Archive for March, 2018

Tugas Analisis Lansekap Terpadu (Proses Vulkanik)

Sunday, March 25th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANSKAP TERPADU

Disusun oleh:

Mei Ridayanti  (155040201111234)

Kelas A

JURUSAN TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

1.1. Vulkanisme

Vulkanisme adalah peristiwa keluarnya magma (lelehan panas bebatuan) dari litosfer (lapisan dibawah permukaan bumi) ke permukaan bumi. Magma yang mampu mencapai permukaan bumi disebut lava. Magma mampu meraih permukaan bumi karena suhu yang tinggi dan adanya sejumlah gas yang mampu mendorong magma untuk bergerak naik. Vulkanisme termasuk salah satu jenis tenaga endogen karena dapat membuat perubahan pada relief permukaan bumi akibat tenaga dari dalam bumi.

1.2. Proses Terjadinya Vulkanisme

Proses terjadinya vulkanisme dibedakan berdasarkan zona-zona dalam tempat terjadinya. Zona-zona terjadinya vulkanisme yaitu zona divergen, zona konvergen, dan zona tengah.

  1. Vulkanisme pada Zona Divergen

Zona divergen merupakan gunung api yang muncul di jalur rengkahan antar lempeng kerak bumi. Magma berasal dari lapisan astenosfer (lapisan yang terletak di bawah litosfer dan di atas mantel atas bumi) yang cair dan keluar ke permukaan bumi.melalui rengkahan tersebut. Magma sangat cair, bersuhu tinggi dan keluar secara meleleh tanpa letusan dahsyat. Gunung api kemudian terbentuk berupa igir yang memanjang atau dataran lava yang sangat luas. Apabila terjadi di dasar laut, maka terbentulkan igir tengah samudera (mid oceanic ridge). Contohnya seperti di tengah Samudera Atlantik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik bagian selatan. Contoh yang di daratan seperti deretan gunung api di Afrika Timur dan daratan di Pulau Islandia.

  1. Vulkanisme pada Zona Konvergen

Zona konvergen adalah gunung-gunung api yang muncul di jalur pertemuan dua lempeng kerak bumi. Magma terbentuk dari hasil pencairan endapan laut yang berasal dari darat ketika subduksi (menyusup) ke bawah lempeng daratan atau benua. Endapan yang mencair bertambah volumenya sehingga mendesak mencari jalan keluar melalui retakan-retakan yang terdapat di atasnya. Di zona konvergen ini, terjadilah letusan dahsyat yang menyemburkan campuran magma cair kental (efusiva), magma padat (eflata), dan gas (ekshalasi). Gunung api yang dibentuk umumnya kerucut dan berlapis-lapis atau strato. Contohnya seperti Gunung Kelud, Gunung Gamalama, Gunung Krakatau 1883, Gunung Merapi, Gunung Visuvius, Gunung St. Helena dan Gunung Fuji.

  1. Vulkanisme pada Zona Tengah

Zona tengah adalah gunung api yang muncul di tengah lempeng kerak bumi tanpa ada retakan. Magma berasal dari mencairnya astenosfer dan kerak bumi di bagian bawah karena penumpukan mineral radioaktif. Pencairan tersebut menyebabkan kerak bumi tipis dan mudah ditembusi oleh magma yang terbentuk. Magma yang terbentuk meleleh tanpa adanya letusan yang dahsyat. Gunung api yang dihasilkan biasanya berbentuk perisai dengan lunang kawah yang terbuka lebar. Contohnya adalah gunung-gunung api Manuaola di Kepulauan Hawaii (lempeng Samudera Pasifik).

1.3. Tipe-Tipe Gunung Berapi

Tipe-tipe gunung api bisa dibedakan berdasarkan beberapa hal berikut:

  1. Berdasarkan Bentuk

a)Gunung Api Perisai, berbentuk kerucut, lerengnya landai, dan aliran lavanya panas dari saluran tengah. Magma menyebar secara luas. Proses pendinginan dan pembekuan lava berjalan lamban. 

b) Gunung Api Kubah, berbentuk kerucut cembung dengan lereng curam. Lava kental mengalir dari saluran pusat sehingga mengakibatkan aliran lava berjalan lambat dan membentuk lapisan yang tebal. Proses pendinginan dan pembekuan lava berlangsung cepat. Banyak lava yang yang membeku pada saluran sehingga saluran menjadi tertutup. Jika tekanan dari dalam bumi terseumbat, letusan yang sangat keras bisa saja terjadi. Seluruh bagian puncak gunung api bisa hancur dalam sekejap.b)Gunung Api Kubah

c) Gunung Api Strato, berbentuk kerucut, lerengnya curam dan luas, serta terdapat banyak lapisan lava. Lapisan lava tersebut terbentuk dari aliran suatu lava yang berulang-ulang. Lava bisa mengalir melalui sisi kerucut. Letusan jenis ini bersifat keras.c)Gunung Api Strato

d) Gunung Api Lava Pijar, berbentuk kerucut simetris dengan lereng cekung yang landai. Bahan/emisi berupa asap, debu lembut, dan bau sulfur yang menyengat. Letusan bersifat sedang.d)Gunung Api Lava Pijar

  1. Berdasarkan letusannya

a) Tipe Hawaii, Tipe Hawaii dapat ditandai dengan adanya lava yang cair dan tipis serta dalam perkembangannya akan membentuk suatu tipe gunung api perisai.

b) Tipe Stromboli, Tipe Stromboli memiliki magma yang sangat cair. Magma yang menuju permukaan sering mengalami letusan pendek dilanjutkan ledakan. Bahan-bahan yang dikeluarkan berupa abu, bom, lapili, dan setengah padatan bongkah lava

c) Tipe Vulkano, Tipe Vulkano memiliki ciri khusus yaitu pembentukan awan debu berbentuk bunga kol. Gas yang ditembakkan ke atas meluas hingga jauh di atas kawah. Pada tipe ini, tekanan gas sedang dan lava tidak terlalu cair. Berdasarkan kekuatan letusannya, tipe vulkano dapat dibedakan menjadi tipe vulkano kuat (Gunung Velvusius dan Gunung Etna), tipe vulkano lemah (Gunung Bromo dan Gunung Raung), dan tipe peralihan (Gunung Kelud dan Anak Gunung Bromo).

d)Tipe Merapi, Tipe Merapi ditandai dengan adanya lava cair dan kental. Dapur magma relative dangkal dan tekanan gas relatif rendah.

e)Tipe Perret, Pada Tipe Perret, letusan gunung api mengeluarkan suatu lava cair dengan tekanan gas tinggi. Terkadang lubang pada lubang tersumbat sehingga gas dan uap terkumpul dalam tubuh bumi. Akibatnya, sering terdapat getaran sebelum terjadinya letusan. Setelah meletus, material-material yang keluar adalah abu, lapili, dan bom terlempar dahsyat ke angkasa.

  1. Berdasarkan Siklus Kehidupan

a)Active Vulcano, Active Vulcano adalah gunung api yang sering mengalami erupsi.

b)Dorman Vulcano, Dorman Vulcano adalah gunung api yang tidak ada kegiatan dalam waktu lama, namun sesekali sempat berpotensi meletus.

c)Ezetint Vulkano, Ezetint Vulcano adalah gunung api yang tidak akan bererupsi karena gunung tersebut sudah mati.

d)Destructive Vulkano, Destructive Vulkano adalah gunung api yang mengalami erosi (pengikisan) dan meninggalkan bekas-bekas seperti sumbat lava.

STUDI KASUS

Jurnal : Vulkanisme dan prakiraan bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur

Gunung Anak Ranakah (2247,5 m dpl) adalah gunung api termuda yang baru lahir pada 28 Desember 1987,
terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gunung api muda ini muncul di
antara pegunungan Mandosawu dan Ranakah yang sebelumnya diketahui sebagai kompleks gunung api yang
sudah tidak aktif. Berdasarkan batuan penyusun Kompleks Gunung Mandosawu-Ranakah dan pola erupsi
Gunung Anak Ranakah tahun 1987-1988, karakter, tipe, dan skala erupsi berikut pola penyebaran produk
erupsinya di masa mendatang tidak akan jauh berbeda dengan erupsi sebelumnya, kecuali ada perubahan
yang sangat drastis. Dengan memperhatikan jenis, volume, dan jarak/pelamparan produk erupsi di masa
lalu, erupsi Gunung Anak Ranakah dapat diklasifi kasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe
Stromboli-Vulkano berskala kecil sampai menengah. Potensi bahaya primer erupsi Gunung Anak Ranakah
terdiri atas aliran piroklastika (awan panas), jatuhan piroklastika (lontaran batu dan abu vulkanik), gas beracun,
dan aliran lava. Sementara jenis bahaya sekunder adalah guguran batuan dan lahar. Dari potensi bahaya
erupsinya, kawasan rawan bencana gunung api Anak Ranakah dapat dibagi menjadi tiga kawasan yaitu
Kawasan Rawan Bencana III, II dan I.

Berdasarkan sejarah kegiatannya, erupsi Gunung Anak Ranakah berupa erupsi freatomagmatik eksplosif dan efusif, yang menghasilkan aliran piroklastika (awan panas),jatuhan piroklastika (lontaran batu pijar dan abu vulkanik), aliran lava dan kubah lava. Kegiatan vulkanik Gunung Anak Ranakah dewasa ini berupa hembusan asap solfatara dari lubang kubah lava. Asap putih tipis bertekanan lemah sampai sedang dengan ketinggian maksimum 25 meter di atas puncak. Beberapa jenis gempa yang terekam antara lain gempa guguran (tahun 1988 – 1990), gempa vulkanik
dalam (VA), vulkanik dangkal (VB), gempa tektonik jauh dan gempa tektonik lokal. Erupsi Gunung Anak Ranakah di masa mendatang diperkirakan tidak terlalu berbeda dengan erupsi tahun 1987-1988 yang lalu yaitu berupa erupsi freato-magmatik eksplosif tipe vulkanian dan strombolian yang menghasilkan jatuhan piroklastika (lontaran batu pijar dan abu vulkanik), aliran piroklastika (awan panas) serta erupsi efusif magmatik yang menghasilkan aliran lava dan kubah lava. Secara umum, kemungkinan karakter, tipe, dan skala erupsi Gunung Anak Ranakah di masa mendatang adalah erupsi berskala relatif kecil sampai menengah yang mempunyai Nilai Indeks Let usan Gunung api (VEI atau Volcanic Explosivity Index): 0-3, tipe erupsi nya adalah Stromboli (Strombolian) dan atau Vulkano (Vulkanian) disertai dengan aliran lava yang berasal dari sumber erupsi. Potensi bahayanya, terdiri dari aliran piroklastika (awan panas), aliran lava, lontaran batu (pijar), serta hujan abu dan pasir. Material letusan yang bersifat aliran seperti aliran piroklastika (awan panas) dan aliran lava hanya akan menjangkau daerah sempit di sekitar puncak Gunung Anak Ranakah, terutama ke arah utara- barat laut. Hal ini kemungkinan bisa terjadi, karena tubuh Gunung Ranakah dan Gunung Mandosawu akan mampu menghalangi produk letusan berskala kecil tipe Stromboli
atau Vulkano lemah. Sementara produk letusan berupa jatuhan piroklastika berupa abu gunung api dapat menjangkau daerah yang lebih jauh. Kemungkinan lain adalah erupsi yang berskala besar mempunyai ciri-ciri berikut; nilai Indeks Letusan Gunung Api (VEI): 4-5, tipe erupsi Vulkano kuat hingga tipe Plini. Potensi bahayanya diperkirakan terdiri dari aliran piroklastika (awan panas), lontaran batu (pijar) berukuran lapili sampai bom vulkanik dapat mencapai 3-4 km dari pusat erupsi, aliran lava, hujan pasir dan abu lebat serta lahar. Produk awan panasnya dapat mencapai belasan sampai puluhan kilometer, hal ini sangat tergantung kepada tinggi kolom erupsi dan arah jatuhnya kolom erupsi tersebut. Bahan jatuhan piroklastika berbutir kasar dan bahan lontaran batu (pijar), kemungkinan besar dapat mencapai jarak 5-8 km dari pusat erupsi. Letusan berskala besar dengan nilai VEI: 4-5
relatif kecil kemungkinan terjadinya pada erupsi Gunung Anak Ranakah, kecuali ada penyimpangan dari sifat atau karakter, tipe, dan skala letusan Gunung Anak Ranakah selama ini. Apabila letusan cukup besar ini terjadi
di masa datang, maka daerah yang akan terlanda produk letusan Gunung Anak Ranakah
akan jauh lebih luas.