BAHAN PENGEMAS UNTUK KENTANG, UBI JALAR DAN BABY FOOD

2011
04.09

Bahan pengemas yang cocok untuk digunakan dalam kentang, ubi jalar dan baby food adalah sebagai berikut :

  1. A. BABY FOOD
  2. 1. Susu formula

Susu formula bagi bayi cocok dikemas menggunakan polikarbonat (PC)

PC dengan nama dagang Lexan dan Merlon termasuk termoplastis non etilen dengan sifat-

sifat antara logam ringan, gelas dan bahan plastik, dan biasanya digunakan untuk kemasan jus buah- buahan, bir, wadah pembagi yang otomatis dan untuk botol susu bayi. Sifat-sifat PC adalah :

-          tidak berbau dan tidak berwarna (transparan)

-          kuat dan tahan panas, sehingga cocok untuk bahan pangan yang disterilisasi

-          tahan terhadap asam lemah, zat pereduksi atau pengoksidasi, garam, lemak serta hidrokarbon alifatik.

-          terurai oleh alkali, amin, keton, eser hidrokarbon aromatik, dan beberapa jenis alkohol

-          larut dalam metilen klorida, etilen diklorida dan dioktana dari kresol

  1. 2. Buah (melon, alpukat, semangka, pir)

Untuk buah cocok menggunakan pengemas karton kerdut (corrugated fibreboard). Corrugated box disebut juga karton bergelombang atau karton beralur terdiri dari 2 macam corrugated sheet, yaitu :

-   kertas kraft (kraft liner) untuk lapisan luar dan dalam

-   kertas medium untuk bagian tengah yang bergelombang

Ukuran berat (grammage) dari kertas kraft dan kertas medium adalah sebagai berikut :

Kertas kraft                                                  Kertas medium

1. 125 gram/m2                                                    1. 112 gram/m2

2. 150 gram/m2                                                    2. 115 gram/m2

3. 200 gram/m2                                                    3. 125 gram/m2

4. 300 gram/m2                                                    4. 150 gram/m2

 

Corrugated sheet ada beberapa macam, yaitu :

-  single wall            : satu lapis dengan ketebalan ± 3 mm (B/Flute) dan 4 mm (C/Flute)

-  Double wall            : 2 lapis dengan ketebalan ± 7 mm (CB/Flute)

- Triple Wall             : 3 lapis, dan lain-lain.

Di Indonesia jenis yang lazim digunakan adalah single wall dan double wall.                       Penggunaan corrugated box ditentukan oleh : berat bahan, sifat bahan (self stacking atau tidak),fragile  atau tidak, menggunakan inner karton atau tidak dan lain-lain. Bahan baku untuk pembuatan karton bergelombang adalah kertas kraft, bogus atau karton dari merang.

Berdasarkan dimensi alur dan bagian karton yang datar, sera jumlah alur untuk satuan panjang tertentu  maka terdapat berbagai jenis karton yang dalam istilah perdagangan disebut flute. Setiap flute mempunyai ketahanan terhadap getaran, tekanan, kerapuhan, tumpukan dan daya jatuh yang berbda-beda.  Arah peletakan alur dapat horizontal atau vertikal, sehingga dikenal flute A horizintal atau flute A vertikal, flutte B horizontal atau flute B vertikal dan seterusnya. Jenis karton bergelombang yang paling umum adalah jenis RSC (Regular Slotted Container)                              atau wadah celah teratur.  Jenis-jenis kartton bergelombang dapat dilihat pada gambar.

 

Keterangan : A = Wadah Celah Teratur (RSC)

B = Wadah Celah Terpusat (CSSC)

C = Wadah Celah Tumpang Tindih (FOL)

D = Bliss Box No. 4

E = Pembungkus Buku

F = Kotak Laci Tiga

 

Gambar. Berbagai jenis kotak karton kerdut

 

Corrugated box tanpa inner (individual box) digunakan sebagai kemasan primer untuk mengemas

buah dan sayur, ikan beku dan lain-lain. Untuk pengemasan buah atau sayuran segar, maka pada dinding kotak harus diberi lubang ventilasi. Penggunaan karton bergelombang pada produk yang dikemas dengan botol gelas atau plastik dapat memakai partition divider atau pelapis untuk mencegah terjadinya benturan.                   Kemasan karton berelombang ada juga yang diberi lilin (dengan proses perembesan) khusus untuk produk sayuran segar.

Selain itu, buah juga dapat dikemas dengan menggunakan kayu sebagai pengemas tersier yaitu kemasan yang digunakan untuk mengemas kemasan lain yang ada di dalamnya.

 

 

  1. 3. Makanan padat (biskuit, sereal, bubur)

Cocok dikemas menggunakan

  1. LDPE. LDPE dihasilkan dengan cara polimerisasi pada tekanan tinggi,  mudah dikelim dan harganya murah.  Dalam perdagangan dikenal dengan nama alathon, dylan dan fortiflex.  Kekakuan dan  kuat tarik dari LDPE lebih rendah daripada HDPE (modulus Young 20.000-30000 psi, dan kuat tarik 1200-2000 psi), tapi karena LDPE memiliki derajat  elongasi yang tinggi (400-800%) maka plasik ini mempunyai kekuatan terhadap kerusakan dan ketahanan untuk putus yang tinggi.  Titik lelehnya berkisar antara 105-115oC. Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60 derajat celsius sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini dapat didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia. Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.
  2. Aluminium foil.

Aluminium foil adalah bahan kemasan berupa lembaran logam aluminum yang padat dan  tipis dengan ketebalan <0.15 mm. Kemasan ini mempunyai tingkat kekerasan dari 0  yaitu sangat lunak, hingga H-n  yang berarti keras.  Semakin tinggi bilangan H-, maka aluminium foil tersebut semakin keras.  Ketebalan dari aluminium foil menentukan sifat protektifnya.  Jika kurang tebal, maka foil tersebut dapat dilalui oleh gas dan uap.  Pada ketebalan  0.0375 mm, maka permeabilitasnya terhadap uap air = 0, artinya foil tersebut tidak dapat dilalui oleh uap air.  Foil dengan ukuran 0.009 mm biasanya digunakan untuk permen dan susu, sedangkan foil dengan ukuran 0.05 mm digunakan sebagai tutup botol multitrip.

Sifat-sifat dari aluminium foil adalah hermetis, fleksibel, tidak tembus cahaya sehingga dapat digunakan untuk mengemas bahan-bahan yang berlemak dan bahan-bahan yang peka terhadap cahaya seperti margarin dan yoghurt.  Aluminium foil banyak digunakan sebagai bahan pelapis atau laminan.

Kombinasi aluminium foil dengan bahan kemasan lain dapat menghasilkan jenis kemasan baru yang disebut dengan retort pouch.  Syarat-syarat retort pouch adalah harus mempunyai daya simpan yang tinggi, teknik penutupan mudah, tidak mudah sobek bila tertusuk dan tahan terhadap suhu sterilisasi yang tinggi. Retort pouch mempunyai keunggulan dibanding kaleng, yaitu :

-    luas permukaan besar dan kemasannya tipis sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi

panas yang lebih cepat dan lebih efisien.

-    dengan berkurangnya waktu sterilisasi, maka mutu produk dapat diperbaiki, karena nilai

gizinya lebih tinggi dan sifat-sifat sensori seperti rasa, warna dan tekstur dapat dipertahankan.

-    dari sisi konsumen, retort pouch lebih disukai karena praktis dan awet.

-    produk yang telah disterilisasi dalam kemasan retort pouch dapat langsung dikonsumsi tanpa harus dipanaskan.

-    pemanasan cukup mudah, yaitu dengan cara memasukkan kemasan retort pouch ke dalam air

mendidih selama 5 menit.

-    dapat  dipanaskan dalam microwave oven

-    mudah dalam hal menyobek atau membuka kemasan

-    harga lebih murah, karena dapat menghemat penggunaan garam, energi dan peralatan.

Jumlah larutan gula/garam yang digunakan sebagai pengisi dapat dikurangi sampai 30%,             energi untuk mensterilkan 25% lebih irit dibanding kaleng dan peralatan dalam retort pouch line berlangsung dengan kapasitas maksimum.  Untuk 60 pouch/menit/mesin diperlukan hanya 3 jenis mesin yaitu mesin pembentuk, pengisi dan penutup. Contoh kemasan retort pouch adalah kemasan yang terdiri dari poliester-adhesif-aluminium foil-adhesif-polipropilen, dengan susunan sebagai berikut :

-    film polister dengan tebal 0.5 mil di bagian luar

-    kertas aluminium dengan tebal 0.0035 inchi di bagian tengah

-    bagian dalam dilaminasi dengan polipropilen

Poliester dan polipropilen dapat bekerja sebagai adhesif bagi aluminium foil dan dapat ditutup secara kuat dengan pemanasan. Fungsi poliester adalah untuk memberikan ketahanan dan kekuatan pada kemasan. Poliester juga bersifat tahan tekanan dan dapat dicetak, sehingga pencetakan label kemasan dapat dilakukan di bagian poliester ini.  Aluminium foil memberikan perlindungan bahan

sehingga tahan disimpan tanpa pembekuan dan pendinginan, karena permeabilitasnya yang rendah terhadap sinar, uap air, O2 dan mikroba.  Polipropilen bersifat inert,  dapat direkatkan secara kuat dengan panas (heat seal) dan mempunyai daya simpan (shelf life) sama dengan kaleng. Bentuk lain dari kantung aluminium foil adalah bag in box system, yang terdiri dari 3 (tiga) lapisan bahan kemasan yaitu polietilen-saran- polietilen.  Kemasan ini digunakan untuk susu, wine, minyak goreng dan kacang.  Susu homogenisasi yang dikemas secara aseptis dengan kemasan bag in box system, mempunyai masa simpan 9 bulan pada susu kamar.

 

  1. B. KENTANG

Kentang yang akan diekspor cocok dikemas menggunakan kayu.

Sifat-sifat kayu ditentukan oleh tipe kayu, perbedaan tipe kayu akan menyebabkan perbedaan  sifat-sifat kayu.    Beberapa sifat-sifat kayu yang penting dalam pembuatan kemasan kayu adalah :

1. Sifat Pengerjaan Kayu

Banyak sekali jenis-jenis kayu yang dapat dijadikan sebagai kemasan, dan masing-masing jenis/spesies mempunyai sifat pengerjaan kayu yang tersendiri, misalnya pemakuan, mesin yang digunakan, kekerasan kayu dan lain-lain. Sifat-sifat pengerjaan kayu ini penting diketahui apabila kayu akan dipasarkan atau dipakai untuk industri tertentu. Proses pengerjaan kayu meliputi pemotongan, pembelahan, pengetaman, pembentukan, pembubutan, pembuatan lubang persegi, pengeboran dan pengampelasan.

Kekerasan kayu dapat diuji dengan mengukur :

-   Sudut pemotongan ideal untuk melihat kekuatan pisau

-   Penumpulan dengan menggunakan silika atau bahan pengasah lainnya.

-   Kemudahan pemakuan (pada kayu yang keras maka paku tipis akan menjadi bengkok atau patah).

-   Kecenderungan pecah ketika dipaku atau dikeringkan.

-   Pengeleman (beberapa kayu yang keras sulit untuk dilem).

2. Densitas Kayu

Densitas relatif atau specific gravity adalah perbandingan antara berat bahan dengan volume air yang dinyatakan dalam kg/m3. Nilai densias relatif dari kayu merupakan nilai yang tidak tetap, karena berat kayu per unit volume akan berubah jika kadar air kayu berubah. Kayu yang mempunyai densitas yang tinggi mempunyai kekuatan dan daya tahan yang baik terhadap pemakuan. Kayu yang baik digunakan untuk kemasan sebaiknya kayu yang memiliki densitas tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kayu dengan densitas 650 kg/m3 meskipun tahan terhadap tekanan tetapi tidak dapat dipaku dengan baik, dan kayu dengan densitats < 350 kg/m3 mempunyai kekuatan mekanis yang rendah.

Kayu dengan densitas tinggi (600-700 kg/m3) dapat digunakan untuk tepi papan dan balok  untuk palet atau sebagai bagian dari bantalan poros dengan beban tinggi.  Sedangkan kayu yang mempunyai densitas rendah (350-450 kg/m3) digunakan untuk komponen-komponen pengemas seperti bilah-bilah kemasan kayu ringan dan berkawat, bahan pelapis ujung kotak/peti, palet sekali pakai atau bagian dari kotak.

3. Kadar Air Kayu

Kadar air kayu adalah perbandingan antara beratt air di dalam kayu dengan berat kayu yang  telah dikeringkan dikali dengan 100%. Kayu mempunyai sifat higroskopis, sehingga jika suhu dan kelembaban relatif di sekitarnya berubah maka kadar air kayu juga akan berubah. Kadar air kayu yang berkeseimbangan dengan suhu dan RH di lingkungan penyimpanan disebut dengan kadar air keseimbangan.  Penyimpanan kayu sebaiknya dilakukan pada kadar air keseimbangannya, sehingga kadar airnya tidak mengalami perubahan selama penyimpanan, selama suhu dan RH penyimpanan tidak berubah.

Kadar air kayu yang akan diolah biasanya 30-40%, karena pada kadar air ini kayu mudah  ditangani, tetapi penyusutan lebih mudah terjadi daripada jika kadar airnya 20%.  Untuk mengurangi kadar air kayu maka dilakukan pengeringan kayu.

 

PEMBUATAN KEMASAN KAYU

Sebelum dibuat menjadi kemasan, maka dilakukan konversi terhadap kayu yang telah ditebang dari pohonnya.  Kayu hasil konversi ini kemudian direkatkan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan bahan-bahan pereka. Jenis bahan perekat dan metode perekatan akan mempengaruhi kekuatan dari kemasan kayu yang dihasilkan.

1. Jenis-jenis kayu hasil konversi

a. Kayu Gergajian

Kayu gergajian dibuat dengan cara membuang kulit dari kayu log kemudian dilakukan pemotongan dengan panjang dan lebar sesuai kebutuhan dengan menggunakan mesin penggergajian (Sawmill). Ukuran kayu yang akan digunakan sebagai bahan pengemas biasanya adalah 50 x 150 mm atau 25 x 20mm.

b. Kayu Lapis

Kayu lapis dibuat dengan cara mengupas kayu log membentuk lapisan veneer dengan cara seperti kerja pengerut pensil. Tahap pertama dalam pembuatan kayu lapis adalah bentuk log dengan kadar air yang tinggi dan konsisten. Mesin pengupas akan mengubah log menjadi ukuran-ukuran veneer  yang permukaannya halus dan mempunyai kecenderungan terhadap retak/robek yang kecil. Lapisan veneer yang masih basah dikeringkan dengan alat pengering untuk menurnkan kadar airnya. Lapisan veneer  ini selanjutnya direkatkan satu sama lain dengan menggunakan perekat resin sintesis.  Kayu lapis untuk kemasan biasanya mempunyai jumlah lapisan 3,4,5 atau 7 lapisan.

c. Papan Serat

Papan serat banyak diaplikasikan pada nampan-nampan untuk buah dan sayuran yang diperkuat dengan pengikat.  Kategori papan serat yang cocok untuk bahan pengemas adalah :

-    Hardboard  standar dengan densitas 800 kg/m  , tebal 2-6 mm.

-    Hardboard tahan air dengan densias 960 kg/m  , tebal 3-12 mm

-    Medium board dengan densias 500-900 kg/m  , tebal 8-12 mm

d. Papan Partikel

Papan partikel dibuat dari serpihan-serpihan kayu sisa dan direka dengan perekat resin sintesis.  Jenis-jenis papan partikel yaitu :

-    Papan kayu chip (wood chipboard)

-    Papan kayu flake (flakeboard )

-    Papan kayu wafer (waferboard)

-    Oriented strandboard

Flakeboard, waferboard dan oriented strandboard merupakan jenis papan partikel yang sesuai

digunakan untuk bahan pengemas karena ringan dan mudah dipaku.

2. Bahan Perekat

Bahan perekat yang digunakan dalam pembuatan kemasan kayu akan mempengaruhi batas keselamatan selama pengangkutan sehingga perlu diperhatikan.  Jenis bahan perekat yang dapat  digunakan adalah :

-   baja (tradisional)

-   paku

-   kawat jepret (staples)

-   lem flexible (perekat dari kayu)

 

3. Jenis Metoda Penggabungan/Pengikatan

a.  Pengikatan dengan kawat jepret (stapling), yang digunakan  untuk konstruksi palet khusus

b.  Pengikatan dengan tali pengikat (strapping)

Pengikatan dengan tali digunakan untuk mengemas secara otomatis atau semi otamatis.

Pengikatan/perekatan dilakukan di bawah tekanan Diaplikasikan pada boks kayu, kotak dan palet dan banyak digunakan dalam aplikasi pengemasan karena:

-    menguatkan kemasan

-    melindungi bahan yang dikemas dari resiko kerusakan selama pengangkutan.

-    murah, terutama untuk konstruksi kemasan yang tipis

-    dapat digunakan sebagai metode penutupan peti di damping metode lain, yaitu dengan menggunakan ulir dan paku.

Jumlah, ukuran dan jenis tali pengikat tergantung pada bentuk, ukuran dan berat pengemas, bahan pengemas serta penanganannya.  Ada 3 jenis tali pengikat yaitu :

-    Baja dengan bentuk datar, melingkar dan oval.  Kekuatan tarik antara 300-1300 N/ 2 mm  . Permukaannya dapat dilapisi dengan seng, tembaga, wax atau cat atau tanpa pelapisan (warna natural).

-    Weftless (pita kain berpori), terdiri dari lembaran-lembaran yang bersifat kontiniu dari lapisan teksti; bertegangan tinggi. Diterapkan secara paralel dengan sistem pelekatan yang menggunakan bahan perekat.            Lebarnya sekitar 6-25 mm

-    Plastik suhu tinggi (thermoplastik) dengan lebar antara 5-25 mm, diterapkan membentuk silang pada permukaan segi empat panjang.

c. Pengikatan dengan konstruksi sisi logam (metal edge)

Metode pengikatan dengan konstruksi sisi logam diterapkan dalam merakit peti/kotak dari kayu lapis. Penyisian logam dilakukan dengan ketebalan yang cukup sehingga dapat dibengkokkan dan mempunyai daya lentur yang tinggi.  Penyisian logam biasanya digabung dengan paku, paku sumbat/keling yang bercabang dua atau kawat jepret (staples)

d. Pengikatan dengan ikatan kawat (wire bound)

Pada metode ini , bagian samping, atas dan bawah dari boks kayu digabung dengan kawat yang ditekuk untuk memperoleh bentuk kotak yang kuat.  Kedua ujung kotak dikonstruksikan secara terpisah serta setiap sisi samping, atas dan bawah di kunci dengan kawat.

4. Pemakuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan kemasan kayu :

-    Jenis paku

-    Ukuran paku

-    Pembuatan spasi atau penempatan paku (posisi paku)

-    Ketebalan kayu dan seratnya

Jenis-jenis paku  yang digunakan dalam pembuatan kemasan kayu adalah :

-    paku kotak standar (umum)                       – ulir kayu

-    paku berlapis resin                             – paku jepret

-    paku lapis seng                                – paku jepret berlapis resin

-    paku berputar                                  – paku beralur (bercincin)

 

JENIS-JENIS KOTAK DAN PALET KAYU

1.  Kotak Kayu Gergajian

Kotak/peti kayu gergajian dibuatd ari kayu gergajian yang disusun atau ditumpuk sesuai dengan ukuran yang mempunyai tebal, lebar dan panjang yang sama.  Apabila panjang kayu tidak sama, maka perbedaan antara kayu terpanjang dan terpendek tidak boleh melebihi 30 cm dan harus rata pada salah satu ujungnya.

Bentuk kotak kayu gergajian adalah berbentuk  box dan case, dengan 11 disain dasar, yaitu :

  • Disain dasar kotak berukuran 500 x 300 x 200 mm (p x l x t) dengan tebal kayu sebesar 0.8  mm dan untuk komponen dasar tebalnya 15 mm yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
  • Combed Tenon Box (20-100 kg). Masing-masing ujung sisi dilekatkan dengan combing (tenons) dan direkat dengan perekat eksternal.
  • Internally battend box. Modifikasi dari jenis kotak dasar tetapi di dalamnya dilengkapi dengan pengikat bentuk segitiga atau segiempat.
  • Kotak dengan pengikat ujung (Battened End Box, 50-300 kg)
  • Kotak dengan Panel Ujung (Paneled End Box, 50-400 kg). Dilengkapi dengan pengikat untuk bagian atas dan bawah. Battened Top (Base Case), 50-350 kg
  • Kotak dengan pengikat keliling (Birth Battened Case, 100-400 kg)
  • Kotak panel dan pengikat keliling (Girth Battened and Panneled Case), max 500 kg.
  • Kotak panel dengan tiga pengikat (Triple Battening and Panneled Case)
  • Tiga pengikat dengan Ceruk Panel (Triple Battened with Recessed Panel, 800 kg).
  • Girth Battened Single Braced Case (450 kg).

2.  Kotak Kayu lapis

Penggunaan kotak kayu lapis cukup luas untuk transportasi karena :

-   ukuran lebih tipis tetapi kekuatannya sama seperti papan kayu gergajian.

-   Lebih kecil dan lebih ringan (per unit volumenya)

-   Panel lebih seragam

-   Daya tahan terhadap retak tinggi

-   Pemakuan mudah

-   Memberikan perlindungan hawa lebih mudah

 

Ukuran standar dari kotak kayu lapis adalah  2440 x 1224 mm atau 2400 x 1200 mm. Ukurannya yang besar mengurangi faktor flekxibilitasnya, selain itu juga banyak menghasilkan bahan sisa yang tidak terpakai (limbahnya banyak). Untuk mengatasinya dibuat kayu lapis dengan dua yang berbeda tiap lembarnya dan penggabungan sisa-sisa kayu lapis dengan menggunakan pengikat dari kayu lunak.

Jenis-jenis kotak kayu lapis :

1. Basic Plywood Box, maksimum 30 kg

2. Battened Top (Base Case), maksimum 40 kg

3. Kotak kayu Lapis Berpanel (Panneled Plywood Case), 300 kg

4. Lock Corner Panneled, 400 kg.

5. Lock Corner/Compression Battened, 600 kg.

3. Kotak Berbingkai (Large Framed Cases)

Jenis kotak ini menjadi alternatif pengganti kotak kayu gergajian dan kotak kayu lapis yang  berukuran besar dan berat.  Dua tipe basis dari kotak kayu berbingkai, yaitu : tipe penyangga (skidtype) dan tipe jendela (sill type).

4. Peti Krat (Crates)

Peti krat digunakan sebagai pengemas selama pengangkutan. Untuk memperkuat peti krat maka rasio antara tinggi kotak dan panjang harus diperhatikan, untuk barang yang berat maka rationya  adalah 1 : 2 (maksimum).

5. Kotak Berkawat (Wirebound Boxes and cases)

Kotak berkawat yaitu peti kayu dimana lembaran sisi-sisi samping, atas dan dasar diikat dengan tali kawat.  Kedua ujung kotak dikonstruksikan secara terpisah, lalu kedua ujung tersebut dikuatkan dengan cara penguncian sehingga menjadi satu unit boks yang komplit.

6. Kotak dengan Sisi Logam (Metal Edge Boxes and Cases)

Kotak dengan sisi logam menggunakan pemancang logam pada pinggir kotak disamping pemakuan pengikat kayu lunak untuk membentuk suatu badan panel.

 

PENGAWASAN MUTU KAYU

Mutu kayu gergajian ditetapkan berdasarkan sistem persyaratan cacat yang terdapat pada kayu, baik jenis, ukuran, jumlah, keadaan dan penyebaran cacat.

1.   Penilaian Cacat Lengkung

Penilaian cacat lengkung dilakukan dengan cara mengukur kedalaman lengkung, kemudian dibandingkan dengan panjang kayu dalam satuan persentase.

2.   Penilaian cacat serat miring

Penilaian cacat serat miring dilakukan dengan cara menentukan salah satu serat miring yang arahnya dominan, kemudian diukur jarak simpang serat tersebut dan dibandingkan dengan panjang serat sejajar sumbu. Jika kayu yang akan digunakan untuk kemasan atau akan diekspor mempunyai kadar air yang tinggi, maka dapat diberikan perlakuan kimiawi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya noda parit atau noda biru yang disebabkan oleh jamur. Bahan kimia yang biasa digunakan adalah larutan garam berkonsentrasi rendah seperti garam sodium dari pentachlorophenol  (Na PCP), yang harganya murah tetapi cukup efektif untuk mencegah noda.

Penggunaan PCP sebagai bahan anti noda diizinkan oleh Badan Kesehatan dan Keselamaan di Inggris, dan juga sudah digunakan di negara-negara Skandinavia, USA, Asia Tenggara dan Jepan. Penggunaan bahan kimia anti noda di negara lain adalah garam-garam inorganik seperti borat dan copper atau komponen organik amonium.

Penggunaan kemasan kayu dalam pengiriman komoditi ekspor, harus mendapatkan perlakuan khusus yang bertujuan untuk menghidari adanya mikroorganisme pengganggu yang menyebabkan kontaminasi.  Ada beberapa perlakuan terhadap kayu yang dapat diberikan yaitu :

-    Pemanasan (Heat Treatment)

Pemanasan dilakukan dalam waktu dan suhu yang cukup sehingga suhu pada inti kayu  minimal 56oC selama minimal 30 menit serta menurunkan kadar airnya hingga 20%.

-    Fumigasi

Fumigasi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia metil bromida dengan dosis 2 kg per 100 m  kayu, suhu ruang pada 21  C selama 24 jam, atau selama 6 jam pada keadaan panas kering (74oC).

-    Pengeringan dengan alat pengering hingga kadar airnya 14%

-    Penguapan pada suhu 82  C selama 4 jam.

-    Pencelupan dalam larutan borat pada suhu 93  C selama 3.5 jam.

 

APLIKASI KEMASAN KAYU UNTUK BAHAN PANGAN

Kemasan kayu yang berbentuk peti, krats atau tong kayu merupakan bentuk kemasan yang

umum untuk pengangkutan berbagai komoditas dalam perdagangan inernasional.  Penggunaan peti kayu untuk transportasi botol minuman baik untuk melindungi botol agar tidak pecah. Pengemasan buah segar dalam transportasi hingga saat ini juga masih banyak dilakukan. Kemasan kayu biasanya digunakan sebagai kemasan tersier yaitu kemasan yang digunakan untuk mengemas  kemasan lain yang ada di dalamnya.

Ada dua metode penanganan yang berbeda untuk pengemasan bahan pangan, penyimpanan dan pengiriman, yaitu :

1.  Kotak dan Nampan , untuk ukuran kecil dengan berat sampai 20 kg.

2. Tabung kontainer untuk produk-produk seperti kentang dan apel (berat sampai 150 kg).

Kedua sistem ini dilengkapi dengan penggunaan alat dorong (forklift ). Bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan kemasan kayu untuk bahan pangan adalah kayu gergajian, kayu lapis tipis dan papan keras (hard board). Kayu yang berwarna terang lebih baik dari kayu yang berwarna gelap, karena kayu yang berwarna gelap biasanya banyak mengandung tanin, yang jika berhubungan langsung dengan bahan yang dikemas akan mengurangi kesegarannya. Kayu yang digunakan juga harus tanpa perlakuan kimiawi. Penguatan dilakukan dengan menggunakan kawat jepret (staples), paku atau kawat lingkar yang dilapisi bahan anti karat. Ketebalan kayu sekitar 3-5 mm untuk kawat jepret dan kawat lingkar serta 100 mm untuk pemakuan.

Kemasan kayu yang sudah berisi bahan harus diberi tanda yang memuat keterangan isi dari kemasan dengan menggunakan bahan yang mudah dilihat dan tidak mudah luntur.  Tanda atau label pada kemasan kayu harus berisi informasi tentang :

-   Nama barang yang dikemas

-   Ukuran

-    Isi (jumlah atau volume bahan)

-   Mutu Kayu

-   Jenis Kayu

-   Tanda pengenal dan nama perusahaan

PALET KAYU

Palet kayu banyak digunakan untuk pergerakan barang dari satu departemen ke departemen lain

dalam suatu perusahaan, atau dari produsen ke konsumen sebagai unit beban. Palet kayu dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

1. palet untuk satu kali perjalanan (expendable pallets)

2. palet yang bersifat permanen atau untuk beberapa kali perjalanan.

Palet permanen bisa tahan sampai 15 bulan. Bagian bawah dari palet kayu terdiri atas dasar dan kaki kemasan yang biasanya berbentuk datar dan terbuat dari papan yang tersusun teratur dan memiliki jarak tertentu. Kayu gergajian pada palet mempunyai minimum 2 kaki penyangga yang sesuai dengan panjang kemasan.  Dasar alas kemasan berupa papan kering dan kuat berukuran tebal 2 cm dan lebar 10-15 cm. Kaki alas kemasan mempunyai tebal 5.0-7.5 cm, lebar 7-10 cm dan panjang disesuaikan dengan panjang kemasan. Kaki alas kemasan bisa dilepas atau diikat bersama kemasannya dengan paku pada alas.

 

  1. C. UBI JALAR

Pengemasan pada ubi jalar siap ekspor bertujuan untuk melndungi umbi dari kerusakan mekanis karena pengangkutan dan kerusakan fisiologis karena pengaruh lingkungan (suhu, kelembapan dan cahaya matahari).

Pengemasan umbi harus dilakukan dengan baik dan benar agar mutu umbi dan kesegaran umbi tetap baik hingga di tempat tujuan. Pengemasan ubi jalar dilakukan sebagai berikut :

  1. Siapkan kemasan yang terbuat dari papan kayu, krat atau karton.
  2. Buat lubang ventilasi pada dinding kemasan. Lubang ventilasi berfungsi untuk pertukaran udara dan mengeluarkan energy panas yang dihasilkan dari proses respirasi umbi. Dengan demikian, kerusakan fisiologis dapat dicegah.
  3. Bersihkan kemasan dari segala kotoran yang menempel dan bila terdapat paku yang menojol harus dibetulkan agar tidak melukai umbi yang dikemas.
  4. Berilah pelindung pada dasar kemasan dengan jerami kering atau guntingan kertas untuk bantalan.
  5. Masukkan umbi ke dalam kemasan dan susun secara rapi tidak melebihi kapasitas daya tamping kemasan.
  6. Tutup bagian atas umbi dengan jerami kering atau guntingan kertas sebagai bantalan bagian atas. Kemudian, peti kemasan ditutup dan diikat atau dipaku agar kuat.
  7. Peti-peti kemasan yang telah berisi umbi dapat dimasukkan ke dalam alat pengangkut untuk diangkut ke tempat-tempat pemasaran. Penatann peti di dalam penangkutan harus diatur rapid an teratur dan tidak membentuk rongga. Dengan demikian, peti kemasan tidak bergeser dan tidak saling berbenturan. Peti kemasan yang bergeser-geser atau saling berbenturan akan menimbulkan kerusakan kemasan dan kerusakan umbi di dalamnya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi Jalar, Budidaya dan Pasca Penen. Yogyakarta : Penerbit Kaniskus

 

Julianti, Elisa dan Mimi Nurminah. Teknologi Pengemasan. ocw.usu.ac.id/…teknologi-pengemasan/thp_407_textbook_teknologi_pengemasan.pdf. Diakses 28 Maret 2011

One Response to “BAHAN PENGEMAS UNTUK KENTANG, UBI JALAR DAN BABY FOOD”

  1. perusahaan says:

    perusahaan…

    [...]BAHAN PENGEMAS UNTUK KENTANG, UBI JALAR DAN BABY FOOD « Around The WorLd[...]…

Your Reply

You must be logged in to post a comment.