browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

WHAT DOES DEVELOPMENT MEAN? A REJECTION OF THE UNIDIMENSIONAL CONCEPTION -Ted Trainer

Apa yang kalian bayangkan jika kita berbicara mengenai “Development”? dibayanganku “Development” adalah ketika negara maju (developed state) membantu negara berkembang (underdeveloped state) untuk dapat membangun perekonomian mereka melalui nilai/cara/program tertentu (yang negara maju itu tetapkan) untuk bisa mencapai suatu standar kehidupan (yang negara maju itu tetapkan lagi). Nilai/cara/program yang dimaksud disini adalah melakukan liberalisasi pasar agar perekonomian berada pada posisi yang kompetitif, menaikan tingkat produksi dan konsumsi sehingga akan lebih banyak lapangan pekerjaan tersedia, melakukan kapitalisasi, membuka investasi, dan hal-hal lain yang dapat mempercepat pertambahan nilai GNP negara (yang menjadi standar suatu negara dapat dikatakan developed) paradigma ini apa adalah apa yang disebut Ted Trainer sebagai Unidimensional Conception of Development, sebuah konsep yang nyatanya tidak membawa kita menjadi lebih baik, justru membuat kita semakin terperosok kedalam jurang kemiskinan dan inequality.

Ted mengkritik konsep Unidimensional melalui dua argumen utama. Pertama, cara yang dilakukan untuk melakukan “Development” dengan melakukan liberalisasi pasar, melakukan produksi dan konsumsi massive, menaikan permintaan terhadap capital dan investasi akan membuat distribusi ekonomi hanya berpusar di pemilik modal: negara berkembang yang baru mengikuti agenda ini tidak akan dapat bersaing dengan pemain lama (negara maju) dari segi resource, teknologi, harga, kualitas, dll. Yang akhirnya makin memperluas jarak ketimpangan keuntungan. Kedua, standar hidup yang ditentukan untuk dapat disebut sebagai negara “Developed” tidak akan mungkin dapat dicapai oleh negara-negara berkembang, selain keterbatasan sumber daya yang tersedia yang membuat standar ini tidak akan dapat tercapai, keberlangsungan ekologi juga menjadi pembatas seberapa banyak kita boleh melakukan proses produksi dan konsumsi (ingat dilemma antara menambah produksi untuk pembangunan ekonomi atau mengurangi produksi untuk kelangsungan lingkungan di masa depan).

Ted tentu tidak hanya sekedar mengkritik, lebih jauh dia mencoba membongkar kesalahan berpikir dan pemaknaan mengenai “Development” dengan membawa kita untuk memikirkan kembali apa yang ingin kita capai dengan melakukan “Development” ini? jawaban yang muncul sangatlah sederhana, terpenuhinya kebutuhan dasar, dapat mengakses layanan kesehatan dengan kualitas yang baik, merasa aman dari ketakutan terhadap wabah, kemiskinan, dan masalah sosial lain, hidup dengan tanpa merusak ekosistem, dan terbebas dari keadaan tidak membahagiakan seperti kesepian, stress, dll. Hal menarik yang ted sampaikan adalah kita bisa mencapai ini semua-pada kenyataannya negara dunia ketiga yang dilabeli undeveloped sudah memiliki kriteria standar kehidupan yang baik yang tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara maju karena sistem yang negara dunia ketiga lakukan untuk mencapai tujuan Development ini tidak perlu susah payah melibatkan akumulasi capital, produksi-konsumsi yang massif, dan perhitungan rumit kenaikan pendapatan atau kekayaan individu/negara. Tujuan Development dicapai dengan melakukan organisasi sumber daya untuk mencapai self-sufficiency development: mengakomodir suatu wilayah untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri dengan memanfaatkan sumber daya local, skill para pekerja local, dan tentu saja niat dan kemauan.

“Theory is always for someone and for some purpose”

Menyoal Unidimensional Conception of Development saya mengingat kata-kata Robert Cox yang sangat terkenal “Theory is always for someone and for some purpose”, tujuan pembangunan dan standar yang dijabarkan dalam konsep unidimensional ini sangat jelas memihak, narasi-narasi mengenai cara, rekomendasi, dan standar yang dibuat oleh negara yang menyebut diri mereka “Developed” (program SAP misalnya) tidak pernah merefleksikan kebutuhan dan memperhitungkan keunikan yang dimiliki oleh negara yang mereka labeli underdeveloped (padahal nyatanya jika konsep Sufficient Development juga ikut diperhitungkan, negara dunia ketiga ini tentu tidak akan mendapat label tersebut). mereka membuat label dan narasi dengan kacamata mereka, membuat resep dengan kacamata mereka, padahal mereka tidak benar-benar memahami apa yang dirasakan atau dibutuhkan oleh negara dunia ketiga itu (sama seperti analogi orang kaya yang seumur hidupnya tidak pernah miskin kemudian mendefinisikan kenapa orang itu miskin, dan cara apa yang harus dilakukan agar dia keluar dari kemiskinan, padahal dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi miskin). Inilah yang membuat saya skeptis terhadap konsep Unidimensional Conception of Development bagi saya pembangunan yang digaung-gaungkan itu omong kosong, semuanya akan kembali kepada prinsip who get what, how get what, who left behind


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*