IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN AKIBAT EROSI TANAH DAN PENETAPAN STRATEGI KONSERVASI TANAH

2010
10.30

IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN AKIBAT EROSI TANAH DAN PENETAPAN STRATEGI KONSERVASI TANAH
DI DAERAH SUB-DAS BESAI DAS TULANG BAWANG LAMPUNG
Dosen Pengampu : Ir. Didik Suprayogo, MSc., PhD

OLEH:
NURUL NURKHASANAH
0810480067
KELAS B

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Manusia hidup dan berkembang dari generasi ke generasi selanjutnya, makin berkembangnya kehidupan manusia maka makin banyak kebutuhan bahan pangan yang harus dicukupi oleh manusia itu sendiri. Perkembangan manusia dan keadaan tanah untuk memproduksi bahan pangan tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang, yang artinya faktor tanah keadaannya tetap sedang faktor manusia akan selalu bertambah. Keadaan yang tidak seimbang itu, lebih tidak seimbang lagi oleh karena perbuatan- perbuatan dan perlakuan- perlakuan manusia itu sendiri.
Saat ini sudah banyak tanah yang produktif terancam punah, karena kelalaian dari manusia, bahaya erosi yang akhir- akhir ini banyak terjadi di negeri kita ini telah menurunkan produktivitas tanah. Bahaya erosi yang menimpa lahan- lahan pertanian serta penduduk sering terjadi pada lahan-lahan yang memiliki kemiringan lereng lebih dari 15%.
Bahaya ini ditimbulkan selain karena perbuatan- perbuatan manusia yang terlalu mementingkan pemuasan kebutuhan diri sendiri, juga dikarenakan pengelolaan tanah dan pengairan yang keliru.
Proses perubahan penggunaan lahan, selain menghasilkan manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat juga tidak lepas dari resiko terjadinya kerusakan lahan akibat erosi, pencemaran lingkungan, banjir dan lainnya. Erosi akan menyebabkan terjadinya pendangkalan waduk, penurunan kapasitas saluran irigasi, dan dapat mengganggu sistem pembangkit tenaga listrik. Erosi yang tinggi, banjir pada musim penghujan tidak hanya menimbulkan dampak negatif pada aspek bio-fisik sumberdaya alam dan lingkungan tetapi juga berdampak pada aspek sosial ekonomi masyarakat. Erosi dan banjir dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya alam. Produksi pertanian, perikanan dan penggunaan sumberdaya alam yang berkaitan dengan air akan menurun.
Wilayah DAS merupakan suatu kesatuan ekosistem dengan komponen utama tanah, air, vegetasi dan manusia. Faktor ini berinteraksi dan manusia berperan sebagai pengelola sumberdaya tanah, air dan vegetasi. Di DAS Tulangbawang hulu khususnya di Way Besai, pengelolaan lahan masih berlangsung bebas, hal ini mengakibatkan penggunaan lahan menjadi kurang optimal.

II. KARAKTERISTIK KERUSAKAN LAHAN DI DAERAH DAS BESAI

Daerah aliran sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau/laut (Manan, 1979).
Upaya pokok yang dilakukan dalam pengelolaan DAS adalah melakukan
(i) pengelolaan lahan melalui usaha konservasi tanah dalam arti luas;
(ii) pengelolaan air melalui pengembangan sumberdaya air;
(iii) pengelolaan vegetasi khususnya pengelolaan hutan yang memiliki fungsi perlindungan terhadap tanah dan air; dan
(iv) pembinaan kesadaran manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana.
Stalling (1957) mengatakan tujuan pengelolaan DAS adalah melakukan prinsip konservasi tanah dan air untuk produksi air (kuantitas dan kualitas) serta pemeliharaan tanah (pencegahan erosi dan banjir).
Dalam pengelolaan DAS, upaya pengelolaan tanah harus sesuai dengan tingkat kemampuannya dan terhindari dari kerusakan (erosi) dengan mengatur penggunaan lahan sehingga terwujud penggunaan lahan yang optimal.

DAS Besai Hulu terdapat di Kecamatan Sumber Jaya – Kabupaten Lampung Barat, Wilayah keseluruhan seluas 54.967 ha berupa daerah yang berbukit-bukit dengan wilayah datar sampai berombak 15%, berombak sampai berbukit 65% dan wilayah berbukit sampai bergunung 20%. Luas wilayah ini terdiri dari 3.868 ha sawah dan 51.099 ha areal lahan kering.
Pada wilayah tangkapan DAS Besai dijumpai adanya kawasan hutan lindung yaitu Register 45 B. Register 45B ini berbatasan dengan kawasan hutan lindung regsiter 34 (Tangkit Tebak), Register 32 (bukit Rindingan) dan Register 39 (Kota Agung Utara). Register 45B ini ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung pada masa penjajahan Belanda melalui Beslut Residen No. 117 tanggal 19 Maret 1935 dengan luas 8295 Ha.
Wilayah DAS Besai mempunyai iklim tropis yang dapat dibedakan antara musim hujan dan kemarau. Hal ini menunjukkan bahwa daerah DAS Besai masih mendapat pengaruh dari angin moonson dimana musim hujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan April dan musim kemarau pada bulan Mei sampai bulan Oktober. Keadaan topografi di wilayah DAS Besai bervariasi, mulai dari datar, bergelombang, berbukit dan bergunung dengan kemiringan lahan lebih dari 40%.

GAMBAR 1. Kondisi Lahan di DAS Besai Hulu dengan Kondisi Topografi Berlereng

Cara masyarakat menggunakan lahan mempengaruhi besar erosi dan produktivitas lahan. Pola penggunaan lahan yang ada di suatu tempat dapat memberikan gambaran bagaimana aktivitas masyarakat yang sebelumnya sehingga dapat digunakan menjadi indikator bagaimana masyarakat memperlakukan sumberdaya alam. Perubahan penggunaan lahan yang ada dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangan daerah aliran sungai karena penggunaan lahan merupakan hasil interaksi dari manusia, tanah, tumbuhan yang ada di lahan.

GAMBAR 2. Areal Kebun Kopi Rakyat Yang Baru Dibuka di Daerah Berlereng

GAMBAR 3. Pembukaan Lahan Hutan Menjadi Areal Kebun Kopi

Pemilihan daerah ini didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain (i) Bagian hulu Sub-DAS Besai terdapat areal hutan lindung yang mulai digunakan penduduk sebagai areal kebun kopi; (ii) Di Sub-DAS Besai dijumpai beberapa investasi nasional seperti pembangkit listrik dan daerah irigasi di hilir (areal pertanian); (iii) perubahan penggunaan lahan di hulu dapat mengancam keberadaan fungsi hidrologis dari DAS Besai yang diperlukan masyarakat sehingga pengelolaan hulu menjadi prioritas penanganan.

III. PERMASALAHAN KERUSAKAN LAHAN DI DAERAH DAS BESAI

Lampung dalam perkembangannya menerima sejumlah transmigrasi untuk menambah populasi penduduk. Keberadaan transmigrasi ternyata pada kondisi tertentu mempercepat perubahan penggunaan lahan di Lampung.
Dalam pengelolaan kebun, terjadi perubahan pengelolaan dari mono kultur menjadi campuran dan ini mulai terlihat mulai tahun 1984. Pengelolaan lahan di daerah berbukit ini memperlihatkan penurunan luas areal usahatani tanaman pangan yang cukup besar, yaitu dari 21% pada tahun 1970 menjadi 0,1% pada tahun 1990. Perubahan ini terutama diakibatkan berkembangnya kebun rakyat, terutama kebun kopi (Syam et al, 1997).

Berdasarkan hal di atas maka permasalahan yang dijumpai antara lain adalah :
1. Sampai sejauh mana proses perubahan lahan dan sistem agroteknologi yang ada berpengaruh terhadap kualitas bio-fisik di Way Besai
2. Kombinasi penggunaan lahan dan agroteknologi apa yang sebaiknya dikembangkan sehingga dampak erosi, sedimentasi dan debit sungai kecil tetapi memberikan manfaat ekonomi besar.
3. DAS Way Besai khususnya bagian hulu berpotensi menjadi areal kritis akibat kondisi lahan yang berlereng curam dan penduduk yang besar sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kondisi wilayah hulu Way Besai yang memberikan manfaat ekonomi cukup besar.
4. Pendangkalan waduk, penurunan kapasitas saluran irigasi, dan dapat mengganggu sistem pembangkit tenaga listrik

IV. STRATEGI KONSERVASI TANAH

V. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Your Reply

You must be logged in to post a comment.