Sejarah Piala Eropa 2004: Sensasi Para Dewa Olympia

Sejarah Piala Eropa 2004: Sensasi Para Dewa Olympia – Yunani dikenal sebagai “Negeri Para Dewa” sebab tak bisa dilepaskan dengan beragam mitologi soal Zeus, Apollo, sampai Athena. Setidaknya, mencermati sejarah dan mitos para dewa Olympia di negeri tersebut lebih menarik ketimbang mengikuti perjalanan sejarah sepak bola mereka.

Tapi, terhadap Piala Eropa 2004, ceritanya berbeda. Yunani yang tak dulu diperhitungkan sebelumnya, menambahkan kejutan besar di dalam persepakbolaan Eropa gara-gara dapat jadi kampiun sesudah mengalahkan tuan tempat tinggal, Portugal, 1-0 terhadap pertandingan final, di Estadio Da Luz, Lisbon.

Sebenarnya, tanda-tanda kegemilangan Yunani telah terlihat terhadap fase penyisihan Grup A. Terhadap pertandingan perdana, skuat asuhan Otto Rehhagel sanggup mengalahkan Portugal 2-1 melalui gol kemenangan yang dicetak Giorgos Karagounis terhadap menit ketujuh dan Basinas (51′).

Pemain team nasional Yunani, Angelos Charisteas (Nomor 9), usai mencetak gol ke gawang Spanyol, terhadap penyisihan Grup A Piala Eropa 2004, di Estadio de Bessa, 16 Juni 2004. (Uefa).

Sesudah tersebut, giliran Spanyol yang ditahan 1-1. Padahal ketika tersebut, Spanyol diperkuat pemain-pemain kelas global layaknya Raul Gonzales, Iker Casillas, Carles Puyol, dan Fernando Morientes. Hasil-Hasil tersebut menyebabkan Yunani lolos ke putaran akhirnya dengan standing runner-up, di bawah Portugal.

Sejarah Piala Eropa 2004: Sensasi Para Dewa Olympia

Terhadap perempat final, giliran kampiun bertahan Prancis yang jadi korban keganasan Karagounis dan mitra-mitra. Yunani berhasil menyingkirkan Les Bleus untuk melangkah ke babak empat besar sehabis menang 1-0 melalui gol yang dicetak Angelos Charisteas terhadap menit ke-65.

Sesudah, Ceska yang ketika tersebut masih diperkuat pemain-pemain andal, juga disingkirkan di semifinal. Permainan Yunani memang tidak begitu menarik sebab lebih mengandalkan lini pertahanan yang kedap. Tetapi, cara itu terbukti sanggup mengakibatkan para pemain Ceska putus harapan.

Alhasil, skor 0-0 menyebabkan pertandingan perlu dilanjutkan ke babak tambahan. Terhadap babak itulah, Yunani sanggup mengakibatkan pendukung Ceska terdiam sesudah Traianos Dellas sukses mencatatkan namanya di papan skor terhadap menit ke-105. Gol tersebut memastikan langkah Yunani ke partai puncak.

Bek Yunani, Traianos Dellas (Kiri) usai mencetak gol penentu kemenangan 1-0 atas Ceska terhadap semifinal Piala Eropa 2004, di Estadio do Dragao, 1 Juli 2004. (Uefa).

Yunani lagi bertemu Portugal di final. Sebelum pertandingan, sebagian orang memprediksi, Portugal tidak akan mengulangi kesalahan serupa layaknya babak penyisihan grup. Akan namun, ulang-ulang, kecerdikan Yunani mengambil kesempatan pas lawan lengah lagi memakan korban.

Skor 1-0 berkat gol Angelos Charisteas terhadap menit ke-57 bertahan sampai laga usai dan Yunani pun untuk kali pertama dapat memastikan diri sebagai juara Piala Eropa. Keberhasilan tersebut semakin lengkap sesudah Theodoros Zagorakis ditunjuk sebagai pemain terbaik.

“Ini merupakan pencapaian luar biasa bagi sepak bola Yunani dan khususnya sepak bola Eropa. Lawan-Lawan memang lebih baik secara teknik ketimbang kita, tetapi kita bisa memanfaatkan kesempatan. Kita udah berhasil mencetak sejarah dan ini adalah sensasi luar biasa,” ujar Rehhagel.

Sejarah yang dicetak Yunani ini seakan memberi pesan, sebutan besar bukanlah agunan. Toh, tiap-tiap keberhasilan didalam sepak bola tidak bisa diraih dengan mudah layaknya membalikkan tangan. Butuh perjuangan dan juga taktik tepat supaya semua kemampuan pemain sanggup dioptimalkan. Soal keberuntungan, biarlah tersebut jadi urusan Tuhan.

Legenda Piala Eropa: Theodoros Zagorakis, Dewa Keberhasilan Yunani di Euro 2004

Tak segudang yang memahami sosok Theodoros Zagorakis terhadap Euro 2004. Akan tapi, Zagorakis berhasil memimpin Yunani jadi raja sepakbola Eropa. Zagorakis bukanlah bintang terkenal layaknya Luis Figo, Raul Gonzales atau Zinedine Zidane. Dia cuman bermain di klub lokal AEK Athens.

Meski begitu, peran Zagorakis di atas lapangan tak mampu diremehkan begitu saja. Bak seorang ksatria didalam cerita epik Yunani Antik, Zagorakis memimpin rekan-rekannya berjuang di medan perang. Zagorakis berusia 33 th ketika Euro 2004 digelar. Pemain yang dulu memperkuat Leicester City tersebut berstatus sebagai kapten di team racikan Otto Rehhagel itu.

Zagorakis perlihatkan kepemimpinan, pandangan hidup kerja dan semangat juang yang tinggi di lapangan. Dia bisa membawa Yunani membawa dampak kejutan besar di dalam persepakbolaan Eropa.

Terhadap pertandingan perdana Grup A, Yunani dapat mengalahkan Portugal 2-1. Sehabis tersebut, giliran Spanyol yang ditahan 1-1. Hasil-Hasil tersebut membawa dampak Yunani lolos ke putaran kelanjutannya dengan standing runner-up. Giorgos Karagounis dan kolega berada di bawah Portugal.

Terhadap perempat final, giliran kampiun bertahan Prancis yang jadi korban Negeri Para Dewa. Yunani berhasil menyingkirkan Les Bleus berkat gol tunggal Angelos Charisteas. Yunani bertemu dengan Ceko terhadap babak semifinal. Meski diperkuat pemain-pemain hebat, Ceko pada akhirnya dipaksa menyerah melalui gol tunggal Traianos Dellas terhadap menit ke-105.

Yunani ulang berhadapan dengan Portugal di final. Ini untuk pertama kalinya Galanolefki menembus babak puncak kejuaraan antarnegara Eropa itu. Di final, Portugal benar-benar difavoritkan untuk jadi kampiun sebab berstatus sebagai tuan tempat tinggal. Oleh dikarenakan tersebut, tidak mengherankan jikalau Yunani dipandang sebelah mata.

Tapi, pasukan Otto Rehhagel tampil dengan kekompakan luar biasa dan terlampau disiplin di dalam bertahan. Mereka juga sebatas mengandalkan agresi balik. Taktik tersebut terbukti dapat mengantarkan Yunani jadi kampiun. Yunani menang dengan skor 1-0 berkat gol Angelos Charisteas terhadap menit ke-57.

Keberhasilan Yunani semakin lengkap sehabis Zagorakis terpilih sebagai pemain terbaik turnamen. Prestasi yang bakal sulit dilampaui pemain Yunani lainnya.