browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

TUGAS STELA2013 MINGGU 5

Posted by on 27 March 2013

KELAS K

Muhammad Naufal                             115040201111049
Muchamad Arif Yahfi                        115040201111050
Mukhih Batul Husna                           115040213111032
Muhammad Robitul H                       115040200111135
Muhammad Wildan                            115040201111088

1. Metode survei tanah menggunakan dua pendekatan utama, yaitu pendekatan sintetik dan analitik.

  • Jelaskan persamaan dan perbedaan kedua pendekatan tersebut?
  • Berikan contoh kedua pendekatan tersebut?

Perbedaan metode analitik dan sintetik

  • Pendekatan analitik adalah Membagi ‘kontinum’ atas satuan-satuan berdasarkan pada pengamatan perubahan dalam sifat-sifat tanah ‘eksternal’ ( sifat bentang alam), melalui interpretasi foto udara yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang di buat tersebut. kegiatan ini biasanya meliputi aktivitas dalam hal membedakan,menguji, menggolongkan, menyusun, menguraikan, membandingkan,membuat deduksi, dan memriksa.

Contohnya adalah melakukan delineasi terlebih dahulu pada foto udara yang ada berdasarkan landform yang ada. Setelah itu baru ditentukan titik pengamatan pada tiap landform sesuai yang diinginkan, biasanya minimal 3-5 titik per landform sesuai luasan dan kebutuhannya. Penentuan letak titik dilakukan secara bebas pada tiap titik tetapi sesuai keadaan landform yang ingin diamati. Biasanya pendekatan ini memakai metode fisiografi ataupun grid bebas.

Contoh Pendekatan Analitik

CONTOH PENDEKATAN ANALITIK

  • Sementara pendekatan sintetik adalah Mengamati, mendeskripsi dan mengklasifikasikan profil-profil tanah (pedon) oada beberapa lokasi di daerah survei. Kemudian membuat (mendelineasi) batas disekitar daerah yang mempunyai profil tanah yang serupa (memiliki taksa tanah yang sama),sesuai dengan kriteria klaisfikasi yang digunakan. kegiatan ini meliputi merancang, menggabungkan, menambah, membangun, mengembangkan, mengolah dan membuat hipotesis.

Contohnya adalah proses penentuan titik pengamatan pada suatu luas bentangan lahan dilakukan dengan membuat titik-titik yang berjarak seragam baik kesamping maupun kebawah yang meliputi pada suatu luasan daerah. Sehingga proses pengamatan yang ada menjadi lebih banyak. Setelah kegiatan pengamatan di lapang dilakukan baru setelah itu dilakukan delineasi. Biasanya pendekatan ini memakai metode grid kaku.

Contoh Pendekatan Sintetik

CONTOH PENDEKATAN SINTETIK

Persamaan metode analitik dan sintetik: kedua pendekatan ini sama sama dipandang dan bertujuan sebagai pendekatan danmetode pembelajaran.

2. Dalam menyiapkan survei tanah dengan menggunakan pendekatan analitik, apa saja yang harus dilakukan?

Pendekatan analitik dilakukan di daerah survei tersebut dengan cara:

  • Pertama melakukan interpretasi foto udara yakni dengan mendelineasikan landform yang diperkirakan akan memiliki komponen-komponen yang berbeda.
  • Selanjutnya dilakukan penentuan titik/satuan pengamatan pada landform yang ingin diamati yang bertujuan untuk mendeskripsikan tiap titik yang ada, apakah sesuai dengan hasil delineasi landform sebelumnya.
  • Selanjutnya diteruskan dengan melakukan pengamatan, pengambilan sample dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang di buat tersebut.
  • Kemudian membagi lansekap ke dalam komponen-komponen sedemikian rupa yang memiliki kondisi tanah yang hampir sama sesuai dengan hasil pengamatan yang ada pada tiap titik.
  • Membuat suatu peta tanah yang telah memiliki hasil delineasi atas pengamatan analitik.

 

3. Lihat pada peta landform Pujon dan sekitanya di bawah. Gambaran relief wilayah tersebut disajikan pada peta di bawahnya (peta relief)

  1. Diskusikan apakah pendekatan yang akan dipakai, jelaskan alasannya
  2. Jika akan melakukan survei tanah pada skala 1:25.000 plot pengamatan Saudara jika:
  • menggunakan grid kaku
  • menggunakan grid bebas
  • menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek.

Peta Landform (bentuklahan Pujon dan sekitarnya)

Peta Landform (bentuklahan Pujon dan sekitarnya)

Relief Pujon dan sekitarnya.

  • Menggunakan Grid Kaku

Metode grid kaku merupakan metode yang menggunakan prinsip pendekatan sintetik. Skema pengambilan contoh tanah secara sistematik dirancang dengan mempertimbangkan kisaran spasial autokorelasi yang diharapkan. Jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segi empat (rectangular grid) di seluruh daerah survei. Pengamatan dilakukan dengan pola teratur (interval titik pengamatan berjarak sama pada arah vertical dan horizontal). Jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Metode ini sangat cocok untuk survei intensif dengan skala besar, dimana penggunaan interpretasi foto udara sangat terbatas dan intensif pengamatan yang rapat memerlukan ketepatan penempatan titik pengamatan di lapangan dan pada peta. Survei grid juga cocok dilakukan pada daerah yang mempunyai pola tanah yang kompleks di mana pola detail hanya dapat dipetakan pada skala besar yang kurang praktis. Survei ini sangat cocok diterapkan pada daerah yang posisi pemetaannya sukar ditentukan dengan pasti. Selain itu survei ini sangat dianjurkan pada survei intensif (detail-sangat detail) dan penggunaan hasil interpretasi foto udara sangat terbatas (misalnya pada daerah dengan konfigurasi permukaan kurang beragam/daerah yang relatif datar) atau di daerah yang belum ada foto udaranya.

Cara ini dirasa kurang pas untuk dilakukannya pengamatan pada skala yang ada yakni 1:25.000 karena peta tersebut dirasa lebih baik dengan metode fisiografi, karena landform yang ada sudha dapat terlihat cukup baik.

 

  • Menggunakan Grid Bebas

Metode grid bebas merupakan perpaduan metode grid kaku dan metode fisiografi. Metode ini diterapkan pada survei detail hingga semi-detail, foto udara berkemampuan terbatas dan di tempat-tempat yang orientasi di lapangan cukup sulit dilakukan. Pengamatan lapangan dilakukan seperti paa grid-kaku, tetapi jarak pengamtan tidak perlu sama dalam dua arah, tergantung fisiografi daerah survei. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak dekat, sehingga perlu pengamatan lebih rapat, sedangkan jika landform relatif seragam maka jarak pengamatan dapat dilakukan bberjauhan. Dengan demikian, kerapatan pengamatan disesuaikan menurut kebutuhan skala survei yang dilaksanakan serta tingkat kerumitan pola tanah di lapangan. Dalam metode survei bebas, pemeta ‘bebas’ memilih lokasi titik pengamatan dalam mengkonfirmasikan secara sistematis model mental hubungan tanah-lansekap, menarik batas dan menentukan komposisi satuan peta. Di daerah dengan pola tanah yang dapat diprediksi dengan mudah (sesuai dengan model mental), pangamatan dapat dilakukan lebih sedikit, sedangkan daerah lainnya (terutama daerah yang bermasalah) perlu dilakukan pengamatan lebih banyak (lebih mendetail). Dengan jumlah sampling yang sama, dapat dihasilkan peta yang baik, dengan berkonsentrasi pada tanah bermasalah.

Cukup baik jika dilakukan pada skala peta yang ada 1:25.000, karena delineasi pada foto udara terhadap landscpe yang ada dapat dilakukan. Perbedaan cukup terlihat jelas. Hal yang perlu diperhatikan hanyalah penentuan letak dan jumlah titik yang pada akhirnya mampu membutuktikan hasil delineasi yang dilakukan sebelumnya.

  • Menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek

Pengamatan pada daerah kunci (key area) merupakan daerah terpilih dalam suatu daerah survei yang di dalamnya secara berdekatan, terdapat sebanyak mungkin satuan peta yang ada di seluruh daerah survei tersebut. Beberapa persyaratan untuk daerah kunci adalah :

a) Harus dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di daerah survei

b)Harus dibuat pada daerah di mana hubungan antara tanah dengan kenampakan bentang-alam atau landform  dapat dipelajari dengan mudah.

c)Daerah kunci tidak boleh terlalu kecil. (untuk survei tanah skala semi detail, sekitar 10-30 % dan skala tinjau kurang lebih 5-20 % dari luas total)

d) Harus mudah diakses atau tidak sulit dikunjungi

Sedangkan untuk Transek merupakan daerah kunci sederhana dalam bentuk jalur atau rintisan yang mencakup sebanyak mungkin satuan peta atau satuan wujud-lahan. Transek tidak boleh sejajar dengan batas wujud-lahan. Dalam setiap survei tanah, umumnya selalu diperlukan bantuan daerah kunci, kecuali :

a)Daerah survei relatif sempit

b) Jika bentang-alamnya telah diketahui dengan baik

c) Jika seluruh daerah harus didatangi secara intensif (misalnya untuk survei irigasi)

d) Pada survei skala kecil, dimana delineasi wujud-lahannya sangat mudah

Gambar 1.1: Peta Landform (bentuklahan Pujon dan sekitarnya)

Peta Landform (bentuklahan Pujon dan sekitarnya)

Gambar 1.2:  Relief Pujon dan sekitarnya

Menurut kelompok kami pendeketan yang sesuai untuk landform gambar 1.1 dan gambar 1.2 adalah pendekatan analitik, karena pendekatan analitik menggunakan metode fisiografi atau interpretasi foto udara yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang di buat tersebut. Selain itu pemakaian metode analitik ini kami pilih karena dalam peta yang ada sudah dapat terlihat, sehingga delineasi akan landformpun dapat dilakukan dengan mudah.

Hal yang pertama kali bisa kita lakukanadalah membagi lansekap ke dalam batas- batas (mendelineasi) atau komponen-komponen hingga sedemikian rupa yang diperkirakan akan memiliki tanah yang sama pada tiap poligon yang telah terdelineasi. Setelah itu kita menentukan satuan tanah yang akan diamati pada tiap poligon sehingga pada akhirnya mampu menunjukkan karakteristik pada hasil delineasi yang kita maksud sebelumnya. Penentuan banyak dan sedikitnya titik/satuan pengamatan yang ingin diamati baik jumlah dan letaknya pasa tiap poligon didasarkan atas kemungkinan adanya perbedaan karakteristik tanah. Selain itu pada kondisi landscape yang bergelombang, jika perlu ditetapkan titik-titik pada bagian yang dalam/jurang dan pada bagian diatasnya. Hal ini dilakukan karena kemungkinan dapat terjadi perbedaan karakteristik tanah pada kedua tempat tersebut.Kemudian dilakukan pengamatan pada tiap titik yang sudah ditentukan melalui karakterisasi satuan-satuan dengan pengamatan dan pengambilan contoh tanah di lapangan. Setelah hal itu dilakukan dan kita mendapatkan hasilnya sebagai karakteristik pada tiap satuan, maka dilakukan kembali delineasi sesuai hasil yang ada setelah pengamatan lapang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>