berita bencana

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH ANALISIS LANSKAP

“Studi Kasus Bencana Alam Longsor di Sekitar Kecamatan Pujon”

 

 

DisusunOleh :

Kelompok 5

Nadia Budi Lestari                             155040207111033
Soni Muhammad Luthfy                    155040207111034

RizqiaDewiAnnisa                              155040207111045

NoviaNasrifatuWilda                          155040207111084

LuthfianAlwanZainul Abbas              155040207111086

GaliGusira                                           155040207111091

Kelas D

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018


Indonesia adalah salah satu negara yang terdapat pada kawasan ring of fire, kawasan ini merupakan pertemuan antar lempeng yang  saling bertemu dan dapat menyebabkan terjadinya gunung berapi. Oleh karena itu, Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang memiliki aktivitas vulkanik dan tektonik yang tinggi. Proses lempeng yang saling bertemu ini disebut juga sebagai proses subduksi yaitu proses pergerakan antar 2 lempeng yang bertabrakan, sehingga dapat mengakibatkan lempeng terbentuk menjadi kerucut seperti gunung berapi atau perbukitan apabila antar 2 lempeng tersebut sama-sama kuat, dan akan terbentuk menjadi palung laut apabila terdapat salah satu lempeng yang lemah. Menurut Kertapati (2004), pergerakan lempeng besar dalam bentuk penumpuan dan papas an menimbulkan beberapa zona subduksi dan patah permukaan. Selain itu pergerakan ini akan membebaskan sejumlah energi yang telah terkumpul sekian lama secara tiba-tiba, di mana proses pelepasan tersebut menimbulkan getaran gempa dengan nilai yang beragam. Selain itu menurut Hutapea (2009) zona subduksi adalah zona kejadian gempa yang terjadi didekat batas pertemuan antara lempeng samudera yang menunjam masuk kebawah lempeng benua. Kejadian gempa akibat thrust fault, normal fault, reverse slip dan strike slip yang terjadi sepanjang pertemuan lempeng dapat diklasifikasikan sebagai zona subduksi.

Daerah Malang Raya banyak dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan yang merupakan daerah rawan terjadi kerusakan alam. Longsor merupakan salah satu kerusakan yang sering terjadi di daerah Malang Raya, kerusakan ini disebabkan karena curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air, sehingga memudahkan terjadinya pergerakan tanah. Daerah yang sering terjadi pergerakan tanah ini bertepatan di kecamatan Pujon. Kecamatan Pujon merupakan hulu dari DAS Brantas yang terletak di bagian utara Kabupaten Malang. Topografi di Kecamatan Pujon merupakan dataran tinggi yang membentang dari barat ke timu rmaupun dari utara keselatan dengan ketinggian antara 1000 mdpl sampaidengan 2500 mdpl dengan dikelilingi gunung-gunung, Kecamatan Pujon pada saat ini telah mengalami beberapa kerusakan alam, selain longsor ada kerusakan lain yang terjadi di daerah Pujon yaitu kekritisan lahan yang menyebabkan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman. Hal ini dapat terjadi karena tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah yang baik dan konservasi air secara hidrologis.

 

Disamping itu jenis tanah yang sering di jumpai di Indonesia adalah tanah pelapukan yang merupakan hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan atau pegunungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam ,maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.

Tanah longsor adalah suatu jenis gerakan tanah yang terjadi saat lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Hal ini biasanya terjadi karena curah hujan yang tinggi, gempa bumi, atau letusan gunung api.Longsor dapat terjadi karena patahan alami dan karena factor cuaca pada tanah dan bebatuan. Kasus ini terutama pada iklim lembab dan panas seperti di Indonesia.

 

Kekuatan tanah tergantung dari ikatan antara partikel penyusun tanah, sedangkan untuk batuan lebih banyak ditentukan oleh retakan pada batuan itu. Air hujan dalam jumlah yang kecil menyebabkan tanah menjadi lembab dan mempunyai efek memperkuat tanah, namun apabila tanah menjadi jenuh air efeknya akan melemahkan ikatan partikel. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua factor yaitu factor pendorong dan factor pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan factor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.

Kecamatan pujon terletak dibagian hulu DAS Konto yang seharusnya sebagian besar wilayahnya menjadi lahan konservasi untuk menjaga kelestarian sub-DAS yang ada dibawahnya. Namun fakta yang ada dilapang, sebagian besar wilayah pujon dibuka untuk lahan pertanian karena pada dasarnya lahan pada Kecamatan Pujon berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian dan kebutuhan masyarakat akan pangan dan pendapatan. Dengan adanya alih fungsi lahan hutan yang dijadikan lahan pertanian, Pujon yang seharusnya menjadi wilayah konservasi malah beralih menjadi lahan produksi maka menurun kemampuannya untuk menjaga kelestarian DAS Konto. Dengan terbukanya lahan konservasi menjadi lahan pertanian tanaman semusim, maka perakaran yang ada diatasnya terlalu lemah untuk menjaga kestabilan agregat tanah pada lahan berlereng. Hal inilah yang menyebabkan longsor pada daerah Pujon.

Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air di Kecamatan Pujon berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Hal ini dapat dilihat dari dampak lanjutan dari adanya lahan kritis yaitu permasalahan banjir bandang, longsor maupun erosi di aliran sungai Konto Sub Das Brantas. Menurut Karnawati (2001) kawasan yang memiliki potensi longsor yaitu kawasan yang memiliki lereng curam yakni >25%, memiliki bidang luncur berupa lapisan bawah permukaan tanah semi permeable dan lunak serta terdapat cukup air. Selain itu semakin tinggi tingkat kemiringan lereng, maka potensi untuk terjadinya longsor juga akan semakin besar. Lahan dengan tingkat kemiringan semakin terjal baik oleh aktivitas manusia maupun proses alami, akan menyebabkan lereng menjadi tidak stabil (Hardiyatmoko, 2006).

Intensitas curah hujan yang tinggi dan kejadian gempa yang sering muncul pada kecamatan Pujon yang dapat membuat terjadinya longsor pada daerah tersebut, secara alami akan dapat memicu terjadinya bencana alam tanah longsor. Menurut Paimin, (2009) curah hujan yang perlu diwaspadai pada daerah rentan longsor adalah >300 mm /3 hari. Adanya informasi curah hujan yang tepat dan kontinyu, serta perlu adanya upaya mitigasi pada wilayah ini sangat diperlukan, salah satunya adalah dengan upaya mengurangi volume air hujan yang masuk kedalam profil tanah, sedangkan menurut Maarif (2012) merupakan salah satu teknik yang dipakai adalah teknik mitigasi, dimana teknik berbasis masyarakat akan membuat masyarakat lebih waspada terhadap bencana longsor, maka mitigasi bencana tanah longsor dapat dilakukan dengan baik.

 

 

Sumber :

Dwikorita Karnawati, 2001, Pengenalan Daerah Rentan Gerakan Tanah dan Upaya Mitigasinya, Makalah Seminar Nasional Mitigasi Bencana Alam Tanah Longsor, Semarang 11 April 2002, Semarang: Pusat Studi Kebumian Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro.

Hardiyatmoko, H. C. (2006). Penanganan Tanah Longsor dan Erosi (Edisi 1). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hutapea, B. M. dan I. Mangape. 2009. Analisis Hazard Gempa dan Usulan Ground Motion pada Batuan Dasar untuk Kota Jakarta. Jurnal Teknik Sipil: Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil. Vol. 16 No. 3. ISSN 0853-2982.

Kertapati, E. K. 2004. Aktivitas Gempa Bumi di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Maarif, S., Damayanti, F., Suryanti, E. D., & Wicaksono, A. P. (2012). Initiation of the Desa Tangguh Bencana Through Stimulus-Response Method. Indonesian Journal of Geography, 44(2), 173–182.

Paimin, Sukresno dan Pramono, I. B. (2009). Teknik Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor. Balikpapan: Tropenbos International Indonesia Programme.

 

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*