KERJASAMA DAN JARINGAN INFORMASI

Nama                    : Malida Isnain Istigfarani

NIM                       : 165030700111015

 

Kerja Sama dan Jaringan Informasi Antar Perpustakaan di Indonesia

A. Pendahuluan

Jaringan perpustakaan merupakan suatu sistem hubungan antar perpustakaan, yang diatur dan disusun menurut berbagai bentuk persetujuan yg memungkinkan komunikasi dan pengiriman secara terus-menerus informasi bibliografis maupun informasi-informasi lainnya, baik berupa bahan dokumentasi maupun ilmiah.Selain itu, jaringan perpustakaan menyakut pertukaran keahlian, menurut jenis dan tingkat yg telah disepakati. Jaringan ini biasanya berbentuk organisasi formal, terdiri atas 2 perpustakaan atau lebih, dengan tujuan yg sama. Untuk mencapai tujuan tersebut disyaratkan untuk menggunakan teknologi telekomunikasi dan komputer atau TI.

Dengan adanya jaringan perpustakaan ini maka kerjasama perpustakaan dapat berjalan lebih maksimal. Manfaat lain dengan adanya jaringan perpustakaan ini menurut Henderson (1998:98) antara lain :

  1. Menyediakan akses yang cepat dan mudah meskipun melalui jarak jauh,
  2. Menyediakan akses pada informasi yang terbatas dari berbagai jenis sumber,
  3. Mampu menyediakan informasi yang lebih mutakhir yang dapat digunakan secara fleksibel bagi pemakai sesuai kebutuhannya,
  4. Memudahkan format ulang dan kombinasi data dari berbagai sumber.

Sedangkan kerjasama perpustakaan merupakan kerjasama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih. Kerjasama ini diperlukan karena tidak satupun perpustakaan dapat berdiri sendiri dalam arti koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi pemakainya. Adanya faktor yang mendorong kerjasama perpustakaan ialah :

  1. Meluasnya kegiatan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar hingga ke Perguruan Tinggi mendorong semakin banyaknya dan semakin beranekannya permintaan pemakai yang dari hari-ke hari semakin banyak memerlukan informasi.
  2. Kemajuan dalam bidang teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap industri dan perdagangan.
  3. Berkembangnya teknologi informasi, terutama dalam bidang komputer dan telekomunikasi, memungkinkan pelaksanaan kerjasama berjalan lebih cepat dan lebih mudah bahkan mungkin lebih murah.
  4. Tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan informasi yang sama.
  5. Kerjasama memungkinkan penghematan fasilitas, biaya, tenaga manusia, dan waktu. Hal ini amat mendesak bagi negara berkembang seperti Indonesia dengan keterbatasan dana bagi pengembangan perpustakaan.

B. Pembahasan

  1. Jaringan Kerja sama Bidang Teknis

Ditinjau dari sudut pandang yang leih luas maka peran perpustakaan merupakan agen perubahan, pembangunan, dan agen budaya serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menjembatani kebutuhan informasi yang beragam dan memperkaya nilai – nilai kehidupan baik individu maupun sosial, diperlukan kerja sama antar perpustakaan agar mempermudah perwujudan cita-cita ini. Konsep kerjasama ini nampaknya sudah semakin di dengungkan di dunia perpustakaan, istilah simpan pinjam antar perpustakaan, saling layan, resource sharing (pemakaian bersama sumber informasi) suatu jaringan informasi yang banyak dipakai orang setelah teknologi komputer masuk ke dunia perpustakaan, sudah kerap kali diterapkan oleh perpustakaan.

  1. Kerjasama Pengadaan

Masalah pengembangan koleksi di perpustakaan merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh perpustakaan, salah satu bentuk kegiatannya adalah pengadaan bahan pustaka. Pengadaan ini mencakup kegiatan pembeliian, hadiah atau sumbangan, dan tukar menukar. Setiap pengadaan koleksi menyangkut pada anggaran yang akan digunakan untuk membeli serta memenuhi semua kebutuhan bahan pustaka bagi pemustakanya. Untuk itu kerja sama antar perpustakaannya dalam proses pengadaan ini perlu dilakukan. Konkret adalah perpustakaan membentuk jaringan kerjasama antar beberapa perpustakaan, kemudian masing-masing anggota memiliki spesifikasi khusus dalam hal koleksi. Sehingga perpustakaan dengan spesifikasi koleksi yang berbeda bisa saling melengkapi.

Untuk pengadaan melalui hadiah atau sumbangan, pendekatan antar unit kerja/instansi mutlak diperlukan. Sebab adanya surat resmi dari pejabat perpustakaan akan melancarkan jalan pustakawan dalam memperoleh koleksi cuma – cuma dari instansi yang dituju. Selain itu, hadiah juga bisa diberika bila perpustakaan yang bersangkutan memiliki banyak duplikasi terbitan. Pengadaan melalui tukar menukar koleksi dapat dilakukan dengan satu syarat adanya kerjasama. Tukar menukar, untuk saling memabantu pengembangan koleksi pustaka masing-masing. Kerja sama bisa dilakukan dengan saling memberikan pustaka yang tidak relavan dengan tujuan dan ruang lingkup. Pelayanan perpustakaan lain yang membutuhkan dapat juga membantu mendayagunakan pemanfaatan pustaka semaksimal mungkin.

  1. Kerjasama Pengatalogan

Pengatalogan adalah proses pembuatan rekaman bibliografi yang akan dijadikan sebagai wakil ringkas dokumen yang dicantumkan dalam katalog. Untuk perpustakaan, idealnya katalog diketik dalam kertas khusus katalog. Terdiri dari call number atau nomor panggil, nama pengarang, judul, impresium, kolaso, anotasi atau catatan, dan tracing atau jejakan. Secara tradisional, perpustakaan menyediakan kotak yang berisi kartu katalog. Masing-masing kartu berhubungan dengan salah satu koleksi yang dimiliki perpustakaan. Namun sekarang banyak pula katalog digital. Sistem ini bisa mengatasi persoalan klasifikasi koleksi dan pencarian sumber informasi tertentu.

Penelusurannya dapat dimulai dengan menentukan kata kunci yang relevan. Usaha awal memberikan jasa pengatalogan terpusat dipeloori oleh Library of Congress di AS serta British National Bibliography di Inggris. Library of Congress bekerjasama dengan perpustakaan di Amerika Utara melancarkan proyek menguji keterlaksanaan sistem Machine Redable Catalogue (MARC) pada tahun 1966. Sistem tersebut mulai dioperasikan tahun 1968 dengan format lebih luwes. British National Bibliography menggunakan format baru MARC pada tahun 1971, kemudian mengembangkannya menjadi sistem terpasang pada tahun 1977.

Tujuan utama katalog terkomputerisasi adalah membuat suatu sistem pengatalogan yang sesuai dengan pemanfaatan dan peruntukannya. Sumber-sumber pembuatan katalog terkomputerisasi terdapat dari.

  1. Katalog manual lokal yang berbentuk tercetak.
  2. Sistem akuisisi bahan pustaka terkomputerisasi.
  3. File yang telah dibuat oleh kataloger.
  4. Penggabungan database.
  5. Membeli kartu komersial berformat MARC.
  6. Hasil katalog terkomputerisasi bisa diakses melalui OPAC.

 

Pertukaran Publikasi/ Pemanfaatan Koleksi Bersama (Resource Sharing)

  1. Silang layan

Kerja sama yang dilakukan berkisar pada saling meminjamkan pustaka berupa bahan asli, surogate dokumen ataupun hanya dengan penyediaan fasilitas reproduki bahan yang diperlukan baik fotocopy maupun bentuk mikro dan sebagainya.

  1. Pemakaian ruang baca dan fasilitas lain

Pengguna perpustakaan lain biasanya hanya diizinkan untuk membaca bahan pustaka di ruang baca yang tersedia, termasuk pemanfaatan perlengkapan perpustakaan seperti proyektor slide, video tape, dan sebagainya.

  1. Pertukaran data bibliografi

Pertukaran bibliografi dilakukan untuk mengetahui koleksi yang dimiliki oleh masing – masing  anggota jaringan.

 

  1. Kerja Sama Penyusunan Katalog Induk

Fungsi katalog induk tidak jauh berbeda dengan fungsi katalog yakni.

  1. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui dari pengarang, judul, atau subyeknya.
  2. Menunjukkan apa yang dimiliki suatu perpustakaan oleh pengarang tertentu, pada

subyek tertentu, dalam jenis literatur tertentu.

  1. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya/ bentuk sastra atau berdasarkan topik.

Sementara itu, untuk katalog induk mempunyai fungsi tambahan antara lain.

  • Mempermudah penyalinan katalog (copy cataloguing).
  • Mendukung pengawasan bibliografi (bibliographic control).
  • Menopang silang layan (inter library loan).

 

  1. Kerjasama Pertukaran Data Bibliografi
  2. Machine Readible Catalogue (MARC)

MARC merupakan salah satu hasil sekaligus syarat dalam automasi perpustakaan. Pertama kali dikembangkan oleh Library of Congress. Format LC MARC dapat mendistribusikan data pengatalogan ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara-negara lain mengembangkan format MARC bagi kepentingan masing-masing. Format INDOMARC merupakan implementasi International Standard Format ISO 2709 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar menukar informasi bibliografi melalui pita magnetic (magnetic tape) atau media yang terbacakan mesin (machine readable). Format INDOMARC dirancang sejalan dengan USMARC, format MARC lainnya yang memberikan kemungkinan kerja sama penentuan data katalogisasi dan kerjasama layanan bibliografi. Spesifikasi konversi memungkinkan dilakukannya pertukaran data pada tingkat internasional.

  1. Dublin Core

Dublin core adalah salah satu skema metadata yang digunakan untuk web source description and discovery. MARC dianggap terlalu sulit dan kurang bisa digunakan untuk web resource. Untuk menangani melimpahnya web resource diperlukan cara dan format yang lebih sederhana. Dublin core dibuat agar dapat digunakan oleh orang awam (bukan pengatalog) maupun professional/ pustakawan.

  1. Kerja Sama Pelayanan Pemustaka

Kerja sama Silang Layan

Silang layan dianggap sinonim dengan kata pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan. Menurut Sulistyo-Basuki (2007), istilah silang layan mencakup pemberian jasa antara dua perpustakaan atau lebih; jasa ini dapat berupa membantu penelusuran, pencarian materi perpustakaan, penyediaan fasilitas untuk anggota perpustakaan lain, pinjam antar perpustakaan. Secara spesifik, silang layan diartikan sebagai kerja sama pemberian jasa perpustakaan dan informasi antara dua perpustakaan atau lebih.

Adapun hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka kerja sama pelayanan ini adalah.

  1. Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Kriteria Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah bersifat komprehensif,

terkoordinasi, terdiri atas subsistem, terintegrasi secara rasional, transformasi data

dalam berbagai bentuk dan cara, tingkat produktivitas terukur, menyesuaikan pada gaya

manajemen, dan berdasarkan kriteria kualitas yang telah ditentukan.

berbagai bentuk dan cara, tingkat produktivitas terukur, menyesuaikan pada gaya

manajemen, dan berdasarkan kriteria kualitas yang telah ditentukan.

  1. Permintaan terhadap informasi

Perpustakaan dalam rangka memenuhi fungsinya sebagai organisasi penyedia jasa

dan pusat informasim tidak mungkin dapat bekerja secara mandiri dan independen.

Oleh sebab itu perlu adanya kerja sama jaringan perpustakaan untuk memenuhi

kebutuhan informasi pengguna. Era perkembangan IPTEK sekarang ini menuntut

perpustakaan menggunakan fasilitas komputer sebagai alat pengelola datanya.

Kecanggihan komputer salah satunya adalah memiliki kelebihan dalam hal komunikasi

data. Komunikasi data merupakan suatu proses pengiriman dan penerimaan data antara dua

atau lebih sumber yang lokasinya berbeda dengan memakai media transmisi. Sistem

teknologi yang digunakan merupakan perpaduan antara teknik telekomunikasi dengan

teknik pengolahan data.

  1. Pergeseran tren menuju perpustakaan elektronik

Perpustakaan elektronik merupakan sarana penyimpanan informasi, dokumen,

audio visual, dan materi grafis yang tercipta dalam berbagai jenis media. Perpustakaan

elektronik merupakan bagian dari sebuah jaringan kerja (network).

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan bagi terbentuknya perpustakaan

elektronik adalah.

  1. Interaksi dan sirkulasi perpustakaan
  2. Bentuk fisik mata rantai pemakai (user link), yaitu mata rantai
  3. Menarik iuran atau mengatur distribusi dana
  4. Bentuk jaringan
  5. Pengelolaan informasi

Informasi berasal dari suatu data. Persoalan yang muncul adalah penerapan

teknologi informasi juga menghadirkan masalah misalnya pemeliharaan data atau

informasinya. Data dan informasi seperti dua sisi mata uang yang saling terkait.

Berbeda pengertian tetapi satu fungsi. Data dapat dikatakan sebagai informasi yang

akurat, dan semua data adalah embrionya informasi. sementara itu informasi belum

tentu dikatakan data, sebab ada informasi yang disampaikan tanpa data, tetapi informasi

juga merupakan data jika informasi itu diterima kemudian direkam.

  1. Kerja Sama Penyediaan Fasilitas

Penyediaan fasilitas ini umumnya dibatasi pada penggunaan ruang baca, koleksi rujukan, fasilitas fotokopi, dan koleksi lain yang terbuka untuk umum. Koleksi yang boleh dipinjam, tetapi anggotanya dari perpustakaan lain hanya boleh membaca atau membuat catatan.

  1. Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan
  2. Seminar kebijakan perpustakaan dan kepustakawanan bandingan.
  3. Seminar yang berorientasi pada masalah sehari-hari.
  4. Seminar yang berorientasi pada subjek.

 

  1. Aspek – aspek dalam jaringan kerja sama perpustakaan
  2. Aspek sosial

Aspek Sosial dalam Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi mengkonstruksi Realitas di Bidang Informasi dan Bidang Terapan Lainnya Konstruksi realitas dipahami sebagai usaha yang mengarahkan pada bentukan sistem berdasarkan kenyataan. Jika arahnya pada kegiatan interaksi sosial, Laksmi (2012) mengatakan bahwa konsep konstruksi sosial dikenal oleh Peter L Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality, A Treatise in the Sociological of Knowledge (1996). Mereka menegaskan bahwa suatu proses sosial mencakup tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus menerus realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif, terlepas apakah itu karena pengaruh sosial yang lain maupun karena level pendidikan dan pengetahuan yang diperolehnya, baik melalui media pendidikan formal maupun informal.

Proses konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dimana adanya interaksi antar individu, akan melahirkan bermacam respon. Baik berupa konflik atau resistensi, ada pula kemungkinan saling tarik menarik karena berbeda kepentingan, bahkan terciptanya konigurasi sosial. Konfigurasi sosial dapat diartikan semacam kegiatan yang dilakukan manusia yang saling memberi makna pada perilaku masing-masing dan melakukan tindakan yang sesuai dengan makna tersebut. Seperti merajt jarring-jaring makna, interaksi sosial muncul dalam penciptaan makna simbolik universal yang mengatur bentuk-bentuk interaksi sosial antara individu, individu dengan masyarakat, atau individu dengan lingkungannya, yang memberi makna pada berbagai undakan dalam kehidupan. Proses dialektika tersebut muncul dalam bentuk eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

Bentuk eksternalisasi dapat dikatakan sebagai salah satu proses dalam konstruksi sosial. Hal ini merupakan proses membangun tatanan kehidupan dimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses konfigurasi selanjutnya adalah dialektika. Proses ini juga muncul dalam bentuk objektivasi, yaitu proses membangun tatanan kehidupan manakala realitas terpisah dari subjektivitas.

Tilmbulnya Konfigurasi Sosial Interaksi sosial membentuk konfigurasi tertentu yang diwarnai dengan kontestasi kekuasaan, bias gender, stratifikasi sosial, dan sebagainya. Berbagai realitas dapat diciptakan melalui interaksi sosial yang terjadi sehari – hari. Tindakan – tindakan yang sebelumnya muncul pada tataran individual, akhirnya membentuk konfigurasi sosial dalam tataran sistem. Terbentuknya konfigurasi sosial di lembaga informasi dapat berbentuk penyimpangan manajemen, seperti diskriminasi, ketidaksetaraan diantara pekerja, pertentangan nilai, konflik kepentingan, kecemburuan sosial, dan masih banyak lagi (Coleman, 2008). Satu modal untuk membina jaringan kerja sama dengan perpustakaan lain adalah pelayanan yang dapat diterima oleh semua pemustaka. Dengan tradisi konstruksi sosial yang baik di perpustakaan, akan membawa dampak positif menjalin relasi dengan perpustakaan lain utamanya dalam segi pelayanan terhadap anggota perpustakaan lain.

Proses Konstruksi Sosial Konsep proses konstruksi sosial merujuk pada fenomena sosial yaitu rangkaian proses interaksi yang dianalisis berdasarkan pada interpretasi dan refleksi para pelakunya. Rangkaian peristiwa di dalam proses memiliki keterkaitan, baik dalam ruang dan waktu, serta hubungan antara individu di dalam peristiwa. Berdasarkan interaksi sosial, proses konstruksi sosial dibedakan ke dalam proses sosial yang asosiatif dan proses sosial yang disosiatif.

Proses sosial asosiatif adalah proses yang menunjukkan bentuk pendekatan atau saling bekerja sama. Proses jenis ini mencakup kooperasi, akomodasi, asimilasi, dan amalgamasi. Proses konstruksi sosial kooperasi merupakan proses bekerjasama dengan dilandasi minat, minat, dan kesepahaman bersama. Proses akomodasi merupakan proses menuju tercapainya kesepakatan sementara yang dapat diterima oleh pihak – pihak yang sedang berselisih. Proses asmililasi merupakan konstruksi sosial melalui penyatuan pemahaman dan meleburnya kebudayaan dari pihak-pihak yang berselisih.

  1. Aspek Teknologi dalam Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi
  2. Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital adalah organisasi yang menyediakan sumber daya mencakup staf ahli, untuk memilih, struktur, penawaran akses intelektual untuk menginterpretasikan, mendistribusikan, memelihara integritas koleksi dari waktu ke waktu sedemikian rupa sehingga tersedia dan siap digunakan oleh masyarakat. Perpustakaan digital merupakan lingkungan yang menantang bagi pustakawan. Dengan tiadanya jasa fisik yang diberikan maka peran pustakawan berubah dari fasilitator antara pemakai dengan sumber daya informasi menjadi fasilitator antara pemakai dengan sistem.

Perpustakaan digital memiliki keunggulan sebagai berikut.

  1. Tidak memiliki batas fisik.
  2. Ketersediaan akses.
  3. Temu balik.
  4. Preservasi dan konservasi.
  5. Berpotensi menyimpan lebih banyak informasi

Di Indonesia sudah terdapat perpustakaan digital terutama di Perguruan Tinggi. Kini banyak perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa menyerahkan karya akhirnya dalam bentuk soft files ke perpustakaan, selanjutnya perpustakaan yang akan memasukkan ke server.

Tantangan Bagi Pustakawan

Perpustakaan digital merupakan lingkungan yang menantang bagi pustakawan. Dengan tiadanya jasa fisik yang diberikan maka peran pustakawan berubah dari fasilitor antara pemakai dengan sistem. Kepustakawanan dapat saja diganti dengan istilah lain, namun etos utamanya yaitu jasa. Adapun aktivitas pustakawan sebagai berikut :

  1. Seleski objek fisik dan sumber daya digital
  2. Akuisisi dengan pembelian, langganan hadiah, pertukaran dan mengunduh (download) dari internet
  3. Organisasi dan akses, pengatologan, klasifikasi, akses informasi terpasang
  4. Preservasi dan konservasi, sumber dan digital
  5. Jasa dan pelatihan pemakai, termasuk jasa referensi, peminjaman, pelatihan keterampilan informasi bagi pemakai
  6. Manajemen personalia, jasa dan organisasi perpustakaan

Keunggulan perpustakaan digital

Jika ditilik dari sisi kemudahan simpan dan akses maka perpustakaan digital ini menjadi primadonya. Dibandingkan dengan perpustakaan tradisional dalam arti perpustakaan yang terbatas pada gedung atau ruangan maka perpustakaan digital memiliki keunggulan sebagai berikut :

  1. Tidak memiliki batas fisik
  2. Ketersediaan akses
  3. Multiakes
  4. Temu balik
  5. Preservasi
  6. Wikipedia
  7. Perpustakaan Hibrida

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang memiliki “dua muka”, yaitu merupakan perpaduan koleksi digital dan koleksi konvensional. Borgman memberikan pendapatnya bahwa perpustakaan hibrida didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat juga jauh. Pada perpustakaan hibrida ini ada kerja sama yang apik antara pustakawan dan para teknolog yang menyatukan keterpisahan tradisi sebagai konsekuensi perpustakaan hibrida yang secara bersamaan membangun koleksi baru (elektronik atau digital) dan koleksi lama (tercetak) secara terintegrasi, sedemikian rupa sehingga pemakai jasa perpustakaan tidak lagi kesulitan memakai kedua jenis koleksi tersebut.

  1. Cloud Computing

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan). Awan (cloud) adalah metafora dari internet. Cloud computing adalah suatu konsep umum yang mencakup SaaS (software as a service), web 2.0, dan tren teknologi terbaru lain yang dikenal luas, dengan tema umum berupa ketergantungan terhadap internet untuk memberikan kebutuhan komputasi pengguna. Cloud computing merupakan paradigm manakala suatu informasi secara permanen tersimpan di server (internet) dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client).

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar layanan yang ada di internet dikategorikan cloud computing.

  • Layanan berdifat On Demand, pengguna dapat berlangganan apa yang ia butuhkan saja.
  • Layanan bersifat elastis/ scalable.
  • Layanan sepenuhnya dikelola oleh penyedia/ provider.
  • Sumber daya terkelompok.
  • Akses pita lebar layanan yang terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet.
  • Layanan yang terukur (Measured Service).

Secara umum Cloud Computing terbagi dalam 3 jenis layanan yaitu.

  1. Software as a Service (SaaS)
  2. Platform as a Service (PaaS)
  3. Infrastructure as a Servie (IaaS)

Manfaat Cloud Computing adalah sebagai berikut.

  1. Data yang disimpan di pusat
  2. Respons cepat.
  3. Kehandalan kode uji.
  4. Log (records tak terbatas).
  5. Kinerja perangkat lunak dengan tingkat keamanan yang tinggi.
  6. Konstruksi yang handal.
  7. Menghemat biaya uji keamanan yang mahal.

Konsep cloud computing tidak serta merta diterapkan begitu saja di perpustakaan. penerapannya membutuhkan suatu perencanaan yang jelas dan matang jika konsep teknologi tersebut akan diadopsi. Perlu memperhatikan beberapa hal sebelum mengaplikasikan teknologi cloud computing antara lain infrastruktur, keamanan data, dan sumber daya manusia.

  1. Digital Native

Digital natives adalah mereka yang terlahir dalam lingkungan dengan kondisi teknologi informasi dan komunikasi yang telah mengalami revolusi digital dan disajikan secara online. Artinya mereka menganggap teknologi semacam ini bukan sesuatu yang baru. Jaringan kerja sama perpustakaan adalah kerja sama yang dilakukan dengan minimal dua atau lebih perpustakaan, yang tentu melibatkan pustakawannya. Kerja sama ini menuntut setidaknya memiliki pemahaman yang sama terhadap kegiatan kerja sama yang akan dilakukan, termasuk pula penyamaan persepsi terhadap konsep dasarnya, misalnya. Pemahaman pertama, perpustakaan yang sudah memiliki fasilitas internet bukanlah perpustakaan digital. Kedua, vendor pangkalan data atau pemasok dokumen komersial, pangkalan data serta jasa pengantaran dokumen elektronik serta perpustakaan digital miliknya bukanlah perpustakaan digital. Ketiga adalah bahwa sistem manajemen dokumen yang mengolah dokumen bisnis dalam bentuk dokumen elektronik tidak dapat disebut perpustakaan digital. Keempat adalah bahwa pustakawan merupakan SDM yang paling berperan dalam kerja sama antar perpustakaan ini. Kelima bahwa untuk pengembangan jaringan kerja sama diperlukan dana, meskipun dana bukan segalanya.

  1. Open Access

Gerakan Open Access (OA) yang pertama kali adalah Budapest Open Access Initiative pada bulan Desember 2001 di Budapest. Prinsipnya menyatakan bahwa tradisi lama dan teknologi baru telah berbaur menciptakan barang public yang belum ada sebelumnya. Tradisi lama ialah kemauan ilmuan untuk menerbitkan hasil riset mereka dalam jurnal tanpa honor, demi kemajuan ilmu dan pengetahuan. Teknologi baru adalah internet. Barang public yang dihasilkan dengan internet memungkinkan distribusi elektronik ke seluruh dunia dan dapat diakses siapa saja.

  1. Konsep Perpustakaan Terintegrasi

Menurut Wikipedia sistem perpustakaan terintegrasi yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Integrated Library System (ILS) atau Library Management System (LMS) adalah sistem perencanaan sumber daya perpustakaan yang digunakan untuk melacak bahan perpustakaan yang dimiliki, pesanan yang dibuat, tanggungan yang dibayar, dan pemustaka (pengguna perpustakaan) yang meminjam koleksi.

Sejarah perkembangan otomasi perpustakaan dimulai seiring dengan kemampuan komputer dalam mendukung penerapan aplikasi untuk perpustakaan, bahkan sistem otomasi perpustakaan untuk sirkulasi telah dimulai sejak diterapkannya penggunaan kartu berlobang (punched card) pada dasawarsa 1940an dan 1950an. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin maju pada decade 1960an dan 1970an, mucullah sistem perpustakaan terintegrasi. Sistem ini mengubah secara drastis tata kelola atau operasional perpustakaan

Komponen ILS

Tiap komponen dalam sistem perpustakaan terintegrasi (ILS) disebur modul. Fayen (2005) mengemukakan bahwa pada masa awal ILS hanya terdiri atas dua atau tiga modul sebagai berikut.

  1. Pengatalogan
  2. OPAC (Online Public Access Catalog)
  3. Sistem sirkulasi

Modul-modul baru biasanya ditambahkan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda dari berbagai perpustakaan untuk tujuan khusus, misalnya sebagai berikut.

  1. Authority Control: modul khusus untuk pengatalogan.
  2. Pengadaan (Acquisition)
  3. Pengelolaan terbitan berseri (Serials Control)
  4. Dukungan kepemilikan (Holdings Support)
  5. Pemesanan bahan perpustakaan (Materials Booking)
  6. Koleksi tendon (Course Reserve)
  7. Inventarisasi (Inventory Control)
  8. Penjilidan (Binding)
  9. Community Bulletin Board
  10. Pinjam antar perpustakaan (Inter Library Loan)
  11. Pelaporan (Reporting)

Fasilitas ILS

  1. Catalog management
  2. Circulation management
  3. Custom user interface
  4. Customer database
  5. Customizable fields
  6. Data import/ export
  7. Federated searching
  8. Fee collection
  9. Legacy system integration
  10. Mobile access
  11. Multi language
  12. OPAC
  13. Periodicals and serials management
  14. Reporting
  15. Radio Frequency Identification
  16. Scanning and barcode integration
  17. Self-checkin/ out
  18. Software development kit
  19. Web service

ILS dan Kerja Sama Perpustakaan

Penerapan ILS tidak hanya mempermudah pengelolaan perpustakaan secara internal, tetapi juga secara eksternal, yaitu kaitannya dengan kerja sama antar perpustakaan. ILS mempermudah jaringan kerja sama perpustakaan dalam bentuk pengolahan koleksi, penelusuran informasi, pembangunan katalog induk, pengembangan koleksi, dan pinjam antar perpustakaan.

  1. Digitalisasi dan Simpan Pengetahuan Bersama

Perkembangan dunia internet menyebabkan para teknolog menyadari bahwa sistem komputer harus dapat melayani populasi dengan beragam kepentingan. Selain itu juga disadari bahwa pengetahuan tidak pernah berbentuk satu paket yang rapi dan jelas batas-batasannya. Di dalam situasi seperti itulah pada era 1990an orang mulai bicara tentang perpustakaan digital. Kita dapat segera melihat bagaimana fenomena pengelolaan objek digital memberikan sumbangan amat besar bagi upaya pengelolaan data, informasi, dan pengetahuan.

Komunitas Online dan Pengetahuan Bersama

Di dalam komunitas online para anggota saling bertukar data dan informasi. Dari pertukaran ini seringkali muncul informasi-informasi baru yang tampaknya semakin lama semakin “kaya”. Setiap komunitas online akhirnya pasti memiliki semacam fasilitas untuk menyimpan berbagai hal yang dianggap milik bersama. Keberadaan perpustakaan digital menjadi amat jelas jika dikaitkan dengan kebutuhan komnitas akan sarana yang konsisten dan dapat dipercaya ini. Digitalisasi dan kemajuan teknologi komputer pada akhirnya bertujuan membantu komunitas memanfaatkan simpanan informasi (information storage) untuk pengembangan pengetahuan.

Sebagai sebuah aplikasi teknologi digital, perpustakaan digital juga menjadi semacam penimbang bagi kecepatan pertambahan data dan informasi yang semakin mudah diproduksi dengan bantuan komputer dan cenderung menimbulkan fenomena information overload, sebuah fenomena yang sering menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas informasi yang tersedia di internet.

Perpustakaan Digital Sebagai Model

Karakteristik perpustakaan digital adalah sebagai berikut (Tedd dan Large, 2005: 17-19).

  1. Perpustakaan digital berisi koleksi dalam bentuk digital atau sumber daya
  2. Perpustakaan digital ada dalam lingkungan yang tersebar dalam lingkungan
  3. jaringan sehingga pengguna bisa mengakses koleksi perpustakaan digita dimana
  4. Isi perpustakaan digital berupa data dan metadata yang mendeskripsikan data.
  5. Koleksi perpustakaan digital diseleksi dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan
  6. komunitas pengguna yang telah ditentukan.

Kelebihan dan Kekurangan Perpustakaan Digital

Kelebihan perpustakaan digital dibandingkan dengan perpustakaan tradisional.

  • Tidak ada batasan fisik.
  • Tersedia sepanjang waktu.
  • Akses ganda.
  • Pendekatan terstruktur.
  • Fleksibilitas dalam temu kembali informasi.
  • Pelestarian dan konservasi.
  • Bentuk digital hanya membutuhkan sedikit ruang.
  • Memiliki nilai tambah, seperti kualitas gambar dan bisa diperbaiki.
  • Mudah untuk diakses.

Adapun beberapa kelemahan perpustakaan digital adalah sebagai berikut.

  • Banyak ahli mengkritik bahwa perpustakaan digital akan terkendala oleh peraturan

mengenai hak cipta.

  • Isi atau koleksi perpustakaan digital hanya terbatas pada bahan-bahan yang sudah

menjadi milik umum.

  • Perpustakaan digital tidak mampu mereproduksi lingkungan perpustakaan

tradisional.

  • Banyak orang yang masih merasa lebih nyaman membaca bahan tercetak daripada

membaca pada layar komputer.

Perpustakaan Digital Sebagai Model Jaringan Perpustakaan dan Informasi

Secara alami perpustakaan digital tidak dapat berdiri sendiri. Ia merupakan gabungan dari berbagai perpustakaan digital. Dari sisi penyebutan pun dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “digital libraries” (jamak) bukan “digital library” (tunggal). Sejak semula perpustakaan digital dirancang untuk berkolaborasi antara entitas perpustakaan digital yang satu dengan yang lain. Dengan adanya tuntutan seperti ini maka isu interoperability, yaitu bagaimana mempersatukan berbagai sistem komputer agar dapat bekerjasama dan saling berkomunikasi dengan baik, menjadi sangat penting sejak awal pengembangan perpustakaan digital.

Menurut Miller (2000) Interoperability langsung terkait dengan penggunaan standar yang meliputi enam aspek seperti berikut.

  • Technical interoperability: standar komunikasi, pemindahan, penyimpanan, dan penyajian data digital.
  • Semantic interoperability: standar penggunaan istilah dalam pengindeksan dan

temu kembali informasi.

  • Political/ human interoperability: keputusan untuk berbagi dan bekerjasama.
  • Intercommunity interoperability: kesepakatan untuk berhimpun antar institusi dan

beragam disiplin ilmu.

  • Legal interoperability: peraturan terkait dengan akses ke koleksi digital, termasuk

masalah hak intelektual.

  • International interoperability: standar yang memungkinkan kerja sama internasional

C. Kesimpulan

Untuk dapat mengurangi sebagian beban yang dimiliki oleh para pengelola perpustakaan, maka selayaknyalah para pustakawan atau pengelola perpustakaan melakukan kegiatan kerjasama perpustakaan baik aspek teknis, strategis dan manajerial dalam masing-masing kebutuhan yang sama demi untuk meningkatkan jasa layanan perpustakaan dan informasi kepada masyarakat secara cepat, tepat, dan terpadu.

D. Daftar Pustaka

Ahmad, Lamang. Pengantar kerjasama perpustakaan. Di akses 11 Oktober 2018. https://memans.wordpress.com/2008/06/02/pengantatar-kerjasama-perpustakaan/

Pratiwi, Karina Dian. Jaringan kerjasama perpustakaan. Di akses 11 Oktober 2018. http://karina-d-p-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-77858-Tugas%20-Jaringan%20Kerjasama%20Perpustakaan%202.html