“Marketplace” Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang Pertanian

March 26th, 2020

Nama/NIM :  Ana Nabilah Asyifa/195040200111060

 

Dalam era globalisasi yang semakin menguat, penguasaan terhadap Teknologi Komunikasi dan Informasi merupakan keharusan yang tidak lagi bisa dihindari. Teknologi diyakini sebagai alat pengubah. Sejarah merupakan sebuah bukti berkembangnya teknologi yang menjadi tujuan atas upaya kerja keras para peneliti untuk menemukan teknologi yang lebih canggih untuk memperoleh kemudahan dalam aktivitas kehidupan yang selanjutnya akan memperoleh manfaat dari temuannya. Teknologi informasi sangat berperan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan masyarakat.

 

ICT (Information and Communication Technologi) merupakan sebutan dari masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya Teknologi Komunikasi dan Informasi. Hal ini diyakini berperan penting dalam pengembangan bisnis, organisasi, dan mendorong percepatan kegiatan ekonomi masyarakat. Teknologi tentunya juga berperan penting dalam perkembangan di dunia pertanian. Salah satu bentuk dari teknologi adalah jaringan internet, dengan adanya jaringan internet dapat dengan mudah untuk mendapatkan suatu informasi dari luar tanpa batas, baik informasi terdahulu ataupun informasi yang baru, dengan teknologi inilah diharapkan dapat menunjang perekonomian masyarakat desa dengan mendapatkan informasi sebagai tambahan wawasan mereka dan membuat jaringan yang lebih luas lagi dengan masyarakat luar untuk berbagi atau bertukar pikiran dalam bidang pertanian. Dengan adanya teknologi diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian, serta memudahkan bagi para pengelola sektor pertanian untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal.

 

Adanya intenet petani dapat memperoleh informasi tentang pemeliharaan tanaman, dan pengelolaan hasil produksi untuk dipasarkan kepada masyarakat secara luas dan juga menguntungkan para petani dalam hal kegiatan advokasi dan kooperasi. Internet juga bermanfaat untuk mengkoordinasikan penanaman agar selalu ada persediaan di pasar, lebih teratur dan harga jual normal. Salah satu pengembangan teknologi ini seperti membuat marketplace untuk mensejahterakan kehidupan petani, manfaat dari marketplace itu sendiri adalah untuk membantu petani dalam memasarkan atau jual beli hasil dari produksi petani. Konsep dari marketplace ini kurang lebih seperti pasar tradisional, pada dasarnya marketplace ini tidak bertanggung jawab dengan barang yang dijual karena sistem pada marketplace ini hanya menyediakan tempat bagi para penjual yang ingin menjual produknya kepada konsumen dengan lebih mudah, simpel dan tentunya efisien. Industri marketplace dapat dibilang salah satu industri terbesar di Indonesia, seperti Tokopedia, Bukalapak, BliBli, JD.ID, Shopee Indonesia dll. Di dalam bidang pertanian pun juga dapat memanfaatkan marketplace ini untuk memasarkan hasil produksinya.

 

Presiden Joko Widodo mengungkapkan, pengembangan sarana dan prasarana teknologi informasi ini dilakukan untuk memangkas rantai distribusi hasil produksi dari petani kepada konsumen. Sinergi pemasaran ini melibatkan tiga kementerian, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Ada beberapa marketplace dalam bidang pertanian yang telah berkembang yaitu :

 1. Agromaret

Agromaret telah beroperasi sejak 2009 dimana komunitas dan marketplace ini berfokus pada sektor pertanian. Agromaret bertujuan mengurangi dominasi pasar bagi sekelompok orang, menciptakan peluang pasar yang seluas-luasnya bagi para petani, serta menjadi sentra informasi di bidang pertanian. Pada 2009, pihak Agromaret sudah sering membuat sebuah iklan baris yang menjajakan hasil tani dan bahan pangan lewat website yang dikelola secara perorangan. Barulah pada 2016, didirikan website yang digarap secara serius, yakni Agromaret. Hingga November 2017, website ini telah diakses lebih dari 125 ribu user.

 2. TaniHub

Layanan ini berangkat dari keinginan pendiri untuk membantu petani menjangkau konsumen secara langsung tanpa campur tangan tengkulak. E-commerce ini sangat menguntungkan bagi para petani karena mereka bisa mendapat keuntungan sebesar 20 persen dari harga yang dijual ke tengkulak. Selain itu, jangkauan pemasaran pun akan semakin luas. Selama 3 tahun berjalan, pencapaian TaniHub bisa dibilang cukup cemerlang. TaniHub menyasar 2 kategori pembeli, yaitu masyarakat (konsumen individu) dan juga komoditas. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang lebih senang belanja buah dan sayuran di pasar dan supermarket ketimbang online.

 3. Petani

Aplikasi Petani dikembangkan oleh 8villages yang khusus mengembangkan aplikasi bernama RegoPantes. Tujuan aplikasi ini untuk membantu banyak petani di Jawa Tengah agar produk atau hasil pertaniannya dipasarkan di Jakarta dengan harga yang pantas dan para petani sudah lebih dulu mendapat pembayarannya. Setelah itu, semua produk yang dipesan oleh konsumen akan di-packing dan diberangkatkan ke Jakarta. Aplikasi ini merupakan wadah berbagi informasi terkait solusi permasalahan pertanian, tempat penjualan alat-alat pertanian, informasi pelatihan pertanian, serta forum online bagi para petani di seluruh Indonesia. Selain itu, aplikasi Petani juga memberikan beberapa layanan lainnya seperti fitur tanya jawab, video, toko, survei, dan lain sebagainya.

 4. Pantau Harga

Aplikasi yang dibesut oleh Code4Nation ini bertujuan membantu konsumen memantau harga komoditas pangan di lingkungan sekitar mereka, dan membeli produk tersebut dengan kualitas baik serta harga yang kompetitif. Ada konsumen tentu ada penjual. Pada aplikasi ini, petani, nelayan, dan peternak juga bisa menjual produk mereka dengan harga yang lebih tinggi dibanding ketika mereka menjualnya kepada tengkulak.

 5. LimaKilo

Aplikasi LimaKilo hadir untuk memotong pola pendistribusian produk pertanian, di mana pembeli langsung dipertemukan dengan penjual. Dengan begini, penghasilan petani diharapkan bisa naik hingga 15 persen dan juga harga beli di konsumen bisa turun 15 persen. Sesuai dengan namanya, aplikasi ini ditujukan bagi pembeli kebutuhan pangan dalam jumlah paling sedikit 5 kilogram. Bila lebih dari 5 kilogram, pelanggan bisa menggunakan layanan beli grosir pada aplikasi ini. LimaKilo menawarkan berbagai macam produk pangan seperti beras, bawang, sayur, daging, dan hasil pertanian lainnya.

 

Dari kelima marketplace tersebut yang telah berkembang di Indonesia, salah satunya adalah Tanihub yang pada tahun 2019 telah memperkenalkan unit bisnis barunya yaitu “TaniSupply” yang bertujuan untuk menangani kasus rantai pasokan. Di gudang, tim TaniSupply melakukan proses pembelian dari petani. Lalu memroses grading buah dan sayur, mengukur tingkat kemanisan, melakukan quality control (QC), dan quality assurance (QC). Terakhir, ada tim logistik untuk mengunci kualitas produk yang sampai ke tangan pelanggan tetap terjaga. Gudang dilengkapi dengan pendinginan yang berstandar untuk menjaga kualitas produk agar tidak mengalami penurunan. TaniSupply juga sedang mengajukan sertifikasi untuk ISO 22000 terkait keamanan pangan dan gudang halal. Terbuka juga kemungkinan untuk ekspor ke negara tetangga. Persebaran gudang TaniSupply akan difokuskan ke luar Jawa untuk perkuat ekosistem pertanian agar semakin terintegrasi. Termasuk di antaranya untuk persingkat rantai distribusi dari petani sebelum didistribusikan ke konsumen. Saat ini sudah terdapat di empat kota yang memiliki gudang atau distribution center yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Untuk tahun 2021 mereka telah menargetkan gudang TaniSupply hadir diseluruh Indonesia.

 

Referensi :

http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita/51-info-aktual/485-peran-teknologi-informasi-dan-komunikasi-tik-dalam-pertanian-modern

https://www.pertanianku.com/5-marketplace-untuk-jual-beli-produk-pertanian/

https://bbppbatu.bppsdmp.pertanian.go.id/peranan-internet-di-bidang-pertanian/

https://dailysocial.id/post/sayurbox