Korelasi

2012
04.11

KORELASI

A.  Pengertian Korelasi

Korelasi merupakan hubungan antara dua variabel.

Misalnya (Syamsuddin, 2005):

-          Hubungan pupuk dengan populasi padi

-          Hubungan pengangguran dengan tindak kejahatan

Koefisien korelasi dapat dilambangkan dengan: r

Dimana -1 ≤ r ≤ 1

         Korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel atau lebih. Untuk menentukan tingkat hubungan antara variabel-variabel dapat digunakan suatu alat statistik yang disebut koefisien yang dipilih adalah yang menampakkan perbedaan dalam beberapa variabel penting yang sedang diteliti. Untuk menghitung besarnya korelasi digunakan teknik statistik yaitu untuk menghitung antar dua atau lebih variabel. Ada dua jenis statistik untuk menghitung korelasi (Hamdani, 2007):

a. Koefisien korelasi bivariat adalah statistik yang dapat digunakan oleh peneliti untuk menerangkan keeratan hubungan antara dua variabel.

b. Metode korelasi multi variat adalah statistik yang digunakan peneliti untuk menggambarkan dan menentukan hubungan antara tiga variabel atau lebih.

B.  Macam-macam Korelasi

Korelasi dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu (Syamsuddin, 2005):

  1. Korelasi positif

Merupakan perubahan satu variabel searah dengan perubahan variabel lain (r mendekati 1)

Misalnya saja jia gaji naik maka harga kebutuhan pokok juga naik.

2. Korelasi negatif

Merupakan perubahan satu variabel berlawanan arah dengan perubahan variabel lain

(r  mendekati -1)

Misalnya saja juka harga barang meningkat maka jumlah konsumen berkurang.

3. Korelasi Nihil (nol)

Merupakan perubahan satu variabel tidak mempengaruhi perubahan variabel lain (r mendekati 0).

Misalnya saja jika tinggi badan bertambah maka tidak menjadikan warna kulit menjadi putih.

C.    Menentukan Nilai Koefisien Korelasi dan Nilai Koefisien Penentu

Menurut Syamsuddin (2005) bahwa koefisien korelasi merupakan untuk mengukur derajat hubungan kedua variabel. Sedangkan koefisien penentu merupakan untuk mengukur tingkat korelasi. Dengan kata lain korelasi dapat diartikan juga sebagai  hubungan antara dua buah variabel, jika nilai suatu variabel naik, sedangkan nilai variabel yang lain turun, maka dikatakan terdapat hubungan negatif serta sebaliknya.

Harus diingat bahwa nilai koefisien korelasi yang kecil (tidak signifikan) bukan berarti kedua variabel tersebut tidak saling berhubungan. Mungkin saja dua variabel mempunyai keeratan hubungan yang kuat namun nilai koefisien korelasinya mendekati nol, misalnya pada kasus hubungan non linier. Dengan demikian, koefisien korelasi hanya mengukur kekuatan hubungan linier dan tidak pada hubungan non linier. Harus diingat pula bahwa adanya hubungan linier yang kuat di antara variabel tidak selalu berarti ada hubungan kausalitas, sebab-akibat. Kedua pasang variabel, x dan y bisa saja nilai koefisien korelasinya tinggi sebagai akibat adanya faktor z.

Sebagai contoh, suhu (x) dengan tekanan udara (y) mungkin saja nilai koefisien korelasinya tinggi, namun belum tentu keduanya menunjukkan adanya hubungan sebab akibat (misal, semakin rendah suhu udara maka tekanan udara akan semakin rendah). Adanya korelasi suhu dan tekanan udara tersebut bisa saja semata-mata sebagai akibat dari perubahan ketinggian (z) suatu tempat, semakin tinggi tempat maka baik suhu ataupun tekanan udara akan semakin menurun. Dengan demikian, Korelasi hanya menjelaskan kekuatan hubungan tanpa memperhatikan hubungan kausalitas mana yang dipengaruhi dan mana yang mempengaruhi. Kedua variabel masing-masing bisa berperan sebagai Variabel X maupun Variabel Y.

Rumus Koefisien Korelasi yaitu (Syamsuddin, 2005):

a.      Rumus Karl Pearson

Keterangan:

r = koefisien korelasi

n = banyak / jumlah pasangan data

b.      Rumus Momen Perkalian

Keterangan:

x dan y memakai huruf kecil dimana:

c.       Rumus koefisien penentu (Kp)

Kp = r2 x 100 %

Dari ketiga rumus diatas akan didapat koefisien korelasi (r) lalu diinterpretasikan. Untuk interpretasi dapat dilihat tabel berikut:

Besarnya r Interpretasi
0,800 < r < 10,600 < r < 0,600

0,400 < r < 0,600

0,200 < r < 0,400

0,000 < r < 0,200

TinggiCukup

Agak Rendah

Rendah

Sangat Rendah

Apabila diperoleh angka negatif, berarti kelasnya negatif, ini menunjukkan kebalikan urutan indeks korelasi tidak pernah lebih dari 1 (satu).

D.    Karakteristik korelasi

Karakteristik korelasi terdiri dari (Tandelilin, 2010):

  • Nilai r selalu terletak antara -1 dan +1
  • Nilai r tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x, variabel y, atau keduanya dikalikan dengan suatu nilai konstanta (c) tertetu (asalkan c ≠ 0).
  • Nilai r tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x, variabel y, atau keduanya ditambahkan dengan suatu nilai konstanta (c) tertentu.
  • Nilai r tidak akan dipengaruhi oleh penentuan mana variabel x dan mana variabel y. Kedua variabel bisa saling dipertukarkan.
  • Nilai r hanya untuk mengukur kekuatan hubungan linier, dan tidak dirancang untuk mengukur hubungan non linier

E.     Asumsi

Asumsi untuk analisis korelasi:

  1. Sampel data berpasangan (x, y) berasal dari sampel acak dan merupakan data kuantitatif.
  2. Pasangan data (x, y) harus berdistribusi normal.

Harus diingat bahwa analisis korelasi sangat sensitif terhadap data pencilan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hamdani, M. 2007. Statistika Deskriptif Dalam Bidang Ekonomi dan Niaga. Erlanga. Jakarta.

Syamsuddin. 2005. Matematika Kelompok Bisnis dan Manajemen.                PT. Grasindo. Jakarta.

Tandelilin, E. 2010. Portofolio dan Investasi, Teori dan Aplikasi. Edisi Pertama. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Your Reply

CAPTCHA Image
*