Tugas E – Commerce 2

Posted: 15th March 2010 by Muhammad Syaifudin Arasyid in Tugas Tersetruktur E-Commerce
Comments Off on Tugas E – Commerce 2

Types of Stores and Malls

1. Berdasarkan Pemiliknya:
Pemilik toko online ada yang berupa:

  • perusahaan
  • kelompok, keluarga
  • perorangan

Toko online yang dimiliki oleh perusahaan atau kelompok cenderung memiliki pembagian fungsi yang lebih jelas untuk setiap pengelolanya. Ada yang bertugas sebagai pengelola tampilan, marketing, pelayanan pelanggan, keamanan, dll. Hal ini memang dilakukan untuk mengantisipasi sifat transaksi yang juga lebih besar. Sedangkan toko online milik pribadi tentu saja lebih sederhana. Mulai dari memasukkan data barang dagangan, pelayanan pelanggan, marketing, pengelola persediaan dll dilakukan sendiri. Bisa dibayangkan capeknya. Tapi apabila capek karena banyak pesanan, tidak masalah. Nanti apabila sudah maju, bisa meminta bantuan teman atau pasangan untuk membantu. Bahkan mungkin lama-lama bisa membayar karyawan sendiri. Kalau tidak salah, dulu manetvision.com juga diawali dari yang seperti ini.

2. Berdasarkan Produk yang Dijual:
Produk yang dijual di toko online sangat bervariasi. Tidak ada batasan untuk menjual sesuatu. Sama halnya dengan toko offline. Untuk kali ini, saya bagi kepada dua jenis toko online berdasarkan produk yang dijual:

  • Barang atau Jasa. Contoh produk barang: baju, kue, buku, dll. Contoh produk jasa: Jasa Translator, jasa pemasangan iklan, jasa konsultasi, dsb. Walau memang tempat menjual produk jasa ini rasanya sedikit janggal jika disebut ‘toko’.
  • Kepemilikan. Barang yang dijual merupakan produk sendiri, misalnya kita memiliki/membeli sebuah produk untuk kita pasarkan lewat toko online kita. Selain itu, ada juga toko online yang menjual barang milik orang lain. Biasanya, ini dilakukan dalam program afiliasi. Contoh toko yang menjual produk melalui program afiliasi adalah toko-toko online yang memakai script dari AoM, yang menjual produk-produk Amazon. Kalau mau belajar lebih lanjut tentang AoM, silahkan mampir ke waroengbetawi.

3. Berdasarkan Harga Pembuatannya:

  • Gratis. Saat ini, akses kepada cara-cara membuat toko online semakin banyak. Berbagai buku, e-book, software telah diciptakan untuk meningkatkan kemudahan dalam memiliki toko online. Sehingga tidak jarang ada toko online yang biaya pembuatannya gratis. Contohnya adalah dengan menggunakan plaftorm blog gratis, menggunakan domain dan hosting gratis, menggunakan script os-commerce di fantastico, dll.
  • Toko online berbayar . Harganya dari ratusan ribu bahkan sampai belasan juta rupiah, memiliki keunggulan desainnya lebih unik dan personality, tidak mudah ditiru. Sehingga kesan profesionalnya lebih terjaga. Biasanya, seorang pengusaha akan membayar web designer untuk mengerjakan toko online berbayar ini. Toko online berbayar biasanya memiliki sistem transaksi yang sangat menyesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Berbeda dengan toko online gratis yang harus mengikuti standar yang ditetapkan oleh pembuat script. Bedanya lagi, toko online yang dibuat dengan bayaran biasanya menyediakan jasa pelayanan pelanggan pasca pembelian. Hal ini penting untuk Anda yang baru membuka usaha online Anda. Agar tidak terlalu terhambat dengan fitur-fitur yang baru Anda kenal pada toko online Anda. Contoh: gramedia, topbgt.com.bhinneka.

4. Berdasarkan Kegiatan yang Bisa Dilakukan:

  • Sekedar menampilkan barang. Biasanya toko online ini menggunakan plaftorm blog seperti blogspot.com dan Multipy. Contohnya adalah: mbut5. Pada toko online jenis ini, yang paling utama adalah adanya pelayanan pelanggan yang selalu aktif dan responsif, apabila ada pengunjung yang menanyakan tentang produk yang dijual. Maklum saja, pengunjung tidak bisa mandiri berbelanja. Toko online jenis ini bisa diibaratkan sebuah counter. Pengunjung boleh melihat-lihat barang yang dijual sesuka hati. Ketika ada produk yang memikat, pengunjung akan menanyakan perihal barang tersebut kepada penjaga counter, dan bisa berlanjut ke transaksi. Tetapi tidak ada fasilitas yang berfungsi seperti keranjang belanjaan dan kasir.
  • Bisa berbelanja di toko online tersebut. Jika diibaratkan, minimal toko online ini sudah hampir seperti toko swalayan. Pengunjung bisa melihat produk, memilihnya, memasukkannya ke keranjang belanja dan menghitungnya di kasir. Namun yang membedakan adalah pembayaran dilakukan di luar toko online ini. Biasanya dengan cara COD (Cash on Delivery atau pembayaran saat barang diterima pembeli) ataupun transfer via rekening bank. Contohnya adalah toko online yang kami sediakan. Klik di sini untuk melihat langsung.
  • Bisa langsung melakukan pembayaran. Nah ini contoh toko online yang memang bisa dibandingkan dengan toko swalayan. Pembeli bisa melihat, memilih, memasukkan ke keranjang belanja, dan membayar produk yang dibeli langsung di toko online ini. Pembayarannya biasanya mulai dari COD sampai menggunakan payment gateway (jasa perantara pembayaran) seperti PayPal, ClickBank, eGold, kartu kredit, dll. Bagus sekali, karena memang telah memenuhi syarat sebuah toko. Kelemahan yang mungkin terjadi adalah masalah ‘keamanan’ dan cara transaksi yang lebih ribet dibanding jenis toko online sebelumnya. Nah untuk contoh di Indonesia, saya malah belum nemu mungkin ada yang mau kasih info?
  • Lain-lain. Misalnya pembeli bisa membandingkan produk, pembeli bisa mendapatkan versi trial, penjual bisa melihat statistik penjualannya secara otomatis, dan sebagainya. Ini hanya sebagai fitur tambahan, yang dibutuhkan atau tidaknya masih relatif.

5. Berdasarkan Domain Induknya:

  • Sub domain (atau di bawahnya lagi). Misalnya toko online yang dibuat dengan hosting dari blogger.com, indonetwork , topklik, dan ebay-indonesia. Biasanya biayanya gratis. Bisa diibaratkan seperti kios-kios di dalam sebuah mall. Contohnya adalah mely. Yang menarik adalah, jika ‘mall’ yang ditempati memang ramai, maka ‘kios-kios’ ini bisa ikutan ramai. Coba saja lihat yang bertaraf internasional: alibaba. Saat ini, alibaba merupakan salah satu ‘mall’ yang paling ramai di dunia!
  • Domain. Misalnya: soraya batik Positifnya adalah, toko ini terkesan lebih profesional. Yah, profesionalisme masuk hitungan penting dalam bisnis. Diibaratkan toko online ini adalah toko yang mandiri, seperti toko-toko di pinggir jalan. Pengunjung juga lebih gampang mengingat nama toko online ini, karena biasanya namanya lebih singkat dan unik dibandingkan toko online yang sub domain.

6. Berdasarkan Target Pasarnya:
Target pasar sangat penting diputuskan sebelum kita memiliki toko online. Siapa yang mau dijadikan sasaran? Jika sasaran Anda adalah orang Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia pada toko online Anda, dengan cara-cara transaksi yang “Indonesia banget”. Hindari sistem pembayaran yang ‘terlalu asing’, seperti ClickBank. Jika sasaran Anda adalah wanita, gunakanlah desain web yang girly atau keibuan (hindari desain gelap, tentu saja). Dan jika sasaran Anda adalah orang-orang suku pedalaman…. sebaiknya Anda tidak usah buka toko online saja dulu. Karena di Indonesia, internet belum sampai di pedalaman ^_^ .

7. Berdasarkan Nasib Toko Online-nya
Nah ini kategori yang lebih iseng lagi ^_^, tapi SANGAT PENTING!
Niat kita membuka toko online tentu saja agar dagangan jadi lebih laku. Entah toko online untuk menunjang toko offline, atau memang 100% online, intinya kita mau penjualan meningkat.
Apakah dengan memiliki toko online maka penjualan pasti meningkat?
Jawabannya: T I D A K !
Toko online hanyalah sarana. Mohon diingat: sarana.
Lebih khususnya, sebagai sarana promosi. Nah, kewajiban pemilik toko online adalah agar sarana promosi ini dapat dikenal secara luas oleh calon konsumen. Bisa percuma punya toko online jika TIDAK ADA orang yang tahu. Untuk itu, perjuangan tidak berhenti sampai dengan ‘mempunyai toko online’. Anda harus promosi! Kalau perlu dapatkan peringkat pertama pada hasil pencarian Search Engine dan Web Directory. Dengan begitu, toko online bisa menjadi senjata yang berguna. Memang untuk di awal, promosi akan memakan biaya dan waktu. Tetapi jika telah terkenal, Anda akan merasakan aliran transaksi yang deras dari toko online Anda. Mau tau contohnya? Ketik saja “toko komputer” pada Google. Nanti Anda akan menemukan toko online yang masuk hitungan ‘terkenal dan menguntungkan’.

Sehingga bisa dibilang, pada kategori ini, toko online akan terbagi:

  • Menguntungkan
  • Tidak menguntungkan

Namun sekali lagi, itu tergantung cara Anda berpromosi.

Nah, berdasarkan kategori-kategori di atas, kita bisa melihat sebuah toko online lebih jelas lagi. Contohnya, misalnya pada Paket Toko Online yang kami tawarkan:

  • 1. Berdasarkan pemiliknya: Bisa dimiliki siapa saja. Tetapi lebih cocok untuk perorangan atau kelompok. Karena memang mudah dan simpel.
  • 2. Berdasarkan Produk yang Dijual: Kami sarankan untuk produk ritel atau eceran. Mengingat paket toko online kami (sementara ) tidak mengenal sistem diskon otomatis
  • 3. Berdasarkan Harga Pembuatannya: Berbayar. Tetapi memang murah. Bandingkan saja
  • 4. Berdasarkan Kegiatan yang Bisa Dilakukan: Pembeli bisa melihat dan berbelanja langsung. Tetapi pembayaran menggunakan COD atau transfer bank. Ini kami pilih untuk menyesuaikan dengan budaya belanja online masyarakat Indonesia, yang sejujurnya, masih relatif konservatif, dan juga supaya lebih aman.
  • 5. Berdasarkan Domain Induknya: Terserah, bisa diletakkan di sub domain atau domain. Kami sarankan untuk Domain sendiri saja. Untuk sub domain bisa, tetapi domain induknya harus milik Anda sendiri.
  • 6. Berdasarkan Target Pasarnya: Orang Indonesia. Karena interface-nya (tampilannya) ‘Indonesia banget’. Bahkan bisa diedit ke bahasa daerah, kalau mau. Tetapi jangan, karena membatasi pasar.
  • 7. Berdasarkan Nasib Toko Online-nya. Nah yang ini lagi-lagi tergantung cara Anda berpromosi.

DAFTAR PUSTAKA


Brick and mortar business, [online], (http://en.wikipedia.org/wiki/Brick_and_mortar_business, diakses tanggal 16 Maret 2010)

General Store, [online], (http://en.wikipedia.org/wiki/General_store, diakses tanggal 16 Maret 2010)

Merysta veny, 2009, Generalized dan Spesialized E-Mall, [online], (http://venymerysta.wordpress.com/tag/e-commerce/, diakses tanggal 16 Maret 2010)

Wahyudi Astrid Nuraida, 2009, Electronic-Mall, [online], (http://astridnuraidawahyudi.wordpress.com/2009/03/15/electronic-mall/ diakses tanggal 16 Maret 2010)

Tulisan ini bukan merupakan plagiat, adapun sumber-sumber dari artikel ini telah tercantum dalam daftar pustaka.

Diposkan oleh Muhammad Syaifudin (0710223108)