Matrikluasi 1 : Kafet dan Kuliah

Disebuah pagi, dimeja kafetaria FTUB. Dua orang lelaki sedang menikmati secangkir kopi dan berbincang

Pakdhe : Kenapa aku suka ke kafet ? Sudah ribuan kali aku ke kafet. Sudah sekian cangkir kuhabiskan dalam hari-hari yang berlalu begitu saja di kafet. Dan tetap, aku masih disini. Kenapa ke kafet kampus teknik ? Untuk mencari sedikit hiburan ? ya.. bagian kampus ini merupakan tempat yang menghibur dan melegakan kelaparan dan kedahagaan kita.

Pakdhe : Kita tidak cukup peduli siapa sekarang yang menjaga kafet, atau.. bagaimana konfigurasi kopi terbaik yang dimiliki kafet. Selama dia masih buka, dan menyediakan kopi bagi kita, maka itu saja cukup bagi kedahagaan kita.

Pakdhe : Aku suka berada disini.

Pakdhe : Aku suka diingatkan bahwa di bangku-bangku inilah seringkali permasalahan-permasalahn kompleks mahasiswa terselesaikan. Masalah akademik, masalah lembaga, masalah kegiatan bahkan cinta. Bagian kampus ini membuat kita berada di sorga sementara bagian kampus lain yang berada dalam ruang-ruang kuliah ada neraka dari hidup kita.

Pakdhe : Bukankah terminologi kampus cukup menarik? Tempat yang memberikan kepuasaan dari dahaga sekaligus tempat yang membuat kita terus dahaga. Dan proses itu berjalan… begitu seterusnya..

Seorang laki-laki lain duduk didepan laki-laki tadi, tertarik dengan kalimat yang dikeluarkan oleh laki-laki pertama, kemudian berkata…

Febri : Tapi kita punya kekuasaan atas pilihannya..

Pakdhe : Ya.. kita punya kekuasaan atasnya.. namun, setiap kali kulihat wajah-wajah lalu lalang para mahasiswa yang keluar dari gedung kuliah melintas kafet ini, sedikit atau banyak merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita bersama. Dua dunia kontradiktif yang saling berhubungan.

Febri : Tapi kita menguasai kehendak kita untuk berada di kafet, bukan kafet yang mengontrol apakah kita harus kesana ato tidak…

Pakdhe : Tentu saja tidak.. bagaimana mungkin mereka bisa mengontrol… Namun.. apa sebenarnya kontrol ? apa sebenarnya kekuasaan itu ?

Febri : Jika kita mau, kita bisa saja tidak ke kafetaria….

Pakdhe : Ha.. ha.. ha.. yups.. itulah… itulah arti kekuasaan… Jika kita mau, kita tidak usah datang… meskipun kita harus memikirkan, apa jadinya sebuah kampus tanpa kafet ? tempat kita makan, minum, bertemu dan menyelesaikan masalah-masalah kita ?

Febri : Jadi… kafet dan kuliah saling membutuhkan ? Apakah itu maksudmu ?

Pakdhe : Bukan… seorang mahasiswa yang tidak jelas sepertiku ini tidak punya maksud apa-apa. Bahkan tidak berhak memiliki maksud apa-apa sama sekali

Febri : Kenapa tidak kau katakan saja apa maksudmu ?

Pakdhe : Ada banyak hal di dunia ini yang aku tidak mengerti. Kamu lihat wanita itu ? Dia berangkat kuliah dari pagi dan menjelang sore pulang kembali ke tempat tinggalnya. Aku tidak pernah tau sama sekali bagaimana cerita hidupnya.. Tapi aku tau pasti alasan dia melakukannya

Pakdhe : Aku tidak tau bagaimana kau bisa bertahan di kampus ini. Tapi aku yakin ada alasan engkau bertahan dikampus ini.

Pakdhe : Aku hanya berharap menemukan alasan itu sebelum terlambat.

Medio Malang, 08 Agustus 2006

Masa-masa Sebelum pembayaran SPP

Leave a Comment