TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 5

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Klasifikasi Bentuk Lahan

Disusun Oleh:
                                                           Nama      : Muzna Aqila
                                                           NIM        : 155040207111149
                                                           Kelas       : A
                                                           Dosen      : Dr. Ir. Sudarto, MS

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk lahan yang menyusun permukaan bumi, baik diatas maupun dibawah permukaan air laut dan menekankan pada asal mula terjadinya serta perkembangan yang akan datang dan berhubungan dengan kelingkunganan (Versatppen, 1983 dalam Suwarno, 2009). Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang mengakibatkan modifikasi permukaan bumi (Thornbury, 1970). Penyebab proses geomorfologi adalah benda-benda alam berupa angin dan air. Proses geomorfologi dibedakan menjadi dua yaitu proses eksogen (tenaga asal luar bumi) yang umumnya sebagai perusak dan proses endogen (tenaga yang berasal dari dalam bumi) sebagai pembentuk, keduanya bekerja bersama-sama dalam merubah permukaan bumi.
Bentuk lahan adalah bentukan pada permukaan bumi sebagai hasil perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses-proses geomorfologis yang beroperasi pada permukaan bumi. Proses geomorfologi tersebut menyangkut semua perubahan baik fisik maupun kimia yang terjadi dipermukaan bumi oleh tenaga-tenaga geomorfologis. Tenaga geomorfologis adalah semua tenaga yang ditimbulkan oleh medium alami yang berada dipermukaan bumi termasuk diatmosfer (Suprapto Dibyosaputro, 1999 dalam Listiyanto, 2008).

Gambar 1. Macam-macam Bentuk Lahan

Menurut Marsoedi, Widagdo, Dai, Suharta, Darul, Hardjowigeno, Hof, dan Jordens (1997), landform/bentuk lahan diklasifikasikan kedalam 9 (sembilan) grup atau kelompok utama yang selanjutnya dibagi lebih lanjut sesuai dengan sifat masing-masing. Suatu bentuk lahan diklasifikasikan berdasarkan:
  • Kategori tertinggi berdasarkan atas proses, khususnya proses geomorfik.
  • Kategori selanjutnya didasarkan atas bentuk-bentuklahan itu sendiri, relief, lereng, litologi, tingkat erosi atau torehan yang dominan di daerah tersebut.
Adapun, bentuk landform dapat dibedakan menjadi:
  1. Alluvial Landofrom (A)
    Bentuk lahan muda yang terbentuk dari proses fluvial (aktivitas sungai), koluvial (gravitasi), atau gabungan dari proses fluvial dan koluvial yang biasanya berupa dataran di daerah luas pengaruh sungai yang besar atau dataran sempit di sekitar sungai.

    Gambar 2. Penampakan Alluvium Landform

    Gambar 3. Kenampakan Oxbow Lake

    Gambar 4. Kipas Aluvial Kudus

  2. Marine Landform (M)
    Landform yang terbentuk oleh atau dipengaruhi oleh proses marin baik proses yang bersifat konstruktif (pengendapan) maupun destruktif (abrasi), daerah yang terpengaruh air asin ataupun daerah pasang surut tergolong dalam landform marin.

    Gambar 5. Tombolo, Endapan Pasir yang Menghubungkan Pulau dengan Daratan

  3. Fluvio-Marin Landform (B)
    Landform yang terbentuk oleh gabungan proses fluvial dan marin. Keberadaan landform ini dapat terbentuk pada lingkungan laut (berupa delta) ataupun di muara sungai yang terpengaruh langsung oleh aktivitas laut.

    Gambar 6. Kenampakan Delta pada Citra Satelit

  4. Peat Landform (G)
    Landform yang terbentuk di daerah rawa (baik rawa pedalaman maupun di daerah dataran pantai) dengan akumulasi bahan organik yang cukup tebal. Landform ini dapat berupa kubah (dome) maupun bukan kubah.
  5.  Aeolin Landform (E)
    Landform yang terbentuk oleh proses pengendapan bahan halus (pasir dan debu) yang terbawa angin.

    Gambar 7. Penampakan Landform Aeolin

  6. Karst Landform (K)
    Landform yang didominasi oleh bahan batu gamping, pada umumnya keadaan morfologi daerah ini tidak teratur. Landform ini dicirikan oleh adanya proses pelarutan bahan batuan penyusun yaitu dengan terjadinya sungai di bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit, stalagmit dan lain sebagainya.

    Gambar 8. Sinkhole di Florida

    Gambar 9. Perbukitan Karst Menara di Guilin, Cina

  7. Volcanic Landform (V)
    Landform yang terbentuk karena aktivitas volkan atau gunung berapi (resen atau subresen). Landform ini dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun dataran yang merupakan akumulasi bahan volkan. Landform dari bahan volkan yang mengalami proses patahan-lipatan (sebagai proses sekunder) tidak dimasukkan dalam landform volkanik.

    Gambar 10. Kenampakan Landform Vulkanik

  8. Tectonic dan Stuctural Landform (T)
    Landform yang terbentuk sebagai akibat dari proses tektonik (orogenesis dan epirogenesis) berupa proses angkatan, lipatan, dan atau patahan. Umumnya landform ini mempunyai bentukan yang ditentukan oleh proses-proses tersebut dan karena sifat litologinya (struktural).

    Gambar 11. Struktur Batuan Bentukan Antiklin di Pakistan

    Gambar 12. Penampakan Pegunungan Lipatan

  9. Miscellaneous Landform (X)
    Bentukan alam atau hasil kegiatan manusia yang tidak termasuk grup yang telah diuraikan di atas, misalnya: lahan rusak dan bangunan-bangunan buatan manusia.
Posted in Tugas Terstuktur | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 5

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 4

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Gaya Eksogen: Denudasi dan Deposisi serta Studi Kasus Klasifikasi Geotonik Goa Sungai Bawah Tanah Daerah Seropan Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Disusun Oleh:
                                                           Nama      : Muzna Aqila
                                                           NIM        : 155040207111149
                                                           Kelas       : A
                                                           Dosen      : Dr. Ir. Sudarto, MS

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Tenaga eksogen merupakan tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi yang berpengaruh terhadap pembentukan relief muka bumi. Pada umumnya bentukan muka bumi yang telah dibangun oleh tenaga endogen, dirusak oleh tenaga eksogen. Tenaga eksogen ini dapat mempengaruhi proses terjadinya pelapukan, erosi, dan sedimentasi.
Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:
  1. Atmosfere, yaitu perubahan suhu dan angin.
  2. Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya.
  3. Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Secara sederhana proses eksogen terjadi ketika di permukaan bumi bagian litosfer yang muncul mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Sebagai contoh di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit tersebut dihancurkan melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya grafitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.

A. DENUDASI

Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Denudasi cenderung akan menurunkan bagian permukaan bumi yang positif hingga mencapai bentuk permukaan bumi yang hampir datar membentuk dataran nyaris (pineplain). Denudasi meliputi dua proses utama, yaitu pelapukan dan perpindahan material dari bagian lereng atas ke lereng bawah oleh proses erosi dan gerak masa batuan (masswashting).
1.  Pelapukan
Pelapukan (weathering) adalah proses berubahnya sifat fisik dan kimia batuan di permukaan dan atau dekat permukaan bumi tanpa disertai perpindahan material (insitu). Pelapukan dapat dibedakan menjadi pelapukan fisik, pelapukan kimia, dan pelapukan biotik.
Pelapukan Fisika
Pelapukan fisika, merupakan proses pecahnya batuan menjadi ukuran yang lebih kecil tanpa diikuti oleh perubahan komposisi kimia batuan. Adapun faktor yang mempengaruhi pelapukan fisika, meliputi:
      1.  Perubahan suhu
Batuan dapat hancur karena adanya perbedaan suhu yang besar. Peristiwa ini terjadi terutama pada daerah beriklim kontinental atau gurun. Suhu di daerah gurun pada siang hari dapat mencapai 450C dan di malam hari dapat turun hingga -40C. Perbedaan suhu tersebut akan membuat batu memuai dan menyusut. Jika hal demikian terjadi terus-menerus, maka batu besar dapat retak dan pecah.
      2.  Berkurangnya tekanan
Hilangnya penutup pada batuan beku menyebabkan volumenya berkurang sehingga lingkungannya berubah yang akan mengakibatkan perubahan tekanan pada batuan. Oleh karena tekanan berubah, maka kemampuan memuai atau menyusut akan berbeda-beda pula pada permukaan batuan, sehingga terjadilah rekahan-rekahan sejajar yang menyebabkan pengelupasan batuan (ekfoliation). Ekfoliasi diartikan sebagai proses pengelupasan batuan menjadi bentuk lempeng lengkung karena bagian luar batuan lapuk oleh hidrasi atau hidrolisis. Pengelupasan bisa terjadi dalam lapisan tipis pada batu-batu kecil, atau dapat terjadi dalam lembaran tebal seperti halnya, di Enchanted Rock, Texas atau di Half Dome.

Gambar 1. Ekfoliasi pada Half Dome di Yosemite National Park, California

      3.  Pembekuan air (Frost wedging)
Frost wedging merupakan proses membekunya air tanah atau air hujan dalam pori-pori batuan. Kondisi ini menyebabkan pemuaian volume dan menimbulkan tekanan pada lapisan batuan. Di daerah beriklim sedang, pembekuan terjadi sangat hebat. Jika temperatur udara sangat rendah, melebihi titik beku, air akan membeku menjadi es. Air yang membeku mempunyai volume yang lebih besar sekitar 9%. Tekanan dari membesarnya volume ini dapat menghancurkan batuan. Pembekuan air yang terdapat di dalam pori-pori dan rekahan batuan menekan dinding di sekitarnya, dan dapat menghancurkan batuan. Pelapukan mekanik ini umumya terjadi di daerah pegunungan tinggi, atau daerah bermusim dingin. Penekanan dari pertambahan volume ini paling efektif pada suhu antara -50C sampai -150C. Proses pecahnya batuan karena mengalami beku celah disebut dengan istilah kryoturbasi.

Gambar 2. Batuan yang Mengalami Frost Wedging

      4.  Pengkristalan Garam (Salt Wedging)
Salt wedging merupakan proses pecahnya batuan karena mengkristalnya air garam. Keadaan ini biasanya terjadi pada daerah beriklim kering, karena pada kondisi tersebut air akan menguap sehingga menyebabkan garam-garaman seperti NaCl, KCl, KgSO4 mengendap di dalam pori-pori batuan yang menyebakan penekanan hingga pecah. Di daerah lembab, gejala ini jarang ditemui karena kandungan garam ikut meresap ke dalam tanah.

Gambar 3. Batuan yang Mengalami Salt Wedging

Pelapukan Kimia
Pelapukan kimia merupakan proses berubahnya komposisi kimia batuan sehingga menghasilkan mineral sekunder. Air dan temperatur memegang peranan penting dalam pelapukan kimia, sehingga pelapukan kimia terjadi secara intensif di derah tropis. Terdapat empat proses yang terjadi dalam pelapukan kimiawi, diantaranya:
  1. Hidrasi, yaitu proses dimana batuan mengikat batuan lainnya hanya di atas permukaan saja.
  2. Hidrolisa, yaitu proses penguraian air atas unsur-unsurnya menjadi ion-ion positif dan ion negatif. Jenis proses pelapukan ini terkait dengan pembentukan tanah liat.
  3. Oksidasi, yaitu proses pengkaratan besi. Batuan yang mengalami proses oksidasi umumnya akan berwarna kecoklatan, sebab kandungan besi dalam batuan mengalami pengkaratan. Proses pengkaratan ini berlangsung sangat lama, tetapi pasti batuan akan mengalami pelapukan.
Pelapukan kimiawi lebih mudah ditemukan di daerah kapur. Hal ini disebabkan air dapat masuk dengan mudah ke dalam batuan kapur yang mengandung unsur-unsur kimia, sehingga kapur mengalami pelarutan. Kemudian air akan mengalir melalui pori-pori kapur sehingga menimbulkan bentukan khas, meliputi:
  1. Dolina, merupakan puncak-puncak pegunungan kapur akibat terjadinya erosi (pelarutan) atau runtuhan. Puncak itu adalah sisa pelarutan, sedangkan lembah di antaranya adalah dolina-dolina yang mengalami peleburan.

    Gambar 4. Dolina Kondratowa di Polandia

  2. Gua dan sungai bawah tanah, yakni pelarutan mineral yang terdapat pada tiap batuan menyebabkan terbentuknya gua dan sungai bawah tanah. Proses pembentukan ini diawali dengan adanya celah atau retakan di dalam tanah kapur. Kemudian, adanya pelarutan menyebabkan retakan itu membesar dan menjadi lubang-lubang atau disebut dengan goa. Jika lubang-lubang itu saling berhubungan satu sama lain, tebentuklah terowongan yang disebut sungai bawah tanah.

    Gambar 5. Gua dan Sungai Bawah Tanah Luray Caverns, Virginia

    Gambar 6. Goa Pindul, Yogyakarta

  3. Stalaktit dan stalakmit. Stalaktit merupakan bagian yang menggantung pada langit-langit goa berbentuk kerucut kapur. Sedangkan staglamit merupakan bagian yang berdiri mengerucut ke atas dari dasar goa.

    Gambar 7. Stalaktit dan Stalakmit di Gua Pacitan

Pelapukan Biologi
Merupakan proses berubahnya batuan baik secara fisik maupun kimia karena dipicu oleh organisme. Proses pelapukan biologi melibatkan 2 cara, yakni dengan cara mekanis dan biokimia. Proses tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Adanya lumut. Tanaman lumut yang berada di permukaan batuan kemungkinan akan membuat batuan tersebut mengalami degradasi. Lembabnya permukaan batuan tersebut diakibatkan oleh proses penyerapan akar serta tingginya pH di sekitar permukaan batuan tersebut karena eksresi sisa metabolisme lumut. Hal ini akan berakibat permukaan batuan akan cepat mengalami pelapukan.
  • Adaya penetrasi akar tanaman. Batuan yang berada di sekitar tanaman akan lebih cepat melapuk karena adanya penetrasi akar tumbuhan ke dalam sela- sela batuan tersebut, sehingga mudah mengalami perpecahan. Dalam proses penerobosan atau penetrasinya, akar- akar tumbuhan akan mengeluarkan semacam enzim yang berfungsi untuk menghancurkan batuan. Semakin lama, akar tersebut akan membesar dan memecah belah batu tersebut menjadi beberapa bagian. Beberapa tumbuhan yang akarnya termasuk kuat untuk memecah batuan antara lain tanaman pinang raja, akasia, dan juga pilisium.
  • Binatang juga menjadikan batuan lebih cepat mengalami pelapukan. Binatang yang berperan dalam pelpaukan biologi antara lain cacing tanah dan beberapa serangga tanah.
  • Manusia juga turut berperan dalam proses pelapukan biologi. Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan cepat terjadinya pelapukan adalah penambangan dan juga penebangan pohon secara liar.
Batuan yang kompak setalah mengalami proses pelapukan kan menjadi hancuran batuan yang diebut dengan regolit. Pergerakan air dan unsur dalam menyebabkan regolit mengalami diferensisasi membentuk profil pelapukan. Proses pembentukan profil pelapukan inilah yang selanjutnya dikenal dengan pedogenesis atau proses pembentukan tanah. Bongkahan batu secara individu apabila tersingkap akan lapuk dan terkelupas seperti kulit bawang (spheroidal weathering). Selain menghasilkan profil pelapukan, proses pelapukan yang didominasi oleh pelapukan kimia menghasilkan mineral-mineral sekunder berbegai mineral lempung tergantung pada kondisi iklim.

Gambar 8. Profil Pelapukan

Gambar 9. Variasi Ketebalan Pelapukan dengan Kondisi Iklim yang Berbeda

2.  Gerak Massa Batuan
Gerak masa batuan adalah proses perpindahan material permukaan bumi secara gravitatif menuruni lereng. Perpindahan dapat terjadi secara cepat maupun lambat dengan material yang terpindahkan bervariasi dari tanah hingga bongkahan batuan. Ciri dari material endapan dari proses gerak masa batuan adalah tidak adanya sortasi/pemilahan metarial yang terpindahkan. Material balk yang berulcuran halus hingga bongkah tercampur menjadi satu dengan kedudukan satu dengan yang lain sama seperti kedudukannya saat terpindahkan Gerak masa batuan dapat dibedakan berdasarkan tipe gerakan dan jenis material yang terpindahkan.
3.  Erosi
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dll) akibat transportasi angin, air, es, hujan, pengaruh gravitasi atau akibat aktivitas makhluk hidup. Erosi dapat disebabkan oleh faktor alami meliputi iklim, geologi dan biologis, namun juga dapat disebabkan oleh aktofotas manusia.
      1.  Erosi oleh Air (Ablasi)
Ablasi merupakan erosi yang disebabkan oleh air mengalir. Gesekan antara aliran air dengan tanah merupakan penyebab utama terjadinya ablasi. Semakin besar kecepatan dan jumlah air maka akan semakin cepat terkikisnya tanah atau batuan di dasar lahan (sungai). Apabila gesekan terjadi terus-menerus, maka akan menimbulkan perubahan bentuk pada lahan tadi. Erosi yang disebabkan oleh air dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkatan kerusakannya, yaitu:
  • Erosi percik (Splash Erosion), proses pengikisan yang terjadi karena percikan air. Pengikisan terjadi dalam skala yang sangat kecil.
  • Erosi Lembar (Sheet Erosion), proses pengikisan tanah yang tebalnya sama (merata) dalam suatu permuakan tanah.
  • Erosi Alur (Rill Erosion), proses erosi yang terjadi karena air mengalir berkumpul dalam satu cekungan. Erosi ini terjadi karena terkonsentrasinya air pada tempat terperciknya partikel tanah yang kemudian membentuk aliran ke bawah. Contohnya adalah timpaan air hujan yang keras pada suatu lahan tertentu.
  • Erosi Parit (Gulley Erosion), merupakan erosi yang terjadi sama seperti erosi alur diatas. Tetapi saluran yang terbentuk sudah sangat dalam sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa. Suatu erosi baru bisa dikatakan erosi parit apabila mempunyai lebar sekitar 40 cm dengan dalam sekitar 25 cm.
      2.  Erosi oleh Angin (Deflasi)
Deflasi merupakan pengikisan yang terjadi oleh angin, proses ini banyak ditemukan di daerah gurun dan pada tempat dengan tiupan angin kencang disertai pasir. Deflasi akan menghasilkan hasil pengikisan batuan yang berbentuk seperti jamur. Prisip dasar dari erosi jenis ini sama dengan erosi oleh air, yaitu disebabkan karena gesekan pergerakan angin dengan objek padatan tertentu.

Gambar 10. Batuan yang Tererosi oleh Angin

      3.  Erosi oleh Es (Eksarasi)
Eksarasi adalah erosi yang disebabkan oleh gletser atau es. Eksarasi hanya terjadi pada daerah yang mempunyai musim salju atau daerah pegunungan tinggi. Gletser atau es akan membentuk cairan kental yang bergerak, pergerakannya ini akan mengikis bagian kanan dan kiri lembah gunung. Batuan yang dilaluinya akan tergores kemudian terkikis oleh gletser.

Gambar 11. Batuan yang Mengalami Erosi Es

      4.  Erosi oleh Gelombang Laut (Abrasi)
Abrasi adalah erosi yang disebabkan oleh air laut. Tinggi rendahnya erosi oleh air laut dipengaruhi besar kecilnya kekuatan gelombang laut. Beberapa hasil dari erosi oleh air laut antara lain adalah:
  • Cliff, yaitu pantai dengan dinding curam dan terjal.
  • Relung, yaitu cekungan yang terdapat pada dinding cliff.
  • Dataran Abrasi, hamparan wilayah pendataran.
  • Pantai Fyord, pantai berleka-lekuk jauh menjorok ke arah dataran.
  • Pantai Skeren, pantai seperti fyord dengan lekukan yang tidak terlalu tajam.

Gambar 12. Jalanan yang Terkena Abrasi Pantai

B. DEPOSISI

Proses deposisi merupakan berbagai proses eksogenik yang menyebabkan bertambahnya elevasi permukaan bumi karena proses pengendapan material hasil proses degradasi. Contoh proses deposisi yakni terbentuknya endapan fluvial/endapan alluvial, landform alluvial, landform marin, dan landform fluvi0-marin. Proses ini sering disama artikan dengan sedimentasi. Sedimentasi  sendiri merupakan  proses  yang  merupakan  proses  kelanjutan dari pengikisan  atau pelapukan.  Setelah  lapisan  batuan  dikikis  oleh tenaga  eksogen  (air, gletser dan angin)  hasil pengikisan  akan  mengalami  transportasi  atau  pengangkutan  oleh  air, gletser,  angia,  dan  apabila  daya  angkut  tenaga  berkurang material  yang  dibawanya  akan terendap  (tersedimentasi).  Sedimentasi  batuan  merupakan  hasil  dari pelapukan dan erosi  dengan  hasil  biasanya  berlapis-lapis.  Apabila  hasil pelapukan  pada  sedimentasi tersebut  terdiri  dari  batuan  yang  berupa hancuran  kasar  maka  batuan tersebut  disebut konglomerat,  sedangkan  apabila  batuan  tersebut  bersudut  tajam,  maka  disebut breccie.

 

KLASIFIKASI GEOTEKNIK GOA SUNGAI BAWAH TANAH DAERAH SEROPANWONOSARI – GUNUNG KIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Bani Nugroho
Gunung Kidul merupakan daerah yang unik karena memiliki tipologi Karst Topografi, yaitu bentukan bentang alam khas pada batuan karbonat (gamping) akibat proses tektonik yang dilanjutkan oleh adanya pelarutan dan terbentuk celah tempat air mengalir (Sir McDonald, 1982).  Istilah Karst berasal dari bahasa Slovenia kras- berarti lahan gersang berbatu. Saat ini istilah tersebut di gunakan untuk mendeskripsikan suatu kawasan atau bentang alam yang telah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi. Ford dan Williams (1989) mendefinisikan karst sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik.
Beberapa penciri kawasan karst (Ford & William, 1989) adalah sebagai berikut:
  1. Terdapatnya cekungan tertutup dan atau lembah kering dalam berbagai ukuran dan bentuk.
  2. Langkanya atau tidak terdapatnya drainase atau sungai permukan.
  3. Terdapatnya gua dari sistem drainase bawah tanah.
Batugamping merupakan batuan yang memiliki komposisi karbonatan yang dominan, oleh karena itu kawasan karst dapat berkembang baik di suatu kawasan dengan satuan batuan batugamping. Suatu kawasan dapat dikatakan sebagai kawasan karst apabila telah mengalami proses karstifikasi. Kartisifikasi adalah serangkaian proses mulai dari terangkatnya batugamping kepermukaan bumi akibat proses dari dalam bumi (endogen) dan terjadi proses pelarutan terhadap batugamping tersebut, dalam ruang dan skala waktu geologi hingga akhirnya menghasilkan bentang alam karst yang khas. Apabila suatu kawasan memiliki susunan batugamping namun belum mengalami proses karstifikasi maka belum dapat dikatakan sebagai kawasan karst (Koesoemadinata, 1987).
Sistem hidrogeologi kawasan karst sangat berbeda karakteristiknya dengan kawasan non- karst. Porositas batugamping lebih didominasi. oleh porositas sekunder di mana air lolos melalui rekahan-rekahan (Fracture), perlapisan batuan (bedding plane) dan patahan (fault) pada formasi batugamping. Sedangkan nilai porositas ruang antarbutir (primer) dan permeabilitas pada batugamping terumbu (nonklastik) sangatlah rendah (Fetter, 1994). Porositas primer dan permeabilitas akan tinggi apabila batugamping tersebut bersifat klastik karena memiliki ruang antar butiran.
Aliran air pada aquifer batugamping tersebut mengalir sekaligus melarutkan bidang perlapisan, rekahan dan patahan. Kebanyakan aliran air yang mengalir melalui rekahan dan bidang perlapisan memiliki hydraulic conductivity yang besar. Sifat Aquifer batugamping tidak menerus secara lateral dan tidak seragam dikarenakan aliran air pada aquifer batugamping mengalir melalui rekahanrekahan dan bidang perlapisan. Aliran air yang masuk akan segera lolos mengalir hingga ke aliran dasar (Baseflow). Aliran tersebut terakumulasi membentuk pola aliran di bawah permukaan tanah sebagaimana layaknya sungai pada permukaan. Dalam saat bersamaan proses pelarutan memperbesar ruang rekahan-rekahan dan bidang perlapisan membentuk sistem lorong gua. Lorong-lorong gua ini berfungsi sebagai koridor menuju ke sistem sungai bawah tanah (underground river) (Koesoemadinata, 1987).
Aliran dasar pada sungai bawah tanah umumnya merupakan muka air tanah dan aquifer batugamping yang cenderung datar (flat water table). Suplai air sungai bawah tanah dapat berasal dan sungai permukaan yang masuk melalui mulut gua horizontal (shallow hole) atau gua vertikal (Sink Hole) maupun dan resapan lapisan tanah diatas permukaan yang masuk melalui rekahan kecil dibawah lapisan tanah tersebut. Aliran air sungai bawah tanah tersebut dapat muncul kembali di permukaan sebagai mata air (kars Spring) atau sungai keluar dari mulut gua (Sir McDonald, 1982).

Gambar 13. Kondisi Goa Bawah Tanah Seropan

Posted in Tugas Terstuktur | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 4

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 3

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Vulkanisme dan Studi Kasus Prakiraan Bahaya Letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur

Disusun Oleh:
                                                           Nama      : Muzna Aqila
                                                           NIM        : 155040207111149
                                                           Kelas       : A
                                                           Dosen      : Dr. Ir. Sudarto, MS

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Peristiwa yang berhubungan dengan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan bumi disebut dengan aktivitas vulkanisme. Koesomadinata (1977) manyatakan bahwa gunungapi adalah lubang atau saluran yang menghubungkan suatu wadah berisi bahan yang disebut magma. Suatu ketika bahan tersebut ditempatkan melalui saluran bumi dan sering terhimpun di sekelilingnya sehingga membangun suatu kerucut yang dinamakan kerucut gunung api. Sedangkan Matahemual (1982) menyatakan bahwa gunung api (vulkan) adalah suatu bentuk sembulan di muka bumi yang pada umumnya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut terpacung, kubah maupun bukit yang diakibatkan oleh penerobosan magma ke permukaan bumi.
Berdasarkan pengukuran very-long Baseline Interferometry, VLBI (Prat, 2001) diketahui, saat ini lempeng Samudra Indo-Australia bergerak ke utara dengan keceptana rata-rata 5,5-7 cm/tahun, lempeng Samudra Pasifik bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan rata-rata lebih dari 7 cm/tahun dan Eurasia bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan rata-rata 2,6-4,1 cm/tahun. Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia mempunyai 129 gunung api aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatera, Jawa hingga Laut Banda. Bukit barisan  (30 buah), Jawa (35 buah), Bali-Nusa Tenggara (30 buah), Kepulauan Maluku (16 buah) dan Sulawesi (18 buah) yang dikategorikan aktif.

Gambar 1. Sebaran Gunung Api di Indonesia

Gunungapi terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua; busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera; dan busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.
  1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
  2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
  3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
  4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

Gambar 2. Penampang yang Memperlihatkan Batas Lempeng Utama dengan Pembentukan Busur Gunungapi

Bentuk gunung antara daerah satu dengan yang lain tidaklah sama, namun di Indonesia kebanyakan gunung api mempunyai bentuk yang hampir sama. Secara umum bentuk-bentuk gunung api di dunia ini dapat dibedakan menjadi:
  1. Gunung api yang bentuknya seperti kerucut, disebut dengan gunung api strato. Pada saat terjadi erupsi, material yang dikeluarkan berselang seling antara lava cair encer dan lava cair kental. Gunung semacam ini semakin lama akan bertambah tinggi. Pada umumnya gunung api di Indonesia mempunyai bentuk strato.
  2. Gunung api yang letusannya sangat kuat, dan batuan yang ada di sekitar kepundan hancur serta terlempar ke luar, sehingga kepundan berbentuk corong, disebut dengan gunung api maar. Contoh Gunung Rinjani di Nusa Tenggara dan Gunung Lamongan di Jawa Timur.
  3. Gunung api yang bentuknya seperti perisai atau tameng disebut dengan gunung api perisai. Pada saat terjadi erupsi material yang dikeluarkan berbentuk cair. Erupsi seperti ini disebut dengan erupsi efusif. Contoh: gunung Manoa Loa di Hawai. Tipe gunung api seperti ini tidak terdapat di Indonesia.

Gambar 3. Bentuk Gunung Api di Dunia: Tameng (A), Maar (B), dan Strato (C)

Proses ekstruksi atau erupsi berdasarkan lubang keluarnya magma dapat dibedakan menjadi dua tipe yakni erupsi linier dan erupsi sentral. Erupsi linier adalah magma yang keluar melalui retakan dan celah-celah yang ada di bumi. Magma yang keluar pada umumnya berupa lava cair yang sangat sedikit mengandung material lepas. Sedangkan erupsi sntral adalah magma yang keluar melalui diatrema dan kepundan. Erupsi sentral terdiri atas tiga macam seri, tergantung pada tekanan dalam magma, yakni:
  1. Erupsi efusif atau lelehan, keran magma bersifat encer dengan tekanan lemah sehingga hanya menibulkan lelehan lava melalui retakan yang terdapat pada tubuh gunungapi.
  2. Erupsi eksflosif, yaitu keluarnya magma ke permukaan bumi dengan cara ledakan akibat magma memliki tekanan yang tinggi. Erupsi ini dikenal dengan letusan gunungapi, menyemburnya material vulkanin yang berupa padat dan cair.
  3. Erupsi campuran, perselingan antara seri lava dan eksplosif, membentuk strato yang terdiri atas pelapisan lava dan bahan-bahan lepas.
Pertumbuhan gunung api merupakan salah satu dari bentuk konstruksional dan lebih bersifat parozismal. Kemudian mengalami berbagai bentuk tahapan erosi dari muda hingga tua. Gunug api yang telah mencapai tahapan dewasa-tua oleh letusan baru dapat segera menjadi muda kembali. Berikut tipe tipe letusan gunung api menurut Lacrous (1909) dan Sapper (1931):
  1. Tipe Icelandic, yakni erupsi rekah dengan aliran magma basa yang mengandung sedikit gas, dengan volume lava besar. Aliran berupa lembar-lembar membentang sebagai kawasan luas membentuk dataran (plain/plateau).
  2. Tipe Hawaiian, Bentukan retakan, kaldera, lubang-lubang letusan, lava mengandung gas mengalir menimbulkan bunga-bunga api serta abu kemudian mengendap membentuk kubah lava.
  3. Tipe Strombolian, Bentukan ini ditandai oleh puncak kepundan berbentuk kerucut berlapis (strato cones). Eksplositasnya secara terus menerus dengan pelepasan gas-gas serta lava beku yang merupakan bomb, rombakan lava dan semburan abu awan lava yang menjulang tinggi.
  4. Tipe Volkanian, Bentuk ini di tandai dengan bentuk kerucut berlapis (strato vulcanoes) dengan pipa sentral sebagai pusat erupsi, yang mengeluarkan lava kental, gas, abu, dan awan panas, batu apung, bomb. Materi yang dilontarkan membentuk awan bergumpal-gumpal seperti bunga coal ang tegak menjulang vertikal, pengandapan abu sepanjang lereng dinamakan Pseudovulkanis.
  5. Tipe Vesuvian, Tipe letusan lebih hebat dari pada tipe strombolian dan vulkanian. Hembusan berulang-ulang yang berbahaya bersumber dari dapur magma, kawah kepundan yang relatif kecil/sempit dan pipa stratocone membentuk awan bunga coal yang menjulang abu tinggi sehingga menimbulkan hujan.
  6. Tipe Plinian, Kekuatan erupsi lebih dasyat dibandingkan tipe Vesuvian. Hembusan gas yang membawa aliran secara vertical dengan tinggi bermil-mil dengan pangkal yang sempit, mengembang keatas. Umumnya kandungan abu rendah, tubuh vulkano stratovulcano.
  7. Tipe Pelean, Mempunyai lava yang sangat kental, dihamparkan oleh peletusan eksplosif. Terjadi perlapisan stratovulcanic yang tertumpangi kubah lava. Gas yang terlepas tampak pada lereng-lereng yang rusak atau tersingkap oleh timbulnya kubah lava. Tipe letusan memberikan kenampakan khas. Terjadinya Nuee Ardantes ialah guliran lava blok, gas dan abu atau guguran material rombakan yang berpijar dalam kecepatan tinggi.

Gambar 4. Tipe Letusan Gunugapi

Gunungapi yang meletus dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahaya yang langsung oleh letusan gunungapi diantaranya:
  1. Leleran lava, merupakan cairan lava yang pekat dan panas dapat merusak segala infrastruktur yang dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar antara 800o hingga 1200o Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang dierupsikan gunungapi, komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukup lamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya.

    Gambar 5. Lelahan Lava yang Merusak Infrastruktur

  2. Aliran piroklastik (awan panas), dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge).

    Gambar 6. Awan Panas Berbahaya

  3. Jatuhan piroklastik, terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, pada saat energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan merontokkan daundaun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.

    Gambar 7. Hujan Abu Akibat Erupsi Gunungapi

  4. Lahar letusan, terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air alam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan lumpur panas.
  5. Gas vulkanik beracun, umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S dan SO2 yang pada konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.

    Gambar 8. Pengeluaran Gas CO2 yang membahayakan penduduk di gunung Dieng

Bahaya sekunder, terjadi setelah atau saat gunungapi aktif:
  1. Lahar hujan, terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 m dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
  2. Banjir bandang, terjadi akibat longsoran material vulkanik lama pada lereng gunungapi karena jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran Lumpur disini tidak begitu pekat seperti lahar, tapi cukup membahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai dengan tibatiba terjadi aliran lumpur.
  3. Longsoran vulkanik, dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik ini jarang terjadi di gunungapi secara umum sehingga dalam peta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat Longsoran vulkanik.

Gambar 9. Aliran Lahar Gunung Galunggung

 

Prakiraan Bahaya Letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur

A. Zaennudin, Deden Wahyudin, Mamay Surmayadi, dan E. Kusdinar. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012: 109-132
Kompleks Gunung Ijen merupakan gunung api strato yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Kompleks Gunung Ijen adalah suatu gunung api yang terdiri atas beberapa gunung api yang tumbuh di sekitar dinding dan di dalam kaldera Ijen Tua. Kaldera tersebut merupakan depresi gunung api besar berdiameter 14-16 km dan berbentuk elips yang hanya menyisakan dinding kaldera bagian utara melengkung ke arah selatan. Dinding kaldera selatan sebagian besar telah tertutupi oleh endapan vulkanik hasil erupsi kerucutkerucut gunung api yang aktif pasca kaldera.
Keunikan Kompleks Gunung Ijen dibandingkan dengan gunung api lainnya yakni  perpaduan antara pertumbuhan gunung api poligenetik dan monogentik yang tumbuh di dalam dan di pinggir kaldera. Selain itu, Gunung Ijen adalah gunung api yang mempunyai danau kawah dengan kedalaman sekitar 190 m dan mempunyai derajat keasaman yang sangat tinggi (pH < 0,2) serta volume air danau yang sangat besar, sekitar 36 juta m3.
Kompleks Gunung Ijen secara fi siografi berada dalam Zona Solo di bagian timur Pulau Jawa (Bemmelen, 1949). Zona Solo merupakan zona depresi memanjang berarah barat-timur yang secara tektonik terbentuk karena terpatahkan pada saat pembentukan geoantiklin Jawa, sehingga pada batas antara Zona Solo dengan Zona Pegunungan Selatan yang berada di bagian selatan Zona Solo, membentuk struktur patahan dengan dinding terjal. Proses depresi Zona Solo menghasilkan sesar tangga (block faulting) yang memungkinkan terbentuknya gunung api muda di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur termasuk Kompleks Gunung Ijen.
Kompleks Kaldera Ijen dapat dibagi menjadi tiga fase pembentukan gunung api sesuai dengan tahap kegiatan vulkanismenya, yaitu: fase Gunung Ijen Tua (Gunung Kendeng), fase non vulkanisme dengan terbentuknya Danau Blawan, dan fase vulkanisme pasca Kaldera Ijen (Zaennudin drr., 2004). Gunung Kendeng merupakan gunung api strato terbentuk pada zaman Plistosen (Bemmelen, 1949). Aktivitas gunung api ini berakhir setelah terbentuk kaldera pada kisaran waktu antara 300.000-50.000 tahun yang lalu, menghasilkan endapan aliran piroklastika (ignimbrit) dan jatuhan piroklastika.

Gambar 10. Dinding Kaldera Ijen Bagian Utara

Dalam pencapaian keseimbangan setelah terbentuknya kaldera terbentuklah sesar Pedati di dinding kaldera utara dan sesar Jampit di dinding kaldera barat daya. Setelah terbentuknya kaldera dan sesar-sesar tersebut, maka aktivitas vulkanik Gunung Kendeng terhenti sama sekali. Kemudian disusul oleh proses erosi dan sedimentasi material-material vulkanik hasil pembentukan kaldera. Lahar terbentuk pertama kali sebagai reworked dari material lepas endapan piroklastika. Lahar tersebut diendapkan di daerah-daerah yang relatif mempunyai morfologi rendah pada saat itu, khususnya di dalam Kaldera Ijen yang menyelimuti dasar kalderanya. Setelah endapan lahar terbentuk dan membatu, maka endapan lahar ini tidak dapat ditembus oleh air. Curah hujan yang tinggi dalam kurun waktu yang sangat lama menyebabkan air tersebut ter akumulasi di dalam Kaldera Ijen. dan membentuk danau kaldera yang dinamakan Danau Blawan. Proses erosi dan sedimentasi berlangsung terus, baik yang terjadi di dalam kaldera maupun di luar dinding kaldera.
Setelah pembentukan danau tersebut terjadi peristiwa tektonik yang diduga sebagai pemicu aktivitas vulkanik yang berlangsung pasca kaldera. Pusat-pusat erupsi kerucut gunung api pasca kaldera muncul pada zona lemah membentuk suatu kelurusan timur – barat yang dimulai dari Gunung Merapi, Gunung Ijen di bagian timur sampai Gunung Raung di sebelah barat. Aktivitas vulkanik pertama yang terjadi pasca kaldera tidak dapat diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan umur endapan batuan yang telah dilakukan, pentarikhannya adalah sebagai berikut: Gunung Blau berumur sekitar 50.000 tahun, kemudian disusul oleh aktivitas Gunung Jampit yang berumur sekitar 45.000 tahun, atau kedua gunung api tersebut bererupsi pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Setelah aktivitas kedua gunung api tersebut kemudian muncul Gunung Suket di dinding kaldera barat laut berumur 37.900 tahun yang umurnya hampir bersamaan dengan Gunung Rante di dinding kaldera selatan (30.000 tahun), Gunung Ringgih di dinding kaldera timur laut (29.800 tahun), dan Gunung Pawenan di dinding timur ( 24.400 tahun).
Pemahaman aktivitas vulkanisme suatu gunung api dalam proses pembentukannya merupakan syarat mutlak untuk mengetahui ancaman bahaya gunung api pada masa yang akan datang, yang sering disebut sebagai prakiraan bahaya gunung api. Kajian ini didasarkan pada sifat alamiah gunung api melalui telaahan data geologi, geofisika, dan geokimia serta data terkait lainnya secara komprehensif dan terintegrasi. Gunung api sebagai suatu fenomena alam
yang terbentuk dari dinamika geologi yang berevolusi sering memperlihatkan aktivitas vulkanismenya secara tidak menentu yang dikenal dengan istilah stochastic processes.

Gambar 12. Celah Sempit di Sekitar Blawan yang Diduga Terbentuk oleh Proses Tektonik yang Membelah Dinding Kaldera Ijen Bagian Utara

Tochastic processes dalam ruang dan waktu geologi merupakan suatu hal mutlak dalam  penentuan prakiraan bahaya gunung api pada masa yang akan datang. Ruang dan waktu geologi dalam kajian prakiraan bahaya gunung api perlu dipertimbangkan. Ruang memiliki pengertian terhadap estimasi lokasi atau sumber potensi ancaman bahaya, luas, dan jarak jangkau sebaran dari setiap jenis potensi bahaya gunung api sebagai implikasi besaran kekuatan letusan gunung api. Waktu dalam skala geologi memiliki implikasi terhadap probabilitas atau kemungkinan waktu kejadian letusan gunung api pada masa yang akan datang.
Prakiraan potensi bahaya gunung api dilakukan melalui pendekatan deterministik dan probabilistik. Pendekatan deterministik didasarkan pada data – data geologi, geofisika, dan geokimia, serta data penunjang lainnya sebagai identifikasi karakteristik vulkanisme dalam penentuan potensi ancaman bahaya letusan gunung api pada masa yang akan datang. Sementara itu, pendekatan probabilistik lebih ditekankan pada analisis statistik data sejarah letusan.
Data letusan pra sejarah menunjukkan bahwa erupsi Kompleks Gunung Ijen bersifat efusif dan eksplosif. Tidak diketahui secara pasti kapan vulkanisme Kompleks Gunung Ijen mulai berlangsung. Berdasarkan rekonstruksi data geologi, durasi vulkanisme Kompleks Gunung Ijen dari awal hingga kondisi sekarang diawali sebagai gunung api strato yang telah mengalami penghancuran dan pembentukan kaldera, serta kembali menjadi gunung api strato (poligenetik) dan monogenetik. Jika data pentarikhan umur 294.400 tahun diasumsikan sebagai fase akhir vulkanisme Ijen Tua, maka sistem Kaldera Ijen kemungkinan terbentuk sekitar 300.000 tahun yang lalu, setelah berlangsung vulkanisme selama kurang lebih 400.000 tahun.
Tidak diketahui secara pasti durasi vulkanisme suatu gunung api poligenetik dan monogetik di Kompleks Gunung Ijen. Meskipun demikian, perkiraan statistika kasar berdasarkan data umur batuan di Kompleks Gunung Ijen (Sujanto drr., 1988), durasi sistem poligenetik kemungkinan berkisar antara 15.000 – 35.000 tahun, sedangkan durasi sistem monogenetik kemungkinan sekitar 10.000 tahun untuk satu fase monogenetik. Bila dibandingkan dengan data durasi rata – rata dan durasi terpanjang vulkanisme sistem strato (poligenetik) berkomposisi intermedier – mafik di dunia selama 240.000 dan 1.300.000 tahun (Ferrari, 1995), maka vulkanisme Kompleks Gunung Ijen dengan sistem strato atau poligenetik diperkirakan masih akan terus berlangsung.
Vulkanisme Kompleks Gunung Ijen pasca kaldera telah berlangsung sekitar 50.000 tahun yang lalu. Pertumbuhan vulkanisme poligenetik dan monogentik secara simultan terbentuk pasca pembentukan kaldera. Apabila diasumsikan bahwa vulkanisme poligenetik dan monogenetik tumbuh bersamaan sekitar 50.000 tahun lalu, maka durasi vulkanisme nya masih memiliki probabilitas tinggi untuk erupsi pada masa mendatang. Sehubungan dengan keterbatasan data, terutama umur batuan, maka sulit untuk memperkirakan perubahan vulkanisme dari poligenetik ke monogenetik dan lokasi vulkanisme yang baru seandainya terjadi perubahan sistem vulkanisme. Meskipun demikian, diperhitungkan secara kasar aktivitas vulkanik Kompleks Gunung Ijen masih berlangsung di Kawah Ijen yang diperkirakan telah berlangsung selama 20.000 tahun, sedikitnya dalam 10.000 tahun ke depan. Statistika kasar ini tanpa memperhitungkan faktor tektonik yang kemungkinan mempengaruhi perubahan sistem vulkanisme.
Data deterministik pada masa prasejarah yang terangkum dalam peta geologi gunung api Kompleks Gunung Ijen dijadikan dasar dalam evaluasi fenomena gunung api dan asosiasi ancaman bahayanya. Bahaya gunung api Kompleks Gunung Ijen yang berasosiasi dengan aktivitas gunung api dan berupsinya tidak hanya mengancam kawasan di sekitar Kompleks Gunung Ijen, tetapi akan berpengaruh secara regional terhadap daerah lainnya terutama yang di sebabkan oleh abu erupsi. Selain mengancam kesehatan dan lingkungan hidup manusia, abu erupsi Kompleks Gunung Ijen juga memungkinkan akan menjadi ancaman serius terhadap kelancaran transportasi udara yang melintasi kawasan sekitar Kompleks Gunung Ijen.
nalisis geologi, geokimia, dan geofisika secara terintegrasi menyimpulkan bahwa erupsi Kompleks Gunung Ijen pada masa mendatang diperkirakan terjadi di sekitar Kawah Ijen sebagai kawah aktif di Kompleks Gunung Ijen sekarang. Ancaman bahaya gunung api Kawah Ijen berupa aliran piroklastika, jatuhan piroklastika, aliran lava, dan lahar letusan. Kawasan Kompleks Gunung Ijen yang memiliki potensi ancaman tergambar dalam ilustrasi peta prakiraan bahaya gunung api. Batas pelamparan zona bahaya didasarkan pada pendekatan deterministik semi kuantitatif dan kondisi morfologinya. Selain bahaya gunung api yang dihasilkan erupsi, bahaya lainnya datang dari air danau Kawah Ijen dengan derajat keasaman yang sangat tinggi sehingga dapat mengancam kesehatan dan lingkungan hidup manusia.

Gambar 13. Fenomena Bahaya Gunung Api

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulya, Agung. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Pustaka Setia. Bandung.
Munir, Moch. 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. Pustaka Jaya. Jakarta.
Zaennudin, A., Deden Wahyudin, Mamay Surmayadi, dan E. Kusdinar. 2012. Prakiraan Bahaya Letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi. Vol. 3 No. 2.
Posted in Tugas Terstuktur | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 3

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 2

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Proses Tektonisme dan Studi Kasus Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera”

Disusun Oleh:
                                                                             Nama      : Muzna Aqila
                                                                             NIM        : 155040207111149
                                                                             Kelas       : A
                                                                             Dosen      : Dr. Ir. Sudarto, MS

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Tektonisme adalah proses pembentukan permukaan bumi yang terjadi akibat pengangkatan, lipatan dan patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Tektonisme merupakan tenaga dari dalam bumi yang dapat mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) dan bentuk (deformasi) pada kulit bumi. Kulit bumi (litosfer) memiliki sifat yang keras dan kaku akibat tekanan dari dalam bumi, pada akhirnya kulit bumi terpecah menjadi lempengan-lempengan besar yang tidak sama ukurannya kemudian disebut lempeng tektonik. Lempeng- lempeng ini bergerak secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh cairan astenosfir yang panas di bawahnya.
Berdasarkan luas dan waktu kejadian, gerakan lempeng tektonik dapat dibedakan menjadi, gerak epirogenesis dan gerak orogenesis. Gerak epirogenesis merupakan pergeseran lempeng tektonik secara perlahan dan meliputi wilayah yang luas, seperti penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia. Gerak epirogenesis dibedakan atas:
  1. Epirogenesis positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga tampak permukaan air laut yang naik. Contoh: turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai ke pulau Banda).
  2. Epirogenesis negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga tampak permukaan air yang turun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.

    Gambar 1. Gerak Epirogenetik Positif dan Negatif

Gerak orogenesis merupakan proses pembentukan pegunungan yang meliputi luas areal yang sempit dan waktu relatif singkat, dibandingkan epirogenesis, seperti pembentukan rangkaian pegunungan yang ada sekarang. Gerak orogenesis disebabkan adanya tekanan secara vertikal pada lempeng dan pecah, lempeng yang pecah mengalami pergeseran secara horizontal. Pergeseran ini mengakibatkan terjadinya lapisan kulit bumi atau salah satu lempeng terlipat dan patah.

Gambar 2. Proses Lipatan

Gambar 3. Bagian-Bagian Lipatan

Proses lipatan (folded process), merupakan kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang disebabkan pergeseran salah satu lempeng secara horizontal menumbuk lempeng lainnya. Pada gambar diatas  puncak lipatan disebut antiklin dan jika jumlahnya banyak disebut antiklinorium, sedangkan lembah disebut sinklin dan jika jumlahnya banyak disebut sinklinorium. Berdasarkan bentuk dan puncak lipatan, maka lipatan ada beberapa, seperti; lipatan tegak, lipatan miring, lipatan menggantung, lipatan isoklinal, lipatan rebah dan lipatan sesar sungkup. Contoh dari lipatan yakni Pegunungan Ural, Pegunungan Mediteranian dan Sirkum Pasifik.

Gambar 4. Bentuk-Bentuk Lipatan

Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap.
  2. Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan sumbu utama.
  3. Lipatan Harmonik atau Disharmonik adalah lipatan berdasarkan menerus atau tidaknya sumbu utama.
  4. Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya.
  5. Lipatan Chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar.
  6. Lipatan Isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar.
  7. Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh permukaan planar.

Gambar 5. Pegunungan Lipatan sebagai Hasil dari Proses Tektonik

Gambar 6. Lipatan Antiklin dan Siklin

Gambar 7. Lipatan Rebah dan Chevron

Gambar 8. Lipatan Disharonic dan Ptigmatik

Gambar 9. Lipatan Klin Bands dan Daerah Lipatan, Lengseran dan Patahan

Selain membentuk lipatan, tenaga tektonik menyebabkan terjadinya patahan (sesar) pada kulit bumi. Proses patahan  ini cepat, sehigga kulit bumi tidak sempat terlipat. Batuan yang berbeda akan memiliki sifat yang berbeda terhadap tegasan yang bekerja pada batuan-batuan tersebut, dengan demikian juga dapat diperkirakan bahwa beberapa batuan ketika terkena tegasan yang sama akan terjadi retakan atau terpatahkan, sedangkan yang lainnya akam terlipat. Geometri dari perlipatan lapisan batuan yang terkena tegasan diperlihatkan dimana pada tahap awal perlapisan batuan akan terlipat membentuk lipatan sinklin-antiklin dimana secara geometri bentuk lengkungan bagian luar (outer arc) akan mengalami peregangan sedangkan lengkungan bagian dalam akan mengalami pembelahan (cleavage). Apabila tegasan ini berlanjut dan melampaui batas elastisitas batuan, perlipatan akan mulai terpatahkan  (tersesarkan) melalui bidang yang terbentuk pada sumbu lipatannya. Sedangkan pada bidang patahan, gaya tegasan akan berubah arah.
Ketika batuan yang berbeda tersebut berada di area yang sama, seperti batuan yang bersifat lentur menutupi batuan yang bersifat retas, maka batuan yang retas kemungkinan akan terpatahkan dan batuan yang lentur mungkin hanya melengkung atau terlipat diatas bidang patahan. Demikian juga ketika batuan yang bersifat lentur mengalami retakan dibawah kondisi tekanan yang tinggi, maka batuan tersebut kemungkinan terlipat sampai pada titik tertentu kemudian akan mengalami pensesaran, membentuk suatu patahan. Patahan sendiri didefinisikan sebagai struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dan sebagainya. Adapun di lapangan indikasi suatu patahan dapat dikenal melalui:
  1. Gawir sesar atau bidang sesar.
  2. Breksiasi, gouge dan milonit.
  3. Deretan mata air.
  4. Sumber air panas.
  5. Penyimpangan atau pergeseran kedudukan lapisan.
  6. Gejala-gejala strukur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dan lain sebagainya.
Patahan dapat dibagi kedalam beberapa jenis atau tipe berdasarkan arah gerak relatif pergeserannya yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Dip Slip Faults, adalah patahan yang bidang patahannya menyudut (inclined) dan pergeseran relatifnya berada disepanjang bidang patahannya atau offset terjadi disepanjang arah kemiringannya. Untuk setiap bidang patahan yang mempunyai kemiringan, maka blok yang berada diatas patahan sebagai hanging wall block dan blok yang berada dibawah patahan dikenal sebagai footwall block.
  2. Normal Faults, adalah patahan yang terjadi karena gaya tegasan tensional horisontal pada batuan yang bersifat retas dimana hanging wall block telah mengalami pergeseran relatif ke arah bagian bawah terhadap footwall block.

    Gambar 10. Normal Faults

  3. Horsts dan Graben, Dalam kaitannya dengan sesar normal yang terjadi sebagai akibat dari tegasan tensional, seringkali dijumpai sesar-sesar normal yang berpasang pasangan dengan bidang patahan yang berlawanan. Dalam kasus yang demikian, maka bagian dari blok-blok yang turun akan membentuk “graben” sedangkan pasangan dari blok-blok yang terangkat sebagai “horst”. Contoh kasus dari pengaruh gaya tegasan tensional yang bekerja pada kerak bumi pada saat ini adalah “East African Rift Valley” suatu wilayah dimana terjadi pemekaran benua yang menghasilkan suatu “Rift”. Contoh lainnya yang saat ini juga terjadi pemekaran kerak bumi adalah wilayah di bagian barat Amerika Serikat, yaitu di Nevada, Utah, dan Idaho.

    Gambar 11. Horsts dan Graben

  4. Half-Grabens, adalah patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkungan dengan besar kemiringannya semakin berkurang kearah bagian bawah sehingga dapat menyebabkan blok yang turun mengalami rotasi.

    Gambar 11. Half-Graben

  5. Reverse Faults, adalah patahan hasil dari gaya tegasan kompresional horisontal pada batuan yang bersifat retas, dengan kemiringan bidang sesar lebih besar 45°dimana hangingwall block berpindah relatif kearah atas terhadap footwall block.

    Gambar 12. Reverse Faults

  6. A Thrust Fault, adalah patahan yang kemiringan bidang patahannya lebih kecil dari 45°. Pergeseranya dapat mencapai hingga ratusan kilometer sehingga memungkinkan batuan yang lebih tua dijumpai menutupi batuan yang lebih muda.

    Gambar 13. A Thrust Faults

  7. Strike Slip Faults, adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah horizontal mengikuti arah patahan. Contoh patahan jenis ini yang sangat terkenal adalah patahan San Andreas di California dengan panjang mencapai lebih dari 600 km.

    Gambar 14. Strike Slip Faults

  8. Transform Faults adalah jenis patahan strike-slip faults yang khas terjadi pada batas lempeng, dimana dua lempeng saling berpapasan satu dan lainnya secara horizontal. Jenis patahan transform umumnya terjadi di pematang samudra yang mengalami pergeseran (offset), dimana patahan transform hanya terjadi diantara batas kedua pematang, sedangkan dibagian luar dari kedua batas pematang tidak terjadi pergerakan relatif diantara kedua bloknya karena blok tersebut bergerak dengan arah yang sama. Daerah ini dikenal sebagai zona rekahan (fracture zones).

    Gambar 15. Transform Faults

Patahan besar membelah batuan saat lempeng bergerak, mendorong naik wilayah daratan, atau membuatnya amblas. Setelah terjadi gempa saat energi dilepaskan, maka batuan di kedua sisi patahan terkunci menjadi satu di posisinya yang baru. Relief geologis akibat patahan yang terkenal di dunia adalah Patahan San Andreas di California, AS dengan panjang 1.200 km. Patahan ini menjadi batas antara Lempeng Pasifik dan Lempeng benua Amerika Utara. Kedua lempeng terus berlangsung dengan arah berlawanan dengan pergeseran sekitar 5 cm/tahun., juga terdapat alur patahan yang lebih kecil dan berhubungan dengan San Andreas. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah gempa dengan kekuatan besar serta 20.000 gempa tercatat setiap tahun. Patahan San Andreas nampak dari udara, seperti goresan luka di permukaan bumi.
Di Indonesia, bentuk muka bumi yang diakibatkan oleh proses patahan dan lipatan yakni di dua deretan pegunungan Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik, dataran tinggi Gayo di Aceh, dataran tinggi Bandung dan plateu Dieng di Jawa Tengah. Dataran tinggi Dieng (Dieng Plateu) merupakan sebua kompleks gunung berapi, berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 14 km, lebar 6 km dan memanjang dari arah barat daya hingga tenggara. Dieng plateu berasal dari gunung api tua (Gunung Prau) yang mengalami penurunan drastis (dislokasi) oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Pada bagian yang ablas muncul gunung0gunung kecil, yani Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Panonan, Gunung Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja
Dieng plateu terleta 26 km di sebelah utara Wonosobo. Secara geografis berada di antara 7o11’00’’ LS – 7o14’00’’ LS dan 109o51’00’’ BT – 109o54’30’’ BT, sedangkan secara administratif sebagian besar masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan sebagian lagi masuk wilayah Kabupaten Wonosobo, jawa Tengah. Secara geologi regonal Kompleks Gunung Api Dieng ditutupi oleh endapan berlumpur Kuarter berupa aliran lava, piroklastik, endapan phreatik, endapan lahar, endapan permukaan dan hasil erupsi Gunung Sundoro.

 

Studi Kasus Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera

Jose Rizal, Sigit Nugroho, Adi Irwanto dan Debora. 2016. Jurnal Matematika Vol. 6 No. 1
Pertemuan lempeng di wilayah Sumatera memiliki subduksi miring dengan kecepatan rata-rata 5-6 cm/tahun, hal ini mengakibatkan Pulau Sumatera rawan terjadi gempa bumi yang disebabkan dari pergerakan lempeng. Beberapa gempa bumi besar yang terjadi di wilayah Sumatera yaitu gempa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, gempa Bengkulu pada tanggal 12 September 2007 dan gempa Mentawai pada tanggal 25 Oktober 2010.

Gambar 16. Tatanan Tektonik di Indonesia dan Peta Kejadian Gempa tektonik Aktif di Wilatah Sumatra

Untuk memperkecil dampak negatif dari gempa bumi, diperlukan suatu prediksi. Walaupun sampai saat ini, kapan dan dimana gempa bumi terjadi belum dapat diprediksi dengan pasti. Dengan menggunakan analisis statistik deskriptif diperoleh kejadian gempa tektonik paling sedikit terjadi sebanyak satu kali dalam satu bulan dan paling banyak terjadi 869 kali dalam satu bulan dengan rata-rata magnitudonya yaitu minimum 4,10 SR dan maksimum 5,77 SR dalam satu bulan. Sedangkan rata-rata gempa tektonik yang terjadi sebanyak 20 kali setiap bulan dan rata-rata dari rata-rata magnitudo gempa tektonik yang terjadi setiap bulan 4,98 SR.
Gempa bumi yang terjadi dari tahun 2004 sampai tahun 2014, dapat dilihat pada gambar 7, bahwa titik-titik yang berwarna biru memberikan informasi terjadinya gempa berkekuatan 4.85 SR dan yang berwarna merah memberikan informasi terjadinya gempa berkekuatan > 4.85 SR. Ini menunjukan adanya kecenderungan bahwa yang lebih banyak terjadi adalah gempa dengan kekuatan yang kecil. Dapat pula dilihat pada gambar 7 terdapat pembagian region, hal ini dapat digunakan untuk mengetahui keadaan aktivitas seismik di Sumatera.

Gambar 7. Peta Kejadian Gempa Bumi di Sumatra Tahun 2004-2014

Berdasarkan gambar 8 diduga banyaknya gempa tektonik yang terjadi dan rata-rata magnitudo telah stasioner dalam rata-rata karena trendnya cenderung datar, pada kedua gambar tersebut ada beberapa data yang menjurai baik ke atas maupun ke bawah yang mengindikasikan kedua data tersebut tidak stasioner dalam varian.

Gambar 18. Banyaknya Gempa Tektonik dan Rata-Rata Manglitudo Gempa Tektonik yang Terjadi Setiap Bulan

Dengan banyaknya gempa tektonik yang terjadi setiap bulan di wilayah Sumatera diperoleh model ARFIMA (4,0.350,3) sebagai model terbaik yang dapat digunakan untuk peramalan. Dari model matematika tersebut diketahui bahwa periode ramalan pertama akan terjadi gempa tektonik 21 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,910 SR, sedangkan periode ramalan kedua akan terjadi gempa tektonik 14 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,936 SR dan pada periode ramalan ketiga akan terjadi gempa tektonik 20 kali dengan rata-rata magnitudonya 4,960 SR.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asikin, Sukendar. 1978. Dasar-dasar Geologi Struktur, Departemen Teknik Geologi ITB. Bandung.
Noor, Dauhari. 2009. Pengantar Geologi. Program Studi Teknik Geologi. Fakultas Teknik Universitas Pakuan. Bogor.
Rizal, Jose., Sigit Nugroho., Adi Irwanto dan Debora. 2016. Analisis Kejadian Gempa Bumi Tektonik di Wilayah Pulau Sumatera. Jurnal Matematika Vol. 6 No. 1.
Sapiie, B., Harsolumakso, A. H. 2008. Prinsip Dasar Geologi Struktur. Laboratorium Geologi Dinamik. Program Studi Teknik Geologi ITB. Bandung.
Posted in Tugas Terstuktur | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP 2

TUGAS ANALISIS LANDSKAP TERPADU 1

TUGAS DISKUSI

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

Disusun Oleh:
Tya Lestari                          155040201111155
Meka Lianasari                   155040201111247
 Achmad Azhari Sidik         155040207111090
Muzna Aqila                       155040207111149
Kelas: A

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Mengapa Malang Dikelilingi oleh Banyak Gunung ?

Matahemual (1982) menyebutkan bahwa gunung api (vulkan) adalah suatu bentuk timbulan di muka bumi yang pada umumnya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut terpacung, kubah ataupun bukit yang diakibatkan oleh penerobosan magma ke permukaan bumi. Pada umumnya terdapat beberapa jalur tertentu di muka bumi, yakni pada jalur punggung tengah samudra, jalur pertemuan dua buah lempeng kulit bumi dan pada titik-titik panas dimuka bumi tempat keluarnya magma pada benua maupun samudra.
Malang raya merupakan salah satu daerah yang dikelilingi banyak gunung berapi. Sebelum berfokus kepada daerah Malang, maka telebih dahulu mengetahui proses pembentukan gunung berapi pada Indonesia. Menurut Waluyo (2010) menjelaskan bahwa proses pembentukan gunung berapi dapat terbentuk karena adanya jalur aktif yang ditandai dengan seismisitas atau bisa disebut dengan kegempaan yang tinggi dan merupakan batas antar lempeng. Sedangkan di Indonesia sendiri merupakan daerah yang terletak pada tiga lempeng utama bumi yaitu meliputi Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (Pratama dkk, 2014). Ketika mempunyai tiga lempeng utama maka yang akan terjadi adalah peristiwa subduksi antar kedua lempeng lempeng atau lebih berimbas pada melelehnya material batuan kerak bumi sehingga bergerak ke permukaan karena berat jenih batuan pada kerak bumi yang lebih rendah (Proses Undasi) (Asriningrum dkk, 2004).
Secara keseluruhan maka Indonesia merupakan negara yang disebut dengan “Cincin Api Pasifik” atau Ring of Fire on Pacific Rims. Artinya adalah rangkaian jalur gunung api yang statusnya tergolong aktif tersebar di atas lempeng bumi (Bronto, 2006). Daerah Jawa sendiri termasuk zona pertemuan antar kedua lempeng tektonik dan merupakan jalur vulkan aktif. Lempeng tersebut mempertemukan antara Lempeng Indo Australia yang menumbuk di bawah Lempeg Australia. Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia mempunyai 129 buah gunung api aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatra, Jawa hingga laut Banda. Pulau Jawa sendiri memiliki total 35 gunung yang hingga kini masih aktif. Kantili (1979) menyebutkan bahwa di Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, pembentukan gunung api terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatera penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll. Tumbukan antara lempeng-lempeng tersebut dimungkinkan juga banyak terjadi di Malang sehingga terbentuk berbagai gunung berapi dengan jumlah yang cukup banyak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Malang Raya yang termasuk dalam daerah Jawa akan mempunyai gunung api aktif ataupun tidak dalam jumlah cukup banyak seperti: gunung semeru dan gunung tengger.

Gambar 1. Proses Pembentukan Gunung Api

 

Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

A. Posisi Geografis
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul terletak di 110 ̊21′ – 110 ̊50′ Bujur Timur dan 7 ̊46′ – 8 ̊09′ Lintang Selatan. Kabupaten Gunungkidul terletak di bagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas  wilayah Provinsi DIY. Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak ±39 km.

Gambar 2. Peta Geografi Kabupaten Gunung Kidul

B. Topografi
Kabupaten Gunung Kidul memiliki topografi karst yang terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Bentang alam pegunungan menyebabkan lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan yang bervariasi.

Gambar 3. Peta Topografi Kabupaten Gunung Kidul

C. Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Zona Karst Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul
Daerah Gunung Sewu merupakan perbukitan kerucut karst yang berada di zona fisiografik Pegunungan Selatan Jawa Tengah – Jawa Timur, dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini seringkali mengalami kekeringan di musim kemarau, karena air permukaan yang langka. Diperkirakan terdapat cukup banyak air di bawah tanah, terbukti dari banyak dijumpainya sungai-sungai bawah permukaan.
Geomorfologi Daerah Gunung Sewu, berdasarkan morfogenetik dan morfometriknya dapat dikelompokkan menjadi tiga satuan, yaitu Satuan Geomorfologi Dataran Karst, Satuan Geomorfologi Perbukitan Kerucut Karst, dan Satuan Geomorfologi Teras Pantai. Secara umum karstifikasi di daerah ini sudah mencapai tahapan dewasa.
Lapisan paling bawah stratigafi Daerah Gunungsewu berupa endapan vulkanik yang terdiri dari batupasir tufaan, lava, dan breksi, yang dikenal sebagai Kelompok Besole. Di atas batuan basal tersebut, secara setempat-setempat didapatkan napal Formasi Sambipitu, serta batu gamping tufaan dan batu gamping lempungan Formasi Oyo. Di atasnya lagi dijumpai batu gamping Gunung Sewu Formasi Wonosari yang dianggap merupakan lapisan pembawa air. Di bagian paling atas, berturut-turut terdapat napal Formasi Kepek, endapan aluvial dan endapan vulkanik Merapi.
Daerah Panggang Gunung Sewu ini terletak di kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta yang merupakan bentukan asal solusional berupa polye. Daerah ini memiliki relief yang berbukit dengan kandungan batu gamping yang tebal dengan struktur berlapis dengan batuan dasar (basement) berupa batu breksi dan bagian atas berupa batu gamping. Proses pembentukan daerah ini adalah melalui pengangkatan dasar laut dangkal (zona litoral) karena adanya pengaruh tenaga endogen atau tektonik. Polye ini sendiri terbentuk karena adanya gua bawah tanah yang runtuh atau ambles karena tidak mampu menahan bebannya sendiri.
Proses geomorfologi yang terjadi di daerah ini adalah berupa erosi dan pelapukan pada batugamping sehingga lapies lapuk dan berubah menjadi tanah mediteran atau terrarosa. Tanah didaerah ini berupa tanah terrarosa atau mediteran yang bercampur dengan robakan batu gamping kasar, perkembangan tanah tidak terlalu dominan karena didaerah ini jarang terjadi hujan.  Tanah ini sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur dan memiliki  kejenuhan basa lebih dari 50 %, bertekstur lempung debuan namun kondisi tanahnya masih dapat diusahakan untuk kepentingan pertanian lahan kering.
Batuan-batuan karbonat Formasi Wonosari yang berumur Mio-Pliosen mendominasi bagian selatan Pegunungan Selatan, membentuk topografi kars yang dikenal dengan nama  Gunung Sewu. Secara umum, perbukitan kars Gunung Sewu melampar dengan arah TTg-BBL. Bagian selatan Gunung Sewu merupakan pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudera India oleh gawir-gawir erosi. Bagian utara Gunung Sewu memiliki batas yang  bervariasi dengan fisiografi di sekitarnya. Gunung Sewu dibatasi oleh kelurusan semi-sirkuler dengan arah umum TTg-BBL dengan Cekungan Wonosari dan Cekungan Baturetno.
Selain itu, perbukitan kars tersebut menumpang secara tidak selaras terhadap  batuan beku dan volkaniklastik Oligo-Miosen yang telah tererosi pada ujung baratdaya  Lajur Baturagung, pada ujung selatan Masif Panggung, dan pada bagian timur Cekungan Baturetno. Bidang ketidakselarasan tersebut sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level pertama (Pannekoek, 1949). Penumpangan batugamping Gunung Sewu tersebut menghasilkan suatu transisi morfologi yang bersifat gradual dari  perbukitan volkanik struktural di sebelah utara menjadi perbukitan kars di sebelah selatan. Puncak-puncak perbukitan kerucut kars yang relatif horisontal sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level kedua (Pannekoek, 1949).
Di Pantai Wediombo batuan karbonat Formasi Wonosari menumpang secara tidak selaras diatas batuan beku Miosen. Selaras dengan konsep peneplainisasi pertama dari Pannekoek (1949), selanjutnya Hartono (2000) menginterpretasikan batuan beku tersebut sebagai sisa erosi dari  tubuh gunungapi. Orientasi perbukitan dan lembah lembah kars di Gunung Sewu bervariasi secara geografis. Bagian utara didominasi oleh kelurusan berarah BL-Tg, sedangkan bagian selatan  didominasi oleh kelurusan berarah TTg-BBL yang relatif sejajar dengan garis pantai saat  ini. Pola kelurusan pertama dapat dengan jelas dilihat di selatan Masif Panggung dan selatan Giritontro. Beberapa penelitian menunjukkan pola kelurusan yang kedua tersebut dibentuk oleh undak-undak pantai purba yang kemungkinan disebabkan oleh pengangkatan episodik Pegunungan Selatan (Sartono, 1964; Surono, 2005). Bila interpretasi ini diterapkan pada pola kelurusan pertama di sebelah utara, maka implikasinya adalah adanya perubahan pola pengangkatan Pegunungan Selatan. Bukti pengangkatan Pegunungan Selatan yang bersifat episodik juga datang dari endapan teras sungai di utara Teluk Pacitan (Harloff, 1933; Movius, 1944).

 

Kliping Studi Kasus Kebencanaan

  1. Bencana Banjir di Banyuwangi

2. Bencana Banjir di Wonogiri

3. Bencana Tanah Longsor di Wonogiri

4. Bencana Banjir dan Longsor Di Pacitan

 

DAFTAR PUSTAKA

Harloff, Ch.E.A. 1933. Geologische kaart van Java. Toelichting bij blad 24.
Hartono, G. 2000. Studi gunung api Tersier: Sebaran pusat erupsi dan petrologi di Pegunungan Selatan, Yogyakarta. Thesis Magister Teknik, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 168 p (tidak diterbitkan).
Movius, H.L. 1944. Early Man and Pleistocene Stratigraphy in Southern and Eastern Asia. Mus. Am. Arch. & Ethn. Harv. Univ. XIX, no. 3.
Pannekoek, A.J. (1949) Outline of the Geomorphology of Java. Reprint from Tijdschrift van Het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, vol. LXVI part 3, E.J. Brill, Leiden, pp. 270-325.
Sartono, S. 1964. Stratigraphy and Sedimentation of the Easternmost Part of Gunung Sewu (East Djawa). Publikasi Teknik Seri Geologi Umum, no. 1, Direktorat Geologi, Bandung, 95 p.
Surono, B. Toha, dan Ign. Sudarno. 1992. Peta Geologi Lembar Surakarta-Giritontro, Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Posted in Tugas Terstuktur | Comments Off on TUGAS ANALISIS LANDSKAP TERPADU 1

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Posted in Uncategorized | 1 Comment