One liner shell of the day : #35 (cari paket yang memuat file tertentu)

Komputer kantorku terpasang Linuxmint Sylvia (Ubuntu Xenial). Pagi ini agak iseng sehingga file /etc/init.d/udev terhapus. Niatnya install paket yang memuat file itu supaya dapat skrip itu kembali:

dpkg -S /etc/init.d/udev

keluarannya
udev

Ya, iya, laaah.

root

bukan ndak bisa “mendedikasikan hati”.
tapi kalau shadow saya ndak jebol, saya ndak ganti password.
kalo kunci pgp-ku ndak hilang dan lupa, ndak bakal ganti juga.
namanya bakal tetep di password saya, bisa jadi bukan namamu.
yang membesarkan aku seperti sekarang ini juga bagian dari kalian yang lain.

sungguh tiap-tiap dari kalian membelajari aku berbagai hal:
yang aku gagal lulus,
yang aku masih mengulang,
yang aku dikira mengerti padahal sekadar tahu,
yang aku cuma mengerti sebagian,
yang aku paham sekenaku.

sungguh aku ndak pernah bohong,
semua itu istimewa,
dan keistimewaan seorang tidak mengurangi atau mengaburi keistimewaan yang lain.
saya mohon maaf bahwa saya ndak istimewa-istimewa banget.

C++: pastikan variabel yang dipakai sudah terinisialisasi

Singkatnya, selalu pastikan bahwa variabel yang kamu pakai sudah diberi nilai tertentu sebelum kamu gunakan untuk operasi lain; utamanya di bahasa pemrograman C++ yang relatif lebih tidak disiplin dibanding C.

 

Contoh baik:

double *x_min, *x_max, *y_min, *y_max;
x_min = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
y_min = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
x_max = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
y_max = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);

double moment_x_temp, moment_y_temp, mass_temp;

image_height = image.rows;
image_width = image.cols;

for (int i=0; i<MARKER_COUNT; i++){
y_min[i]= image_height;
x_min[i]= image_width;

}

 
Contoh kurang baik:

double *x_min, *x_max, *y_min, *y_max;
x_min = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
y_min = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
x_max = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);
y_max = (double *) malloc(sizeof(double)*MARKER_COUNT);

double moment_x_temp, moment_y_temp, mass_temp;

for (int i=0; i<MARKER_COUNT; i++){
y_min[i]= image_height;
x_min[i]= image_width;
}

image_height = image.rows;
image_width = image.cols;

Kekurangbaikannya ini yang susah diprediksi, isi aray y_min dan x_min bakal diambil dari bagian statis kode program yang entah isinya apa. Dijamin proses yang bersangkutan dengan variabel tersebut bakal memiliki keanehan-keanehan macam “nilai ini dapat dari mana, sih?”.

ngelem

senyummu bagai cyanoacrylate:

jernih,

lumer,

terlindung.

sekalinya kukecup…

macam pagi ini,

manisnya terasa jelas di lidahku,

kemudian mengering di gigi-gigiku, lidah, dan langit-langit mulut.

membekas…

nempel di sela gigi geraham.

Mencari indeks sel dengan nilai maksimum atau minimum

Kadang waktu pakai aplikasi spreadsheet, contoh: libreoffice calc, microsoft excel; kita butuh mencari indeks dari sel dengan nilai tertentu: nilai maksimum, minimum, rerata, atau nilai yang kita tentukan secara bebas.

=MATCH(MAX(E1:E2400),E1:E2400,0)

kembaliannya adalah baris di kolom E dengan nilai maksimum. 0 berarti kolom tersebut tidak diurutkan.

Butuh hangat

Peluk,

wudhu,

peluk.

Wudhu,

peluuuuuuuuk.

Wudhu.

Bersama Rindu Bersama

Segelintir dari kita rindu untuk ditemani, menunggu sapaan “Kamu seharusnya tidak sendiri, kamu tidak seharusnya sendiri.”

Segelintir dari kita merindukan sebagian yang lain dari kita, mengutarakan, “Mari kita bersama…”

Sebagian dari Mereka yang bijak memberi nasihat “Kalian [berdua] seharusnya ditempa menjadi satu.”

–dari aku yang mengatasnamakan kita, dari kita yang belum menjadi kami, dari kami yang rindu bersama, dari kami yang Kalian rindukan bersama Mereka.

–dari saya yang sekarang menangis.

Aku yang sederhana cuma menunggu “yuk, kutemenin.”

Jumat-Kamis Baper

Masjid Miftahul Huda Sudimoro dan Balai Kelurahan Mojolangu nampak bersekongkol di Jumat yang penuh berkat ini. Masjid biasanya puter murrotal sebelum jam shalat, tapi lha ya kok di kesempatan kali ini kok macam nyindir banget. Begitu speaker nyala, isinya:

(ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون)

Asem, diulang paling engga tiga kali pula. Padahal khutbahnya isi Uswah Hasanah Nabi yang ga punya dengki.

Di Balai Kelurahan juga ada nikahan warga RW6 (atau RW7?). Lamaran dan akad ditunaikan di waktu Dhuha, sajian makanan dilenyapkan lepas shalat Jumat. Sungguh format kegiatan yang cantik, mangkus, dan sangkil.

Sehari sebelumnya, Kamis pagi, saya mampir ke Keluarga Anik (padahal ga ad yg namanya Anik di keluarga ini), curhat colongan mengenai seorang cewe yang begitu rendah hati, juga mendengar nasehat apa itu jujur dan asa buat SO kita.

Sorenya saya sowan ke Arwana Studio. Salam yang diutarakan lepas nyelonong pagar dijawab oleh sosok wanita yang sebelumnya tidak aku kenal di rumah itu, tapi aku tahu betul kami menunggu orang yang sama pulang dari bengkel, yang aku panggil “Kak”, yang dia panggil “Mas”.

Pulang adalah bertemu dengan keluarga, dengan apa-apa yang dibawa dan tidak dibawa, kali ini yang tersirat adalah Dek SO. Mungkin saya agak melebih-lebihkan, tapi sungguh yang seperti punggung tangan kiri takdir menampar saya.

Saya pernah curhat colongan sama cewe waktu backup data dari laptopnya ke flashdrive (yang alhamdulillah jadi lama banget gegara flashdrive dengan kontroller innostor memilih bekerja perlahan-lahan). Kekhawatiran saya untuk tidak pulang adalah karena potensi ketidakmampuan saya bertanggung jawab atas potensi saya untuk menikah, atau paling tidak menunjukkan niat yang benar terlepas titik dan garis kendala waktu, tempat, dan lainnya. Si cewe dengan laptop tadi agaknya gagal paham dan kurang menunjukkan empati; walau simpatinya cantik banget, begitu juga orangnya.

Sampai di sini, saya masih cuma bisa بسم الله thok wis, nulis ceracau ini sambil senyum mangga madu masak pohon, sambil makan jeruk.

One liner shell of the day : #34 (potong video dari detik tertentu)

ffmpeg -i movie.mp4 -ss 00:00:03 -t 00:00:08 cut.mp4

ss itu waktu mulai, t itu durasi.

SO

Jodoh itu (buat saya) bukan masalah cocok-tidak-cocok, berbagai kriteria, chemistry, atau apalah. Bukan berarti hal-hal tersebut tidak penting dan bukan faktor yang membentuk pranata hubungan interpersonal ini, tapi sungguh saya tidak mau melangkahi siapa yang Tuhan (dan orang tua) berkenan. Saya berkenan mengarungi kacau balau seadanya, memaksa kekacaubalauan, memaksa kealakadarannya. Saya tidak memilih untuk bersama “siapa yang bagaimana”, tapi menerima untuk menemani “bagaimana yang siapa-siapa”.

I am willing to ride a hardtail for a quick stroll to grocery.
I am willing to ride a road bike for a venture off the road.
…but I might need to change the tire.

I might not be good with full-susp, but I can learn to ride one.
I love riding uphill, enjoying the hard breathing, lactate acid kicking in, but that may not be as important.
I go stupid going downhill. I may not know the best line, but I try to be responsible when I pick my line.

It might be a vintage randonneur frame that I abuse on daily basis,
but I’ll take care of her so that we can still ride together…
or, to put simply, abuse her more… further down the road. 

Bapak Johan Musseuw, Singa Flanders (bayangin ada atlet yang napak tilas Jendral Besar Soedirman, terus kau ganti latarnya ke Perang Dunia I gitu), bilang: crashing is part of cycling as crying is part of love. Saya bilang: kalau kita belum nangis bareng, kita belum sepedaan bareng, baru habis itu kita jatuh bareng.

←Older