Kenali Hatimu

2016
11.05

Kenali Hatimu

Assalaamu’alaykum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Alhamudulillah, segala puji hanya milik Allah yang kepada-Nya lah kita kembali. Dialah, Allah, penguasa alam semesta, yang mengetahui yang nampak ataupun yang tersembunyi, yang mengetahui segala isi hati. Dia, yang membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya. Dialah Allah, satu-satunya sesembahan yang haq untuk untuk disembah. Sholawat serta salam  selalu tercurah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam, yang tidak ada nabi setelahnya.

Hai, Sobat Nisa yang semoga selalu dirahmati Allah, bagaimana kabar hati Sobat Nisa?

Pada edisi kali ini, kami menghadirkan bahasan seputar manajemen qolbu. Percuma ketika amalan dhohir (yang nampak) terlihat giat, tapi batinnya (hatinya) kotor. Ketika hati telah kotor, maka yang sebenarnya, amalan dhohir pun menjadi kotor, karena kondisi tubuh seseorang itu tergantung pada hatinya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

“Dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang memotori semua anggota tubuh lainnya. Jika ia baik, semuanya pun menjadi baik; dan jika ia rusak, semuanya pun macet dan malfungsi. Itulah yang disebut kalbu.”  (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)

Hati manusia itu, begitu mudahnya terpengaruh oleh lingkungannya.  Padahal, hati itulah rajanya. Dialah pelaksana dari apa yang diperintahkan, yang menerima hidayah-Nya. Maka perlu  filter dalam diri untuk menghadapi lingkungan.  Pun, kita juga harus selalu care dengan hati kita, dengan selalu menyucikan hati agar hati tetap bersih dan mau mengarah pada fitrahnya yang baik, selalu dalam iman membara, dan optimis, hingga bisa menghindari pengaruh buruk yang mematikan.

Semoga ilmu yang kami sajikan bermanfaat. Apa yang benar dari Allah, dan apa yang salah dari kami pribadi. Wallaahu a’laamu bish-showaab.

Sobat Nisa, ketahuilah, kondisi hati seseorang bisa berbeda-beda. Ada hati yang sehat, sakit, bahkan mati,  dan semoga kita dijauhkan dari hati yang mati.

Pertama, hati yang sehat,

Hati yang sehat dan selamat, yaitu hati yang selalu menerima, mencintai, dan mendahulukan kebenaran. Pengetahuannya tentang kebenaran benar-benar sempurna, juga selalu taat dan menerima sepenuhnya. Inilah hati yaang selamat, Sobat Nisa. Seseorang akan selamat di hari kiamat kelak jika menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sebagaimana Allah berkata dalam Asyu-syu’aro ayat 88-89.

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara’: 88-89).

Dear Sobat Nisa, hati ini selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan), dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata.

Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci maka ia membenci karena Allah. Jika ia memberi maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak maka ia menolak karena Allah.

Sobat Nisa, ternyata itu semua tidak cukup, sampai seseorang tunduk dan berhukum hanya dengan hukum Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’: 65)

Jadi, jalan untuk memperoleh keselamatan hati adalah dengan memurnikan keikhlasan dan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Dan tahukah Sobat Nisa? Dua hal itu merupakan syarat diterimanya amal.

Dear Sobat Nisa, berikut ini di antara ciri hati yang sehat.

  1. Mudah tersentuh dengan kebaikan serta rasa takut kepada Allah.

Menangis karena Allah dalam kesendirian adalah termasuk sifat para Nabi dan orang shalih, sebagaimana yang Allah ceritakan dalam Surat Al-Anfal ayat 2.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.”(QS. Al-Anfal: 2).

2.  Hati yang siap menerima ilmu.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

“Hati apabila lembut dan lunak, akan mudah menerima ilmu. Ilmu tersebut akan kuat, kokoh, berbekas di dalamnya. Namun apabila hati keras kaku, maka akan susah dan sulit menerima ilmu. Bersama dengan itu harus merupakan hati yang suci, bersih, dan selamat. Supaya ilmu juga bersih padanya dan menghasilkan buah yang baik.”

Majmu al-Fatawa juz 9, hal 315

3. Memaafkan seseorang yang menzalimi diri

Di antara pemilik hati yang shalih adalah Al Hasan Al Bashri, di suatu malam ia berdoa, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang menzalimiku” dan ia terus memperbanyak doa itu. Hingga ada seseorang berkata padanya, andai saja orang yang bertanya ini termasuk orang yang menzaliminya, maka apa yang membuatnya melakukannya. Beliau menjawab dengat perkataan Allah: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”. (QS. Asy-Syuuro: 40) (lihat kisah ini pada kitab Syarah Shohih Bukhori, karya Ibnu Baththol, 6/575-576).

Dear Sobat Nisa, begitulah hati yang terdidik dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, surga berhak untuknya.

Kedua, hati yang mati,

Dear Sobat Nisa, hati yang keras ini tidak menerima dan tidak taat pada kebenaran. Hati ini tidak mengenal siapa Robbnya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, dan kalau berbuat, tidak sesuai dengan yang dicintai dan diridhai Allah. Hati yang mati ini, lebih mengutamakan hawa nafsu dan kenikmatan dunia. Dia tidak peduli dengan murka Allah. Baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Jadilah ia menghamba kepada selain Alloh. Cinta dan bencinya hanya karena nafsu belaka.

Sobat Nisa, pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta. Dear Sobat Nisa, betapa menderitanya pemilik hati ini!

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.” (al-Fawa’id, hal. 95).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh celaka orang-orang yang berhati keras dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang amat nyata.” (QS. az-Zumar: 22).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Maksudnya, hati mereka tidak menjadi lunak dengan membaca Kitab-Nya, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, dan tidak merasa tenang dengan berzikir kepada-Nya. Akan tetapi hati mereka itu berpaling dari Rabbnya dan condong kepada selain-Nya…” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 722).

Dear Sobat Nisa, pemilik hati yang mati itu, ketika bersungguh menuntut ilmu, malah semakin mengeraskan hatinya, dan kita berlindung kepada Allah darinya.  Sehingga sangat wajar apabila Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan kita semua, “Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakekat ilmu itu adalah rasa takut.”

Sobat Nisa, pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka hatinya tidak tergetar, justru ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran. Sebaliknya ia lebih suka mendengar yang diharamkan, yang membuat bergejolak hawa nafsunya. Tahukah kamu Sobat Nisa?, jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya.

Ketiga, hati yang sakit,

Sobat Nisa, tipe hati yang ketiga adalah hati yang sakit. Hati ini hidup tetapi cacat. Di dalam hati ini, ada dua materi yang saling tarik-menarik, materi kehidupan dan materi kebinasaan. Ketika sebab yang menghidupkan hati menang dalam pertarungan, muncullah kecintaan terhadap Allah, keimanan, keihkhlasan, dan tawakkal kepada-Nya. Inilah materi kehidupan. Namun sebaliknya, ketika kebaikan kalah, muncullah  nafsu, dengki, takabbur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan di muka bumi. Inilah materi yang menghancurkan dan membinasakannya. Hati yang sakit, jika penyakitnya sedang kambuh, maka hatinya menjadi keras dan mati, dan jika pemilik hati mengalahkan penyakitnya, maka hatinya menjadi sehat dan selamat.

Dear Sobat Nisa, jadi, ada di kondisi yang mana, hati Sobat Nisa sekarang?

Sudahkah terketuk hati ini ketika mendengar ayat-ayat Allah? Berikut cara melembutkan hati yang terasa keras.

1.  Perbanyak istighfar

2.  Membasahi lisan dengan dzikrullah. Bukankah dzikrullah dapat menenangkan hati? Di antara bentuk dzikir adalah dengan dzikir pagi dan sore serta membaca Al-Qur’an. Sebaik-baik dzikir adalah Al-Qur’an. Tahukah Sobat Nisa bahwa  tadabbur Al-Qur’an  dapat membuka gembok hati?

3.  Perhatikan hak-hak orang lain atau berusahalah  menjaga hubungan dengan manusia

4. Mengikuti majelis ilmu dan berteman dengan teman-teman yang sholih

5. Banyak mengingat mati

6. Berdoa pada Allah

Di antara doa yang bisa kita pinta adalah keimanan dalam hati. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

“Jika Engkau melihat dari jiwamu, bahkan keimanan tidak bisa melekat dalam hatimu, maka kewajibanmu adalah meminta pertolongan kepada Allah Azza Wa Jalla. Mintalah kepada-Nya di saat Engkau sujud di akhir malam. Mintalah pada-Nya di antara adzan dan iqomah. Mintalah pada Allah di antara waktu-waktu yang mustajab.. agar Allah menganugerahkan padamu keimanan yang melekat di hatimu, yang bisa menghidupkan hatimu.” (Syarhul Kaafiyah Asy Syafiyah hal. 462)

Dear Sobat Nisa, yuk berusaha menghidupkan hati.  Semoga kita termasuk bagian dari kelompok yang menghadap Allah dengan amal dan hati yang selamat (qolbun salim).

Referensi:

Al Jauziyyah, Ibnu Qayyim, 1999, Manajemen Qolbu, Darul Falah, Bekasi.

https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

https://muslim.or.id/24475-5-cara-melembutkan-hati.html

https://muslim.or.id/247-wahai-manusia-lihatlah-hatimu.html

http://www.manhajul-anbiya.net/hati-yang-siap-menerima-ilmu/

https://muslim.or.id/5182-agar-hati-tidak-membatu.html

https://muslim.or.id/26765-hati-yang-bening.html

https://muslim.or.id/28438-sering-menangis-karena-film-sedih-namun-tidak-pernah-menangis-karena-allah.html

https://rumaysho.com/2833-menghadap-allah-dengan-hati-yang-bersih.html,

wanitasalihah.com

Your Reply

CAPTCHA Image
*