February 13th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANSKAP TERPADU

Oleh:

Kelas A

Anggota Kelompok :

1.  Yusup Agung S. 155040201111222

2. Mei Ridayanti 155040201111234

3. Nabillah Anissa 155040201111016

4. Felia Rahmatika S. 155040201111189

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

 

1. Kliping Berita Bencana

6 Warga Malang Mengungsi Akibat Longsor dan Turap Ambruk

Jumat 19 January 2018 12:28 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Andi Nur Aminah

Curah hujan yang tinggi di Jalan BS Riadi Kota Malang mengakibatkan longsor dan turap ambrol, Jumat (19/1)

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Curah hujan tinggi sejak beberapa hari terkahir membuat tanah di Jalan BS Riadi Kota Malang longsor. Bahkan, kejadian yang terjadi pada Jumat (19/1) dini hari ini membuat plengsengan atau turap ikut ambruk. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, J Hartono menerangkan, kejadian di Kecamatan Klojen ini diawali dengan hujan intensitas tinggi yang terjadi pada dini hari.

Situasi ini menyebabkan debit dan arus sungai meningkat sehingga menggerus plengsengan. “Ini menyebabkan plengsengan ambrol dan berdampak pada tiga rumah yang berada di atasnya,” ujar Hartono melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Jumat (19/1).

Atas kejadian ini, enam jiwa di Kelurahan Oro-oro Dowo ini terpaksa diungsikan. Tindakan sangat perlu dilakukan mengingat tiga rumah mengalami kerusakan. Apalagi kejadian ini menyebabkan kerugian hingga mencapai Rp 123.810.000,-.

Untuk mengurangi beban para pengungsi, Hartono mengungkapkan, pihaknya sudah memberikan dua paket sembako. Di sisi lain, dia juga mengimbau kepada masyarakat di sekitar lokasi kejadian untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman bencana yang ada di sekitar tempat tinggalnya. “Terlebih lagi selama puncak musim penghujan,” tambah dia.

 

Sedimen Menumpuk, Kali Molek Dikeruk

Pewarta: Aris Kuncoro

Penyunting: Achmad Yani

Fotografer: Falahi Mubarok

23 May 2017 11:46 am

KEPANJEN – Memasuki musim kemarau, perawatan saluran irigasi mulai gencar dilakukan. Salah satunya dengan pengerukan sedimen atau lumpur yang membuat sungai mengalami pendangkalan. Seperti yang saat ini dilakukan di Sungai Molek yang melintasi Kelurahan/Kecamatan Kepanjen.

Mochamad Anwar, kepala Dinas PU Sumber Daya Air Kabupaten Malang, menyatakan, pengerukan lumpur dilakukan agar daya tampung air kembali normal. ”Namun, yang di Sungai Molek itu dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas), kami hanya mengoordinasikan saja,” katanya. Lebih lanjut, Sungai Molek masuk BBWS Brantas, karena daya irigasinya yang besar.

”Beberapa proyek besar seperti pengerukan memang ditangani Balai Besar Wilayah Sungai Brantas untuk tahun ini. Kalau yang kami kerjakan itu saluran yang mengairi 500 hektare sawah ke bawah,” katanya. Nah, lanjut Anwar, di Sungai Molek tersebut saluran irigasinya bisa untuk mengairi lebih dari 700 hektare sawah.

 

 

Di Malang, Lahan Pertanian Kian Menyusut

Rabu 20 January 2016 15:02 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Achmad Syalaby

Saung di tengah sawah (ilustrasi).

Foto: IST

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG–Lahan pertanian Kota Malang untuk padi memasuki tahun 2016 ini mengalami penyusutan menjadi 926 hektar. Lahan pertanian Kota Malang seluas 1.215 hektar dari lahan itu di tahun 2015, sebanyak 942 hektar lahan pertanian di tanami padi.

Artinya sekitar 16 hektar yang sudah tidak lagi ditanami padi. Sedangkan kebutuhan beras warga Kota Malang selama setahun diperkirakan mencapai 96 ribu ton lebih.”Petani yang beralih profesi menjual sawahnya, sehingga sawah dialihfungsikan,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Malang, Hadi Santoso, Rabu (20/1).

Hadi mengatakan jumlah lahan pertanian yang ada di Kota Malang setiap tahunya mengalami penyusutan. Hadi menambahkan, degradasi lahan pertanian di wilayah Kota Malang dikarenakan banyaknya petani yang alih profesi ke pekerjaan lain. Akibatnya, banyak lahan pertanian dialihfungsikan.

“Akibat degradasi lahan itu, produksi hasil pertanian di Kota Malang terus menurun,” tambahnya.

Hadi mengatakan Dinas Pertanian Kota Malang kini berusaha mengoptimalisasikan lahan pertanian agar persedian beras tetap terjaga. Ia menyatakan tidak bisa meningkatkan produksi karena ada degradasi lahan,  yang hanya bisa dilakukan adalah meningkatkan produktivitas lahan yang masih ada.

Ia mengatakan tahun ini menargetkan produktifitas hasil pertanian di Kota Malang mencapai 14 ribu ton lebih atau naik 30 persen dibandingkan tahun 2015. Ia menyatakan pada tahun 2015 produktivitas beras Kota Malang mencapai 13.500 ton.

Meski begitu Dinas Pertanian Kota Malang menghimbau warga Kota Malang yang mempunyai lahan pertanian untuk tidak mengalihfungsikan lahannya, guna meminimalisir degradasi lahan.

 

Judul Berita : Banjir Lagi, Warga Keluhkan Penyempitan Das Brantas

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/02/12/18323562/banjir.lagi.warga.keluhkan.penyempitan.das.brantas

MALANG, KOMPAS.com – Sejak Minggu (12/2/2012) siang, Kota Malang di Jawa Timur dilanda hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Lowokwaru, Sukun, dan Klojen. Warga mengeluhkan penyempitan daerah aliran Sungai Brantas sehingga banjir kembali terjadi.

Banjir melanda Jalan Gajayana di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, dengan ketinggian air hingga 1,5 meter. Air tidak hanya menggenangi jalan raya, tetapi juga masuk ke pemukiman warga setempat. Di kelurahan tersebut, setidaknya ada 15 rumah yang dilanda banjir hingga setinggi leher orang dewasa.

Warga bernama Hariyanto (53) mengatakan, rumahnya terletak di bantarai Sungai Brantas di Kelurahan Dinoyo dan diterjang banjir setinggi 1,5 meter. Air bah telah menghanyutkan sertifikat rumah, surat-surat kendaran, dan uang senilai Rp 1 juta. Demikian pula dengan buku-buku sekolah anaknya, hanyut oleh air.

Di sepanjang jalan, mobil yang melintas langsung terjebak banjir. Akibatnya tak bisa melanjutkan perjalanan. Salah satunya mobil Alphard milik Sardo Swalayan. “Seluruhnya ada 5 mobil yang tenggelam di pinggir jalan,” kata Cahyono selaku Ketua RT 02 RW 02 Kelurahan Dinoyo.

Cahyono mengatakan, warga tak bisa berbuat apa-apa karena banjir selalu terjadi setiap ada hujan deras. Air sungai yang meluap membawa potongan kayu yang merobohkan pagar jembatan penghubung antara Kelurahan Diniyo dan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. “Yang jelas, penyebab banjir meluap ke jalan dan rumah warga akibat DAS Brantas sudah mulai menyempit,” kata Cahyono.

Ia mengatakan, menyempitnya DAS Brantas diakibatkan menjamurnya bangunan rumah toko dan kompleks perumahan di sepanjang sungai itu. Cahyono berharap pemerintah Kota Malang bertindak tegas terhadap pengembang perumahan untuk mengikuti tata ruang kota.

Banjir setinggi 1,5 meter juga terjadi di Kelurahan Karang Besuki, Sukun. Kendaraan bermotor yang melintas langsung mogok karena terkena air banjir. Sariati (47), warga Jalan Galunggung di kelurahan tersebut, mengeluhkan sikap pemerintah setempat yang tidak tegas melarang warga mendirikan rumah di bantaran sungai.

“Sungai kecil yang masuk ke pemukiman warga sudah mulai mengecil karena dipangkas oleh bangunan yang ada, misalnya ruko dan perumahan,” kata Arif, korban banjir di Kelurahan Karang Besuki, RT 02 RW 04. Selain karena penyempitan DAS Brantas, Arif menyatakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di sungai itu telah membuat saluran air tersumbat.

 

2. Mengapa Malang Raya dikelilingi oleh banyak sekali gunung berapi?

Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang, formasi geologi yang dijumpai di kawasan Kab. Malang terutama sekitar DAS Brantas ada lima, berturut-turut dari yang paling luas yaitu: 1) Qvaw (Batuan Gunungapi Arjuna Welirang), 2) Qpat (Batuan Gunungapi Anjasmara Tua), 3) Qvp (Batuan Gunungapi Panderman), 4) Qpvkb (Batuan Gunungapi Kawi-Butak) dan 5) Qpva (Batuan Gunungapi Anjasmara Muda). Ditinjau dari umur batuan, Kompleks Pegunungan Anjasmara-Lalijiwa adalah pegunungan tua yang telah mati dan mengalami perusakan bentuk kerucut Gunung api. Kompleks pegunungan yang aling muda adalah Arjuna-Welirang, dimana Gunung Arjuna sedang istirahat dan Gunung Welirang masih aktif dengan mengeluarkan gas (belerang).

Kondisi geologi di Kabupaten Malang terdiri dari 5 struktur geologi yaitu hasil gunung api kwarter muda, hasil gunung api kwarter tua, miosen facies gamping, miosen facies sediman dan alivium. Struktur geologi terluas adalah hasil gunung api kwarter muda yaitu 145.152,52 Ha (44,25 %). Sedangkan luas terkecil struktur geologi adalah miosen facies sedimen yaitu 12.834 Ha (3,83 %).

Pengaruh tektonik Kabupaten Malang sangat dipengaruhi oleh lempeng tektonik Indo Australia di selatan Kabupaten Malang dan juga dipengaruhi oleh lempeng Eurasia yang ada di sebelah utara jawa timur. Sistem dataran dijumpai di bagian tengah, merupakan dataran vulkanik antar pegunungan yang terbentuk oleh berbagai bahan hasil letusan dan atau sedimentasi hasil erosi dan atau longsor dari kawasan perbukitan/ pegunungan di atasnya. Berdasarkan atas posisi dan proses pegikisan yang dapat dibagi lagi ke beberapa subsistem, yaitu:

  1. Dataran bagian bawah (Pl)
  2. Bagian tengah (Pm)
  3. Bagian atas (Pu)
  4. Dataran yang tertoreh (Pd)
  5. Bagian dataran yang mengalami erosi berlebihan (Ps).

Gunung api yang berpengaruh secara vulkanik pada Kabupaten Malang diantaranya adalah:

  • Gunung Semeru, gunung yang masih aktif sampai sekarang dan terletak di ujung selatan massif vulkanik yang membentang utara ke Tengger kaldera.
  • Gunung Bromo
  • Gunung Arjuno Welirang, gunung welirang masih aktif.
  • Gunung Kawi-Butak

 

3. Deskripsi Kondisi Lanskap

Lanskap dan Geomorfologi di Pulau Sempu

Geomorfologi merupakan studi yang mempelajari bentuklahan dan proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses-proses itu dalam susunan keruangan (Verstappen,1983). Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang mengakibatkan modifikasi permukaan bumi (Thornbury, 1970). Penyebab proses geomorfologi adalah benda-benda alam yang dikenal dengan benda-benda alam berupa angin dan air.

Pulau Sempu terletak di Desa Sendang Biru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pulau Sempu telah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam, dan juga sebagai lokasi penelitian. Di Pulau Sempu kekayaan alam seperti tumbuhan dan satwa yang masih alami (Departemen Kehutanan dalam Sudarmadji, 2013). Ciri khas yang dimiliki Pulau Sempu yaitu wilayah pesisir yang indah dan bentukannya yang sebagai pulau kecil berbatuan karbonat yang memiliki karakteristik tersendiri dalam pembentukannya. Proses solusional batu gamping yang membentuk morfologi karst juga menambah daya tarik pariwisata. Untuk mengetauhi potensi dan ancaman bahaya yang ada di Pulau Sempu maka harus mengetauhi proses genenesis yang terjadi. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetauhi basal pembentukan Pulau Sempu.

Tipologi pesisir adalah pembagian tipe pesisir berdasarkan genesa pembentukan pesisir dan proses yang berlangsung didalamnya. Tipologi pesisir tebagi menjadi dua macam yaitu tipologi pesisir primer dan tipologi pesisir sekunder. Tipologi pesisir primer merupakan tipologi yang morfologinya tergentuk akibat erosi, vulkanisme, deposisi dan diatropisme. Sedangkan tipologi pesisir sekunder merupakan tipologi yang terbentuk akibat aktivitas organisme dan proses marin (Gunawan dalam Sudarmadji, 2013). Tipologi pesisir menunjukkan genesis dan dinamika pesisir yang terjadi pada suatu wilayah pesisir. Setiap tipologi memiliki karakteristik proses pembentukan dan dinamika pesisir yang berbeda (Bachtiar dalam Sudarmadji, 2013). pasir sempu memiliki tipologi yang beragam yaitu wave erotion coast, land erotion coast, structually shaped coast, dan sub-aerial depositional coast. Tipologi yang mendominasi yaitu tipologi wave erotion coast yaitu tipologi yang terbentuk akibat adanya cekungan dan jatuhan batu gamping pada bagian tebing pesisir bagian utara pulau. Land erotion coast yaitu pesisir yang terbentuk karena adanaya erosi di lahan bawah daratan.

Pesisir Pulau Sempu bagian Timur memiliki tipologi pesisir structually shaped coast dan wave erotion coast. Sedangkan pesisir timur terdapat tebing pantai tegak yang memanjang dan adanya jatuhan batuan yang menunjukkan adanya proses pengangkatan kerak bumi dan pengaruh angin serta gelombang air laut. Pada pesisir selatan Pulau Sempu terdapat tipologi pesisir structually shaped coast, land erotion coast dan wave erotion coast. . Pesisir selatan Pulau Sempu memiliki tipologi structurally shaped coast, land erotion coast dan wave erotion coast. Bagian pesisir selatan Pulau Sempu yang menjadi destinasi wisata yaitu Segara Anakan yang merupakan bentukan laguna yang terjebak di daratan. Pada selatan Pulau Sempu terdapat pantai Pasirpanjang dan Baru-baru yang memiliki tipologi land erotion coast dan wave erotion coast yang ditandai dengan adanya batu berbentuk jamur. Pesisir bagian barat Pulau Sempu memiliki tipologi land erotion coast dan wave erotion coast. Dinamika yang terjadi di peissir barat Pulau Sempu yaitu dinamika ombak dan erosi lahan pada bukit-bukit pinggir pantai.

Genesis pesisir Pulau Sempu dimulai dari proses tektonik yang menyebankan pengangkatan lempeng benua. Proses pengangkatan menyebabkan zona terumbu karang terangkat ke permukaan dan membentuk lapisan batu gamping yang menyerupai material pembentuk Pulau Sempu. Proses morfodinamika erosi tanah dan sedimentasi juga berperan dalam perkembangan pesisir Pulau Sempu. Dinamika erosi dan seimentasi sebagian besar terjadi pada pesisir bagian utara, barat, dan selatan Pulau Sempu. Erosi lahan pada bukit-bukit mengakibatkan sedimentasi lumpur pesisir yang merupakan substart bagi magrove yang tumbuh (Sudarmadji, 2013).

 

DAFTAR PUSTAKA

Sudarmadji. 2013. Ekologi Lingkungan Kawasan Karst Indonesia: Menjaga Asa Kelestarian Kawasan Karst Indonesia. Yogyakarta: Deepublish

Thornbury, 1970. Principle Of Geomorfoogi. New York : John Willey and Sons, INC.

Verstapen, 1983. Applaid Geomorphology: Geomorphological Surveys For Inveromental Development. Amsterdam: Elvisier.

Tugas Sistem Informasi Sumberdaya Lahan

February 13th, 2018

NAMA  : MEI RIDAYANTI

NIM      : 155040201111234

KELAS : A

Tugas : Mencari kasus-kasus yang terjadi di Malang raya. Contohnya banjir, tanah longsor, kekeringan, erosi, sedimentasi, kerusakan lahan pertanian, penurunan potensi penduduk dan penurunan cadangan karbon akibat alih fungsi lahan dan dibahas secara spasial.

Judul Berita : Banjir Lagi, Warga Keluhkan Penyempitan Das Brantas

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/02/12/18323562/banjir.lagi.warga.keluhkan.penyempitan.das.brantas

MALANG, KOMPAS.com – Sejak Minggu (12/2/2012) siang, Kota Malang di Jawa Timur dilanda hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Lowokwaru, Sukun, dan Klojen. Warga mengeluhkan penyempitan daerah aliran Sungai Brantas sehingga banjir kembali terjadi.

Banjir melanda Jalan Gajayana di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, dengan ketinggian air hingga 1,5 meter. Air tidak hanya menggenangi jalan raya, tetapi juga masuk ke pemukiman warga setempat. Di kelurahan tersebut, setidaknya ada 15 rumah yang dilanda banjir hingga setinggi leher orang dewasa.

Warga bernama Hariyanto (53) mengatakan, rumahnya terletak di bantarai Sungai Brantas di Kelurahan Dinoyo dan diterjang banjir setinggi 1,5 meter. Air bah telah menghanyutkan sertifikat rumah, surat-surat kendaran, dan uang senilai Rp 1 juta. Demikian pula dengan buku-buku sekolah anaknya, hanyut oleh air.

Di sepanjang jalan, mobil yang melintas langsung terjebak banjir. Akibatnya tak bisa melanjutkan perjalanan. Salah satunya mobil Alphard milik Sardo Swalayan. “Seluruhnya ada 5 mobil yang tenggelam di pinggir jalan,” kata Cahyono selaku Ketua RT 02 RW 02 Kelurahan Dinoyo.

Cahyono mengatakan, warga tak bisa berbuat apa-apa karena banjir selalu terjadi setiap ada hujan deras. Air sungai yang meluap membawa potongan kayu yang merobohkan pagar jembatan penghubung antara Kelurahan Diniyo dan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. “Yang jelas, penyebab banjir meluap ke jalan dan rumah warga akibat DAS Brantas sudah mulai menyempit,” kata Cahyono.

Ia mengatakan, menyempitnya DAS Brantas diakibatkan menjamurnya bangunan rumah toko dan kompleks perumahan di sepanjang sungai itu. Cahyono berharap pemerintah Kota Malang bertindak tegas terhadap pengembang perumahan untuk mengikuti tata ruang kota.

Banjir setinggi 1,5 meter juga terjadi di Kelurahan Karang Besuki, Sukun. Kendaraan bermotor yang melintas langsung mogok karena terkena air banjir. Sariati (47), warga Jalan Galunggung di kelurahan tersebut, mengeluhkan sikap pemerintah setempat yang tidak tegas melarang warga mendirikan rumah di bantaran sungai.

“Sungai kecil yang masuk ke pemukiman warga sudah mulai mengecil karena dipangkas oleh bangunan yang ada, misalnya ruko dan perumahan,” kata Arif, korban banjir di Kelurahan Karang Besuki, RT 02 RW 04. Selain karena penyempitan DAS Brantas, Arif menyatakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di sungai itu telah membuat saluran air tersumbat.

Menurut berita di atas, permasalahan yang terjadi adalah bencana banjir yang melanda sejumlah kecamatan di sekitar DAS Brantas Malang. Banjir tersebut terjadi karena adanya penyempitan sungai yang disebabkan oleh banyaknya bangunan yang berada di pinggir sungai. Hal tersebut semakin menunjukan bahwa alih fungsi lahan merupakan isu yang tidak bisa disepelekan. Karena lahan yang seharusnya menjadi daerah resapan air diubah menjadi sebuah desa bahkan kota yang penuh dengan bangunan dapat menyebabkan bencana seperti banjir, tanah longsor, sedimentasi, dan lain lain.

Hello world!

February 13th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!