Pacar Sepeda

Langsung ke inti pembicaraan, maksud judul yang kutulis adalah: sepedaku adalah pacarku. Bukan berarti aku akan menikah dengan sepeda, tapi mencurahkan hasrat pada sepeda walau kita bukan pemancal profesional.
–jomblo detected

Ada beberapa poin dari sepeda yang kita harapkan dari ‘pacar’ ideal, mari paparkan satu demi satu.

1. Setia
Sepeda tidak berselingkuh, dia akan tetap bersama pemiliknya–kecuali dipinjam dengan atau tanpa izin pemiliknya (baca: dicuri).

2. Diajak jalan ke mana juga mau
Sepeda pergi bersama-sama ke mana kamu mengayuh. Kalau kamu gowes ke gunung dia ikut nemenin ke gunung, kalau gowes ke pantai dia nemenin ke pantai, gowes ke kampus nemenin ke kampus, ke kantor, ke rumah, ke pasar, juga nemenin.

3. Senang-sakit direngkuh bersama
Waktu tanjakan, turunan, jalan raya, nge-sprint, jump, drop, hop, bahkan ketika jatuh; sepeda menemani kita.

4. Cakep
Semakin banyak kita investasi pada parts yang nice dan melakukan perawatan rutin, sepeda bakal makin nyaman dikendarai dan sedap dipandang (apalagi lihat framesetnya Pina Kobh–cakep banget menurutku)

5. Ga materialistis
Sepeda ga pernah rewel: ngajak belanja, ngajak nonton, ngajak jalan-jalan. Yang ada sih pemiliknya khilaf beli komponen mahal habis dikomporin temen, hehe.

6. Ga gengsi–sok jaga image
Sekeren apapun sepedamu, ga bakal ngerusak image kalau kamu pakai ke pasar buat beli sayur (tapi paling sangkil pakai sepeda keranjang, to?). Dan sejelek apapun sepedamu, asal layak jalan, ga menghalangi kamu makan di restoran (kecuali ga ada tempat parkir yang bisa disisipi sepeda)

Kesimpulannya: orang yang naik sepeda bisa jadi jomblo–tapi ga pernah sendirian.

____
PS: pernah waktu aku bertamu ke rumah ‘teman perempuan’–Mei, sepedaku yang kutaruh di teras jatuh kena angin. Aku ga sengaja teriak, “Aduh, pacarku jatuh!” di depan Mei dan ayahnya. Suasana terasa aneh untuk beberapa waktu sampai aku mengangkat sepedaku dan memarkirnya kembali. LOL