AYAM PETELUR

Strain Ayam Petelur yang kini beredar atau pernah beredar di Indonesia :

1.Arbor acres, diciptakan di Amerika 1972
2.Dekalb WAren, Diciptakan di Amerika 1972
3.Hyline, diciptakan di Amerika 1972
4.Hubbard golden comet, diciptakan di Amerika 1972
5.Hisex, diciptakan di Belanda 1972
6.Hypeco, diciptakan di Belanda 1972
7.Isa Brown, diciptakan di Inggris 1972
8.Ross Brown, diciptakan di Inggris 1972
9.Lohman, diciptakan di jerman 1972
10.Enya, diciptakan di jepang
11.Rosella, diciptakan di negeri belanda
12.Kimber Brown, diciptakan di California Amerika 1972
13.Harco, diciptakan di Amerika 1972
14.Shaver, diciptakan di kanada

Terdapat dua macam tipe ayam petelur, sebagai berikut :

  1. Tipe ayam petelur ringan : Tipe ayam ini sering disebut dengan ayam petelur putih yang mempunyai ciri-ciri badan ramping atau kecil mungil, bulunya putih bersih dan berjengger merah. Ayam tipe ini umumnya berasal dari galur murni White leghorn yang mampu bertelur lebih dari 260 butir/tahun. Ayam tipe petelur ringan ini sensitif terhadap cuaca panas dan keributan.
  2. Tipe ayam petelur medium : Bobot badan ayam ini cukup berat, sehingga ayam ini disebut dengan ayam dwiguna. Ayam ini umumnya mempunyai warna bulu coklat dan menghasilkan telur berwarna coklat pula. Ayam tipe ringan maupun tipe medium memerlukan pemeliharaan yang relatif sama.

Performan Beberapa Strain Ayam Petelur

Strain

Umur Awal Produksi

(minggu)

Umur pada Produksi 50%

(minggu)

Puncak Produksi

(%)

FCR

Kematian (%)

Lohmann Brown MF 402

19-20

22

92-93

2,3-2,4

2-6

Hisex Brown

20-22

22

91-92

2,36

0,4-3

Bovans White

20-22

21-22

93-94

2,2

5-6

Hubbard Golden Comet

19-20

23-24

90-94

2,2-2,5

2-4

Dekalb Warren

20-21

22,5-24

90-95

2,2-2,4

2-4

Bovans Goldline

20-21

21,5-22

93-95

1,9

6-7

Brown Nick

19-20

21,5-23

92-94

2,2-2,3

4-7

Bovans Nera

21-22

21,5-22

92-94

2,3-2,45

2-5

Bovans Brown

21-22

21-23

93-95

2,25-2,35

2-7

Sumber : Rasyaf, 1995

 

 

 

 

 

Perkembangan Normal Bobot Badan, Konsumsi Pakan dan Produksi Telur Ayam Petelur Coklat

Umur

(minggu)

Rata-rata BB kg/ekor

Konsumsi pakan

Produksi (%)

gr/ekor/hari

Total (kg)

1

4

8

12

16

19

20

21

22

23

24-25

26-27

28-40

40-45

46-56

57-60

60-63

60-65

66-76

77-80

-

0,27

0,59

0,91

1,23

1,47

1,55

1,62

1,70

1,75

1,83

1,92

1,98

2,01

2,03

2,04

2,05

2,05

2,06

2,08

10

35

54

64

72

80

82

87

96

100

105

110

120

119

118

117

117

116

115

115

0,07

0,65

1,97

3,70

5,61

7,24

7,81

8,49

9,21

9,82

11,24

12,78

25,49

27,15

40,76

41,94

42,74

43,37

52,15

55,31

1

5

10

40

65-70

82,3-89,4

92,1-92,7

90,9-93,5

88,7-90,9

82,4-88,7

79,5-82,4

77,2-79,5

75,7-77,2

66,4-75,7

62,9-65,5

Sumber : PT. Japfa Comfeed, 2001

Didalam tatalaksana pemeliharaan ayam petelur dikenal periode/phase pemeliharaan, yaitu :

  1. Pemeliharaan masa awal (brooding periode  à 0 – 6 minggu)
  2. Pemeliharaan masa remaja (growing periode  à 6 – 20 minggu)
  3. Pemeliharaan masa dewasa (laying periode  à  >20 minggu)

 

PEMELIHARAAN PERIODE AWAL (BROODING PERIODE)

P

ada pemeliharaan masa awal (starter) terdapat schedule managemen yang harus dilaksanakan sebagai berikut : (1) Sebelum unggas datang, (2) Setelah unggas datang.

Segala tindakan yang dilakukan sebelum ayam/unggas datang meliputi :

  1. Membersihkan dan mensucihamakan (chick guard, tempat pakan, tempat minum, brooder/pemanas)
  2. Penataan segala peralatan

Setelah unggas datang (suhu indukan 350C (450F),  untuk minggu pertama tindakan yang perlu dilakukan adalah :

  • Memasukkan anak unggas
  • Pengaturan suhu/alat pemanas
  • Pemberian pakan dan minum
  • Vaksinasi
  • Pemberian vitamin dan antibiotik
  • Menimbang bobot badan awal

Indukan dapat berupa box, apabila anak unggas yang dipelihara jumlahnya sampai dengan 100 ekor, dan lebih dari jumlah tersebut lebih baik menggunakan chick guard/lingkar kutuk.

KEBUTUHAN PERALATAN PADA PERIODE AWAL (STARTER) 

  1. Brooder atau alat pemanas
  2. Chick guard
  3. Tempat makan (feeder)
  4. Tempat minum (waterer)

 

  1. 1.                   Brooder atau Pemanas

Brooder atau pemanas umumnya berupa lampu pijar, kompor gas dan gasolec (LPJ).

  1. 2.                   Chick guard / Pemanas Anak Ayam

Berfungsi untuk membatasi ruang gerak, melindungi dan mengefektifkan sumber panas terhadap anak ayam. Bahan terbuat dari seng, triplek, bambu  ayaman, dan lain-lain. Tinggi chick guard + 50 cm.

  1. 3.                   Tempat Pakan

Tempat pakan untuk anak ayam dapat berupa nampan, bekas box anak ayam, sedangkan bentuk tempat pakan :

  • Tipe lurus (linier) : dapat dijangkau kedua sisinya atau satu sisi
  • Tipe silinder (tube feeder)

Syarat tempat pakan :

  • Tinggi tempat pakan setinggi panggung ayam waktu berdiri tegak
  • Area tempat pakan –minum jangan lebih dari 3 m
  • Mudah pengisian dan pembersihannya
  • Makanan tidak terbuang
  • Tidak dapat ditenggeri atau dikotori oleh ayam

Ukuran tempat pakan (linier) adalah :

  • 0 – 3 minggu                       = 3,75 cm / ekor
  • 4 – 6 minggu                       = 8 cm / ekor
  • 6 – 20 minggu                    = 10 cm / ekor
  • Dewasa                                = 12 cm / ekor

 

  1. 4.                   Tempat Minum

Syarat tempat minum :

  • Mudah dibersihkan
  • Mudah diisi
  • Ayam minum dengan mudah
  • Dapat mempertahankan kebersihan dan suhu yang rendah
  • Tipe silinder (tube feeder)
  1. Sebelum anak ayam datang/dimasukkan ke dalam box atau kandang, brooder sebagai indukan harus sudah dipersiapkan dan dicoba terlebih dahulu. Berdasarkan sumber pemanas yang digunakan, maka ada beberapa macam brooder, yaitu brooder yang menggunakan sumber panas listrik, minyak tanah, gas dan sumber panas lainnya seperti sekam dan batubara.
  2.                 Brooder harus diatur sedemikian rupa sehingga panas yang dihasilkan sesuai dengan suhu yang dibutuhkan oleh anak ayam.
  3.                 Suatu kisaran temperature lingkungan, dimana pada kisaran ini tidak ada/ sedikit sekali terjadi perubahan pada heat production, disebut zone thermoneutrality. Secara teoritis dikatakan bahwa kalau ayam dipelihara dalam temperature  zone thermoneutrality akan terjadi balance equasi. Heat production sama dengan head loss. Ini berarti, bahwa ayam tidak menggunakan energi untuk mengimbangi panas yang hilang karena perubahan temperature lingkungan. Namun keadaan di lapangan menjadi lain, karena zone ini sulit, bahkan tidak mungkin diperoleh. Hasil pengamatan di laboratorium, suhu brooder yang diperlukan oleh anak ayam mulai umur 1 hari sampai dengan 28 hari (4 minggu) adalah sebagai berikut (Tabel 1).

Tabel 1. Kebutuhan Temperatur dalam Brooder untuk Anak Ayam sampai dengan Umur 4 Minggu

 

Umur

Suhu

Minggu

Hari

(0F)

(0C)

I

1 – 7

93 – 95

33 – 35

II

8 – 14

88 – 90

31 – 32

III

15 – 21

83 – 85

29 – 30

IV

22 – 28

78 – 80

27 – 28

 

MAKSUD PEMELIHARAAN MASA GROWER

S

etelah periode starter pada anak ayam berakhir, maka pemeliharaan dilanjutkan dengan pemeliharaan masa grower. Masa pemeliharaan tersebut dinamakan juga rearing (7 – 20 minggu).

Prinsip sama dengan pemeliharaan starter, pada periode ini tidak lagi menggunakan pemanas, karena umurnya bertambah, maka kebutuhan luas kandang, kualitas dan kuantitas pakan, penerangan perlu diperhatikan.

 

HUBUNGAN PEMELIHARAAN MASA GROWER TERHADAP PERFORMAN AYAM PADA PERIODE BERIKUTNYA (LAYER)

K

eberhasilan pemeliharaan pada periode grower akan berakibat baik pada periode laying. Sedangkan kegagalan mungkin tidak akan menimbulkan kematian, tetapi memberikan hasil/produksi telur rendah/kurang baik.

 

keunggulan ayam ras petelur

  1. Laju pertumbuhan ayam ras petelur sangat pesat. Pada umur 4,5-5,0 bulan telah mencapai kedewasaan kelamin, dengan bobot badan antara 1,6kg-1,7kg. pada waktu itu,sebagian dari kelompok ayam tersebut telah berproduksi. Adapun ayam kampung, pada umur yang sama, bobot badannya baru mencapai sekitar 0,8kg.kedewasaan kelamin ayam kampung baru dicapai ummur 7-8 bulan.
  2. Kemampuan berproduksi ayam ras petelur cukup tinggi yaitu antara 250-280 butir/tahun, dengan bobot telur antara 50g-60g/tahun. Sementara, produksi ayam kampung hanya 30-40 butir/tahun, dengan bobot telur yang hanya berkisar antara 30g-40g/butir.
  3. Kemampuan ayam ras petelur dalam memanfaatkan ransum pakan sangat baik dan berkorelasi positif. Konversi terhadap penggunaan ransum cukup  bagus, yaitu setiap 2,2kg-2,5kg ransum dapat menghasilkan 1kg telur.dalam hal ini, ayam kampung tidak memiliki korelasi positif dalam memanfaatkan ransum yang baik dan mahal. Oleh karena itu, ayam kampung akan lebih ekonomis jika diberi ransum yang murah.
  4. Periode bertelur ayam ras petelur lebih panjang, bisa langsung selama 13-14 bulan, atau hingga ayam berumur 19-20 bulan. Walaupun ayam ras hanya mengalami satu periode bertelur, akan tetapi periode bertelurnya tersebut berlangsung sangat panjang dan produktif. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya periode mengeram pada ayam ras petelurtersebut. Sementara, ayam kampung mengalami periode bertelur berkali-kali, namun satu periode bertelurnya berlangsung sangat pendek, yaitu sekitar 15 hari. Periode bertelur ayam kampung terputus-putus, karena ayam kampung memiliki sifat atau periode mengeram.

Kelemahan ayam ras petelur

1 .  ayam ras petelur sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kemampuan adaptasi terhadaplingkungan lebih rendahbila dibandingkan dengan ayam kampung. Ayam ras petelur lebih mudah mengalami stress.

2. tuntutan hidup ayam ras petelur tinggi, yaitu selalu menuntut pakan dalam jumlah dan kualitas yang tinggi, air minum yang cukup, dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada peternak. Sehingga dengan demikian, ayam ras petelur tidak cocok bila diternakkan secara ekstensif.

3.memiliki sifat kanibalismeyang lebih tinggi daripada ayam kampung. Walaupun secara umum ayam ras memiliki beberapa keunggulan, akan tetapi jika kita membeli bibit ayam ras tersebut,tetapi harus teliti terlebih dahulu.

Pemberian Pakan

Ayam petelur memiliki dua fase, yaitu fase starter (umur 0 – 4 minggu) dan fase finisher (umur  4 – 6 minggu). Pemberian pakan dibedakan menurut fase umur tersebut. Perbedaannya terletak pada persentase zat gizi dan kuantitas pakan.

 

1. Pakan Fase Starter

Pakan fase starter tediri atas: protein 22 – 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%.

Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.

* Minggu pertama (umur 1 – 7 hari): 17 gram/hari/ekor.

* Minggu kedua (8 – 14 hari): 43 gram/hari/ekor.

* Minggu ketiga (umur 15 – 21 hari): 66 gram/hari/ekor.

* Minggu keempat (umur 22 – 29 hari): 91 gram/hari/ekor.

2. Pakan Fase Finisher

Pakan fase finisher terdiri atas: protein 18,1 – 21,2%, lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%.

Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.

* Minggu kelima (umur 30 – 36 hari): 111 gram/ hari/ ekor.

* Minggu keenam (37 – 43 hari): 129 gram/ hari/ ekor.

* Minggu ketujuh (umur 44 – 50 hari): 146 gram/ hari/ ekor.

* Minggu kedelapan (umur 51 – 57 hari): 161 gram/ hari/ ekor.

Selain pakan, ayam juga diberi minum. Air minum untuk hari pertama sebaiknya ditambah gula sebanyak 50 gram per 1 liter air dan obat antistres.

Pencegahan Penyakit

Serangan penyakit dapat dicegah dengan menjaga kebersihan kandang. Kandang harus selalu dibersihkan. Jika ada bagian yang rusak, harus segera diperbaiki.

Agar kebal dari penyakit yang disebabkan virus, ayam perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi untuk ayam antara lain vaksin NCD, vaksin cacar, dan vaksin anti-RCD. Ayam yang akan divaksinasi harus dalam keadaan sehat. Dosis vaksin juga harus tepat. Selain itu, alat yang digunakan juga harus steril.

Pemanenan

Telur sebaiknya dipanen tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Dengan demikian, kerusakan isi telur akibat virus dapat dihindari atau dikurangi. Telur selanjutnya diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Telur abnormal harus dipisahkan dari telur normal.

Telur normal berbentuk oval, bersih, dan berkulit mulus. Beratnya sekitar 57,6 gram dengan volume 66 cc. Sementara telur abnormal adalah telur yang terlalu kecil, terlalu besar, bentuknya lonjong, atau kulitnya retak.

Debeaking

Debeaking adalah suatu usaha pemotongan paruh unggas untuk tujuan tertentu. Penerapan program potong paruh ini hanya untuk unggas darat saja sedang untuk unggas air tidak perlu karena pada unggas air jarang terjadi sifat kanibal. Alat potong paruh disebut dengan debeaker.

Debeaker dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan cara kerjanya yaitu electric dan nonelectric. Potong paruh secara electric akan menyebabkan saraf bagian yang terpotong menjadi mati sehingga tidak perlu mengulanginya lagi sedang potong paruh secara non electric perlu mengulanginya karena saraf bagian yang terpotong tidak mati dan kemungkinan saraf itu akan tumbuh kembali. Potong paruh secara elektrik bisa memakai hot debeaker dan cold debeaker. Dari keduanya yang paling baik adalah hot debeaker karena saraf tidak tumbuh kembali.

Pemotongan ujung paruh ayam dilakukan secara berkala yaitu pada umur 1 sampai 1,5 bulan, 3 bulan dan 5 – 6 bulan. Tetapi perlu diingat bahwa waktu debeaking  tidak boleh bersamaan dengan waktu vaksinasi ataupun pada waktu pindah kandang, karena waktu itu ayam sedang mengalami stress. Sebaiknya pemotongan paruh dilakukan pada waktu ayam dalam keadaan tenang yaitu pada malam hari dan di udara sejuk. Sesudah dan sebelum pemotongan paruh ayam perlu diberi anti stress dalam air minumnya. Pemotongan paruh dilakukan dengan suatu alat yang disebut Debeaker. Debeaker ini merupakan alat yang menggunakan listrik untuk memanaskan pisaunya sebagai alat potong sekaligus untuk menghentikan perdarahan dan menghindari infeksi. Pemotongan paruh dilakukan dengan cara memotong paruh bagian atas setengah bagian, dan sedikit pada bagian bawah.

Pelaksanaan program ini biasanya dilakukan pada umur 1-9 hari, karena :

  1. Mempermudah penanganannya (handling)
  2. Pada saat umur-umur tersebut kemungkinan mengeluarkan darah masih sedikit
  3. Umur-umur tersebut sedikit mengalami stress apabila dibandingkan ketika dewasa

Tujuan dan manfaat debeaking:

  1. Mengefisiensikan penggunaan pakan. Unggas-unggas yang dipotong paruhnya tidak akan pilih-pilih makanan sedang pada unggas yang tidak dipotong paruhnya akan lebih memilih jenis makanan yang berbutir (crumble dan pellet) daripada jenis tepung (mash). Sehingga kebanyakan makanan yang tersisa adalah jenis tepung.
  2. Mengeliminasi sifat kanibal, baik kanibal antar ayam atau kanibal makan telurnya. Sifat kanibal antar ayam dapat dicegah dengan cara isolasi atau memisahkannya. Sedangkan kanibal memakan telur merupakan sifat genetik yang akan muncul apabila sifat fenotif mendukung seperti kepadatan kandang yang terlalu tinggi, keterlambatan pemberian pakan, ventilasi kurang, dan pakan yang kekurangan NaCl dan lain sebagainya.
  3. Meningkatkan pertumbuhan dan produksi telur, dengan efisiensi penggunaan pakan maka laju pertumbuhan diharapkan meningkat pula.
  4. Mencegah luka yang serius sehingga timbul kematian
  5. Mengurangi kegelisahan diantara kelompok unggas
  6. Mengurangi kebiasaan makan telur dan telur pecah
  7. Mengurangi kelakuan unggas mematuk bulu temannya

Di samping memberikan manfaat, potong paruh juga mempunyai sisi negatif seperti :

  1. Menimbulkan stress, karena setelah beberapa waktu pelaksanaan potong paruh unggas akan mengeluarkan darah walaupun jumlahnya kecil dan ini menghalanginya untuk makan dan aktifitas lainnya.
  2. Meningkatkan mortalitas, karena unggas yang stress tidak menutup kemungkinan akan sampai menyebabkan kematian kalau penanganan pasca potong paruh kurang mendapat perhatian.

Survey banyak membuktikan bahwa unggas-unggas yang dipotong paruhnya akan menampilkan produksinya lebih baik daripada unggas yang tidak dipotong paruhnya.

Program vaksinasi

Ayam ras petelur mudah terserang berbagai macam penyakit ayam. Maka tindakan yang dapat dilakukan yaitu dengan vaksinasi atau pemberian kekebalan(Imunitas) tubuh sehingga bila suatu waktu terserang oleh penyakit tubuh ayam menjadi relative kebal. Untuk vaksinasi digunakan cairan yang mengandung virus yang lemah yang disebut vaksin. Namun kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin itu waktunya terbatas. Itulah sebabnya perlu adanya vaksinasi berulang dengan melaksanakan program vaksinasi.
Untuk menghindari kejadian stress pada ayam, sebaiknya sehari sebelum vaksin, saat vaksin dan sehari setelah vaksin dapat diberikan vitamin atau antibiotika. Terutama antibiotika yang berfungsi untuk mencegah penyakit pada pernafasan.
Selain itu, Pelaksanaan vaksinasi yang telah dilaksanakan akan mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi jika memenuhi beberapa kriteria dan persyaratan sebagai berikut
- Ayam yang divaksin tidak sakit (dalam keadaan sehat)
- Vaksin yang digunakan berkualitas dan tidak kadaluarsa
- Pemberian vaksin sesuai dengan dosis yang dianjurkan
- Pada proses vaksinasi tidak terkena sinar matahari langsung
- Bahan pengencer vaksin adalah air bersih (Aquadest)
- Kondisi ayam tidak sedang stress (perilaku normal)
- Penyuntikan (vaksin suntik) harus tepat dan benar

Sanitasi merupakan tindakan pengendalian penyakit melalui kebersihan. Olleh karena itu untukmemperoleh lingkungan yang bersih, higienis dan sehat tindakan sanitasi harus dilaksanakan dengan teratur. Memang harus diakui bahwa rendahnya sanitasi sering menimbulkan peluang yang sangat besar untuk berkembangnya suatu penyakit. Seringkali virus yang virulensinya tinggi sejak DOC tiba. Keganasan seperti ii hanya bisa ditekan dengan tindakan sanitasi dan pengelolaan yang baik.

Dengan sanitasi keganasan organisme yang merugikan dapat ditekan.

 

  1. Sanitasi Lingkungan. Sasaran utama sanitasi lingkungan ini meliputi seluruh kandang dan segala macam peralatnya, misalnya gudang pakan, gudang telur, parit yang ada di sekitar kandang dan gudang. setelah kandang dikosongkan karena ayam di afkir, kandang tersebut harus segera di cuci, dan selanjutnya didesinfeksi. Untuk melakukan desinfeksi ini harus benar-benar difahami jenis desinfektan, sifat dan cara penggunaanya.
  2. Sanitasi petugas. Petugas adalah mereka yang sehari-hari bertugas di kandang, yang sehari-harinya berhubungan dengan ayam, baik yang bertugas terhadap pengelolaan ayam, penanganan terhadap produksi telur dan sebagainya. Namun yang perlu diperhatikan adalah para petugas tersebut tidak terlepas dari dunia luar, maka mereka juga dijadikan sasaran sanitasi. sebelu petugas mulai pekerjaanya di kandang, merekapun harus dalam keadaan higienis, bebas kuman.
  3. Sanitasi Terhadap ayam. Sasaran sanitasi tidak terbatas pada kandang, perlatan serta prtugasnya saja. Tetapi kelompok aymnya yang dikelola juga harus mendapatkan perlakuan sanitasi.

Upaya sanitasi terhadap kelompok ayam ini dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Ayam-ayam yang sakit segera dipindahkan dari kelompoknya, dan ditempatkan di kandang isolasi untuk mendapatkan penanganan khusus.
  2. Ayam-ayam yang mati bangkainya harus segera di bakar agar tidak menjadi sumber penyakit.

Penanganan bangkai yang tidak tepat, misalnya yang dilakukan dengan penguburan atau pemanfaatan bangkai sebagai pakan hewan lain adalah tidak benar, karena hal ini akan membantu menyebarkan bibit penyakit pada ayam yang sehat.