Ajari aku.. Umbu..

seorang lelaki tua dengan tas kresek hitam ditangannya
Umbu Landu Paranggi itulah dia punya nama..
tersirat kedewasaan kata dalam wajahnya
mencoba menepuk hati sang penulis belia..
Sang penulis yang mencoba bersembunyi dari hiruk pikuk
ketidak-kreatifitasan hari-hari ramadhan.
Mencoba menghapus hiasan kertas maya dengan warna
hitam, agar benar-benar jujur setiap petak kata yang
diungkapkannya. Meski harus berkhianat atas nama ilmu
pengetahuan untuk menulis tidak dengan hati, tapi
dengan referensi atas nama skripsi.

Menghapus segala kebebasan karya dengan alasan
pengetahuan dan metodologis ilmiah adalah
sebuah pengekangan. Sebuah PENJAJAHAN.
bukankah demikian Umbu…??” demikian teriak
sang penulis pada laki-laki tua di depannya.
Beliau tersenyum.. mungkin senyum sama yang akan
diberikan pada salah satu anak didiknya bernama Emha
saat ini. Ketika segudang permasalahan 1) perlumpuran
mengguncang kredibilitas muridnya.
“Ketika kata telah dipelintir oleh penguasa. Ketika
setiap kata yang adalah hak pilih bebas dalam
menentukan pola pikir kita tentang sesuatu telah
dibatasi. Bahkan atas nama keilmiahan, kebenaran
bahkan Tuhan.. maka apakah telah menjadi
manusia diri kita ?


Apakah telah menjadi jujur diri kita ?
Atau.. jangan-jangan, atas nama kebenaran, maka
kita harus menipu diri kita sendiri ? Dengan berbohong
bahwa kata yang kita pilih adalah tidak benar karena
orang lain mengatakannya salah ?


Ini mataku. Ini hatiku. Ini otakku. Ini tanganku.
maka adalah hak pribadiku untuk menentukan
memberi nama apa saja terhadap apapun yang
aku lihat, dengar dan rasakan..!!

dengan berapi-api sang penulis membombardir pria
tua itu dengan kata-kata tak bertepi, tak berbelas
kasihan bahkan cenderung kasar pada mantan
“Presiden Malioboro” Jogja itu..
Sekali lagi.. laki-laki bernama Ambu dihadapan sang
penulis itu menata letak tas kresek hitamnya.
Tersenyum. Sekali lagi.

ajari aku Umbu..
ajari aku untuk jujur terhadap kata-kata pilihanku
ajari aku untuk tak berdusta terhadap setiap kata.
ajari aku untuk menjadi diriku.
ajari aku Umbu..



Dengan masih tetap tersenyum, laki-laki tua itu
menyalamiku dan berlalu..
begitu saja..
———-
dan senyumnya masih saja terbayang..
dalam hentak kata sang penulis temukan
jejak-jejak pembelajaran sang maha guru para
penulis Indonesia.
Dibelantara maya sang penulis bertemu dengannya
hanya dengan kata..
lewat sisa-sisa..
Terima kasih Umbu.
dari murid-muridmu aku belajar tentang kata
dari debu-debu pelajaranmu.. aku memakna.
Ajari aku.. Umbu..
bahkan hanya lewat sisa-sisa.
================
update on 13-09-2008
================

Ternyata masalah permasalahan 1) sudah ditanggapi dengan cukup baik oleh metodologis penyelesaian yg cukup santun disini. Semoga cepat selesai dan keadilan ke permukaan. Amin.

Leave a Comment