Matrikluasi 2 : Pilihan dan Pemahaman

Seorang laki-laki tua yang sudah tidak pantas lagi disebut mahasiswa duduk dan menikmati secangkir kopi di kafetaria kampus. Sebatang rokok ditangannya menunjukkan bahwa dia sudah cukup lama di sini. Seorang laki-laki muda terlihat mendekati sang laki-laki tua dari belakang…

Pakdhe : Duduklah disampingku.. aku tidak akan membentakmu.. aku tahu kau mencariku..

(sang pemuda berjalan mengitari meja dan berdiri di depan Pakdhe)

Pakdhe : Ha.. ha.. ha.. kamu keliatan lebih jagoan sekarang…

Febri : aku….

Pakdhe : nanti kita bicarakan hal itu… silahkan duduk…

Febri : mungkin aku berdiri saja..

Pakdhe : oke.. (sambil tersenyum..) terserah.. aku tau kamu akan memilih itu.

(sang pemuda terlihat kaget dan kemudian duduk didepan Pakdhe)

Febri : sepertinya lebih baik bila aku duduk saja..

Pakdhe : aku tahu.. (tersenyum), jadi.. mari kita perjelas hal ini.

Febri : kamu angkatan tua ya khan….

Pakdhe : Ya.. keliatan dari wajahku ya ?

Febri : Jika aku tebak, engkau sudah lebih dari 10 tahun disini.. Sejauh yang aku tahu dari orang-orang…

Pakdhe : Yups.. kamu benar..

Febri : Jika kamu benar, berarti engkau termasuk orang-orang yang gagal dari sistem pendidikan ini….. (berhenti sejenak)

Pakdhe : teruskan…

Febri : menurutku pertanyaan yang paling jelas adalah bagaimana aku bisa percaya bahwa kau bisa hidup seperti ini ? Bagaimana engkau bisa menolong aku untuk cepat lulus, sementara engkau masih saja belum selesai ?

Pakdhe : Tepat sekali… itu adalah berita buruknya. Engkau tidak tau apakah keberadaanku untuk menolongmu atau menjerumuskanmu.. Jadi semuanya terserah padamu. Kau harus memutuskan sendiri apakah engkau akan menerima atau tidak apa yang akan kukatakan padamu, atau tidak.

(pakdhe mematikan rokok ditangannya dan mengambil rokok baru dari pembungkusnya..)

Pakdhe : Rokok ? (menawarkan)

Febri : Apakah engkau selalu menawari clientmu dengan rokok, dan dengan semua pengalamanmu, kau tahu aku akan mengambilnya ?

Pakdhe : Rokok ini hanyalah salah satu pilihan. Kau ambil atau tidak itu bukan masalah. dan lagi… bukan pakdhe namaku jika aku tidak tau apa pilihan-pilihan dalam hidupmu…

Febri : Jika kamu sudah tau, bagaimana aku membuat pilihan ?

Pakdhe : Karena engkau kesini bukan untuk membuat pilihan.. Engkau sudah membuat pilihan. Minimal engkau memilih untuk bertemu denganku. Engkau kesini untuk mencoba memahami sesuatu. Minimal engkau ingin memahami kenapa kamu menemuiku.

(Febri mengambil sebatang rokok yang ditawarkan pakdhe)

Pakdhe : he.. he.. he.. akhirnya kamu paham..

Febri : Kenapa kamu tetap disini ? Kenapa engkau tidak keluar saja dari universitas ini ?

Pakdhe : Untuk alasan yang sama… Aku suka merokok di kafet.

Febri : Tapi… kenapa engkau memilih kafet ini ? maksuku.. kenapa engkau memilih untuk tetap berkuliah dan sedikit atau banyak membantu kami anak-anak muda ?

Pakdhe : Kita disini untuk kita disini. (pakdhe mengubah posisi duduknya)

Pakdhe : Aku hanya tertarik dengan satu hal kawan… Masa depan. Dan percayalah.. cara tercepat kesana adalah dengan bersama-sama

Febri : Apakah di masa lalu atau di tempat lain ada orang sepertimu ?

Pakdhe : tidak sepertiku tapi… (Menoleh kearah jalanan dan menunjuk dua orang lelaki di jalanan) Lihat… dua orang laki-laki yang berjalan disana.. Salah satu dari mereka adalah sepertiku. Mereka membantu orang disampingnya untuk menemukan hidupnya. Dan seharusnya orang sepertiku tidak kelihatan. Tidak ada. Engkau bahkan tidak tau bahwa mereka ada. Tapi keberadaan mereka kadang muncul dipermukaan seperti saat ini… aku bertemu dengan dirimu.

Febri : Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu..

Pakdhe : ow.. jangan salah.. setiap kali orang bilang melihat hantu, setan, malaikat dan cerita-cerita klenik lainnya… adalah sebuah mekanisme pembantu yang seharusnya tidak ikut campur..

Febri : Sebuah buffer dari sebuah system ? Kenapa bisa seperti itu.. ?

Pakdhe : Mereka punya alasan sendiri untuk muncul atau tidak muncul..

Febri : Dan mengapa mereka dijamannya dihapuskan. ?

Pakdhe : Mungkin rusak dan merusak. Mungkin ada system pendidikan yang baru… Kurikulum baru atau pemimpin baru. Dan jika itu terjadi, orang itu bisa memilih, tetap berada pada system yang lama, dengan memanfaatkan keretakan system yang ada.. atau.. kembali ke dunia luar kampus sana..

Febri : Drop Out maksudmu ?

Pakdhe : Ya… tempatmu seharusnya berada. Dimana tempat mahasiswa yang terpilih biasanya berakhir.

(febri terdiam sesaat memandang ke kosongan di luar kafet)

Febri : Apa yang aku bisa lakukan dengan kondisiku saat ini ? tanpa keberhasilanku di kuliah, tanpa sks yang cukup dan tanpa IP yang tinggi disini.

Pakdhe : Keberhasilanmu, adalah ketika kamu mengontrol system. Bukan dengan IPK tinggi atau karya-karya ilmiahmu. Kadang engkau harus keluar dari system, untuk bisa mengontrol system ini. Dan cara tercepat untuk keluar dari system adalah dengan tidak mematuhinya.

Febri : Kenapa system yang berkuasa sekarang ini tidak berjalan semestinya ?

Pakdhe : Karena seharusnya system berjalan dengan habitatnya. Dan ketika system berkuasa, maka dia akan berlaku seperti layaknya sistem yang berkuasa…Yaitu mencari kekuasaan lagi.

(Sebuah bunyi ringing handphone menandakan sebuah sms datang di HP pakdhe. Membukanya, membaca sejenak dan kemudian berbalik ke febri)

Pakdhe : Sorry, sepertinya setiap kali kita bertemu, aku tidak membawakan kabar baik padamu.. Carilah kunci dari masalahmu, dan kunci itu ada di masalahmu sendiri. Carilah jawaban untuk masalahmu itu dengan membedah masalahmu ke masa lalu… selamat tinggal…

Medio Malang, 08 Agustus 2006

Masa-masa Sebelum pembayaran SPP

Kata
Avatar of pakdhe.febri

About pakdhe.febri

botak, tinggi dan berkacamata.

Leave a Comment