KARAWANG BEKASI

2014
01.03
wikipedia/chairil_anwar

 

 

Chairil Anwar

 KARAWANG BEKASI

Chairil AnwarKami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Kalau menurut saya pribadi, dari sekian puisi chairil yang benar benar mampu membuat saya ‘meriding’ adalah puisi ini, di tengah menurunnya rasa patriotisme tentunya puisi puisi ‘ringan yang kuat’ seperti ini sangat berarti. paing tidak, puisi semacam ini dapat membawa kita sejenak mengheningkan cipta.

Hal lain yang saya kagumi dari pusi ini adalah penggunaan kata kata sehari hari namun dapat memunculkan kesan wah, berarti, sarat makna, kuat dan mudah di fahami. seakan akan puisi ini menggambarkan seorang chairil dengan rasa patriotnya dan pandangan politiknya.

Walaupun secara kehidupan pribadi seorang chairil belum dapat diijadikan contoh yang baik, namun karya karyanya sangat pantas mendapat apresiasi tinggi. seorang chairil mampu ‘membuang’ sisi negative nya dengan membom publik dengan kata katanya yang ‘menancap’.

Your Reply

*