Posts Tagged ‘Trichoderma viride’

Kemampuan Jamur Trichoderma viride Mereduksi Larutan Kromium(VI)


2017
04.23

Pencemaran lingkungan akibat logam berat merupakan suatu permasalahan serius di dunia saat ini (Lloyd, Jonathan R, 2002).Pencemaran lingkungan akibat logam berat ini berasal dari limbah industri dan aktivitas manusia lainnya. Keberadaan logam berat dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat terakumulasi dalam lingkungan dan dalam rantai makanan (Kurniawan, 2016).Darmono, 1995, dalam tulisan Syamsudin, 2005, menyebutkan bahwa pencemaran logam berat pada lingkungan berada dalam jumlah yang semakin meningkat melebihi konsentrasi alamiah (Syamsudin, 2005).

Logam berat merupakan logam dengan berat jenis lebih dari 5g/cm3, lima kali lebih berat dibandingkan air. Sejumlah logam berat, misalnya, kromium (Cr), kobalt (Co), tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe), nikel (Ni), dan arsenik (As) memegang peranan penting dalam kehidupan organisme dan dibutuhkan sebagai nutrien essential. Namun, pada konsentrasi yang tinggi di atas ambang batas, logam berat tersebut memiliki potensi menjadi racun (Pede, 2012 dalam Kurniawan, 2016).Keberadaanya dalam lingkungan dan limbah industri dapat mengganggu ekosistem dan gangguan kesehatan (Siddiquee, 2015). Beberapa jenis logam berat seperti kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), nikel (Ni), seng (Zn), dan lain sebagainya terdeteksi berada di tanah dan lingkungan perairan (Kurniawan, 2016).  Selain itu, logam berat juga sebagai digunakan dalam industri, misalnya Cr (Thermo Fisher Scientific, 2016). Logam berat kromium (Cr) merupakan logam berat beracun sebagai hasil dari industri seperti penyamakan kulit, elektroplating, pengawetan kayu, dan sebagainya (Guria, 2014). Dalam tingkat oksidasi yang berbeda, kromium stabil dalam bentuk trivalent [Cr(III)] dan heksavalen [Cr(VI)] (Mishra, 2008).  Cr (VI) bersifat toksik jika dibandingkan Cr(III). Cr(VI) bersifat karsinogenik dan merupakan kontaminan pada tanah, air tanah, dan air permukaan. Sedangkan Cr(III) bersifat tidak larut, berada secara alami dalam lingkungan, dan dibutuhkan sebagai nutrisi oleh manusia (Mishra, 2008).

Pencemaran logam berat tentunya berdampak negatif, baik terhadap biota, maupun manusia (Syamsudin, 2005). Metode yang dapat digunakan untuk memisahkan Cr(VI) adalah metode fisika, kimia, dan biologi. Di antara metode tersebut, metode yang efektif adalah metode biologi (Widiagarini, 2012).Metode biologi mampu mereduksi toksisitas logam berat memanfaatkan aktivitas biologis pada mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan sejumlah kontaminan (Kurniawan, 2016).Metode ini dikenal dengan bioremediasi.

Bioremediasi dapat terjadi dengan adanya enzim dari mikroorganisme yang mampu memodifikasi suatu struktur kimia menjadi struktur lainnya menjadi metabolit tidak kompleks, dengan struktur kimia yang tidak bersifat toksik lagi (Suryani, 2011). Proses perubahan struktur dari toksik menjadi tidak toksik oleh mikroorganisme ini disebut biotransformasi (Widiagarini, 2012). Perubahan struktur kromat dapat dilakukan oleh bakteri yang resisten kromat, dengan mengkatalisis reduksi dari Cr(VI) menjadi Cr(III), yang memiliki potensial dalam proses bioremediasi (H, Thatoi, 2004). Perubahan sifat kimiawi dan mobilitas logam dapat terjadi melalui akumulasi, mobilisasi, dan imobilisasi logam.Selain aktivitas mikroba, pengurangan toksisitas logam juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tipe tanah, aerasi, spesiasi logam, sumber karbon, dan pH (Stephen et al. 1999) dalam Syamsudin, 2005. Pada proses reduksi Cr (VI) menjadi Cr(III), kemampuan reduksi juga dipengaruhi oleh konsentrasi inokulum sel jamur dan jumlah konsentarasi Cr(VI) (Widiagarini, 2012).

Mikroorganisme yang dapat digunakan dalam mengubah stukrtur Cr(VI) dalam larutan adalah fungi, melalui suatu “mekanisme adsorpsi” dengan cara pengikatan anion kromat dengan gugus yang bermuatan positive pada biomassa jamur (Joutey, 2015). Diketahui bahwa dengan Trichoderma viride Kromat berikatan dengan gugus amina dan karboksil pada permukaan spesies Trichoderma viride.

Pada penelitian sebelumnya, disebutkan bahwa kemampuan persen reduksi berkisar antara 50.3 hingga 83.4 oleh biomassa jamur Trichoderma Viride, 39 hingga 79 oleh Pseudomonas fluorescens, dan 50.3 hingga 83.4 oleh Aspergillus niger (Sunitha, 2013).