A.    Pendahuluan

Pada setiap organisasi atau perusahaan pastilah memiliki beracam-macam persoalan. Namun masalah utama yang selalu hadir di kebanyakan perusahaan dan organisasi adalah isu. Karena isu tidak akan pernah terlepas dari permasalahan perusahaan atau organisasi. karena isu selalu hadir dalam setiap perkembangan organisasi.  Isu ada karena adanya gap antara aktivitas organisasi dan harapan publik. Publik memiliki harapan-harapan yang ingin dipenuhi oleh organisasi dengan aktivitasnya adalah hal yang wajar. Salah satu isu sensitif yang sering dijumpai adalah isu mengenai ras, suku dan agama. Isus-isu tersebut merupakan permasalaha yang ada sejak dahulu.

Seiring berkembangnya teknologi dan cepatnya arus informasi kini, media massa memiliki peran yang amat penting dan seakan tak dapat terlepas dari apa yang kita lakukan dalam keseharian. Apa yang kita lakukan dari bangun hingga tidur lagi, lagi-lagi masih bersinggungan dengan media massa, bahkan tak hanya sebatas itu, keberadaannya juga dapat mempengaruhi dalam menjalankan kehidupan. Nurudin dalam bukunya Pengantar Komunikasi Massa (2011, h. 2) mengungkapkan dahsyatnya peran media massa mempengaruhi kebanyakan orang dalam menentukan apa yang baik dan tidak baik berdasarkan informasi dari media massa. Mata dan telinga tidaklah cukup untuk memahami realitas di dunia ini, kita perlu menggunakan media massa sebagai pihak ketiga (Nurudin, 2011, h. 2).

Begitu pula dengan isu yang selalu menjadi problema setiap perusahaan atau organisasi. ketika perusahaan atau organisasi tersebut memiliki permasalahan lalu media mengexpose  secara terus menerus mengenai hal tersebut sehingga publik menjadi menaruh fokus terhadap permasalahan perusahaan atau organisasi tersebut dan persoalan mengenai hal itu tidak dapat terselsaikan  maka yang terjadi adalah perusahaan atau organisasi tersebut sedang mengalami krisis.

Dalam tulisan ini, akan dijelaskan mengenai kasus pemboikotan produk-produk Arla. Arla adalah sebuah perusahaan asal Denmark merupakan contoh perusahaan yang mengalami krisis karena gagal mengelola isu toleransi beragama. Krisis yang dialami Arla disebabkan karena salah satu media Denmark mempublikasikan karikatur nabi Muhammad SAW, dan hal ini membuat publik khususnya warga muslim di timur tengah marah atas kejadian ini. Kemarahan warga muslim akhirnya berdampak juga pada produk-produk arla yang berada di Timur Tengah.

B.     Deskripsi Kasus

Arla Foods merupakan perusahaan yang berlokasi di Archus, Denmark, dan merupakan perusahaan hasil ternak terbesar di Scandinavia. Perusahaan ini dimiliki oleh 11.000 petani Denmark dan Swedia. Perusahaan ini juga memiliki keberadaan yang besar di Timur Tengah, dengan penjualan perbulannya sebesar US$ 480 juta.

Awal mula kasus terjadi adalah pada 30 September 2005, sebuah media cetak Denmark mengeluarkan 12 kartun editorial yang menghina Nabi Muhammad. Selain menghina sang nabi, kartun tersebut juga dirasa oleh banyak orang mengarah pada anti Islam dan rasis. Antara Oktober 2005 sampai Februari 2006 kartun tersebut dicetak ulang pada beberapa koran besar di Eropa yaitu di Norwegia, Belanda, Jerman, Belgia, dan Prancis. Hal ini menimbulkan protes dari orang Muslim di seluruh dunia. Setelah kartun tersebut menyebar luas, ambasador dari negara mayoritas Muslim meminta pertemuan dengan perdana mentri Denmark, Anders Fogh Rasmussen, untuk membahas publikasi dan meluasnya perlakuan yang salah pada kaum Muslim di Denmark. Pemerintah Denmark menolak pertemuan tersebut dan mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat mengubah pers. Dalam pidato tahun baru, perdana mentri tidak meminta maaf atas hal tersebut, namun berbicara tentang sikap yang sensitif dalam berlatih menyampaikan pidato. Pada 20 Januari 2006, tokoh politik dan tokoh agama di Arab Saudi menyatakan boycott pada produk yang berbau Denmark. Arla merespon dengan meletakkan iklan pada koran Arab Saudi yang menyatakan Arla tidak terlibat oleh kartun tersebut. Arla mengatakan pada koran yang bersangkutan yaitu Jyllands-Posten bahwa “Arla akan terkena gelombang kemarahan konsumen”. Perusahaan juga memutuskan untuk menaruh iklan halaman penuh pada koran Arab Saudi yang menunjukkan sikap Denmark yang sebenarnya terhadap Islam. Namun Arla kemudian menyadari bahwa langkah tersebut tidak membantu.

Pada 27 Januari, Konfederasi Industri Denmark meminta Jyllands-Posten untuk meminta maaf mengenai gambar yang sedang dipermasalahkan, dan hal tersebut dilakukan pada 31 Januari. Koran tersebut menerbitkan dua surat terbuka pada website mereka : satu dari koran itu sendiri tentang tindakan yang menyinggung Muslim, dan kedua dari seniman yang menghina Muhammad dengan bom di sorban dalam gambarnya tersebut. Perdana mentri menerima permintaan maaf tersebut, namun mengatakan “Pemerintah Denmark tidak dapat meminta maaf dengan mengatasnamakan koran Denmark karena media independen tidak diedit oleh pemerintah.” Sementara itu, perusahaan besar Swiss yaitu Nestlé menyatakan dalam iklan koran di Arab Saudi yang mengatakan pada konsumen bahwa dua produk yang dijual di wilayah mereka bukan murni produk Denmark. Perusahaan menyangkal bahwa pernyataan terebut merupakan pernyataan “anti Denmark” namun dengan pertimbangan dan pembenaran dalam iklan tersebut bahwa Nestlé telah mencapai tujuannya dengan penjualan Nestlé yang telah kembali normal.

Pada akhir Januari, Arla menyatakan bahwa boycott produk Denmark di Timur Tengah hampir total dan semua konsumen di wilayah tersebut membatalkan pesanan mereka. Arla mengatakan “Kami mendapati diri kami berada pada sebuah perminan dimana kami tidak ikut bermain di dalamnya.” Arla menambahkan sangat sulit untuk menyampaikan pesan pada konsumen Muslim. “Kami telah melewati 40 tahun untuk membangun bisnis yang sangat besar di Timur Tengah dan kami melihat itu berhenti total dalam 5 hari.” Kasus ini merugikan perusahaan sebesar £ 1 juta per harinya.

Kasus terjadi karena adanya terbitan berupa kartun editorial yang menghina Nabi Muhammad. Kartun tersebut diterbitkan oleh penerbit Denmark yaitu Jylland-Posten yang menyebabkan protes atas rasisme dan “anti Muslim” yang tergambarkan dalam kartun tersebut. Pecetakan ulang oleh media besar di Eropa yang lain menambah parah keadaan dan membuat masalah menjadi masalah negara dan bangsa. Bangsa Denmark (Danish) dicap sebagai orang-orang yang rasis dan tidak menghargai agama. Dalam satu pihak, Arla sebagai perusahaan yang dimiliki oleh orang Denmark dan Swedia menjadi terseret dan merugi, karena memiliki pangsa pasar yang besar di Timur Tengah yang mayoritas merupakan pemeluk agama Islam. Arla yang berada pada tengah-tengah konflik ini merasa tidak ikut ambil bagian namun terseret karena boycott yang dilakukan oleh orang Timur Tengah terhadap produk orang Denmark. Arla yang berupaya meredam isu dengan meletakkan iklan pada koran Arab Saudi tidak membuahkan hasil dan membuat Arla semakin sulit untuk menjualkan produknya

C.    Analisis

Jika ditinjau dari kasus tersebut maka jika dikaitkan dengan tahap Menurut Hainsworsth & Meng (dikutip dalam Kriyantono, 2012) tahapan Isu  (Issue Life-Cycle) ada  empat tahap yaitu:

  1. Tahap origin (potential stage) :

Pada tahap ini seseorang atau sekelompok mengekpresikan perhatiannya pada isu dan memberikan opini. Mereka melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan isu yang dianggap penting. Pada tahap awal ini munculnya isu terkait dengan diterbitkannya karikatur Nabi Muhammad dikoran Jyllands Posten Denmark yang menyebabkan adanya pemoikotan terhadap produk-produk berasal dari Denmark termasuk produk susu Arla.

2.  Tahap Mediation and Amplification :

Saat isu tersebut mulai berkembang, dan semakin banyaknya media yang memeberiktakan terkait isu tersebut secara serentak yang menjadikan masyarakat umat Islam tidak tinggal diam dan melakukan aksi proter dengan berbagai bentuk selain hanya melakukan boikot terhadap produk berasal dari Denmark saja. Dalam hal ini isu berkembang karena isu tersebut mempunyai dukungan publik, yaitu ada kelompok-kelompok lain yang saling mendukung dan memberikan perhatian pada isu isu tersebut.

3. Tahap Organization :

Tahap ini publik sudah mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Current stage, isu berkembang menjadi lebih popular karena media massa memberitakanya berulang kali dengan eskalasi tinggi. Critical stage, terjadi bila publik mulai terbagi dalam dua kelompok, setuju dan menentang. Pada tahap ini isu berkembang lebih luas karena media juga menyebarkan berita kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad ke beberapa daerah di Eropa. Akibatnya isu  tentang rasis terhadap kaum Islam menjadi diskusi publik di berbagai dunia. Dan pemberitaan akan isu tersebut dilakukan secara beurlang ulang dan menjadi populer di berbai media massa. Dengan hal tersebut Arla merupakan salah satu produk  Denmark yang kemudian memberikan dukungan terhadap kaum Islam dengan cara menempatkan iklan di Koran Saudi untuk menjauhkan diri dari kartun. Akan tetapi hal yang dilakukan oleh Arla tidak membuahkan hasil dan tidak dapat membantu kaum Islam agar surat kabar Jyllands-Posten Denmark meminta maaf kepada umat Islam.

4. Tahap Resolution :

Pada tahap ini, organisasi dapat mengatas isu dengan baik sehingga pemberitaan di media mulai menurun, perhatian masyarakat juga menurun, sehingga isu diasumsikan telah berakhir sampai seseorang memunculkan kembali dengan pemikiran dan persoalan baru yang ternyata memiliki keterkaitan sebelumnya. Setelah mengalami serangan dan boikot dari kaum Islam, pemerintah Denmark didesak untuk meminta maaf atas penyebaran kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad. Hingga pada akhirnya pemerintah Denmark mengimbau kepada surat kabar Jyllands-Posten untuk meminta maaf atas penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Pada kasus ini isu yang menyebabkan dampak bagi Arla Foods dapat dikategorikan krisis krena hingga mempengaruhi dampak bagi operasional perusahaan, dan Arla lakukan menjadi pihak yang penuh tidak kepastian termasuk dalam hal menyampaikan informasi, karena sulit dari pihak Arla Food harus menyampaikan informasi bahwa tidak ada hubungan antara produknya dengan pemebritaan salah satu media massa Denmark tentang karikatur Nabi Muhammad tersebut, ini menimbulkan krisis bagi perusahaan Arla Food yang berpotensi buruk jika tidak ada penyelesaian dari pihak media Jyllands-Posten Denmark. Meskipun Arla Food juga telah mekaukan upaya untuk proterhadap masyakat timur tengah, namun hasilnya tidak membantu.

Setelah mengalami keterpurukan, Arla kembali bangkit dan menjualkan produknya Timur Tengah pada bulan Maret. Arla melakukan promosi melalui iklan di 25 surat kabar di Arab dengan menyewa satu iklan halaman penuh. Pada bulan April, Arla kembali memasukkan produknya secara perlahan ke rak-rak di toko daerah Timur Tengah. Serta, Arla mensponsori kegiatan kemanusiaan di wilayah tersebut.

            Setelah melihat kasus krisis yang menimpa Arla terkait dengan perusahaan ini menyelesaikan krisisnya yakni, perusahaan Arla dalam menyelesaikan permasalahannya dinilai cukup lambat dalam menangani krisis yang sedang menimpa perusahaan tersebut. dikarenakan permasalahan mulai ada sejak 30 September 2005 dna baru di tuntaskan pada februari 2006. Kasus ini seakan-akan dibiarkan meluas karena banyaknya media yang memberitakannya secara terus menerus dan akhirnya masyarakan mnjadi fokus terhadap isu tersebut yang mengakibatkan produk-produk Arla mengalami pemboikotan. Jika dikaitkan dengan teori SCCT (Situational Crisis Communication Theory) media selalu mencari informasi saat terjadi krisis atau media selalu mencari informasi negatif yang menimpa perusahaan Arla, sedangkan publik yang aware mengenai masalah karikatur tersebut terpicu karena adanya bermacam-macam pemberitaan media.

Daftar Pustaka :

Kriyantono, Rachmat. (2015). Public Relations & Crisis Management: Pendekatan Critical Public Relations Etnografi Ktitis & Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Nurudin. (2011). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa

Definisi Public dan Stakeholder Serta Karakteristiknya

Dalam tulisan blog saya kali ini akan memaparkan lima definisi dari publik dan stakeholder serta karakteristik dari lima definisi tersebut.

Pengertian Publik

  1. Publik merupakan sekumpulan orang atau kelompok dalam masyarakat yang memliki kepentingan atau perhatian yang sama terhadap suatu hal (kriyantono :2012)
  2. Publics are specific groups of people who are linked by a common interest or problem.  (Brad L. Rawlins & Shannon A. Bowen)
  3. The publics are the targets of public relations action and the source of feedback for evaluation. (Baskin & Lattimore, 1997 : 5)
  4. Publik adalah sekelompok orang yang memberikan perhatian pada sesuatu hal yang sama, memiliki minat serta kepentingan yang sama. (Meinanda  :1989)
  5. Menurut Jhon Dewey (dalam buku the public and it’s problem : 1972) mendefinisikan publik adalah sekelompok orang yang memiliki masalah yang sama atau tujuan yang sama dan mengenali kesamaan kepentingan mereka.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat di simpulkan bahwa pubilk adalah sekelompok orang yang terikat oleh kepentingan bersama atau suatu masalah, publik tidak berkumpul dalam suatu tempat tertentu melainkan tersebar dan publik dapat di jadikan sumber umpan balik untuk evaluasi suatu organisasi. dan dapat di jelaskan bahwa publik memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Publik menghadapi situasi tertentu yang tidak sama
  2. Sekelompok masyarakat yang terikat secara emosional dan memiliki perhatian yang sama terhadap suatu hal
  3. Sebelumnya tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.
  4. Publik dapat di jadikan sumber umpan balik untuk evaluasi suatu organisasi.

 

Pengertian Stakeholder

  1. Stakeholder adalah orang, kelompok atau organisasi yang berada di luar kendali anda dan yang berkecimpung di dalam proyek anda.(Rob Thomsett, 2006 : 80)
  2. Stakeholder is any group or individual who can affect or is affected by the achievement of the organization’s purpose and objectives (Freeman 1984).
  3. Stakeholder is any person who has an interest in the activity of an organization, although it i normally considered to be a person who is actually affected by that activity. (David Crowther : 2008)
  4. A management term, a stakeholder is any entity (individual, group, or organization) that can affect or be affected by, or that can have a direct or indirect interest (stake) in, an organization’s actions, objectives, resources, outputs, and policies (Matthew R. Marvel : 2012)
  5. Stakeholders are those people or organizations that have a vested interest in what has happened and are affected by the decisions that the leaders in the organization make. (Steven McCullar : 2013 )

Dari pengertian tersebut simpulan stakeholder adalah orang, kelompok atau organisasi yang memiliki kepentingan secara langsung maupun tidak langsung. Dan dapat di jelaskan dari beberapa pengertian di atas bahwa stakeholder mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  1. Memliki kepentingan secara langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan
  2. Sifatnya mempengaruhi atau di pengaruhi terhadap suatu perusahaan atau organisasi
  3. Terdapat pihak internal (Pemegang saham ,manajer, karyawan) dan eksternal (konsumen, masyarakat, pemerintah)

 

Daftar Pustaka

Baskin, Otis & Lattimore, Dan.(1997).Public Relations The Profession and the Practice (4th ed.).United States of America: McGraw.Hill

Baskin, Otis., Lattimore, Dan., Suzette T. Heiman., Ekizabeth l. Toth.(2010).Public Relations Profesi dan Praktik (3th ed.). (Afrianto Daud Terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika

Clegg, S.R., & Bailey, J.R. (2008). International Encyclopedia of Organizational Studies. California: SAGE Knowledge Reference.

Heath, R.L.(2005). Encyclopedia of Public Relations. California: SAGE Knowledge Reference.

Marvel, M.R. (2012).Encyclopedia of  Venture Management . SAGE Knowledge  Reference.

Penuel, K.B., Statler M., Hagen R. (2013). Encyclopedia of Crisis Management. California: SAGE Knowledge  Reference.

Prianti, Dwi Desi .(2011). Stakeholder Relations Strategy In Acquisition Or Merger. Jurnal ilmiah Komunikasi “Makna”. 1(1). 1-5

Thomsett, Rob .(2006).  Radical Project Management. (Rudi M. Tambunan Penerjemah). Jakarta : Erlangga

Nama Kelompok :

Amalia Nur Asizah                 145120207111055

Anata Lu’luul Jannah            145120207111054

Nyndia Pavita Diyant            145120200111060

Sella Devi Danuba                   145120207111009

Tugas 4 : menganalisis jurnal “ The  Dow Corning Crisis : A Benchmark  “

Dalam tulisan ini berisi hasil analisis kelompok kami tentang jurnal The  Dow Corning Crisis : A Benchmark. Selain itu kami juga membaca buku sebagai panduan yaitu “ Public Relation dan Crisis Management : Pendekatan Critical Public Relation Etnografi Kritis dan Kualitas. (2012) yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono.

Krisis merupakan suatu masa yang kritis berkaitan dengan suatu peristiwa yang kemungkinan pengaruhnya bersifat negatif terhadap perusahaan (kriyantono 2012:74). Berikut adalah inti permasalahan dari jurnal “ The  Dow Corning Crisis : A Benchmark  “.

  • Dow corning mendapat gugatan pada tahun 1977 karena dugaan masyarakat yang menggangap implan payudara buatan perusahaan dow corning tidak aman untuk dipakai.
  • Pada tahun 1980 dampak gugatan baru terasa. Masalah krisis di awali oleh gugatan

-          Dow corning memproduksi dan memasarkan implan silicon yang berbahaya, meskipun dia telah tau lebih dulu bahwa silikon yang ia buat sangat berbahaya

-          Lebih dari 20 penelitian gagal membuktikan hubungan implasi silikon dengan penyakit auto imun. Oleh karena itu publik tidak memiliki bukti yang kuat untuk mendukung dugaannya, maka dari itu corning masih memiliki alasan untuk mempertahankan perusahaannya, meskipun publik telah meminta corning untuk meninggalkan perusahaanya.

Dalam permasalahan dow corning tersebut terbagi dalam tiga periode yaitu :

Periode pertama :

-          Dow corning melakukan beberapa kesalahan dalam menyelesaikan kasus yang sedang di alaminya seperti

  1. Public officer mendapat kegagalan mengenai pembicaraan dengan publik tentang kasus tersebut.
  2. Berganitung dari bukti ilmiah untik melakukan pertahanan dari publik
  3. Perusahaan bersifat tertutup terhadap media dan publik yang menyebabkan pemberitaan terhadap perusahaan tersebut semakin negaitf
  4. Pada saat klarifikasi permasalahan, juru bicara yang di bayar oleh perusahaan tersebut berbeda-beda dan akibatnya informasi yang disampakan ke publik juga berbeda-beda.
  5. Publik officer perusahan tidak berusaha mencoba untuk melakukan pencitraan positif terhadap publik
  6. Dua publik besar seperti Media dan FDA tidak mendapat pelayanan yang baik berkaitan dengan permasalahan tersebut. Dan mengakibatkan FDA membuat pernyataan bahwa implan yang di buat oleh perusahaan tersebut berbahaya
  7. Akhirnya dow Corning menyewa pengacara yang bertarif mahal untuk memulihkan citra positif perusahaan tersebut. Namun masih saja perusahaan bersifat tertutup. Dan media meliputya dengan pemberitaan yang negatif.

Periode kedua ( september1991-1992 februari) :

  1. Dow corning menyerang FDA untuk mencebut gugatan dan menyangkal tuduhan berkaitan dengan implan payudara silikon yang tidak aman, namun FDA memnunda gugatan tersebut.
  2. Corning bersedia melakukan berbagai pengujian dari produknya untuk menyakinkan publik.
  3. Akhirnya perusahaan mengangkat Keith MCKennon sebagai CEO dalam rangka memperbaki citra perusahaannya.
  4. Keith menggunakan pihak ketiga untuk menyelidik implan payudara, membuat hotline bagipublik yang menggunakan impan payudara miliknya. Tetapi FDA menutup layanan hotline tersebut dengan dalih Dow Corning memberikan informasi yang salah.

Periode ketiga (februari 1992) :

  1. Dow Corning meninggalkan bisnis implan payudara dan mengakui kebangkrutannya.
  2. Strategi yang mereka gunakan tidak mampu mencapai tujuan untuk merubah pandangan negatif terhadap perusahaannya.
  3. Bukannya malah memperbaiki citra melainkan mereka justru menciptakan tindakan yang menyebabkan kehancuran di bawah tekanan FDA dan media massa

Dari penjelasan tersebut kami menganalisis langkah-langkah dow corning saat mengatasi krisis perusahaan dengan menggunakan prinsip-prinsip public relation, yaitu :

a)      Tell the truth :

Dow corning pada awalnya menutup diri kepada publik, lalu atas desakan kondisi yangmelunjak akhirnya dow corning menyewa juru bicara dalam rangka memberi inforasi kepada publik. Langkah yang digunakan dow corning sudah benar namun belum tepat untuk meyakinkan publik, hal ini berpusat kepada juru bicara yang memberikan informasi secukupnya. Harapannya tidak terwujud karena corning menyewa bermacam-macam juru bicara dan tidak di imbangi dengan informasi yang aktual. Sehingga informasi yang disampaikan kepada publik malah menimbulkan banyak kontra pada publik.

 

b)      Profit with action :

Dalam usaha memulihkan citra yang positif. Perusahaan ini telah berusaha untuk membiktikan bahwa implan payudara tersebut aman menurut hasil riset dari perusahaannya. Namun sikap tersebut tidak disertai dengan sikap membuka diri terhadpa publik dan media dan cenderung menutup diri sehingga publik dan media menganggap negatif pada perusahaan dow corning.

c)      Listenning to the public

Dow corning melakukan kesalahan terbesarnya ketika tidak mendengarkan publik berbicara dan cenderung mengabaikannya, ia tetap bersikukuh menyatakan bahwa hasil riset dari implan payudara tersebut baik digunakan utuk wanita. Namun corning tidak mampu mengatasinya karena ia tidak menuruti tuntutan keinginan publik.

d)     Managing for tommorow

Dow corning harusnya dapat berpikir panjang dalam mengatasi kisis ini, misalnya dengan menghentikan pemasaran produk untuk jangka waktu beberapa bulan untuk di selidiki. Dengan begitu perusahaan dapat meminta maaf kepada publik bahwa produk yang mereka buat tidak di edarkan seama beberapa bulan. Namun menurut kami perusahaan tidak mempunyai pikiran untuk menjalankan usaha seperti itu entah apa yang mereka lakukan untuk mengembalikan citra positif dalam hal ini perusahaan harus tetap bersikap tenang.

e)      Conducting activition

Hubungan korporasi merupakan fungsi manajemen, dalam hal ini perusahaan memperlakukan PR seakan semua hidup perusahaan bergantung pada PR eksternal tersebut. Maka dari itu, perusahaan harus bisa mengkondisikan waktu karena PR ini adalah peran yang terpenting dalam mewadahi seluruh isu-isu perusahaan. PR harus bersikap terbuka terhadap isu-isu, dalam kasus Dow corning, perusahaan sebenarnya telah memiliki seorang PR. Namun fungsi manajemen PR tidak terlaksanakan.

f)       Remind calm passion and Humor.

Dalam kasus Dow corning ini, fungsi manajemen PR internal harusnya dapat bersikap lebih sabar dan santai. Manajemen PR internal juga dapat menjadi penengah dalam masalah ini, agar pekerja lainnya juga dapat bersikap tenang dan santai dalam mengambil keputusan untuk masalah ini.

Kesimpulan dari prinsip-prinsip ini adalah, perusahaan Dow corning tidak menjalankan prinsip-prinsip Public relations dengan baik yang mengakibatkan perusahaan Dow corning bangkut selain itu perusahaan dow corning masih tetap mendapat citra buruk dari publik.

 

Daftar Pustaka :

Kriyantono, R. (2012). Public relation dan crisis management : Pendekatan Critical Public relation etnografi kritis dan kualitas. Jakarta : Prenada Media Group.  

 

Tugas Public relations

Tugas 3 : Dasar-Dasar Public Relation

  1. Jelaskan apa yang di sebut :
    • Public relation sebagai continuing process
    • Public relation sebagai never ending process
    • Public relation dimulai dan diakhiri dengan riset
  2. Deskripsikan karakteristik 4 model public relation dan berilah contoh di masa sekarang
    • Press agentry
    • Public information
    • Simetris
    • Asimetris

            Narasi berikut merupakan hasil review saya berdasarkan buku Public Relation Profesi dan praktik,(2010) oleh  Dan Lattimore,Otis Baskin, Suzzete T.Heiman , Elizabeth L.Toth ,buku public relation writing yang di tulis oleh rachmat kriyantono,(2008) serta buku memenangkan pasar dengan pemasaran efektif dan profitabel,(2001) oleh bilson simamora. Review ini saya lakukan dalam rangkan mengetahui mengapa Public relation sebagai continuing process, Public relation sebagai never ending process dan Public relation dimulai dan diakhiri dengan riset. Serta untuk mengetahui tentang karakteristik dari 4 model Public relation.

            Menurut J.C. seidel seorang public relation director dalam buku public relation yang di tulis oleh Frank Jefskin di sebutkan bahwa :

             “Public relationsis the continuing process by which management endavors to obtain good will and understanding of it’s customer, it’s employees and the public at large ,inwardly through self analysis and correction, outwardly through all means of ekspression.”

            Dari penjelasan diatas dapat di artikan bahwa public relation adalah proses yang berkelanjutan dari usaha bersama dengan management dalam upaya menentukan kebijakan, melakukan pelaksanaan dan penindakan program kegiatan untuk oganisasi,individu maupun publiknya dan menganalisis serta mengevaluasi melalui penelitian tentang program kegiatan yang sudah terencana agar mendapatkan citra yang baik di mata publik.

            Sedangkan public relation di sebut sebagai never ending proses yaitu public relation tidak pernah berhenti untuk melakukan kerjasama dengan individu ataupun organisasi masyarakat dan public relation selalu memberikan umpan balik dari pendapat masyarakat tentang program yang sedang dilaksanakan, karena penilaian suatu program menjadi elemen yang penting dalam pengembangan proyek public relation yang lainnya.

            Dan yang terakhir public relation dimulai dan diakhiri dengan riset. Pada buku memenangkan pasar dengan pemasaran efektif dan profitabel yang ditulis oleh bilson simamora (2010. Hal 325) disebutkan sebagai berikut

            “PR dimulai dan diakhiri dengan riset tujuannya untuk mengevaluasi program kerja,             memperbaiki citra perusahaan, riset dibutuhkan untuk mengumpulkan fakta dengan berbekal fakta itu,seorang praktisi PR dapat menentukan permasalahan yang terjadi selain itu riset juga dibutuhkan dalam evaluasi. Pada saat itulah praktisi melakukan pengukuran atas kegiatan yang telah dilakukan dan mengecek seberapa jauh hasilnya.”

            Menurut (kriyantono,2012) pertama riset berfungsi sebagai konfirmasi, riset sebagai sarana konfirmasi asumsi-asumsi dan rekaan-rekaan dari pihak manajemen tentang masalah-masalah atau sikap publik terhadap organisasi. kedua riset befungsi sebagai memperjelas, riset membantu manajemen mengidentifikasi isu-isu di masyarakat yang berkaitan dengan organisasi, dan riset sebagai fungsi informatif, riset berfungsi memberikan informasi yang berguna sebagai dasar mengevaluasi aktivitas public relation informasi ini yang nantinya akan menjadi dasar untuk merumuskan program selanjutnya. Riset menjadi dasar awal dan akhir dari aktivitas public relations, sehingga dapat disebut sebagai proses yang terus menerus dan tak berkesudahan.

            Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa public relation adalah proses yang berkelanjutan karena pada setiap organisasi memiliki program-program yan pada akhirnya program tersebut di evaluasi agar perusahaan tersebut mendapatkan citra yang baik di masyarakat. Dan public relation tidak akan pernah berhenti untuk melakukan kerjasama dengan publik atau organisasi agar tercipta program-program yang diinginkan oleh masyarakat dan perusahaan tersebut juga memperoleh keuntungan dari program tersebut. Lalu public relation ddimulai dan diakhiri dengan risetpada dasarnya berkaitan dengan mengukur bagaimana opini publik secara internal maupun eksternal terhadap perusahaan.

            MODEL PUBLIC RELATION

            Tahun 1984 James grunig dan Todd Hunt mengajukan 4 model public relation yang didasarkan pada komunikasi,riset,dan etika. Semenjak saat itu Grunig dan tim ilmuwan mengajukan model baru yang telah memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana public relation di praktikkan.

1.      Press Agentry ( Agen Pemberitaan )

            Press agentry adalah model dimana informasi bergerak satu arah yaitu, dari organisasi menuju publik. Press agentry merupakan upaya untuk menciptakan berita dan peristiwa untuk mendapat perhatian dari media dan publik terlepas dari apakah pemberitaan itu benar atau tidak, positif maupun tidak.

            Prinsip press agentry adalah bagaimana caranya membangun popularitas, dan popularitas akan tercipta bila media ramai-ramai meliput pemberitaan tersebut.

            Contoh :

            Salah seorang artis sekaligus pengacara ternama sempat menghebohkan media massa. Karena ia telah membuat sayembara, yaitu memberikan hadiah berpergian umroh gratis bagi siapa saja yang bisa menemukan keberadaan salah seorang public figure yang diberitakan tengah menjalani pengobatan di Singapura.

 2.      Informasi Publik

            Berbeda dengan press agentry, karena model ini tujuan utamanya adalah untuk memberitahu publik dan bukan promosi atau publisitas. Namun komunikasinya masih tetap satu arah. Model ini mewakili praktik public relation yang ada di pemerintahan, lembaga pendidikan,bahkan beberapa korporasi. Para praktisi pada model ini sedikit sekali melakukan riset kepada audience dalam rangka menguji kejelasan pesan yang mereka sampaikan. Mereka seperti jurnalis yang menghargai akurasi, tetapi memutuskan sendiri (tanpa riset) tentang informasi apa yang paling baik dikomunikasikan kepada publik mereka.

            Contoh :

            Komunitas Earth Hour Malang mengajak masyarakat untuk mematikan lampu selama 1 jam pada tangal 28 maret 2015. Untuk mengurangi pemborosan listrik yang selama ini di pakai.

 3.     Model Asimetris 

            Memandang public relation sebagai kerja persuasi ilmiah. Model ini menerapkan metode riset ilmu sosial untuk meningkatkan efetifitas persuasi dari pesan yang disampaikan. Praktisi public relation dengan model ini menggunakan survei,wawancara dan fokus group untuk mengukur serta menilai publik sehingga mereka bisa merancang program public relations.

            Walaupun timbal balik dari semua itu dipertimbangkan kedalam proses pembuatan program, namun organissi dengan model ini merasa lebih tertarik mengenai bagaimana publik menyesuaikan diri dengan mereka ketimbang sebaliknya, organisasi yang menyesuaikan dengan kepentingan publik.

            Contoh :

            Kenaikan BBM beberapa bulan lalu yang sempat membuat harga pangan melonjak tinggi. Dalam kasus ini pemerintah melakukan komunikasi 2 arah dan tidak menutup diri atas pertanyaan masyarakat yang komplain terhadap kenaikan bahan bakar tersebut. Namun mau tidak mau masyarakat harus mau mengikuti aturan tersebut.

 4.      Model simetris

            Model ini menggambarkan sebuah orientasi public relation dimana organisasi dan publik saling menyesuaikan diri. Model ini berfokus kepada pengunaan metode riset ilmu sosialuntuk memperoleh rasa saling pengertian serta komunikasi dua arah antara publik dan organisasi ketimbang persuasi satu arah.

            Grunig berpendapat bahwa model ini merupakan model yang paling etis karena semua kelompok adalah bagian dari resolusi masalah.

            Contoh :

            Akhir-akhir ini marak sekali pembegalan motor, banyak juga yang sudah menjadi korban pembegalan. Oleh sebab itu kepolisian meminta kepada seluruh masyarakat berhati-hati dan wajib melaporkan keapada pihak polisi jika ada perampok yang tertangkap sedang membegal korbannya.

            Daftar Pustaka :

  • Toth, E.L., Heiman, S.T., Baskin, O., Lattimore, D. (2010). Public Relation Profesi dan Praktik. Jakarta: Salemba Humanika
  • Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relation dan Crisis Management : Pendekatan Critical Public Relation Etnografi Kritis dan Koalitif. Jakarta: Kencana Media
  • Simamora, Bilson. (2001). Memenangkan Pasar Dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Kriyantono, Rachmat. (2008). Public Relation Writing. Jakarta: Kencana Media

 

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!