalan terburu-buru menuju ruang B43. Sesampainya di ambang pintu, Pak Dosen menoleh sinis ke arahku. “Loh mau ngapain Mas, keluar aja”, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata, saya menutup pintu dengan sopan lalu dari balik kaca melambaikan jari tengah ke arah bapak tadi. Melangkah gontai menuruni anak tangga menuju lantai satu. Di lantai satu rasanya tujuh lantai fisip ini tiba-tiba saja ambruk menghujam tubuhku sampai remuk. Jilbab kuning sedang duduk di lobi dengan seorang  temanku, atmosfir pembicaraan yang personal terpancar kuat. Ku baru sadar, sebenarnya saya sudah mengenal cewek itu sebagai ceweknya teman sekelasku. Tapi saya kurang mengenalinya lantaran waktu dulu dia tidak mengenakan jilbab.

“Hey” ku tersenyum lebar melambaikan tangan ke arahnya sambil masih menggenggam hp. Dia balik membalas sapaan ku dengan tersenyum hangat. Kali ini ku berhasil menyembunyikan air muka yang sebenarnya. Waktu masih pukul tujuh malam, dan ku tidak ingin pulang, pikirku masih kacau. Teringat kebiasaan teman-teman EI tadi yang biasanya tidak lekas bubar setelah rapat. Ku telepon seorang diantara mereka, meminta dia menjemput di depan perpus UB. “Okay tunggu” suara dari seberang bernada afirmatif. Hmm, lega rasanya, dia memang partner paling solid yang ku kenal. Dia membawaku kepada anak-anak yang berkumpul di Pujasera UB. Mereka asik makan mie ayam, sedang aku masih terdiam mereka-reka ulang kejadian beberapa menit lalu. Mencari kebenaran dari beberapa hal rumit hari ini.

Oleh : Pangageng Tlatah Andonyo

Open Registration Encompass Journey of Understanding 2013 Cultural Exchange

3 September 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Encompass Indonesia dengan bangga menjadi mitra resmi untuk Encompass Trust. Organisasi yang berdiri setelah tragedi Bom Bali di tahun 2002. Keluarga dari salah satu korban yaitu Daniel Braden merasa selama manusia masih merendahkan nilai kemanusiaan atas nama agama, budaya, atau yang lainnya, hal mengerikan akan terus terjadi. Encompass membawa misi untuk menjunjung toleransi dan kesepahaman antar pemuda meskipun dengan latar belakang, agama dan budaya yang berbeda.

Salah satu upaya Encompass yaitu dengan mengadakan program khusus bernama Journey of  Understanding, sebuah perjalanan yang mempertemukan 26 pemuda yang dari Amerika, United Kingdom, Indonesia, Israel, dan Palestina. Grup ini menghabiskan 10 hari bersama di Drewentwater Youth Hostel OutBond Education Center, Keswick, Cumbria, North West England. Melalui kombinasi dari kegiatan fisik menantang, team-building, pertukaran budaya, dan diskusi kelompok, mempersoalkan isu-isu kompleks yang berada dari negaranya masing-masing, seperti stereotypes, identitas, warisan budaya, dan konflik antar suku. pada hari terakhir mereka akan menuju London untuk memberikan presentasi.

Setiap pemuda, mahasiswa maupun pelajar SLTA bisa mengikuti rangkaian seleksi sebagai Peserta JOU delegasi untuk Indonesia. Waktu pendaftaran dibatasi sampai tanggal 14 September 2013. Kirim formulir pendaftaran ke alamat pusatsurat.ei@gmail.com. Cetak seluruh dokumen dua rangkap, masukan dalam map warna biru tulis nama, nomor telepon dan alamat email. Printout formulir wajib dibawa waktu proses seleksi. Biaya program dan ongkos perjalanan selama di UK akan ditanggung oleh Encompass sepenuhnya*.  JOU akan diadakan pada bulan November 2013. Info lebih lanjut lihat di http://www.encompassindonesia.or.id/ CP (Bagas): +628575530124 (Vania) +6283834527681

* Diluar biaya pembuatan passport, visa, dan tiket pp ke Jakarta.

Download formulirnya disini

Application Form JOU Nov 2013 Ver. 2.0

ABOUT FEEL

27 August 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Feel, sesuatu yang penting tapi juga ga penting. Kalau hidup tegantung sama feel rejeki kamu di dunia pasti seret. Lain hal sama bicara soal hati. Kalau gk feel, apapun yang terjadi, ya ga mungkin. Ceritakan tentang sherly.

Dia sahabatku, bisa dibilang baru, apapun yang dilakukan, kita selalu kompak. Beberapa hari ini pertemuan kami terhenti karena libur panjang smester genap. Kami terpisah untuk jarak yang jauh. Dia menikmati libur panjangnya di Sumba Nusa Tenggara Timur.

Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di malang, meski tanpa Sherly. Aku tidak begitu menyimpan rasa pada dia awalnya. Tapi cara dia menemaniku telah membius kesadaran ku lebih dari sebagai teman organisasi.

Setiap malam berbicara dengannya lewat telepon menjadi sebuah agenda wajib. Dan satu kata yang dapat ku jadikan pembenar, You’re Impress. Tak ada bayangan bahwa aku harus takluk kepadamu, tapi waktu memang tak bisa ditebak.

Kamu selalu menjadi pemeran utama dalam pentas kesendirian ku. Saat ini ku merasa jauh lagi denganmu, maaf karena ku berubah. Suasana tidak selalu sama.

Hati tidak bisa kau bandingkan dengan perhitungan kuantitas. Auramu masih meliputi seluruh jagat hidupku. Ingin ku bercengkrama denganmu lagi, tapi tidak lewat media.

Ku ingin udara menjadi medium satu-satunya yang menghubungkan kita, dan indahnya sinar matamu yang dapat ku artikan, kamu tetap sahabatku.

Malam Harapku Dalam Angan

27 August 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Kamis 22 Agustus 2013

Malam ini, kecewa pada bulan yang memberi ku janji untuk sinarnya yang indah. Purnama, tanggal 15 yang ku damba, sirna. Ku sendiri dibawah cahaya kuning. Lampu jalanan yang selalu bersinar, Jalan Ijen ku bercerita kepadamu. Tentang hari ini, kesibukan, dan upayaku untuk tetap kuliah.

Teman semua usahaku sejauh ini berjalan, terimakasih untuk matahari yang menjadi sahabatku. Ingin ku menangis di depan teman-teman. Kenapa malam yang kurencanakan tidak seindah yang tadi kulihat, semuanya seperti harapanku dalam angan.

Ingin kuberi lagi ambisi ini, sebuah pencapaian yang membuatku melangkah dengan tegap, dengan tujuan, dengan segenap mimpi kesuksesan. Tapi kenapa hal itu selalu ku ikat erat dengan berbagai alasan yang terlihat bermutu.

Ku ingin malam ini menapak jogja dan kusentuh butir debu tertinggi Gunung Merapi. Atau untuk kedua kalinya menjejakan kaki di Mahameru. Bahkan ku hanya merasakan kesejukan terdasar dari Arjuna.

Bukan bersama kalian adalah sia-sia. Tapi aku terlalu sering bersama kalian. Aku ingin pergi, aku ingin mewujudkan apa yang ada di dalam pikiranku. Menulisnya dalam sebuah tulisan-tulisan yang membuatmu dapat merasakan apa yang pernah ku alami.

Tidak ada cewek untuk hari ini, besok, atau lusa. Ku menikmati kesunyian, pedihnya hati melihat kalian berangkulan adalah kebahagiaan terdalam. Ku cukup bosan untuk dikhianati.

Batrai laptop ku, bukan sebuah generator berdaya uranium yang mampu memberi tanda kehidupan, kamu memang selalu tidak lama ketika bersamaku di ijen. Tapi itu cukup menghiburku. Karena kamu membalasku sebuah ketulusan seperti perlakuanku padamu.

Ku disini, dengan segerombol anak muda, yang sama penatnya denganku, tanpa sebatang rokok. Pasangan muda yang sedang mengabadikan masa kelucuan anak balitanya, berpose gagah dengan latar belakang monumen tank. Gerombolan pemuda itu silih berganti di sampingku, tapi ku tetap diam.

Deru konvoi motor-motor turing, dan mobil-mobil mewah dengan pengawalan Jeep garang. Para hedonis yang berpesta. Dan akupun berpesta, meski tanpa kemewahan. Hanya ada kamu, si kaki tiga, dan kamera poket.

Bukan jalan hidup yang dulu diajarkan oleh ibu. Ku benci ketika seseorang mengatakan malam. Bagiku malam adalah pukul satu. Mungkin ku kacau, hanya dengan dua jam dan ku kembali dalam kesibukan. Ini masih terlalu sore untuk beristirahat. Mungkin benar jika pesantren mengeluarkanku. Ku akan merusak atmosfir keagamisan pondok jika tetap diam. Dan sekarang ku keluar, tanpa tempat yang pasti.

Bulan biarlah berlalu malam ini, nafasku masih ada untuk melihatmu lagi,,

Oleh : Pangageng Tlatah A

Sherly 12 Hours

12 July 2013 by Pangageng Tlatah Andonyo

Selasa 9 Juli 2013

Hari ini aku punya janji untuk main sepeda sama adik prempuan ku di Malang namanya Sherly. Dia bukan adik kandung, tapi aku menganggapnya seperti adiku sendiri. Rencananya mau mulai jam enam, tapi karena kita sama-sama bangun telat, jadi saya baru mulai berangkat dari pondok jam 7 pagi.

Janji ketemuan di Alun-alun Tugu depan Balai Kota. Dari jauh aku lihat dia sudah berada di dalam alun-alun sambil menuntun sepedanya. Tujuan pagi ini ingin melihat bunga-bunga teratai yang ada di kolam bundaran alun-alun ketika baru mekar.

Main kali ini kami berdua lagi, karena teman-teman  yang lain rata-rata sudah pada pulang ke kampung halaman. Wajarlah mengingat ini musim libur semester genap ditambah menjelang bulan puasa. Di alun-alun kami mengamati bunga teratai yang  tadinya kuncup hingga mekar sepenuhnya. Memang lama tapi bagiku tidak membosankan. Sherly itu orangnya ga bisa berhenti ngomong. Segala hal yang pernah dia alami pasti dia ceritakan, dan aku memang pendengar yang baik.

Kemanapun aku pergi, kamera putih ku Weci ga akan pernah lepas melingkar di pundak. Suasana pagi yang cerah dengan bunga-bunga yang mekar di atas hamparan rumput hijau, memaksaku untuk mengabadikanya dalam mode apparature makro. Lalu iseng-iseng aku petik beberapa helai rumput-rumput kecil. Aku susun rumput tadi membentuk tulisan Sherly, lalu kutambahkan bunga di sisi bawah tulisan itu. Terlihat bagus dengan background warna merah dari lantai keramik alun-alun. “eh alay kamu” kata Sherly. “biarin” aku membalas ucapannya. Tapi aku bisa melihat kalau dia suka dengan apa yang aku buat.

“Cari sarapan yuk” kata Sherly. Sebenarnya aku sendiri sudah makan di pondok tadi sebelum berangkat, tapi gapapa juga deh makan lagi, sekali-sekali cari makan enak. Aku ajak dia ke arah rampal buat cari nasi pecel  yang dijamin murah. Sayang warung pecelnya ga jualan, jadi kita lanjut kayuh sepeda sampai akhirnya di depan Mesjid Sulfat. Di sini tempat makannya lumayan berkelas, biar di pinggir jalan tapi jangan harap ada yang harga mahasiswa. Mungkin karena letaknya dekat dengan perumahan elit. Disana kita makan nasi kuning komplit plus daging empal. Tidak salah kalau harganya sepuluh ribuan satu porsi.

Selesai makan eksplorasi berlanjut. Kita teruskan perjalanan ke arah Jembatan Sulfat. Di Jembatan Sulfat ini biasanya saya bermain ropelingan dan prusikan bersama temen-temen pecinta alam YEPE. Waktu malam hari komposisi lampu jalan yang menerangi jembatan ini berkesan eksotis  untuk sebuah sesi foto geje, tapi siang pun tidak kalah eksotis kok. Berhenti sebentar di pinggiran jalan, lalu kita melihat-lihat ke bawah jembatan. Air sungai mengalir deras, dipagari oleh batuan sedimen yang terbentuk secara alami, dan rumpun-rumpun bambu yang berjajar di sepanjang tebing sungai. Terlihat keren untuk dijadikan track arung jeram. Namun pemandangan indah ini harus dirusak oleh tumpukan sampah dan bau tidak sedap yang menusuk.

Kami kembali ke atas sadel sepeda dan mengayuh pedal dengan kencang. Jalan di Perumahan Sawojajar  terbilang masih baru, sehingga belum banyak kendaraan yang menggunakan jalan tersebut. Si Sherly ngajak balapan “Bang ayo balapan”, “ iyaa” jawabku. Seketika sepeda melesat tanpa menghiraukan pengendara lain yang menyebrangi perempatan. Di awal Sherly menang, karena dia memang memulai balapan waktu berada di depan saya. Tapi karena dia tidak mengganti rotasi gir depannya jadi akhirnya saya yang menang. Setelah terpaut cukup jauh, Saya tungguin dia sampai ada di sebelah ku.

Rute bersepeda kali ini memutari sisi timur kota malang, hingga kami sampai kembali ke titik awal yaitu Lapangan Militer Rampal. Di lapangan rampal terdapat banyak wahana olah raga, ada lapangan tenis, voli, basket, track lari, lapangan bola, jogging track, dan medan halang rintang. Tujuan kami datang kesini ingin mencoba halang rintang yang di disain khusus untuk para pasukan angkatan bersenjata. Ide ini memang geje, biarlah idenya Sherly buat main haling rintang.

Baru dua kali putaran saya mencoba ternyata sudah kehabisan nafas. Sherly sendiri malah ga mau nyoba, tangannya ga nyampe katanya buat ngeraih tinggi batang batang kayu yang berdiri tegak. Kami duduk di bangku panjang yang ada di tepian jogging track. Siang ini cuaca cerah, langit sedikit berawan dan angin berhembus membawa bau rumput yang bebas dari polusi jalanan. De Sherly mengajari saya untuk membuat gelang dari anyaman benang jahit. Dia memang pintar membuat berbagai motif gelang dari anyaman. Aku pikir mungkin semua anak Sumba pada pintar membuat gelang. Soalnya aksesoris yang dimiliki oleh anak-anak Sumba rata-rata hasil buatan sendiri.

Dua jam dan sebuah gantungan kunci berwarna Hitam Ungu berhasil ku buat. Katanya Sherly untuk tingkat anak SD gelang buatan saya udah lumayan rapi. Saya pikir ini pujian agak ngece, secara saya kan bukan anak SD. Tidak terasa perut sudah mulai keroncongan lagi. Kami berkemas lalu makan Mie Ayam plus Cilok di depan gerbang masuk Rampal.

Wajah kami seperti sudah bulukan, dari pagi berkeringat kena debu dan panas matahari. Jadi kami bersepeda ke Gramedia Kayutangan buat numpang cuci muka. Di dalam Toko Buku Gramedia kami tidak punya agenda pasti, ini hanya bagian dari alibi untuk numpang ke toilet. Kami terpaku pada rak buku peta dan atlas. Disana kami bergurau soal pulau-pulau di daerah NTT dan kota-kota di pulau jawa yang ingin kami datangi. Karena kami terlalu asik dan terlalu rame, sampai-sampai saya ditegur sama Pak Security.

Dari Gramedia agenda belum selesai. Masih ada satu lagi rencana hari ini yaitu hunting topi. Tujuannya daerah Jalan Pasar Besar blok Gajah Mada. Muter-muter naik turun, mampir ke Ratu Swalayan, masih belum ada topi yang cocok. Ada yang bagus tapi harganya ngga nego, jadi kami putuskan untuk menuju Trend Shop. Belum sampai di Toko Trend, kami coba mampir di lapak penjual topi pinggir jalan. Topi berbahan jeans menarik perhatian saya, harganya sama aja 37 ribu. Tapi Mas yang ini ternyata kalah dengan rayuannya Sherly, dan dua buah topi bahan jeans seharga 60 ribu siap dibungkus.

Dua belas jam kami berdua main berkelilling kota menembus keramaian jalan raya. Sebelum pulang saya ajak dia makan di depan MOG. Di warung tempat kami dulu merencanakan perjalanan ke Bromo. Kami berpisah di persimpangan Kampus IKIP Budi Utomo. Dia berbelok ke arah kanan menuju Jalan Arjuna. Satu hari yang menyenangkan yang akan terus berlanjut ke hari-hari berikutnya. Kami selalu menunggu kalian untuk bisa ngumpul bareng lagi, dan membuat cerita yang lebih berwarna.

Oleh: Pangageng Tlatah A