atas nama cinta

“PUISI RANGGA I”

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.
——–

Bait kata menghias sebuah film lama kembali terngiang di benak hitam,
tatkala sebuah jawaban dari keinginan terejawantahkan dalam sebuah pesan singkat dalam kotak komunikasi cinta ini. Atas nama cinta juga kulangkahkan kaki dipagi hari, dengan tamparan dipipi hati dan torehan luka-luka perang nan tak kunjung usai.
Dalam keterseokan diri, aku berjalan, melangkah menikmati setiap detik peperangan ini,
menuju siang, menggapai sore, dan kembali malam menanti.

Hentakan jari-jari menghiasi langkah hari-hari. Menoreh cerita dalam kata. Mengais keinginan yang tak berkesudahan. Menuju hari nanti. Tatkala keadilan adalah hak milik Ilahi.

Kesedihan hanyalah sebuah nada sumbang belaka. Kegembiraan hanyalah refreain dari lagu kehidupan. Sementara bait-bait hidup ternyanyikan dalam nada… Dan waktu khan menjadi saksi, apakah diri hanyalah mimpi.

Sampai bertemu nanti..

Malang, 25 Agustus 2008, pasca sebuah sapa di pagi hari :
Sepertinya hanya mas yang dapat menjawabnya.”

Leave a Comment