TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 2

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Proses Tektonisme dan Studi Kasus Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera”

Disusun Oleh:
                                                                             Nama      : Muzna Aqila
                                                                             NIM        : 155040207111149
                                                                             Kelas       : A
                                                                             Dosen      : Dr. Ir. Sudarto, MS

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Tektonisme adalah proses pembentukan permukaan bumi yang terjadi akibat pengangkatan, lipatan dan patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Tektonisme merupakan tenaga dari dalam bumi yang dapat mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) dan bentuk (deformasi) pada kulit bumi. Kulit bumi (litosfer) memiliki sifat yang keras dan kaku akibat tekanan dari dalam bumi, pada akhirnya kulit bumi terpecah menjadi lempengan-lempengan besar yang tidak sama ukurannya kemudian disebut lempeng tektonik. Lempeng- lempeng ini bergerak secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh cairan astenosfir yang panas di bawahnya.
Berdasarkan luas dan waktu kejadian, gerakan lempeng tektonik dapat dibedakan menjadi, gerak epirogenesis dan gerak orogenesis. Gerak epirogenesis merupakan pergeseran lempeng tektonik secara perlahan dan meliputi wilayah yang luas, seperti penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia. Gerak epirogenesis dibedakan atas:
  1. Epirogenesis positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga tampak permukaan air laut yang naik. Contoh: turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai ke pulau Banda).
  2. Epirogenesis negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga tampak permukaan air yang turun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.

    Gambar 1. Gerak Epirogenetik Positif dan Negatif

Gerak orogenesis merupakan proses pembentukan pegunungan yang meliputi luas areal yang sempit dan waktu relatif singkat, dibandingkan epirogenesis, seperti pembentukan rangkaian pegunungan yang ada sekarang. Gerak orogenesis disebabkan adanya tekanan secara vertikal pada lempeng dan pecah, lempeng yang pecah mengalami pergeseran secara horizontal. Pergeseran ini mengakibatkan terjadinya lapisan kulit bumi atau salah satu lempeng terlipat dan patah.

Gambar 2. Proses Lipatan

Gambar 3. Bagian-Bagian Lipatan

Proses lipatan (folded process), merupakan kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang disebabkan pergeseran salah satu lempeng secara horizontal menumbuk lempeng lainnya. Pada gambar diatas  puncak lipatan disebut antiklin dan jika jumlahnya banyak disebut antiklinorium, sedangkan lembah disebut sinklin dan jika jumlahnya banyak disebut sinklinorium. Berdasarkan bentuk dan puncak lipatan, maka lipatan ada beberapa, seperti; lipatan tegak, lipatan miring, lipatan menggantung, lipatan isoklinal, lipatan rebah dan lipatan sesar sungkup. Contoh dari lipatan yakni Pegunungan Ural, Pegunungan Mediteranian dan Sirkum Pasifik.

Gambar 4. Bentuk-Bentuk Lipatan

Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap.
  2. Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan sumbu utama.
  3. Lipatan Harmonik atau Disharmonik adalah lipatan berdasarkan menerus atau tidaknya sumbu utama.
  4. Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya.
  5. Lipatan Chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar.
  6. Lipatan Isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar.
  7. Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh permukaan planar.

Gambar 5. Pegunungan Lipatan sebagai Hasil dari Proses Tektonik

Gambar 6. Lipatan Antiklin dan Siklin

Gambar 7. Lipatan Rebah dan Chevron

Gambar 8. Lipatan Disharonic dan Ptigmatik

Gambar 9. Lipatan Klin Bands dan Daerah Lipatan, Lengseran dan Patahan

Selain membentuk lipatan, tenaga tektonik menyebabkan terjadinya patahan (sesar) pada kulit bumi. Proses patahan  ini cepat, sehigga kulit bumi tidak sempat terlipat. Batuan yang berbeda akan memiliki sifat yang berbeda terhadap tegasan yang bekerja pada batuan-batuan tersebut, dengan demikian juga dapat diperkirakan bahwa beberapa batuan ketika terkena tegasan yang sama akan terjadi retakan atau terpatahkan, sedangkan yang lainnya akam terlipat. Geometri dari perlipatan lapisan batuan yang terkena tegasan diperlihatkan dimana pada tahap awal perlapisan batuan akan terlipat membentuk lipatan sinklin-antiklin dimana secara geometri bentuk lengkungan bagian luar (outer arc) akan mengalami peregangan sedangkan lengkungan bagian dalam akan mengalami pembelahan (cleavage). Apabila tegasan ini berlanjut dan melampaui batas elastisitas batuan, perlipatan akan mulai terpatahkan  (tersesarkan) melalui bidang yang terbentuk pada sumbu lipatannya. Sedangkan pada bidang patahan, gaya tegasan akan berubah arah.
Ketika batuan yang berbeda tersebut berada di area yang sama, seperti batuan yang bersifat lentur menutupi batuan yang bersifat retas, maka batuan yang retas kemungkinan akan terpatahkan dan batuan yang lentur mungkin hanya melengkung atau terlipat diatas bidang patahan. Demikian juga ketika batuan yang bersifat lentur mengalami retakan dibawah kondisi tekanan yang tinggi, maka batuan tersebut kemungkinan terlipat sampai pada titik tertentu kemudian akan mengalami pensesaran, membentuk suatu patahan. Patahan sendiri didefinisikan sebagai struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dan sebagainya. Adapun di lapangan indikasi suatu patahan dapat dikenal melalui:
  1. Gawir sesar atau bidang sesar.
  2. Breksiasi, gouge dan milonit.
  3. Deretan mata air.
  4. Sumber air panas.
  5. Penyimpangan atau pergeseran kedudukan lapisan.
  6. Gejala-gejala strukur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dan lain sebagainya.
Patahan dapat dibagi kedalam beberapa jenis atau tipe berdasarkan arah gerak relatif pergeserannya yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Dip Slip Faults, adalah patahan yang bidang patahannya menyudut (inclined) dan pergeseran relatifnya berada disepanjang bidang patahannya atau offset terjadi disepanjang arah kemiringannya. Untuk setiap bidang patahan yang mempunyai kemiringan, maka blok yang berada diatas patahan sebagai hanging wall block dan blok yang berada dibawah patahan dikenal sebagai footwall block.
  2. Normal Faults, adalah patahan yang terjadi karena gaya tegasan tensional horisontal pada batuan yang bersifat retas dimana hanging wall block telah mengalami pergeseran relatif ke arah bagian bawah terhadap footwall block.

    Gambar 10. Normal Faults

  3. Horsts dan Graben, Dalam kaitannya dengan sesar normal yang terjadi sebagai akibat dari tegasan tensional, seringkali dijumpai sesar-sesar normal yang berpasang pasangan dengan bidang patahan yang berlawanan. Dalam kasus yang demikian, maka bagian dari blok-blok yang turun akan membentuk “graben” sedangkan pasangan dari blok-blok yang terangkat sebagai “horst”. Contoh kasus dari pengaruh gaya tegasan tensional yang bekerja pada kerak bumi pada saat ini adalah “East African Rift Valley” suatu wilayah dimana terjadi pemekaran benua yang menghasilkan suatu “Rift”. Contoh lainnya yang saat ini juga terjadi pemekaran kerak bumi adalah wilayah di bagian barat Amerika Serikat, yaitu di Nevada, Utah, dan Idaho.

    Gambar 11. Horsts dan Graben

  4. Half-Grabens, adalah patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkungan dengan besar kemiringannya semakin berkurang kearah bagian bawah sehingga dapat menyebabkan blok yang turun mengalami rotasi.

    Gambar 11. Half-Graben

  5. Reverse Faults, adalah patahan hasil dari gaya tegasan kompresional horisontal pada batuan yang bersifat retas, dengan kemiringan bidang sesar lebih besar 45°dimana hangingwall block berpindah relatif kearah atas terhadap footwall block.

    Gambar 12. Reverse Faults

  6. A Thrust Fault, adalah patahan yang kemiringan bidang patahannya lebih kecil dari 45°. Pergeseranya dapat mencapai hingga ratusan kilometer sehingga memungkinkan batuan yang lebih tua dijumpai menutupi batuan yang lebih muda.

    Gambar 13. A Thrust Faults

  7. Strike Slip Faults, adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah horizontal mengikuti arah patahan. Contoh patahan jenis ini yang sangat terkenal adalah patahan San Andreas di California dengan panjang mencapai lebih dari 600 km.

    Gambar 14. Strike Slip Faults

  8. Transform Faults adalah jenis patahan strike-slip faults yang khas terjadi pada batas lempeng, dimana dua lempeng saling berpapasan satu dan lainnya secara horizontal. Jenis patahan transform umumnya terjadi di pematang samudra yang mengalami pergeseran (offset), dimana patahan transform hanya terjadi diantara batas kedua pematang, sedangkan dibagian luar dari kedua batas pematang tidak terjadi pergerakan relatif diantara kedua bloknya karena blok tersebut bergerak dengan arah yang sama. Daerah ini dikenal sebagai zona rekahan (fracture zones).

    Gambar 15. Transform Faults

Patahan besar membelah batuan saat lempeng bergerak, mendorong naik wilayah daratan, atau membuatnya amblas. Setelah terjadi gempa saat energi dilepaskan, maka batuan di kedua sisi patahan terkunci menjadi satu di posisinya yang baru. Relief geologis akibat patahan yang terkenal di dunia adalah Patahan San Andreas di California, AS dengan panjang 1.200 km. Patahan ini menjadi batas antara Lempeng Pasifik dan Lempeng benua Amerika Utara. Kedua lempeng terus berlangsung dengan arah berlawanan dengan pergeseran sekitar 5 cm/tahun., juga terdapat alur patahan yang lebih kecil dan berhubungan dengan San Andreas. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah gempa dengan kekuatan besar serta 20.000 gempa tercatat setiap tahun. Patahan San Andreas nampak dari udara, seperti goresan luka di permukaan bumi.
Di Indonesia, bentuk muka bumi yang diakibatkan oleh proses patahan dan lipatan yakni di dua deretan pegunungan Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik, dataran tinggi Gayo di Aceh, dataran tinggi Bandung dan plateu Dieng di Jawa Tengah. Dataran tinggi Dieng (Dieng Plateu) merupakan sebua kompleks gunung berapi, berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 14 km, lebar 6 km dan memanjang dari arah barat daya hingga tenggara. Dieng plateu berasal dari gunung api tua (Gunung Prau) yang mengalami penurunan drastis (dislokasi) oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Pada bagian yang ablas muncul gunung0gunung kecil, yani Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Panonan, Gunung Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja
Dieng plateu terleta 26 km di sebelah utara Wonosobo. Secara geografis berada di antara 7o11’00’’ LS – 7o14’00’’ LS dan 109o51’00’’ BT – 109o54’30’’ BT, sedangkan secara administratif sebagian besar masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan sebagian lagi masuk wilayah Kabupaten Wonosobo, jawa Tengah. Secara geologi regonal Kompleks Gunung Api Dieng ditutupi oleh endapan berlumpur Kuarter berupa aliran lava, piroklastik, endapan phreatik, endapan lahar, endapan permukaan dan hasil erupsi Gunung Sundoro.

 

Studi Kasus Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera

Jose Rizal, Sigit Nugroho, Adi Irwanto dan Debora. 2016. Jurnal Matematika Vol. 6 No. 1
Pertemuan lempeng di wilayah Sumatera memiliki subduksi miring dengan kecepatan rata-rata 5-6 cm/tahun, hal ini mengakibatkan Pulau Sumatera rawan terjadi gempa bumi yang disebabkan dari pergerakan lempeng. Beberapa gempa bumi besar yang terjadi di wilayah Sumatera yaitu gempa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, gempa Bengkulu pada tanggal 12 September 2007 dan gempa Mentawai pada tanggal 25 Oktober 2010.

Gambar 16. Tatanan Tektonik di Indonesia dan Peta Kejadian Gempa tektonik Aktif di Wilatah Sumatra

Untuk memperkecil dampak negatif dari gempa bumi, diperlukan suatu prediksi. Walaupun sampai saat ini, kapan dan dimana gempa bumi terjadi belum dapat diprediksi dengan pasti. Dengan menggunakan analisis statistik deskriptif diperoleh kejadian gempa tektonik paling sedikit terjadi sebanyak satu kali dalam satu bulan dan paling banyak terjadi 869 kali dalam satu bulan dengan rata-rata magnitudonya yaitu minimum 4,10 SR dan maksimum 5,77 SR dalam satu bulan. Sedangkan rata-rata gempa tektonik yang terjadi sebanyak 20 kali setiap bulan dan rata-rata dari rata-rata magnitudo gempa tektonik yang terjadi setiap bulan 4,98 SR.
Gempa bumi yang terjadi dari tahun 2004 sampai tahun 2014, dapat dilihat pada gambar 7, bahwa titik-titik yang berwarna biru memberikan informasi terjadinya gempa berkekuatan 4.85 SR dan yang berwarna merah memberikan informasi terjadinya gempa berkekuatan > 4.85 SR. Ini menunjukan adanya kecenderungan bahwa yang lebih banyak terjadi adalah gempa dengan kekuatan yang kecil. Dapat pula dilihat pada gambar 7 terdapat pembagian region, hal ini dapat digunakan untuk mengetahui keadaan aktivitas seismik di Sumatera.

Gambar 7. Peta Kejadian Gempa Bumi di Sumatra Tahun 2004-2014

Berdasarkan gambar 8 diduga banyaknya gempa tektonik yang terjadi dan rata-rata magnitudo telah stasioner dalam rata-rata karena trendnya cenderung datar, pada kedua gambar tersebut ada beberapa data yang menjurai baik ke atas maupun ke bawah yang mengindikasikan kedua data tersebut tidak stasioner dalam varian.

Gambar 18. Banyaknya Gempa Tektonik dan Rata-Rata Manglitudo Gempa Tektonik yang Terjadi Setiap Bulan

Dengan banyaknya gempa tektonik yang terjadi setiap bulan di wilayah Sumatera diperoleh model ARFIMA (4,0.350,3) sebagai model terbaik yang dapat digunakan untuk peramalan. Dari model matematika tersebut diketahui bahwa periode ramalan pertama akan terjadi gempa tektonik 21 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,910 SR, sedangkan periode ramalan kedua akan terjadi gempa tektonik 14 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,936 SR dan pada periode ramalan ketiga akan terjadi gempa tektonik 20 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,960 SR.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asikin, Sukendar. 1978. Dasar-dasar Geologi Struktur, Departemen Teknik Geologi ITB. Bandung.
Noor, Dauhari. 2009. Pengantar Geologi. Program Studi Teknik Geologi. Fakultas Teknik Universitas Pakuan. Bogor.
Rizal, Jose., Sigit Nugroho., Adi Irwanto dan Debora. 2016. Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera. Jurnal Matematika Vol. 6 No. 1.
Sapiie, B., Harsolumakso, A. H. 2008. Prinsip Dasar Geologi Struktur. Laboratorium Geologi Dinamik. Program Studi Teknik Geologi ITB. Bandung.
Posted in Tugas Terstuktur | Leave a comment

TUGAS ANALISIS LANDSKAP TERPADU 1

TUGAS DISKUSI

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

Disusun Oleh:
Tya Lestari                          155040201111155
Meka Lianasari                   155040201111247
 Achmad Azhari Sidik         155040207111090
Muzna Aqila                       155040207111149
Kelas: A

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Mengapa Malang Dikelilingi oleh Banyak Gunung ?

Matahemual (1982) menyebutkan bahwa gunung api (vulkan) adalah suatu bentuk timbulan di muka bumi yang pada umumnya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut terpacung, kubah ataupun bukit yang diakibatkan oleh penerobosan magma ke permukaan bumi. Pada umumnya terdapat beberapa jalur tertentu di muka bumi, yakni pada jalur punggung tengah samudra, jalur pertemuan dua buah lempeng kulit bumi dan pada titik-titik panas dimuka bumi tempat keluarnya magma pada benua maupun samudra.
Malang raya merupakan salah satu daerah yang dikelilingi banyak gunung berapi. Sebelum berfokus kepada daerah Malang, maka telebih dahulu mengetahui proses pembentukan gunung berapi pada Indonesia. Menurut Waluyo (2010) menjelaskan bahwa proses pembentukan gunung berapi dapat terbentuk karena adanya jalur aktif yang ditandai dengan seismisitas atau bisa disebut dengan kegempaan yang tinggi dan merupakan batas antar lempeng. Sedangkan di Indonesia sendiri merupakan daerah yang terletak pada tiga lempeng utama bumi yaitu meliputi Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (Pratama dkk, 2014). Ketika mempunyai tiga lempeng utama maka yang akan terjadi adalah peristiwa subduksi antar kedua lempeng lempeng atau lebih berimbas pada melelehnya material batuan kerak bumi sehingga bergerak ke permukaan karena berat jenih batuan pada kerak bumi yang lebih rendah (Proses Undasi) (Asriningrum dkk, 2004).
Secara keseluruhan maka Indonesia merupakan negara yang disebut dengan “Cincin Api Pasifik” atau Ring of Fire on Pacific Rims. Artinya adalah rangkaian jalur gunung api yang statusnya tergolong aktif tersebar di atas lempeng bumi (Bronto, 2006). Daerah Jawa sendiri termasuk zona pertemuan antar kedua lempeng tektonik dan merupakan jalur vulkan aktif. Lempeng tersebut mempertemukan antara Lempeng Indo Australia yang menumbuk di bawah Lempeg Australia. Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia mempunyai 129 buah gunung api aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatra, Jawa hingga laut Banda. Pulau Jawa sendiri memiliki total 35 gunung yang hingga kini masih aktif. Kantili (1979) menyebutkan bahwa di Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, pembentukan gunung api terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatera penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll. Tumbukan antara lempeng-lempeng tersebut dimungkinkan juga banyak terjadi di Malang sehingga terbentuk berbagai gunung berapi dengan jumlah yang cukup banyak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Malang Raya yang termasuk dalam daerah Jawa akan mempunyai gunung api aktif ataupun tidak dalam jumlah cukup banyak seperti: gunung semeru dan gunung tengger.

Gambar 1. Proses Pembentukan Gunung Api

 

Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

A. Posisi Geografis
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul terletak di 110 ̊21′ – 110 ̊50′ Bujur Timur dan 7 ̊46′ – 8 ̊09′ Lintang Selatan. Kabupaten Gunungkidul terletak di bagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas  wilayah Provinsi DIY. Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak ±39 km.

Gambar 2. Peta Geografi Kabupaten Gunung Kidul

B. Topografi
Kabupaten Gunung Kidul memiliki topografi karst yang terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Bentang alam pegunungan menyebabkan lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan yang bervariasi.

Gambar 3. Peta Topografi Kabupaten Gunung Kidul

C. Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Zona Karst Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul
Daerah Gunung Sewu merupakan perbukitan kerucut karst yang berada di zona fisiografik Pegunungan Selatan Jawa Tengah – Jawa Timur, dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini seringkali mengalami kekeringan di musim kemarau, karena air permukaan yang langka. Diperkirakan terdapat cukup banyak air di bawah tanah, terbukti dari banyak dijumpainya sungai-sungai bawah permukaan.
Geomorfologi Daerah Gunung Sewu, berdasarkan morfogenetik dan morfometriknya dapat dikelompokkan menjadi tiga satuan, yaitu Satuan Geomorfologi Dataran Karst, Satuan Geomorfologi Perbukitan Kerucut Karst, dan Satuan Geomorfologi Teras Pantai. Secara umum karstifikasi di daerah ini sudah mencapai tahapan dewasa.
Lapisan paling bawah stratigafi Daerah Gunungsewu berupa endapan vulkanik yang terdiri dari batupasir tufaan, lava, dan breksi, yang dikenal sebagai Kelompok Besole. Di atas batuan basal tersebut, secara setempat-setempat didapatkan napal Formasi Sambipitu, serta batu gamping tufaan dan batu gamping lempungan Formasi Oyo. Di atasnya lagi dijumpai batu gamping Gunung Sewu Formasi Wonosari yang dianggap merupakan lapisan pembawa air. Di bagian paling atas, berturut-turut terdapat napal Formasi Kepek, endapan aluvial dan endapan vulkanik Merapi.
Daerah Panggang Gunung Sewu ini terletak di kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta yang merupakan bentukan asal solusional berupa polye. Daerah ini memiliki relief yang berbukit dengan kandungan batu gamping yang tebal dengan struktur berlapis dengan batuan dasar (basement) berupa batu breksi dan bagian atas berupa batu gamping. Proses pembentukan daerah ini adalah melalui pengangkatan dasar laut dangkal (zona litoral) karena adanya pengaruh tenaga endogen atau tektonik. Polye ini sendiri terbentuk karena adanya gua bawah tanah yang runtuh atau ambles karena tidak mampu menahan bebannya sendiri.
Proses geomorfologi yang terjadi di daerah ini adalah berupa erosi dan pelapukan pada batugamping sehingga lapies lapuk dan berubah menjadi tanah mediteran atau terrarosa. Tanah didaerah ini berupa tanah terrarosa atau mediteran yang bercampur dengan robakan batu gamping kasar, perkembangan tanah tidak terlalu dominan karena didaerah ini jarang terjadi hujan.  Tanah ini sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur dan memiliki  kejenuhan basa lebih dari 50 %, bertekstur lempung debuan namun kondisi tanahnya masih dapat diusahakan untuk kepentingan pertanian lahan kering.
Batuan-batuan karbonat Formasi Wonosari yang berumur Mio-Pliosen mendominasi bagian selatan Pegunungan Selatan, membentuk topografi kars yang dikenal dengan nama  Gunung Sewu. Secara umum, perbukitan kars Gunung Sewu melampar dengan arah TTg-BBL. Bagian selatan Gunung Sewu merupakan pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudera India oleh gawir-gawir erosi. Bagian utara Gunung Sewu memiliki batas yang  bervariasi dengan fisiografi di sekitarnya. Gunung Sewu dibatasi oleh kelurusan semi-sirkuler dengan arah umum TTg-BBL dengan Cekungan Wonosari dan Cekungan Baturetno.
Selain itu, perbukitan kars tersebut menumpang secara tidak selaras terhadap  batuan beku dan volkaniklastik Oligo-Miosen yang telah tererosi pada ujung baratdaya  Lajur Baturagung, pada ujung selatan Masif Panggung, dan pada bagian timur Cekungan Baturetno. Bidang ketidakselarasan tersebut sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level pertama (Pannekoek, 1949). Penumpangan batugamping Gunung Sewu tersebut menghasilkan suatu transisi morfologi yang bersifat gradual dari  perbukitan volkanik struktural di sebelah utara menjadi perbukitan kars di sebelah selatan. Puncak-puncak perbukitan kerucut kars yang relatif horisontal sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level kedua (Pannekoek, 1949).
Di Pantai Wediombo batuan karbonat Formasi Wonosari menumpang secara tidak selaras diatas batuan beku Miosen. Selaras dengan konsep peneplainisasi pertama dari Pannekoek (1949), selanjutnya Hartono (2000) menginterpretasikan batuan beku tersebut sebagai sisa erosi dari  tubuh gunungapi. Orientasi perbukitan dan lembah lembah kars di Gunung Sewu bervariasi secara geografis. Bagian utara didominasi oleh kelurusan berarah BL-Tg, sedangkan bagian selatan  didominasi oleh kelurusan berarah TTg-BBL yang relatif sejajar dengan garis pantai saat  ini. Pola kelurusan pertama dapat dengan jelas dilihat di selatan Masif Panggung dan selatan Giritontro. Beberapa penelitian menunjukkan pola kelurusan yang kedua tersebut dibentuk oleh undak-undak pantai purba yang kemungkinan disebabkan oleh pengangkatan episodik Pegunungan Selatan (Sartono, 1964; Surono, 2005). Bila interpretasi ini diterapkan pada pola kelurusan pertama di sebelah utara, maka implikasinya adalah adanya perubahan pola pengangkatan Pegunungan Selatan. Bukti pengangkatan Pegunungan Selatan yang bersifat episodik juga datang dari endapan teras sungai di utara Teluk Pacitan (Harloff, 1933; Movius, 1944).

 

Kliping Studi Kasus Kebencanaan

  1. Bencana Banjir di Banyuwangi

2. Bencana Banjir di Wonogiri

3. Bencana Tanah Longsor di Wonogiri

4. Bencana Banjir dan Longsor Di Pacitan

 

DAFTAR PUSTAKA

Harloff, Ch.E.A. 1933. Geologische kaart van Java. Toelichting bij blad 24.
Hartono, G. 2000. Studi gunung api Tersier: Sebaran pusat erupsi dan petrologi di Pegunungan Selatan, Yogyakarta. Thesis Magister Teknik, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 168 p (tidak diterbitkan).
Movius, H.L. 1944. Early Man and Pleistocene Stratigraphy in Southern and Eastern Asia. Mus. Am. Arch. & Ethn. Harv. Univ. XIX, no. 3.
Pannekoek, A.J. (1949) Outline of the Geomorphology of Java. Reprint from Tijdschrift van Het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, vol. LXVI part 3, E.J. Brill, Leiden, pp. 270-325.
Sartono, S. 1964. Stratigraphy and Sedimentation of the Easternmost Part of Gunung Sewu (East Djawa). Publikasi Teknik Seri Geologi Umum, no. 1, Direktorat Geologi, Bandung, 95 p.
Surono, B. Toha, dan Ign. Sudarno. 1992. Peta Geologi Lembar Surakarta-Giritontro, Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Posted in Tugas Terstuktur | Leave a comment

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Posted in Uncategorized | 1 Comment