jarum jam dan putaran porosnya

Dalam sejarah sang waktu, semuanya hampir mengalir. Semuanya hampir bergerak. Semuanya ? Tidak. tidak semuanya mengalir..

Sebuah jam tertempel di sebuah dinding besar sebuah rumah. Jarum panjang bergerak terus berputar seiring setiap detik yang berjalan di rumah itu. Jarum yang agak pendek juga berputar. Setiap menitnya posisi jarum itu berpindah tempat lebih lambat. Sementara sebuah jarum lain yang paling pendek juga bergerak lebih lambat lagi.

Namun ada sebuah titik dari ke-3 jarum jam itu yang tidak bergerak. Dan titik itu dikenal sebagai poros. Dia tidak berjalan. Dia diam, ketika yang lain bergerak berputar dan berproses. Diamlah prosesnya. Dengan diamnya dia, semua menjadi berproses. Dengan tidak bergeraknya, maka jarum jam yang lain dapat menggunakan dirinya sebagai tolok ukur proses mereka sendiri. Sementara sang POROS hanya diam membiarkan dirinya menjadi tolok ukur bagi proses jarum lain.

Setiap orang ingin menjadi orang hebat. Pengen lebih cepat perputarannya bahkan setiap detik. Atau melambat seperti jam, meskipun pendek tapi menjadi parameter utama dari penunjuk waktu bernama jam. Atau bahkan cukup puas menjadi jarum tengah yang menunjukkan tiap menit perjalanan hidup ini.

Namun, apakah setiap orang siap bila ternyata dirinya adalah hanya sebagai poros dari jam tersebut. Hanya diam ? Hanya menjadi parameter orang lain berproses ?

Tidak setiap orang punya mental yang cukup kuat untuk menjadi poros. Sehingga mampu menanggung beban proses jarum jam lain. Dan orang-orang seperti inilah yang jika diminta menjadi pengubah atau pemroses, maka dia tau proses sejati seperti apa, karna dialah saksi bisu proses itu.

Seorang sahabat ketika kutawari konsep ini bertanya : Bagaimana dengan jam digital ? Bukankah jam digital malah titik porosnya berproses kelap-kelip (mati idup : jawa red) ?

Kata
Avatar of pakdhe.febri

About pakdhe.febri

botak, tinggi dan berkacamata.

Leave a Comment