Review Jurnal Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu dan Kulit Pisang

PEMANFAATAN AMPAS TEBU DAN KULIT PISANG DALAM PEMBUATAN KERTAS SERAT CAMPURAN

Review

Kertas serat campuran, atau seringkali dikenal dengan istilah kertas komposit, merupakan kertas yang terbuat dari campuran dua macam atau lebih pulp kertas dengan bahan lain, seperti polimer dan kertas bekas yan bertujuan untuk meningkatkan nilai guna kertas. Pembuatan kertas serat campuran merupakan salah satu cara alternatif pembuatan kertas yang akan membantu mengurangi limbah kertas dan terutama mengurangi penggunaan kayu untuk pembuatan kertas. Pada penelitian pembuatan kertas serat campuran ini, bahan baku yang digunakan adalah ampas tebu, sedangkan sebagai campurannya digunakan kertas koran bekas mengingat banyaknya produksi koran per hari yang tentunya akan menimbulkan masalah apabila kertasnya tidak didaur ulang. Metode yang digunakan dalam membuat pulp pada proses pembuatan kertas serat campuran ini adalah asetosolv, yaitu proses delignifikasi dengan menggunakan asam asetat (Vazquez dkk., 1997). Metode ini merupakan metode yang ramah lingkungan karena limbah lindi hitamnya mudah didaur ulang. Selain itu, asam asetat adalah salah satu pelarut organik yang tidak berbahaya bagi lingkungan.

Dalam pembuatan kertas serat campuran, umumnya digunakan binder untuk mengikat komponen-komponen penyusun kertas. Dalam penelitian ini, binder yang digunakan berasal dari bahan alami, yaitu kulit pisang. Kulit pisang mengandung pati yang merupakan salah satu komponen penting dari binder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh perbandingan pulp ampas tebu dan pulp kertas koran serta konsentrasi binder dari kulit pisang sehingga dapat diperoleh kertas serat campuran dengan ketahanan sobek dan kekuatan tarik yang paling sesuai untuk diaplikasikan sebagai kertas kemasan.

Tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: pembuatan binder dari kulit pisang, pembuatan pulp ampas tebu, pembuatan pulp kertas koran, serta pembuatan dan pengujian kertas serat campuran dari penelitian ini didiapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ketahanan sobek dan kuat tarik kertas paling besar pada saat konsentrasi binder sebanyak 35 g. Hal ini disebabkan karena pada saat konsentrasi binder terlalu besar (>35 g), kandungan pati yang terlarut terlalu tinggi, sehingga kertas menjadi lebih keras dan juga getas (PaperOnWeb, 2010). Binder yang digunakan adalah pati dari kulit pisang dimana kandungan amilopektinnya lebih tinggi daripada amilosa (76-81% dan 19- 24%, secara berurutan). Semakin tinggi kandungan amilopektin maka tensile strength-nya semakin rendah (Kaplan, 1998). Keadaan kertas yang keras dan getas inilah yang menyebabkan kertas menjadi mudah.

Kesimpulan yang dapat diambil Ketahanan sobek dan kuat tarik kertas makin meningkat seiring dengan peningkatan komposisi pulp ampas tebu terhadap pulp kertas koran hingga ketahanan maksimum, yaitu 4,0180 N pada ketahanan sobek dan 20,5 kN/m pada kuat tarik untuk perbandingan 30:70, dan kemudian menurun menjadi 2,8420 N untuk ketahanan sobek dan 6,62 kN/m untuk kuat tarik.

 

Tugas Tekbam Pemanfaatan Limbah

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*