Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Tugas Analisis Lansekap Terpadu (Proses Vulkanik)

Sunday, March 25th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANSKAP TERPADU

Disusun oleh:

Mei Ridayanti  (155040201111234)

Kelas A

JURUSAN TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

1.1. Vulkanisme

Vulkanisme adalah peristiwa keluarnya magma (lelehan panas bebatuan) dari litosfer (lapisan dibawah permukaan bumi) ke permukaan bumi. Magma yang mampu mencapai permukaan bumi disebut lava. Magma mampu meraih permukaan bumi karena suhu yang tinggi dan adanya sejumlah gas yang mampu mendorong magma untuk bergerak naik. Vulkanisme termasuk salah satu jenis tenaga endogen karena dapat membuat perubahan pada relief permukaan bumi akibat tenaga dari dalam bumi.

1.2. Proses Terjadinya Vulkanisme

Proses terjadinya vulkanisme dibedakan berdasarkan zona-zona dalam tempat terjadinya. Zona-zona terjadinya vulkanisme yaitu zona divergen, zona konvergen, dan zona tengah.

  1. Vulkanisme pada Zona Divergen

Zona divergen merupakan gunung api yang muncul di jalur rengkahan antar lempeng kerak bumi. Magma berasal dari lapisan astenosfer (lapisan yang terletak di bawah litosfer dan di atas mantel atas bumi) yang cair dan keluar ke permukaan bumi.melalui rengkahan tersebut. Magma sangat cair, bersuhu tinggi dan keluar secara meleleh tanpa letusan dahsyat. Gunung api kemudian terbentuk berupa igir yang memanjang atau dataran lava yang sangat luas. Apabila terjadi di dasar laut, maka terbentulkan igir tengah samudera (mid oceanic ridge). Contohnya seperti di tengah Samudera Atlantik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik bagian selatan. Contoh yang di daratan seperti deretan gunung api di Afrika Timur dan daratan di Pulau Islandia.

  1. Vulkanisme pada Zona Konvergen

Zona konvergen adalah gunung-gunung api yang muncul di jalur pertemuan dua lempeng kerak bumi. Magma terbentuk dari hasil pencairan endapan laut yang berasal dari darat ketika subduksi (menyusup) ke bawah lempeng daratan atau benua. Endapan yang mencair bertambah volumenya sehingga mendesak mencari jalan keluar melalui retakan-retakan yang terdapat di atasnya. Di zona konvergen ini, terjadilah letusan dahsyat yang menyemburkan campuran magma cair kental (efusiva), magma padat (eflata), dan gas (ekshalasi). Gunung api yang dibentuk umumnya kerucut dan berlapis-lapis atau strato. Contohnya seperti Gunung Kelud, Gunung Gamalama, Gunung Krakatau 1883, Gunung Merapi, Gunung Visuvius, Gunung St. Helena dan Gunung Fuji.

  1. Vulkanisme pada Zona Tengah

Zona tengah adalah gunung api yang muncul di tengah lempeng kerak bumi tanpa ada retakan. Magma berasal dari mencairnya astenosfer dan kerak bumi di bagian bawah karena penumpukan mineral radioaktif. Pencairan tersebut menyebabkan kerak bumi tipis dan mudah ditembusi oleh magma yang terbentuk. Magma yang terbentuk meleleh tanpa adanya letusan yang dahsyat. Gunung api yang dihasilkan biasanya berbentuk perisai dengan lunang kawah yang terbuka lebar. Contohnya adalah gunung-gunung api Manuaola di Kepulauan Hawaii (lempeng Samudera Pasifik).

1.3. Tipe-Tipe Gunung Berapi

Tipe-tipe gunung api bisa dibedakan berdasarkan beberapa hal berikut:

  1. Berdasarkan Bentuk

a)Gunung Api Perisai, berbentuk kerucut, lerengnya landai, dan aliran lavanya panas dari saluran tengah. Magma menyebar secara luas. Proses pendinginan dan pembekuan lava berjalan lamban. 

b) Gunung Api Kubah, berbentuk kerucut cembung dengan lereng curam. Lava kental mengalir dari saluran pusat sehingga mengakibatkan aliran lava berjalan lambat dan membentuk lapisan yang tebal. Proses pendinginan dan pembekuan lava berlangsung cepat. Banyak lava yang yang membeku pada saluran sehingga saluran menjadi tertutup. Jika tekanan dari dalam bumi terseumbat, letusan yang sangat keras bisa saja terjadi. Seluruh bagian puncak gunung api bisa hancur dalam sekejap.b)Gunung Api Kubah

c) Gunung Api Strato, berbentuk kerucut, lerengnya curam dan luas, serta terdapat banyak lapisan lava. Lapisan lava tersebut terbentuk dari aliran suatu lava yang berulang-ulang. Lava bisa mengalir melalui sisi kerucut. Letusan jenis ini bersifat keras.c)Gunung Api Strato

d) Gunung Api Lava Pijar, berbentuk kerucut simetris dengan lereng cekung yang landai. Bahan/emisi berupa asap, debu lembut, dan bau sulfur yang menyengat. Letusan bersifat sedang.d)Gunung Api Lava Pijar

  1. Berdasarkan letusannya

a) Tipe Hawaii, Tipe Hawaii dapat ditandai dengan adanya lava yang cair dan tipis serta dalam perkembangannya akan membentuk suatu tipe gunung api perisai.

b) Tipe Stromboli, Tipe Stromboli memiliki magma yang sangat cair. Magma yang menuju permukaan sering mengalami letusan pendek dilanjutkan ledakan. Bahan-bahan yang dikeluarkan berupa abu, bom, lapili, dan setengah padatan bongkah lava

c) Tipe Vulkano, Tipe Vulkano memiliki ciri khusus yaitu pembentukan awan debu berbentuk bunga kol. Gas yang ditembakkan ke atas meluas hingga jauh di atas kawah. Pada tipe ini, tekanan gas sedang dan lava tidak terlalu cair. Berdasarkan kekuatan letusannya, tipe vulkano dapat dibedakan menjadi tipe vulkano kuat (Gunung Velvusius dan Gunung Etna), tipe vulkano lemah (Gunung Bromo dan Gunung Raung), dan tipe peralihan (Gunung Kelud dan Anak Gunung Bromo).

d)Tipe Merapi, Tipe Merapi ditandai dengan adanya lava cair dan kental. Dapur magma relative dangkal dan tekanan gas relatif rendah.

e)Tipe Perret, Pada Tipe Perret, letusan gunung api mengeluarkan suatu lava cair dengan tekanan gas tinggi. Terkadang lubang pada lubang tersumbat sehingga gas dan uap terkumpul dalam tubuh bumi. Akibatnya, sering terdapat getaran sebelum terjadinya letusan. Setelah meletus, material-material yang keluar adalah abu, lapili, dan bom terlempar dahsyat ke angkasa.

  1. Berdasarkan Siklus Kehidupan

a)Active Vulcano, Active Vulcano adalah gunung api yang sering mengalami erupsi.

b)Dorman Vulcano, Dorman Vulcano adalah gunung api yang tidak ada kegiatan dalam waktu lama, namun sesekali sempat berpotensi meletus.

c)Ezetint Vulkano, Ezetint Vulcano adalah gunung api yang tidak akan bererupsi karena gunung tersebut sudah mati.

d)Destructive Vulkano, Destructive Vulkano adalah gunung api yang mengalami erosi (pengikisan) dan meninggalkan bekas-bekas seperti sumbat lava.

STUDI KASUS

Jurnal : Vulkanisme dan prakiraan bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur

Gunung Anak Ranakah (2247,5 m dpl) adalah gunung api termuda yang baru lahir pada 28 Desember 1987,
terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gunung api muda ini muncul di
antara pegunungan Mandosawu dan Ranakah yang sebelumnya diketahui sebagai kompleks gunung api yang
sudah tidak aktif. Berdasarkan batuan penyusun Kompleks Gunung Mandosawu-Ranakah dan pola erupsi
Gunung Anak Ranakah tahun 1987-1988, karakter, tipe, dan skala erupsi berikut pola penyebaran produk
erupsinya di masa mendatang tidak akan jauh berbeda dengan erupsi sebelumnya, kecuali ada perubahan
yang sangat drastis. Dengan memperhatikan jenis, volume, dan jarak/pelamparan produk erupsi di masa
lalu, erupsi Gunung Anak Ranakah dapat diklasifi kasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe
Stromboli-Vulkano berskala kecil sampai menengah. Potensi bahaya primer erupsi Gunung Anak Ranakah
terdiri atas aliran piroklastika (awan panas), jatuhan piroklastika (lontaran batu dan abu vulkanik), gas beracun,
dan aliran lava. Sementara jenis bahaya sekunder adalah guguran batuan dan lahar. Dari potensi bahaya
erupsinya, kawasan rawan bencana gunung api Anak Ranakah dapat dibagi menjadi tiga kawasan yaitu
Kawasan Rawan Bencana III, II dan I.

Berdasarkan sejarah kegiatannya, erupsi Gunung Anak Ranakah berupa erupsi freatomagmatik eksplosif dan efusif, yang menghasilkan aliran piroklastika (awan panas),jatuhan piroklastika (lontaran batu pijar dan abu vulkanik), aliran lava dan kubah lava. Kegiatan vulkanik Gunung Anak Ranakah dewasa ini berupa hembusan asap solfatara dari lubang kubah lava. Asap putih tipis bertekanan lemah sampai sedang dengan ketinggian maksimum 25 meter di atas puncak. Beberapa jenis gempa yang terekam antara lain gempa guguran (tahun 1988 – 1990), gempa vulkanik
dalam (VA), vulkanik dangkal (VB), gempa tektonik jauh dan gempa tektonik lokal. Erupsi Gunung Anak Ranakah di masa mendatang diperkirakan tidak terlalu berbeda dengan erupsi tahun 1987-1988 yang lalu yaitu berupa erupsi freato-magmatik eksplosif tipe vulkanian dan strombolian yang menghasilkan jatuhan piroklastika (lontaran batu pijar dan abu vulkanik), aliran piroklastika (awan panas) serta erupsi efusif magmatik yang menghasilkan aliran lava dan kubah lava. Secara umum, kemungkinan karakter, tipe, dan skala erupsi Gunung Anak Ranakah di masa mendatang adalah erupsi berskala relatif kecil sampai menengah yang mempunyai Nilai Indeks Let usan Gunung api (VEI atau Volcanic Explosivity Index): 0-3, tipe erupsi nya adalah Stromboli (Strombolian) dan atau Vulkano (Vulkanian) disertai dengan aliran lava yang berasal dari sumber erupsi. Potensi bahayanya, terdiri dari aliran piroklastika (awan panas), aliran lava, lontaran batu (pijar), serta hujan abu dan pasir. Material letusan yang bersifat aliran seperti aliran piroklastika (awan panas) dan aliran lava hanya akan menjangkau daerah sempit di sekitar puncak Gunung Anak Ranakah, terutama ke arah utara- barat laut. Hal ini kemungkinan bisa terjadi, karena tubuh Gunung Ranakah dan Gunung Mandosawu akan mampu menghalangi produk letusan berskala kecil tipe Stromboli
atau Vulkano lemah. Sementara produk letusan berupa jatuhan piroklastika berupa abu gunung api dapat menjangkau daerah yang lebih jauh. Kemungkinan lain adalah erupsi yang berskala besar mempunyai ciri-ciri berikut; nilai Indeks Letusan Gunung Api (VEI): 4-5, tipe erupsi Vulkano kuat hingga tipe Plini. Potensi bahayanya diperkirakan terdiri dari aliran piroklastika (awan panas), lontaran batu (pijar) berukuran lapili sampai bom vulkanik dapat mencapai 3-4 km dari pusat erupsi, aliran lava, hujan pasir dan abu lebat serta lahar. Produk awan panasnya dapat mencapai belasan sampai puluhan kilometer, hal ini sangat tergantung kepada tinggi kolom erupsi dan arah jatuhnya kolom erupsi tersebut. Bahan jatuhan piroklastika berbutir kasar dan bahan lontaran batu (pijar), kemungkinan besar dapat mencapai jarak 5-8 km dari pusat erupsi. Letusan berskala besar dengan nilai VEI: 4-5
relatif kecil kemungkinan terjadinya pada erupsi Gunung Anak Ranakah, kecuali ada penyimpangan dari sifat atau karakter, tipe, dan skala letusan Gunung Anak Ranakah selama ini. Apabila letusan cukup besar ini terjadi
di masa datang, maka daerah yang akan terlanda produk letusan Gunung Anak Ranakah
akan jauh lebih luas.

Tugas Analisis Lansekap Terpadu Minggu ke 2

Thursday, February 22nd, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANSKAP TERPADU

Disusun oleh:

Mei Ridayanti  (155040201111234)

Kelas A

JURUSAN TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Tenaga Endogen

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang bersifat membangun(konstruktif). Tenaga endogen ini dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

  1. Tektonisme

Tektonisme merupakan peristiwa yang menyebabkan perubahan bentuk kulit bumi. Tenaga tektonik merupakan tenaga pembentuknya. Tenaga tektonik terbagi menjadi 2 jenis gerak yakni gerak epirogenetik dan gerak orogenetik.

  • Gerak epirogenetik

Gerak epirogenetik adalah gerak atau pergeseran kulit bumi yang yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan meliputi daerah yang luas sehingga menyebabkan naik- turunnya daratan. Epirogenetik terbagi menjadi 2 yaitu epirogenetik positif dan negatif. Epirogenetik positif menyebabkan turunnya daratan sehingga permukaan laut naik. Sedangkan epirogenetik negatif adalah gerak naiknya daratan sehingga permukaan laut terlihat turun.

  • Gerak orogenetik

Gerak orogenetik merupakan gerak yang menyebabkan terjadinya relief muka bumi daratan seperti gunung dan pegunungan. Gerak ini relatif lebih cepat dari pada gerak epirogenetik. Gerak orogenetik juga menyebabkan tekanan pada kulit bumi secara vertikal maupun horizontal sehingga menyebabkan dislokasi atau perpindahan letak lapisan kulit bumi. Dislokasi tersebut mengakibatkan lipatan pada kulit bumi yang membentuk relief muka bumi berupa pegunungan. Selain menimbulkan macam macam lipatan kulit bumi, dislokasi juga menyebabkan retakan atau patahan pada kulit bumi. Diantara jenis jenis patahan yaitu tanah turun (graben), tanah naik (horst), dan tanah bungkuk (fleksur).

  1. Vulkasnisme,

Vulkanisme merupakan peristiwa yang berhubungan dengan gunung berapi yakni berupa naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma sendiri  adalah campuran batu- batuan dalam keadaan cair dan sangat panas. Penyebab adanya aktivitas magma dalam dapur magma adalah tingginya suhu dan banyaknya jumlah gas yang terkandung  dalam magma.

Gunung berapi terdiri atas beberapa bagian yaitu diaterma (pipa kawah), kawah, sumber kawah dan batholit. Ada beberapa jenis gunung berapi, yaitu gunung api perisai, gunung api kaldera, gunung api maar dan gunung api strato. Contoh gunung api di Indonesia yakni Gunung Sinabung, Gunung Merapi, Gunung Agung dan Gunung Kelud.

  1. Gempa bumi(seisme)

Gempa bumi adalah getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan- kekuatan dari dalam bumi dan merambat sampai ke permukaan bumi. Gempa bumi diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan sebab terjadinya yakni gempa tektonik, gempa vulkanis dan gempa runtuhan.

  • Gempa tektonik adalah gempa yang terjadi karena adanya gerak orogenetik. Gempa tektonik biasa terjadi di daerah pegunungan lipatan muda yaitu daerah rangkaian Pegunungan Mediterania dan Sirkum Pasifik. Indonesia adalah salah satu negara yang berada dalam deretan pegunungan tersebut. Gempa jenis ini termasuk dalam kategori gempa dengan bahaya yang sangat besar karena dapat menyebabkan retakan dan pergeseran tanah. Oleh karena itu, masyarakat harus tahu cara melakukan mitigasi gempa bumi untuk mengurangi dampak akibat gempa bumi.
  • Gempa vulkanis adalah getaran yang terjadi ketika terjadi letusan gunung api maupun karena aktivitas magma.
  • Gempa runtuhanatau disebut dengan gempa guguran adalah jenis gempa yang terjadi karena runtuhnya tanah. Gempa ini biasanya terjadi di daerah bertanah kapur dan daerah pertambangan yang mempunyai terowongan.

STUDI KASUS

 

Link Jurnal : ipi429184

Struktur regional Jawa Barat dipengaruhi oleh interaksi tumbukan antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Akibat tumbukan dua lempeng ini, di Jawa Barat berkembang sejumlah struktur sesar yang dapat dikelompokan menjadi 4, yaitu sesar berarah utara-selatan, baratlaut-tenggara, timurlaut-baratdaya dan barat-timur. Sesar utara-selatan yang dikelompokan kedalam Pola Sunda, merupakan sesar paling tua dan pembentuk cekungan Paleogen di Jawa Barat. Sistem tegasan Pola Sunda dipengaruhi oleh tektonik transtensional dan secara keseluruhan membentuk pola struktur negative flower structure.
Perubahan tektonik di Jawa Barat berlangsung pada periode Plio-Plistosen. Pada saat itu sistem tegasan dipengaruhi oleh tektonik kompresi yang menghasilkan struktur lipatan anjakan berarah barat-timur (Pola Jawa). Pada periode tektonik yang sama terbentuk sejumlah sesar mendatar berarah baratlaut-tenggara (Pola Sumatra) dan timurlaut-baratdaya (Pola Meratus).

Altifitas tumbukan lempeng India Ustralia dengan lempeng Eurasia membentuk sistem busur kepulauan yang disebut “Sunda Arc System”. Dalam sejarah tektoniknya, kedua lempeng yang bertumbukan mengalami beberapa kali perubahan arah dan kecepatan geraknya. Peristiwa ini menghasilkan sistim tegasan yang berulang antara kompresi dan regangan.
Pada Tersier Awal, arah dan kecepatan gerak Lempeng Hindia adalah N100 – N300 E dengan kecepatan 18 cm/tahun. Pada saat itu terbentuklah struktur sesar berarah utara-selatan (Pola Sunda) yang sifatnya transtensional. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya patahan bongkah (block faulting) pada batuan dasar dan sedemikian rupa membentuk daerah tinggian (horst) dan daerah rendahan (graben). Pada bagian lembah terjadi proses sedimentasi sedangkan pada bagian tinggian terjadi proses erosi secara regional
Berdasarkan data seismik dan pemboran di daerah Jawa Barat bagian utara diketahui bahwa sedimen tertua yang diendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar adalah Formasi Talangakar (Eosen). Secara berturut-turut Formasi Talangakar ditindih selaras oleh Formasi Baturaja dan Cisubuh. Berdasarkan gambaran seismik ini pula diketahui bahwa sesar yang berkembang di batuan dasar terus berlanjut ke dalam batuan sedimen yang berada di atasnya. Fenomena ini menunjukan bahwa sesar-sesar tua pada batuan dasar merupakan sesar aktif (sesar tumbuh). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur utara-selatan yang merupakan Pola Sunda adalah sesar tertua yang berkembang di Jawa Barat.
Menjelang Oligosen, kecepatan gerak lempeng berkurang menjadi 3 – 4 cm/tahun dengan arah yang sama. Berkurangnya kecepatan pada Kala Oligosen diikuti oleh penurunan melalui sesar-sesar bongkah. Peristiwa tektonik ini menyebabkan terjadinya subsidence sehingga proses sedimentasi terjadi di lingkungan laut yang lebih dalam. Proses ini terus berlangsung hingga Miosen.
Penurunan gerak lempeng Hindia ini terjadi akibat mulai membenturnya Benua India terhadap Benua Erurasia yang berada di utaranya. Bukti ini ditunjukan dengan terjadinya pengangkatan pegunungan Himalaya yang terjadi sekitar 20 – 30 juta tahun yang lalu (Tapponiek dkk, 1982). Peristiwa ini juga dianggap sebagai diawalinya gerak rotasi 200 yang berlawanan arah jarum jam dari mikro plate “Sunda” (Davies, 1984).
Menjelang Miosen Akhir terjadi kembali pecepatan gerak lempeng Hindia menjadi sebesar 5 – 6,5 cm/tahun dan diperkirakan menerus hingga sekarang. Akibat dari perubahan kecepatan gerak lempeng ini maka tektonik konpresi mulai intensif kembali dan puncaknya pada kala Plio-Plistosen. Tektonik Plio-Plistosen menyebabkan seluruh batuan sedimen makin terlipat, terangkat dan tersesarkan kembali yang akhirnya secara regional membentuk pola lipatan anjakan (Thrust Fold Belt). Pembentukan pola struktur lipatan anjakan terjadi melalui mekanisme gerak sesar mendatar dan naik yang diwakili oleh Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, Sesar Pelabuhan Ratu dan Sesar Cileutuh.

Tugas Analisis Lansekap Terpadu Minggu ke 1

Tuesday, February 13th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANSKAP TERPADU

Oleh:

Kelas A

Anggota Kelompok :

1.  Yusup Agung S. 155040201111222

2. Mei Ridayanti 155040201111234

3. Nabillah Anissa 155040201111016

4. Felia Rahmatika S. 155040201111189

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

 

1. Kliping Berita Bencana

6 Warga Malang Mengungsi Akibat Longsor dan Turap Ambruk

Jumat 19 January 2018 12:28 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Andi Nur Aminah

Curah hujan yang tinggi di Jalan BS Riadi Kota Malang mengakibatkan longsor dan turap ambrol, Jumat (19/1)

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Curah hujan tinggi sejak beberapa hari terkahir membuat tanah di Jalan BS Riadi Kota Malang longsor. Bahkan, kejadian yang terjadi pada Jumat (19/1) dini hari ini membuat plengsengan atau turap ikut ambruk. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, J Hartono menerangkan, kejadian di Kecamatan Klojen ini diawali dengan hujan intensitas tinggi yang terjadi pada dini hari.

Situasi ini menyebabkan debit dan arus sungai meningkat sehingga menggerus plengsengan. “Ini menyebabkan plengsengan ambrol dan berdampak pada tiga rumah yang berada di atasnya,” ujar Hartono melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Jumat (19/1).

Atas kejadian ini, enam jiwa di Kelurahan Oro-oro Dowo ini terpaksa diungsikan. Tindakan sangat perlu dilakukan mengingat tiga rumah mengalami kerusakan. Apalagi kejadian ini menyebabkan kerugian hingga mencapai Rp 123.810.000,-.

Untuk mengurangi beban para pengungsi, Hartono mengungkapkan, pihaknya sudah memberikan dua paket sembako. Di sisi lain, dia juga mengimbau kepada masyarakat di sekitar lokasi kejadian untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman bencana yang ada di sekitar tempat tinggalnya. “Terlebih lagi selama puncak musim penghujan,” tambah dia.

 

Sedimen Menumpuk, Kali Molek Dikeruk

Pewarta: Aris Kuncoro

Penyunting: Achmad Yani

Fotografer: Falahi Mubarok

23 May 2017 11:46 am

KEPANJEN – Memasuki musim kemarau, perawatan saluran irigasi mulai gencar dilakukan. Salah satunya dengan pengerukan sedimen atau lumpur yang membuat sungai mengalami pendangkalan. Seperti yang saat ini dilakukan di Sungai Molek yang melintasi Kelurahan/Kecamatan Kepanjen.

Mochamad Anwar, kepala Dinas PU Sumber Daya Air Kabupaten Malang, menyatakan, pengerukan lumpur dilakukan agar daya tampung air kembali normal. ”Namun, yang di Sungai Molek itu dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas), kami hanya mengoordinasikan saja,” katanya. Lebih lanjut, Sungai Molek masuk BBWS Brantas, karena daya irigasinya yang besar.

”Beberapa proyek besar seperti pengerukan memang ditangani Balai Besar Wilayah Sungai Brantas untuk tahun ini. Kalau yang kami kerjakan itu saluran yang mengairi 500 hektare sawah ke bawah,” katanya. Nah, lanjut Anwar, di Sungai Molek tersebut saluran irigasinya bisa untuk mengairi lebih dari 700 hektare sawah.

 

 

Di Malang, Lahan Pertanian Kian Menyusut

Rabu 20 January 2016 15:02 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Achmad Syalaby

Saung di tengah sawah (ilustrasi).

Foto: IST

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG–Lahan pertanian Kota Malang untuk padi memasuki tahun 2016 ini mengalami penyusutan menjadi 926 hektar. Lahan pertanian Kota Malang seluas 1.215 hektar dari lahan itu di tahun 2015, sebanyak 942 hektar lahan pertanian di tanami padi.

Artinya sekitar 16 hektar yang sudah tidak lagi ditanami padi. Sedangkan kebutuhan beras warga Kota Malang selama setahun diperkirakan mencapai 96 ribu ton lebih.”Petani yang beralih profesi menjual sawahnya, sehingga sawah dialihfungsikan,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Malang, Hadi Santoso, Rabu (20/1).

Hadi mengatakan jumlah lahan pertanian yang ada di Kota Malang setiap tahunya mengalami penyusutan. Hadi menambahkan, degradasi lahan pertanian di wilayah Kota Malang dikarenakan banyaknya petani yang alih profesi ke pekerjaan lain. Akibatnya, banyak lahan pertanian dialihfungsikan.

“Akibat degradasi lahan itu, produksi hasil pertanian di Kota Malang terus menurun,” tambahnya.

Hadi mengatakan Dinas Pertanian Kota Malang kini berusaha mengoptimalisasikan lahan pertanian agar persedian beras tetap terjaga. Ia menyatakan tidak bisa meningkatkan produksi karena ada degradasi lahan,  yang hanya bisa dilakukan adalah meningkatkan produktivitas lahan yang masih ada.

Ia mengatakan tahun ini menargetkan produktifitas hasil pertanian di Kota Malang mencapai 14 ribu ton lebih atau naik 30 persen dibandingkan tahun 2015. Ia menyatakan pada tahun 2015 produktivitas beras Kota Malang mencapai 13.500 ton.

Meski begitu Dinas Pertanian Kota Malang menghimbau warga Kota Malang yang mempunyai lahan pertanian untuk tidak mengalihfungsikan lahannya, guna meminimalisir degradasi lahan.

 

Judul Berita : Banjir Lagi, Warga Keluhkan Penyempitan Das Brantas

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/02/12/18323562/banjir.lagi.warga.keluhkan.penyempitan.das.brantas

MALANG, KOMPAS.com – Sejak Minggu (12/2/2012) siang, Kota Malang di Jawa Timur dilanda hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Lowokwaru, Sukun, dan Klojen. Warga mengeluhkan penyempitan daerah aliran Sungai Brantas sehingga banjir kembali terjadi.

Banjir melanda Jalan Gajayana di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, dengan ketinggian air hingga 1,5 meter. Air tidak hanya menggenangi jalan raya, tetapi juga masuk ke pemukiman warga setempat. Di kelurahan tersebut, setidaknya ada 15 rumah yang dilanda banjir hingga setinggi leher orang dewasa.

Warga bernama Hariyanto (53) mengatakan, rumahnya terletak di bantarai Sungai Brantas di Kelurahan Dinoyo dan diterjang banjir setinggi 1,5 meter. Air bah telah menghanyutkan sertifikat rumah, surat-surat kendaran, dan uang senilai Rp 1 juta. Demikian pula dengan buku-buku sekolah anaknya, hanyut oleh air.

Di sepanjang jalan, mobil yang melintas langsung terjebak banjir. Akibatnya tak bisa melanjutkan perjalanan. Salah satunya mobil Alphard milik Sardo Swalayan. “Seluruhnya ada 5 mobil yang tenggelam di pinggir jalan,” kata Cahyono selaku Ketua RT 02 RW 02 Kelurahan Dinoyo.

Cahyono mengatakan, warga tak bisa berbuat apa-apa karena banjir selalu terjadi setiap ada hujan deras. Air sungai yang meluap membawa potongan kayu yang merobohkan pagar jembatan penghubung antara Kelurahan Diniyo dan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. “Yang jelas, penyebab banjir meluap ke jalan dan rumah warga akibat DAS Brantas sudah mulai menyempit,” kata Cahyono.

Ia mengatakan, menyempitnya DAS Brantas diakibatkan menjamurnya bangunan rumah toko dan kompleks perumahan di sepanjang sungai itu. Cahyono berharap pemerintah Kota Malang bertindak tegas terhadap pengembang perumahan untuk mengikuti tata ruang kota.

Banjir setinggi 1,5 meter juga terjadi di Kelurahan Karang Besuki, Sukun. Kendaraan bermotor yang melintas langsung mogok karena terkena air banjir. Sariati (47), warga Jalan Galunggung di kelurahan tersebut, mengeluhkan sikap pemerintah setempat yang tidak tegas melarang warga mendirikan rumah di bantaran sungai.

“Sungai kecil yang masuk ke pemukiman warga sudah mulai mengecil karena dipangkas oleh bangunan yang ada, misalnya ruko dan perumahan,” kata Arif, korban banjir di Kelurahan Karang Besuki, RT 02 RW 04. Selain karena penyempitan DAS Brantas, Arif menyatakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di sungai itu telah membuat saluran air tersumbat.

 

2. Mengapa Malang Raya dikelilingi oleh banyak sekali gunung berapi?

Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang, formasi geologi yang dijumpai di kawasan Kab. Malang terutama sekitar DAS Brantas ada lima, berturut-turut dari yang paling luas yaitu: 1) Qvaw (Batuan Gunungapi Arjuna Welirang), 2) Qpat (Batuan Gunungapi Anjasmara Tua), 3) Qvp (Batuan Gunungapi Panderman), 4) Qpvkb (Batuan Gunungapi Kawi-Butak) dan 5) Qpva (Batuan Gunungapi Anjasmara Muda). Ditinjau dari umur batuan, Kompleks Pegunungan Anjasmara-Lalijiwa adalah pegunungan tua yang telah mati dan mengalami perusakan bentuk kerucut Gunung api. Kompleks pegunungan yang aling muda adalah Arjuna-Welirang, dimana Gunung Arjuna sedang istirahat dan Gunung Welirang masih aktif dengan mengeluarkan gas (belerang).

Kondisi geologi di Kabupaten Malang terdiri dari 5 struktur geologi yaitu hasil gunung api kwarter muda, hasil gunung api kwarter tua, miosen facies gamping, miosen facies sediman dan alivium. Struktur geologi terluas adalah hasil gunung api kwarter muda yaitu 145.152,52 Ha (44,25 %). Sedangkan luas terkecil struktur geologi adalah miosen facies sedimen yaitu 12.834 Ha (3,83 %).

Pengaruh tektonik Kabupaten Malang sangat dipengaruhi oleh lempeng tektonik Indo Australia di selatan Kabupaten Malang dan juga dipengaruhi oleh lempeng Eurasia yang ada di sebelah utara jawa timur. Sistem dataran dijumpai di bagian tengah, merupakan dataran vulkanik antar pegunungan yang terbentuk oleh berbagai bahan hasil letusan dan atau sedimentasi hasil erosi dan atau longsor dari kawasan perbukitan/ pegunungan di atasnya. Berdasarkan atas posisi dan proses pegikisan yang dapat dibagi lagi ke beberapa subsistem, yaitu:

  1. Dataran bagian bawah (Pl)
  2. Bagian tengah (Pm)
  3. Bagian atas (Pu)
  4. Dataran yang tertoreh (Pd)
  5. Bagian dataran yang mengalami erosi berlebihan (Ps).

Gunung api yang berpengaruh secara vulkanik pada Kabupaten Malang diantaranya adalah:

  • Gunung Semeru, gunung yang masih aktif sampai sekarang dan terletak di ujung selatan massif vulkanik yang membentang utara ke Tengger kaldera.
  • Gunung Bromo
  • Gunung Arjuno Welirang, gunung welirang masih aktif.
  • Gunung Kawi-Butak

 

3. Deskripsi Kondisi Lanskap

Lanskap dan Geomorfologi di Pulau Sempu

Geomorfologi merupakan studi yang mempelajari bentuklahan dan proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses-proses itu dalam susunan keruangan (Verstappen,1983). Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang mengakibatkan modifikasi permukaan bumi (Thornbury, 1970). Penyebab proses geomorfologi adalah benda-benda alam yang dikenal dengan benda-benda alam berupa angin dan air.

Pulau Sempu terletak di Desa Sendang Biru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pulau Sempu telah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam, dan juga sebagai lokasi penelitian. Di Pulau Sempu kekayaan alam seperti tumbuhan dan satwa yang masih alami (Departemen Kehutanan dalam Sudarmadji, 2013). Ciri khas yang dimiliki Pulau Sempu yaitu wilayah pesisir yang indah dan bentukannya yang sebagai pulau kecil berbatuan karbonat yang memiliki karakteristik tersendiri dalam pembentukannya. Proses solusional batu gamping yang membentuk morfologi karst juga menambah daya tarik pariwisata. Untuk mengetauhi potensi dan ancaman bahaya yang ada di Pulau Sempu maka harus mengetauhi proses genenesis yang terjadi. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetauhi basal pembentukan Pulau Sempu.

Tipologi pesisir adalah pembagian tipe pesisir berdasarkan genesa pembentukan pesisir dan proses yang berlangsung didalamnya. Tipologi pesisir tebagi menjadi dua macam yaitu tipologi pesisir primer dan tipologi pesisir sekunder. Tipologi pesisir primer merupakan tipologi yang morfologinya tergentuk akibat erosi, vulkanisme, deposisi dan diatropisme. Sedangkan tipologi pesisir sekunder merupakan tipologi yang terbentuk akibat aktivitas organisme dan proses marin (Gunawan dalam Sudarmadji, 2013). Tipologi pesisir menunjukkan genesis dan dinamika pesisir yang terjadi pada suatu wilayah pesisir. Setiap tipologi memiliki karakteristik proses pembentukan dan dinamika pesisir yang berbeda (Bachtiar dalam Sudarmadji, 2013). pasir sempu memiliki tipologi yang beragam yaitu wave erotion coast, land erotion coast, structually shaped coast, dan sub-aerial depositional coast. Tipologi yang mendominasi yaitu tipologi wave erotion coast yaitu tipologi yang terbentuk akibat adanya cekungan dan jatuhan batu gamping pada bagian tebing pesisir bagian utara pulau. Land erotion coast yaitu pesisir yang terbentuk karena adanaya erosi di lahan bawah daratan.

Pesisir Pulau Sempu bagian Timur memiliki tipologi pesisir structually shaped coast dan wave erotion coast. Sedangkan pesisir timur terdapat tebing pantai tegak yang memanjang dan adanya jatuhan batuan yang menunjukkan adanya proses pengangkatan kerak bumi dan pengaruh angin serta gelombang air laut. Pada pesisir selatan Pulau Sempu terdapat tipologi pesisir structually shaped coast, land erotion coast dan wave erotion coast. . Pesisir selatan Pulau Sempu memiliki tipologi structurally shaped coast, land erotion coast dan wave erotion coast. Bagian pesisir selatan Pulau Sempu yang menjadi destinasi wisata yaitu Segara Anakan yang merupakan bentukan laguna yang terjebak di daratan. Pada selatan Pulau Sempu terdapat pantai Pasirpanjang dan Baru-baru yang memiliki tipologi land erotion coast dan wave erotion coast yang ditandai dengan adanya batu berbentuk jamur. Pesisir bagian barat Pulau Sempu memiliki tipologi land erotion coast dan wave erotion coast. Dinamika yang terjadi di peissir barat Pulau Sempu yaitu dinamika ombak dan erosi lahan pada bukit-bukit pinggir pantai.

Genesis pesisir Pulau Sempu dimulai dari proses tektonik yang menyebankan pengangkatan lempeng benua. Proses pengangkatan menyebabkan zona terumbu karang terangkat ke permukaan dan membentuk lapisan batu gamping yang menyerupai material pembentuk Pulau Sempu. Proses morfodinamika erosi tanah dan sedimentasi juga berperan dalam perkembangan pesisir Pulau Sempu. Dinamika erosi dan seimentasi sebagian besar terjadi pada pesisir bagian utara, barat, dan selatan Pulau Sempu. Erosi lahan pada bukit-bukit mengakibatkan sedimentasi lumpur pesisir yang merupakan substart bagi magrove yang tumbuh (Sudarmadji, 2013).

 

DAFTAR PUSTAKA

Sudarmadji. 2013. Ekologi Lingkungan Kawasan Karst Indonesia: Menjaga Asa Kelestarian Kawasan Karst Indonesia. Yogyakarta: Deepublish

Thornbury, 1970. Principle Of Geomorfoogi. New York : John Willey and Sons, INC.

Verstapen, 1983. Applaid Geomorphology: Geomorphological Surveys For Inveromental Development. Amsterdam: Elvisier.

Tugas Sistem Informasi Sumberdaya Lahan

Tuesday, February 13th, 2018

NAMA  : MEI RIDAYANTI

NIM      : 155040201111234

KELAS : A

Tugas : Mencari kasus-kasus yang terjadi di Malang raya. Contohnya banjir, tanah longsor, kekeringan, erosi, sedimentasi, kerusakan lahan pertanian, penurunan potensi penduduk dan penurunan cadangan karbon akibat alih fungsi lahan dan dibahas secara spasial.

Judul Berita : Banjir Lagi, Warga Keluhkan Penyempitan Das Brantas

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/02/12/18323562/banjir.lagi.warga.keluhkan.penyempitan.das.brantas

MALANG, KOMPAS.com – Sejak Minggu (12/2/2012) siang, Kota Malang di Jawa Timur dilanda hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Lowokwaru, Sukun, dan Klojen. Warga mengeluhkan penyempitan daerah aliran Sungai Brantas sehingga banjir kembali terjadi.

Banjir melanda Jalan Gajayana di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, dengan ketinggian air hingga 1,5 meter. Air tidak hanya menggenangi jalan raya, tetapi juga masuk ke pemukiman warga setempat. Di kelurahan tersebut, setidaknya ada 15 rumah yang dilanda banjir hingga setinggi leher orang dewasa.

Warga bernama Hariyanto (53) mengatakan, rumahnya terletak di bantarai Sungai Brantas di Kelurahan Dinoyo dan diterjang banjir setinggi 1,5 meter. Air bah telah menghanyutkan sertifikat rumah, surat-surat kendaran, dan uang senilai Rp 1 juta. Demikian pula dengan buku-buku sekolah anaknya, hanyut oleh air.

Di sepanjang jalan, mobil yang melintas langsung terjebak banjir. Akibatnya tak bisa melanjutkan perjalanan. Salah satunya mobil Alphard milik Sardo Swalayan. “Seluruhnya ada 5 mobil yang tenggelam di pinggir jalan,” kata Cahyono selaku Ketua RT 02 RW 02 Kelurahan Dinoyo.

Cahyono mengatakan, warga tak bisa berbuat apa-apa karena banjir selalu terjadi setiap ada hujan deras. Air sungai yang meluap membawa potongan kayu yang merobohkan pagar jembatan penghubung antara Kelurahan Diniyo dan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. “Yang jelas, penyebab banjir meluap ke jalan dan rumah warga akibat DAS Brantas sudah mulai menyempit,” kata Cahyono.

Ia mengatakan, menyempitnya DAS Brantas diakibatkan menjamurnya bangunan rumah toko dan kompleks perumahan di sepanjang sungai itu. Cahyono berharap pemerintah Kota Malang bertindak tegas terhadap pengembang perumahan untuk mengikuti tata ruang kota.

Banjir setinggi 1,5 meter juga terjadi di Kelurahan Karang Besuki, Sukun. Kendaraan bermotor yang melintas langsung mogok karena terkena air banjir. Sariati (47), warga Jalan Galunggung di kelurahan tersebut, mengeluhkan sikap pemerintah setempat yang tidak tegas melarang warga mendirikan rumah di bantaran sungai.

“Sungai kecil yang masuk ke pemukiman warga sudah mulai mengecil karena dipangkas oleh bangunan yang ada, misalnya ruko dan perumahan,” kata Arif, korban banjir di Kelurahan Karang Besuki, RT 02 RW 04. Selain karena penyempitan DAS Brantas, Arif menyatakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di sungai itu telah membuat saluran air tersumbat.

Menurut berita di atas, permasalahan yang terjadi adalah bencana banjir yang melanda sejumlah kecamatan di sekitar DAS Brantas Malang. Banjir tersebut terjadi karena adanya penyempitan sungai yang disebabkan oleh banyaknya bangunan yang berada di pinggir sungai. Hal tersebut semakin menunjukan bahwa alih fungsi lahan merupakan isu yang tidak bisa disepelekan. Karena lahan yang seharusnya menjadi daerah resapan air diubah menjadi sebuah desa bahkan kota yang penuh dengan bangunan dapat menyebabkan bencana seperti banjir, tanah longsor, sedimentasi, dan lain lain.

Hello world!

Tuesday, February 13th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!