TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT (POTENSI)

2012
10.18

TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT

“Potensi Kayu, Partikel Board, Rotan, Bambu, Serat Alam dan Serat Sintetis”

 

Oleh :

Nama                           :Luluk Nur Indah Sari

NIM                            :105100313111005

Mata Kuliah                : Teknologi Kayu Bambu dan Serat

Dosen pengampu       : Ika Atsari Dewi STP, MP.

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang

 

Dalam kontek ekonomi pemanfaatan hutan selama ini masih memandang hutan sebagai sumberdaya alam penghasil kayu. Kondisi ini mendorong eksploitasi kayu secara intensif untuk memenuhi pasar dunia maupun industri domestik tanpa memperhatikan nilai manfaat lain yang dapat diperoleh dari hutan dan kelestarian ekosistem hutan. Sebagai akibat dari pemahaman tersebut telah terjadi penurunan luas, manfaat dan kualitas ekosistem hutan. Hutan sebagai sistem sumberdaya alam memiliki potensi untuk memberi manfaat multiguna, di samping hasil kayu, hutan dapat memberi manfaat berupa hasil hutan bukan kayu dan lingkungan. Hasil riset menunjukkan bahwa hasil hutan kayu dari ekosistem hutan hanya sebesar 10 % sedangkan sebagian besar (90%) hasil lain berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang selama ini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Luas hutan Indonesia 120,3 juta Ha, memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi 30 sampai dengan 40 ribu jenis tumbuhan tersebar di hampir seluruh pulau yang berpotensi menghasilkan HHBK yang cukup besar. Beberapa jenis HHBK memiliki nilai cukup tinggi baik di pasar domestik maupun di pasar global antara lain rotan, bambu, gaharu, atsiri, dan jenis lain. Secara ekonomis HHBK memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpeluang untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Walaupun memiliki nilai ekonomi tinggi namun pengembangan usaha dan pemanfaatan HHBK selama ini belum dilakukan secara intensif sehingga belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Beberapa hambatan yang dihadapi dalam pengembangan HHBK antara lain pemanfaatan HHBK selama ini hanya bertumpu pada pemungutan dari hutan

Alam dan bukan dari hasil budidaya sehingga ketika hutan alam rusak pasokan HHBK juga rusak, beragamnya jenis komoditas dan belum berkembangnya teknologi budidaya maupun pemanfaatan HHBK. Melihat potensi nilai ekonomi serta permasalahan yang ada, pemerintah melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.35/Menhut-II/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu mempunyai kewajiban untuk mengembangkan tanaman HHBK secara lebih serius. Upaya pengembangan HHBK perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat komoditas HHBK sangat beragam di setiap daerah dan banyak melibatkan berbagai pihak dalam memproses hasilnya, maka strategi pengembangan perlu dilakukan dengan memilih jenis prioritas yang diunggulkan berdasarkan pada kriteria, indikator dan standar yang ditetapkan. Dengan tersedianya jenis komoditas HHBK unggulan maka usaha budidaya dan pemanfaatannya dapat dilakukan lebih terencana dan terfokus sehingga pengembangan HHBK dapat berjalan dengan baik, terarah dan berkelanjutan.

 

1.2   Tujuan

 

  1. Untuk mengetahui bagaimana potensi dari kayu dan partikel board
  2. Untuk mngetahui bagaimana potensi dari rotan
  3. Untuk mngetahui bagaimana potensi dari bambu
  4. Untuk mngetahui bagaimna potensi dari serat alam dan serat sin

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1 Kayu

 

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, merupakan bahan mentah yang mudah di proses untuk dijadikan barang sesuai kemampuanteknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus yang tidak dapat ditiru oleh bahan lain. Kayu juga bisa  disebut sebagai suatu bahan yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon dihutan yang merupakan bagian dari pohon tersebut. Setelah diperhitungkan bagian mana yang lebih banyak dapat dimanfaatkan untuk suatu tujuan penggunaan baik berbentuk kayu pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar. Kayu adalah bahan konstruksi yang telah lama dikenal sejalan dengan sejarah manusia dibumi. Sebagai bahan konstruksi pertama yang dikenal dan digunakan untuk konstruksi penggunaan kayu telah dimulai dari pasak sampai elemen-elemen dari struktur.

Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :

  1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
  2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
  3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
  4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

 

2.1.1 Sifat Fisik Kayu

 

  1. Berat dan Berat Jenis

Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.

  1. Keawetan

Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.

  1. Warna

Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.

  1. Tekstur

Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).

  1. Arah Serat

Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring).

  1. Kesan Raba

Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, l icin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.

  1. Bau dan Rasa

Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.

  1. Nilai Dekoratif

Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemuncula n riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif.

  1. Higroskopis

Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).

 

2.1.2 Sifat Mekanik Kayu

 

  • Keteguhan Tarik
  • Keteguhan tekan
  • Keteguhan geser
  • Keteguhan lengkung
  • Kekauan
  • Keuletan
  • Kekerasan
  • Keteguhan belah

 

2.1.3 Manfaat Kayu

 

Kayu merupakan salah satu hasil hutan kayu (HHK) yang banyak dijumpai di hutan indonesia. Kayu adalah hasil hutan yang sangat melimpah, oleh karena itu kayu digunakan dalam berbagai keperluan, diantaranya untuk bangunan atau konstruksi, Veneer mewah, veneer biasa, perkakas,lantai, bantalan kereta api, alat olah raga,alat musik, alat gambar, tong kayu, tiang listrik dan telepon, patung dan ukiran kayu, korek api,pensil, moulding, perkapalan dan arang.

 

2.1.4 Potensi Kayu

 

Sumberdaya yang potensinya tinggi dan sudah diakui keberadaannya namun pemanfaatannya yang tidak optimal adalah sumberdaya Hutan. Sedemikian besarnya peranan sumberdaya hutan tersebut sehingga Indonesia menjadi suatu negara yang disebut sebagai paru-paru dunia. Produk-produk yang dihasilkan dari sektor ini pun mempunyai kontribusi yang penting dalam perolehan devisa negara. Faktor-faktor tersebut yakni sumberdaya hutan yang banyak tersedia dan besarnya permintaan pasar mendorong bermunculannya industri-industri pengolahan kayu, mulai dari industri penggergajian, plywood, pulp dan kertas, furniture serta industri pengolahan lainnya.

Setelah sekian waktu menjadi primadona dan mempunyai kontribusi yang penting bagi pemasukan devisa yang berasal dari sektor non migas, ternyata dalam perkembangan selanjutnya industri pengolahan kayu tersebut mempunyai permasalahan yang serius. Data yang diperoleh dari Jaringan Kerjasama Pelestarian Hutan Indonesia (Skephi), menunjukkan bahwa hutan di Indonesia hanya mampu menyediakan kayu sebesar 33 juta meter kubik pada tahun 1996. padahal kebutuhan industri pengolahan kayu akan bahan baku adalah sebesar 40 juta meter kubik. Sehingga ada kekurangan rata-rata 7 juta meter kubik per tahun. Sedangkan untuk industri pulp dan kertas masih ada kekurangan rata-rata sebesar 5 juta meter kubik pada tahun 1996. Skephi juga melihat adanya pertumbuhan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas yang tidak rasional dengan ketersediaan bahan baku yang ada sejak tahun 1996 dan tidak mustahil tetap berlanjut sampai sekarang. Tingginya biaya produksi kayu juga membuat pengusaha pulp dan kertas sedang mempertimbangkan untuk mengimpor kayu dari Australia karena harganya yang relatif murah, khususnya dibandingkan dengan mengembangkan HTI di Indonesia. Dari segi persaingan perdagangan internasional juga mengalami berbagai hambatan, misalnya dengan hadirnya negara-negara produsen plywood baru seperti Malaysia. Daerah yang memiliki potensi kayu yang besar yaitu sumatera, dan kalimantan.

 

2.2  Papan Partikel (Partikel Board)

 

Ada beberapa definisi papan partikel yang dirumuskan para ahli. Menurut Sudi (1990) dalam Sudarsono et al. (2010), papan partikel adalah istilah umum untuk panel yang dibuat (biasanya kayu), terutama dalam bentuk potongan-potongan kecil atau partikel dicampur dengan perekat sintetis atau perekat lain yang sesuai dan direkat bersama-sama di bawah tekanan dan pres di dalam suatu alat pres panas melalui suatu proses dimana terjadi ikatan antara partikel dan perekat yang ditambahkan. Papan partikel adalah papan tiruan yang terbuat dari partikel-partikel kayu maupun dari bahan berlignoselulosa lainnya. Damanalu (1982) dalam Sudarsono et al. (2010), mendefinisikan papan partikel sebagai papan buatan yang terbuat dari serpihan kayu dengan perekat sintetis kemudian dipress hingga memiliki sifat seperti kayu, massif, tahan api dan merupakan bahan isolator dan bahan akustik yang baik. Sementara menurut Maloney (1993) papan partikel adalah istilah umum untuk panel yang dibuat dari bahan-bahan berlignoselulosa (biasanya bersumber dari kayu). Bahan tersebut dibuat dalam bentuk potongan-potongan diskrit atau partikel. Berbeda dengan pembuatan papan serat, pada pembuatan papan serat ditambahkan suatu resin sintetik atau bahan lain yang cocok sebagai binder dan akan terikat bersama-sama pada  suhu dan tekanan dalam suatu hot press melalui suatu proses pembentukan ikatan antar partikel dengan penambahan binder. Untuk meningkatkan sifatsifat tertentu dari papan partikel, maka dalam proses pembuatannya dapat ditambahkan pula dengan bahan-bahan lain.

Berdasarkan tekanan yang digunakan pada proses pembuatannya, papan partikel dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:

(1) Flat-platen-pressed yaituproses pembuatan papan partikel dengan tekanan diarahkan tegak lurus pada permukaan bahan,

(2) extruded yaitu proses pembuatan papan partkel dengan tekanan diarahkan secara paralel pada permukaan bahan.

 

2.2.1 Klasifikasi Papan Partikel:

 

Papan partikel dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu :

1. Low-density particleboard, adalah papan partikel dengan kerapatan kurang

dari 37 lbs/ft3 atau kurang dari 0,4 g/cm3 (berat jenis : 0,59)

2. Medium-density particleboard,adalah papan partikel dengan kerapatan antara

37- 50 lbs/ft3 atau 0,4 – 0,8 g/cm3 (berat jenis : 0,59-0,8)

3. High-density particleboard, adalah papan partikel dengan kerapatan lebih

besar dari 50 lbs/ft3 atau lebih dari 0,8 g/cm3 (berat jenis : 0,8)

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sifat-sifat akhir papan, baik papan serat maupun papan partikel. Di antara faktor utama tersebut antara lain : spesies kayu, jenis bahan baku, jenis partikel, jenis binder (resin), jumlah dan distribusi lapisan, bahan aditif yang digunakan, level dan distribusi kadar air mat, ukuran partikel lapisan, kerapatan dan berat jenis lapisan, tingkat berat jenis papan, dan orientasi partikel-partikel. Semua paramater tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain.

 

2.2.2 Proses Pembuatan Papan Partikel

 

Secara umum, pembuatan papan partikel terdiri atas beberapa tahap. Pertama, bahan baku dibawa ke industri pembuatan papan dan disimpan pada tempat penyimpanan. Jika bahan tersebut relatif kecil dan dapat digunakan secara langsung dalam proses pembuatan papan partikel, klasifikasi berdasarkan ukuran dapat segera dilakukan pada saat bahan tersebut dibawa ke industri. Bahan baku yang berukuran besar harus dibuat menjadi flakes, partikel atau serat dengan menggunakan peralatan yang sesuai bergantung pada jenis produk yang akan dibuat.

 

2.2.3 Manfaat Papan Partikel

 

Papan partikel dapat dimanfaatkan sebagai:

  • Untuk perabot
  • Dinding dalam ruang, dinding antara.
  • Plafon dan lantai.
  • dan macam-macam kegunaan lainnya.

Dan keuntungan yang lain dari papan partikel yaitu:

  •  Papan partikel merupakan bahan konstruksi yang cukup kuat.
  •  Bahan isolator dan akustik yang baik.
  •  Dapat menghasilkan bidang yang luas.
  •  Pengerjaan mudah dan cepat.
  • Tahan api.
  •  Mudah difinishing, lapisan kertas dekor, dengan lapisan finir dan lain sebagainya.
  • Memiliki kestabilan dimensi.

 

2.2.4 Potensi Papan Partikel

 

Limbah industi penggergajian merupakan sisa proses penggergajian  yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku papan partikel. Saat ini cadangan sumber kayu semakin menipis karena luas hutan sebagai sumber kayu semakin berkurang (Massijaya, 2004). Fenomena ini terjadi karena manajemen hutan yang salah dan eksploitasi secara besar-besaran pada masa yang lalu.  Pada  beberapa  tahun  mendatang,  produksi  kayu  dari  hutan  alam  akan mengalami penurunan secara signifikan.

Berdasarkan hail penelitian pada tahun 1993, prospek pasar papan partikel cukup besar. Industri papan partikel di dalam negeri belakangan ini memperlihatkan perkembangan yang semakin baik, yang diperlihatkan dengan produksi yang terus meningkat, dan pada tahun 1993 produksi sudah mencapai 746.000 meter kubik. Meningkatnya industri papan partikel ini juga didukung oleh perkembangan di berbagai sektor industri seperti sektor perurnahan, bangunan dan furniture yang menjadi konsurnen utama industri tersebut. Produksi papan partikel ini sebagian besar masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun demikian, ekspor papan partikel terus memperlihatkan peningkatan. Pada tahun 1993, ekspor papan partikel berjumlah 156.048 ton dengan nilai US $ 37,8 juta ekspor ini tertuju terutarna ke Korea Selatan, Taiwan, PR China dan Jepang. Impor papan partikel juga masih berlangsung, walaupun dalam jumlah yang relatif kecil. Impor tersebut pada umumnya berupa papan partikel yang telah dilapisi bahan lain, seperti dalam bentuk melamine laminating board, pl7enolic laminating board, dan sebagainya. Perkembangan produksi dan konsumsi papan partikel (particle board) di dalam negeri dari tahun 1989 hingga tahun 1993.

 

2.3 Rotan

 

Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut “Lepidocaryodidae”. Lepidocaryodidae berasal dari bahasa Yunani yang berarti mencakup ukuran buah. Kata rotan dalam bahasa Melayu diturunkan dari kata “raut” yang berarti mengupas (menguliti), menghaluskan. Rotan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang dikenal luas oleh masyarakat, baik masyarakat pedesaan terutama masyarakat yang berkecipung langsung dengan pemungutan rotan maupun masyarakat yang lebih luasyang memanfaatkan rotan sebagai bahan baku industri, bahan perdagangan dan perlengkapan dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia merupakan negara produsen rotan yang mampu memenuhi kebutuhan rotan dunia, dan selama ini mamapu mensuplai kurang lebih 80% dari kebutuhan rotan dunia dan 90% dari produksi rotan dihasilkan dari hutan alam yang terdapat disumtra, kalimantan dan sekitar 10% dihasilkan dari budidaya rotan.

 

2.3.1 Penyebaran Rotan

 

Rotan merupakan salah satu tumbuhan khas di daerah tropis yang secara alami tumbuh pada hutan primer maupun hutan sekunder, termasuk pada daerah perladangan berpindah san berlukar. Secara umum rotan dapat tumbuh pada berbagai keadaan, seperti: di rawa,tanah kering, dataran rendah, pegunungan,tanah kering berpasir, dan tanah liat berpasir yang secara periodik digenangi air atau sama sekali bebas dari genangan air. Jenis tanah yang dapat ditumbuhi rotan adalah tanah alluvial, latosol dan regosol. Pertumbuhan terbaik pada daerah-daerah lereng bukit yang cukup lembab dengan ketinggian antara 0-2900 m dpl, dan memiliki iklim basah sampai kering.

Menurut hasil inventarisasi yang dilakukan direktorat bina produksi kehutanan, dari143 juta hektar luas hutan diindonesia diperkirakan hutan yang ditumbuhi rotan seluas kurang lebih 13,20 juta hektar, yang tersebar di sumatra, kalimantan, sulawesi, jawa dan pulau-pulau lain yang memiliki hutan alam. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh balai sertifikasi penguji hasil hutan wilayah XV makkasar bahwa di sulawesi selatan ditaksir sekitar 673.166 ha yang tersebar di CDK luwu, CDK mamuju,CDK mapili dan CDK bila. Produksi rotan di sulawesi selatan menurut dinas kehutanan pada tahun 1996 mencapai 2.627.361 ton/tahun.

 

2.3.2 Potensi Rotan

 

setelah terjadi perubahan penutupan hutan Maka pada tahun 80 an terjadi perubahan luas hutan diindonesia sehingga luas hutan yang memiliki potensi rotan akan terjadi perubahan. Diperkirakan luas hutan pada dekade 80-an kurang lebih 120 juta ha dengan potensi rotan di 16 propinsi. Diindonesia diperkirakan hanya 5,6 juta ha. Dari ke 16 propinsi yang telah disurvey potensi penyediaan rotannya pertahun adalah sebesar 537.890 ton/tahun. Ini adalah tabel potensi rotan yang terdapat di indonesia

Dari data tersebut dapat diprediksi data rill sepuluh kali lipat sampai duapuluh kali lipat dari data yang ada. Sehingga potensi rotan diindonesia yang sebenarnya sangat tinggi. Yang perlu diweaspadai adalah kemampuan produksi. Perubahan luas areal hutan yang semakin meningkat, dan potensi yang tinggi semakin jauh dari pemukiman masyarakat lokal.

 

2.3.3  Pemanenan

 

Rotan yang akan dipanen adalah rotan yang masak tebang, dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok. Pemanenan rotan dilakukan dengan cara mencari rotan yang masak tebang, kemudian menebang pangkal rotan dengan pengkaitnya setinggi 10 sampai 50 cm, kemudian dengan pengait batang ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan yang telah dipanen kemudian dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Setelah itu rotan diangkut ke Tempat Pengumpulan. Sementara (TPS) sampai ke Tempat Penimbunan Rotan (TPR) dengan cara memikul, menggunakan perahu/sampan dan menggunakan kuda. Pada pemanenan besarnya limbah yang terjadi pada penebangan secara tradisional adalah 12,6 – 28,5%, dan dengan mengunakan alat bantu tirfor dan lir adalah 4,1 – 11,1%; sedangkan besarnya limbah yang dihasilkan selama pengangkutan berkisar antara 5 – 10%

 

2.3.4          Sifat Dasar Dari Rotan

 

  1. 1.       Anatomi

 

Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan erat dengan menentukan keawetan dan kekuatan rotan antara lain adalah besar pori dan tebalnya dinding sel serabut. Sel serabut diketahui merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan (Rachman, 1996). Bhat dan Thulasidas (1993) melaporkan bahwa tebal dinding sel serabut merupakan parameter anatomi yang paling penting dalam menentukan kekuatan rotan, dinding yang lebih tebal membuat rotan manjadi lebih keras dan lebih berat. Sel-sel serabut yang berdinding tebal menunjang fungsi utama sebagai penunjang mekanis.

Selanjutnya sifat anatomi ketiga jenis rotan yang diteliti menunjukkan bahwa pada ikatan pembuluh sampang dan seuti terdapat satu metaxylem, sedangkan bubuay memiliki satu atau dua metaxylem. Pholem pada jenis rotan sampang dan seuti terdiri atas dua untaian yang terletak di kiri dan kanan metaxylem, sedangkan bubuay letaknya mengelompok. Bentuk sel bagian kulit rotan atau sel epidermis dari jenis rotan sampang adalah kubus, sedangkan seuti dan bubuay berbentuk balok. Di antara ketiga jenis rotan tersebut, hanya rotan seuti yang tidak mempunyai yellow cap (topi kuning). Beberpa pendapat mengatakan bahwa topi kuning mungkin mempengaruhi kekuatan rotan, terutama pada bagian kulit. Sifat kekuatan yang dipengaruhi adalah peningkatan kekerasan dan kekuatan barang anyaman. Hal ini mungkin disebabkan proporsi sel serabut pada bagian kulit bertambah banyak. Sel serabut diketahui merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada bahan berkayu.

 

 

 

 

  1. Sifat Kimia

 

Komponen kimia rotan juga penting dalam menentukan kekuatan dan keawetan rotan. Rachman (1996), melaporkan secara umum komposisi kimia rotan terdiri dari holoselulosa (71%-76%), selulosa (39% – 58%), lignin (18% – 27%) dan silika (0,54 5 – 8 %). Hasil penelitian terhadap kandungan beberapa jenis rotan dapat dilihat pada Tabel 1.

Komponen kimia rotan penting dalam menentukan kekuatan rotan. Selulosa yaitu molekul gula linear berantai panjang termasuk ke dalam holoselulosa. Rachman (1996), menyatakan selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang, karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa, semakin tinggi kadar selulosa yang terdapat dalam rotan maka keteguhan lentur juga makin tinggi. Selain selulosa yang sangat penting juga adalah lignin. Lignin adalah merupakan suatu polimer yang komplek dengan berat molekul yang tinggi. Lignin juga berfungsi memberikan kekuatan pada batang dan makin tinggi kadar lignin dalam rotan makin kuat rotan karena ikatan antar serat juga makin kuat.

 

  1. 3.       Fisis Dan Mekanis

 

Sifat yang paling banyak mendapat perhatian dalam penggunaan rotan adalah sifat fisik dan mekanis. Nilai hasil uji fisis dan mekanis beberapa jenis rotan ialah asal Jawa, di antaranya berat jenis (BJ) 0,47 – 0,57, nilai kekuatan (MOR) antara 421 – 834 kg/cm2, nilai kelenturan (MOE) antara 14.548 – 22.000 kg/cm2. Berdasarkan penampakan secara visual, sifat fisis dan mekanis rotan tercantum pada Tabel 2.

 

  1. 4.       Keawetan Dan Keterawetan

 

Nilai suatu jenis rotan untuk keperluan mebel, barang kerajinan dan peralatan rumah tangga sangat ditentukan oleh keawetannya, Keawetan rotan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud ialah daya tahan terhadap faktor perusak biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga. Dalam hal ini perlu diperhatikan terhadap organisme mana keawetan itu dimaksudkan, karena sesuatu jenis rotan yang tahan terhadap serangan jamur misalnya belum tentu akan tahan juga terhadap serangga atau organisme perusak lainnya. Keawetan rotan juga dipengaruhi pula faktor lain seperti kandungan selulosa, lignin, pati dan kimia lainnya.  Keterawetan rotan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet) tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet. Jenis organisme tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

 

2.3.5          Pengolahan

 

Pengolahan rotan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah jadi dan barang jadi (Gambar 1) atau siap dipakai atau dijual. Pengolahan dalam industri yaitu proses pemisahan rotan bulat menjadi bagian-bagian rotan seperti kulit dan hati, masing-masing bagian tersebut diolah lagi sesuai tujuan dan pemanfaatannya. Pengolahan rotan terdiri pengolahan rotan berdiameter kecil (< 18 mm) dan rotan berdiamerter besar (> 18 mm).

Rotan yang berdiameter kecil seperti rotan seel (Daemonorop melanochaetes Becc.), yang telah dipanen dan dibersihkan daun dan duri serta anggota batang dan dilakukan penggosokan dengan mengunakan serbuk gergaji atau sabut kelapa. Kemudian dipotong-potong sesuai standarnya. Rotan tersebut lalu dibawa ke tempat penumpukan rotan, dan kemudian dijemur sampai kering dan juga dilakukan pengasapan. Pengasapan pada dasarnya adalah proses oksidasi belerang (gas SO2) agar warna kulit rotan kuning merata dan tahan terhadap serangan jamur. Proses pengolahan sampai tahap ini disebut rotan WS (Washed and Sulphurized). Kemudian rotan tersebut terus di jemur.

Rotan yang sudah kering, dilakukan pembelahan (rotan dibelah) dan juga ada yang diambil kulitnya, digunakan untuk pengikat atau dibuat lampit. Rotan juga bisa diambil hatinya saja, kalau ukurannya besar disebut cor rotan dan kalau ukuran lebih kecil disebut fitrit dan rotan ini digunakan untuk barang kerajinan.

 

2.3.6          Penggorengan

 

Tujuan penggorengan adalah untuk menurunkan kadar air agar cepat kering dan juga untuk mencegah terjadinya serangan jamur. Cara penggorengannya adalah potongan-potongan rotan tersebut diikat menjadi suatu bundelan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan campuran solar dengan minyak kelapa. Rotan tersebut digoreng dengan berbagai komposisi minyak penggoreng yang terdiri atas 4 macam perbandingan volume, yaitu solar dan minyak kelapa (4:1); solar dan minyak tanah (4:1); solar, minyak tanah dan minyak kelapa (8:1:1) dan minyak tanah dan minyak kelapa (4:1). Lama waktu penggorengan 15 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Ternyata hasilnya perbedaan campuran minyak penggoreng berpengaruh nyata terhadap warna kulit dan keteguhan tekan sejajar serat tetapi tidak memepengaruhi keteguhan geser rotan. Waktu penggorengan mempengaruhi warna kulit dan keteguhan geser rotan akan tetapi tidak mempengaruhi keteguhan tekan sejajar serat selama penggorengan. Campuran minyak penggoreng yang paling baik adalah terdiri atas solar dan minyak kelapa. Hubungan antara taraf waktu penggorengan dengan warna kulit, dan terhadap keteguhan geser masing-masing menunjukkan hubungan nyata. Baik warna kulit rotan maupun keteguhan geser cenderung menurun dengan hubungan linear yang negatif.

 

2.3.7          Penggosokan Dan Pencucian

 

Setelah rotan digoreng, ditiriskan beberapa menit, kemudian digosok dengan kain perca (sabut kelapa) atau karung goni yang dicampur dengan serbuk gergaji, agar sisa kotoran terutama getah yang masih menempel pada kulit rotan dapat dilepaskan, sehingga kulit rotan menjadi bersih dan akan dihasilkan warna rotan yang bewarna cerah dan mengkilap. Setelah digoreng rotan dicuci dengan air bersih sambil digosok dengan sabut kelapa untuk membersihkan kotoran yang melekat pada batang.

2.3.8          Pengeringan

 

Setelah rotan dicuci lalu dikeringkan dengan cara dijemur pada panas matahari sampai kering dengan kadar air berkisar 15% – 19% . pada  rotan manau (Calamus manan Miq.) dan rotan semambu (Calamus scipionum Burr.), menunjukkan bahwa lama pengeringan secara alami dari kedua jenis rotan tersebut berkisar 22 hari sampai 65,3 hari. Dengan menggunakan alat dehumidifier (cara masinal) diperoleh lama pengeringan dari kedua jenis rotan tersebut berkisar antara 5 sampai 8,5 hari. Lebih jauh, kadar air yang diperoleh dengan menggunakan alat tersebut lebih rendah dibandingkan dengan cara alam. Kadar air yang dicapai berkisar antara 10,54% – 11,78% dengan alat dehumidifier dan antara 18,35 % sampai 19,19 % dengan cara alam. Warna rotan yang dihasilkan dengan cara alam lebih baik (lebih mengkilap) dibandingkan dengan alat dehumidifier.

 

2.3.9          Pembengkokan

 

Pembengkokan atau pelengkungan rotan dilakukan pada rotan berdiameter besar sesuai dengan pengunaannya. Cara pembengkokan ini dilakukan dengan cara rotan tersebut dilunakkan dengan uap air panas yang disebut steaming dengan tabung berbentuk silinder (steamer) agar jaringan rotan menjadi lunak sehingga mudah dibengkokan . Ada beberapa kerusakan pada proses tersebut, seperti pecah, patah dan putusnya serat pada bagian permukaan yang dilengkungkan.

 

2.3.10      Pemutihan

 

Pemutihan rotan bertujuan menghilangkan silika, mengurangi kromofort (gugus penyebab warna) oksidasi terhadap struktur aromatik dari lignin dan karbohidrat (dalam kalium hipoklorit). Pemutihan perlu dilakukan, dan harus diperhatikan bahan yang dipakai, karena pemakaian bahan dan cara yang salah mengakibatkan rotan rusak (mudah patah). Lukman (1992), meneliti pemutihan kulit rotan sega (Calamus caesius Bl.) dengan metoda perendaman dalam larutan hidrogenperoksida (H2O2).

 

2.3.11      Pengasapan

 

Pengasapan dilakukan agar warna rotan menjadi kuning merata dan mengkilap. Pengasapan dilakukan pada rotan kering yang masih berkulit (alami) Pengasapan pada dasarnya adalah proses oksidasi rotan dengan belerang (gas SO2) agar warna kulit rotan menjadi lebih putih. Pengasapan dilakukan dalam rumah asap yang berbentuk kubah terbuat dari tembok dan balok kayu. Di dalam kubah dapat disusun 4000 batang rotan secara horizontal berlapis-lapis. Setiap lapisan diberi bantalan kayu agar asap bergerak bebas di antara lapisan rotan. Selanjutnya belerang dibakar di atas suatu wadah dan dimasukkan ke dalam rumah asap. Waktu pengasapan sekitar 12 jam dan menghabiskan sekitar 7,5 kg belerang atau 1,8 gr/batang rotan.

 

2.3.12      Pengawetan

 

Pengawetan rotan adalah proses perlakuan kimia atau fisis terhadap rotan yang bertujuan meningkatkan masa pakai rotan. Bahan kimia untuk mengawetkan rotan dirsebut bahan pengawet. Selain berfugsi untuk mencegah atau memperkecil kerusakan rotan akibat oganisme perusak, juga memperpanjang umur pakai rotan. Bahan pengawet yang digunakan harus bersifat racun terhadap organisme perusak baik pada rotan basah maupun rotan kering, permanen dalam rotan, aman dalam pengangkutan dan penggunaan, tidak bersifat korosif, tersedia dalam jumlah banyak dan murah. Pengawetan mulai dilakukan pada rotan masih berdiri atau rotan sebelum dipungut (Bucheri).

 

2.4      Bambu

 

Bambu adalah tanaman serbaguna dan menempati tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bambu juga merupakan bahan baku yang cukup tersedia dan murah untuk membuat alat-alat dan perabotan rumah tangga, bahan bangunan, pipa untuk distribusi air, instrumen musik, dan keperluan keagamaan. Selain itu, beberapa jenis bambu merupakan tanaman hias maupun pengolah penyaring limbah dan pencegah erosi. Bambu tergolong ke dalam hasil hutan non kayu yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kayu. Dengan penggunaan bambu diharapkan penggunaan kayu menjadi berkurang yang akhirnya dapat mengurangi penebangan hutan. Di Indonesia bambu paling banyak dibudidayakan di pulau Jawa, Bali dan Sulawesi. Pulau Jawa merupakan pengguna bambu paling banyak dengan konsumsi perbulan sekitar 456 juta batang, dimana 350 juta diantaranya digunakan untuk perumahan. Menurut laporan FAO (1961) diacu dalam Sastrapradja (1977) di pulau Jawa 80 % penggunaan bambu adalah untuk bahan-bahan bangunan dan 20 % lagi untuk keperluan lain. Karena panjang, kuat dan tegar, maka buluh bambu dapat digunakan untuk tiang andang-andang (gandartiang) perahu dan tiang rumah.

Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali, bambu betung, bambu andong dan bambu hitam. Meskipun bambu memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, budidaya secara perkebunan masih belum banyak dilakukan. Dengan demikian ketersediaan bambu untuk memenuhi kebutuhan yang ada masih menggantungkan diri pada hasil pekarangan. Selain itu, pemanfaatan bambu masih terbatas pada keperluan-keperluan tradisional.

 

2.4.1 Penyebaran Bambu Diindonesia

 

Bambu dapat tumbuh didaerah tropis, sub tropis da daerah beriklim sedang, dari dataran rendah sampai ketinggian tertentu. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian sedang didaerah tropis. Hidup liar, dibudidayakan atau tumbuh dihabitat yang sangat bervariasi (tabel 2.4)

 

2.4.2 Manfaat Bambu

 

Pemanfaatan bambu oleh masyarakat meliputi setiap aspek kehidupan masyarakat, upacara-upacara keagamaan,perkawinan,kelahiran,kematian dan banyak kegiatan kebudayaan tidak terlepas dari pemanfaatan bambu sebagai bahan dan alat bantu untuk melaksanakan segala aspek kegiatan dalam masyarakat. Bambu digunakan sebagai alat bantu memasak masakn tradisional tertentu yaitu seperti tusuk sate, ikan asap,lemang atau piong. Beberapa negara asia menggunakan bambu sebagai alat bantu untuk makanan (sumpit), tusuk gigi. Bambu juga memberikan manfaat langsung sejak masih merupakan rumpun bambu, sebagi tanaman pencegah longsor, sebagai pemecah angin, tunas bambu yang masih muda digunakan sebagai makanan, dan rantingnya digunakan sebagai mainan anak-anak dan untuk obat dari berbagai jenis penyakit, ukiran ,anyaman dan masih bnyak lagi manfaat dari bambu.

 

2.4.3 Potensi Bambu

 

Tanaman bambu dari tahun ketahun menunjukkan kenaikan dan penurunan atau bisa dikatakan tidak stabil. Hal ini bisa saja dikarenakan semakin banyaknya negara pesaig ekspor dan beraneka ragamnya. Untuk dapat meningkatkan ekspor bambu, perlu kiranya tetap dilanjutkan upaya pembiaan pemerintah yang bekerjasama dengan pengusaha dalam meningkatkan kualitas produksi kerajinan bambu, misalnya dengan mengurangi kelemahan-kelemahan baik dari segi teknik industri, peningkatan mutu produk dan peralatan produksi yang dimiliki.selain itu sangat diperlukan informasi tentang pemasaran hail kerajinan bambu misalnya informasi mutu, design yang sedang trend saat itu, atau informasi tentang pasaran negara yang akan dituju. Dengan demikian dipastikan bahwa produk kerajinan bambu indonesia dapat lebih bersaing dipasaran dunia, sehingga potensi dari bambu indonesia lebih meningkat.

 

 

2.5      Serat Alam

 

Serat terdiri dari dua yaitu serat alam dan serat sintetis. Contoh dari serat alam adalah jute, kapas,wol, sutra, dan rami (hemp),sedangkan serat sintetis adalah gelas, karbon, rayon, akril, dan nilon. Masih banyak serat lainnya yang dibuat untuk memenuhi keperluan.sedangkan yang disebut diatas adalah jenis yang paling dikenal. Salah satu unsur penyusun bahan komposit adalah serat. Serat inilah yang terutama menentukan karakteristik bahan komoposit, seperti kekuatan, kekakuan serta sifat-sifat mekanik lainnya. Serat inilah yang menahan sebagian besar gaya-gaya yang bekerja pada bahan komposit. Kekuatan serat terletak pada ukurannya yang sangat kecil, kadang-kadang dalam orde mikron. Ukuran yang kecil tersebut menghilangkan cacat-cacat  dan ketidaksempurnaan kristal yang biasa terdapat pada bahan berbentuk padatan besar. Sehingga serat menyerupai kristal tunggal tanpa cacat dan dengan demikian kekuatannya sangat besar.

Serat alam secra garis besar dapat disebutkan bahwa serat alam adalah kelompok serat yang dihasilkan dari tumbuhan, binatang, dan mineral. Penggunaan serat alam dalam bidang industri berasal dari tumbuhan yang dikenal base plant yaitu jute, rosella, flax, kenaf dan rami. Serat alam merupakan kandidat kuat sebagai bahan penguat yang digunakan sebagai bahan komposit yang ringan, ramah lingkungan serta ekonomis.

 

2.5.1 Manfaat Dari Serat Alam

 

Serat alam dapat dimanfaatkan dan dikembangkan  mulai dari kerajinan sebagai hiasan, pembuatan tas, hingga dalam dunia Industri Tesktil Interior sebagai bahan baku serat kain, karena disamping murah, serat alami juga kuat dan ringan. Salah satu serat alam yang banyak digunakan dan mempunyai banyak manfaat yaitu serat jute. Serat jute diperoleh dari dua tanaman tahunan herbaceous, yaitu jute putih dan jute tosia. Serat ini termasuk serat kulit dari pohon dengan ketinggian 3-4 meter. Benag jute mengandung bagian dari kayu, oleh karena itu tenunan jute mudah diketahui.

Sebagai salah satu serat alam yang telah lama dikenal, jute telah terbukti keunggulannya. Jute merupakan serat alami yang digunakan nomor dua terbanyak sesudah kapas sebagai bahan keperluan hidup manusia. Jute sendiri pada perkembangannya diolah manjadi berbagai bahan tekstil. Salah satu hasil dari pengolahan serat jute adalah karung goni. Karung goni biasanya dimanfaatkan untuk mengepak barang-barang beratt maupun biji-bijian. Biasanya serat alam ini digunakan di pabrik-pabrik maupun pasar. Karung-karung goni buangan dari pabrik cenderung dianggap tidak dimanfaatkan lebih lanjut. Mengingat serat jute mempunyai karakteristik yang cukup kuat. Oleh karena itu serat jute digunakan sebagai bahan penguat untuk material komposit dengan matriks epoksi.

 

2.5.2 Potensi Dari serat Alam

 

Indonesia mempunyai potensi serat alam yang melimpah. Potensi serat alam dapat dikelompokan menurut asal usulnya yakni tumbuhan, hewan dan tambang. Khusus untuk tumbuhan, serat alam dapat ditemukan pada tanaman pertanian, perkebunan dan hutan alami. Potensi serat alam dari tumbuhan dapat diperoleh dari produk unggulan maupun pada lim-bahnya. Produk unggulan hutan alami yang telah diaplikasikan sebagai serat di antaranya kayu dan getah karet. Potensi serat alam dari limbah pertanian, perkebunan dan hutan juga besar di Indonesia.

serat alam yang memiliki potensi yaitu kapas, kenaf, sisal, abaca dan rami. Untuk serat kapas secara nasional industri tekstil dan produk tekstil sangat besar sumbangnnya terhadap perekonomian nasional. Karena ekspor tekstil dapat mencapai USS 8.34 milliar atau 15% dari ekspor non migas. Namun disisi lain kebutuhan bahan baku serat kapas mencapai 454-762 ribu ton senilai USS 650 juta hampir seluruhnya diimpor dari luar nengri yaitu amerika serikat, australia, pakistan dan india. Produksi kapas dalam negeri melalui program intensifikasi kapas rakyat. Dengan demikian dilihat dari ketersediaan bahan baku serat dapat dikatakan indutri produk tekstil sangat rawan kelangsungannya dan sewaktu-waktu pasokan bahan baku dapat terhenti antara lain adanya embargo serat dengan negara penghasil serat. Untuk tanaman kenaf menghasilkan serat yang berasal dari kulit batangnya. Keistimewaan tanaman kenaf ini dapat tumbuh dalam keadaan tergenang banjir. Pada waktu banjir, bila tanaman yang lain mati,hanya tanaman kenaf yang masih mampu berthan hidup dan memberikan keuntungan bagi petani. Sehingga potensi dari tanaman kenaf sangat baik dikarenakan tanaman kenaf tahan terhadap perubahan suhu yang akan memberikan keuntungan lebih bagi para petani. Sedangkan tanaman sisal dapat tumbuh liar di blitar selatan, sumenep, dan pamekasan. Tanaman sisal merupakan tanaman tahunan dan secara periodik diambil seratnya yang berasal dari daun. Serat sisal dari madura khususnya untuk tali temali. Dan untuk serat abaca juga menmpunyai produk diversifikasi yang cukup banyak yaitu untuk tali temali,untuk membuat kertas. Dan satu-satunya perkebunan abaca yang masih ada yaitu diperkebunan bayu lor banyuwangi. Dan yang terakhir adalah potensi dari serat rami, serat rami menghasilkan serat tekstil yang berasal dari batangnya dan banyak wilayah jawa yang sesuai untuk perkembangan rami, bahkan varietas unggulan indonesia berasal dari pujon,batu malang yang terkenal dengan nama klon pujon 10. Saat ini rami diminati dalam rangka mencari bahan serat tekstil alam selain kapas.

 

2.6      Serat Sintetis

 

Serat terdiri dari dua yaitu serat alam dan serat sintetis. Contoh dari serat alam adalah jute, kapas,wol, sutra, dan rami (hemp),sedangkan serat sintetis adalah gelas, karbon, rayon, akril, dan nilon. Masih banyak serat lainnya yang dibuat untuk memenuhi keperluan.sedangkan yang disebut diatas adalah jenis yang paling dikenal. Salah satu unsur penyusun bahan komposit adalah serat. Serat inilah yang terutama menentukan karakteristik bahan komoposit, seperti kekuatan, kekakuan serta sifat-sifat mekanik lainnya. Serat inilah yang menahan sebagian besar gaya-gaya yang bekerja pada bahan komposit. Kekuatan serat terletak pada ukurannya yang sangat kecil, kadang-kadang dalam orde mikron. Ukuran yang kecil tersebut menghilangkan cacat-cacat  dan ketidaksempurnaan kristal yang biasa terdapat pada bahan berbentuk padatan besar. Sehingga serat menyerupai kristal tunggal tanpa cacat dan dengan demikian kekuatannya sangat besar. Serat sintetis merupakan serat modifikasi dari serat polyester. Terdapat berbagai jenis serat sintetis yaitu serat gelas,karbon,rayon,akril dan nilon.

2.6.1 Serat Gelas

 

Serat gelas banyak digunakan sebagai bahan penguat dalam komposit. Serat gelas mempunyai kekuatan tarik yang tinggi serta tahan terhadap bahan kimia dan mempunyai sifat isolasi yang baik. Sementara itu kekurangan dari serat gelaas ini adalah modulus tariknya rendah, massa jenis relatif tinggi,sensitif terhadap gesekan dan tingkat kekerasannya tinggi. Fungsi utama dari serat gelas yaitu sebagai penopang kekuatan dari komposit, sehingga tinggi rendahnya kekuatan komposit tergantung dari serat yang digunakan. Karena tegangan yang dikenakan pada komposit mulanya diterima oleh matriks yang diteruskan oleh serat, sehingga serat akan menahan beban sampai beban maksimum. oLeh karena itu, serat haruslah mempunyai tegangan tarik menarik dan modulus elastisitas yang tinggi.

 

2.6.2 Potensi Dari Serat Sintetis

 

Sebagai bahan pertimbangan saat ini industri TPT nasional cenderung menggunakan serat sintetis sebagai pengganti dari serat alam seperti kapas. Potensi yang dimiliki serat sintetis hampir sama dengan kapas, sehingga serat sintetis ini dijadikan produk substitusi untuk memproduksi produksi teksf11. Viscose adalah serat buatan pertama dalam industri tekstil yang dihasilkan dari pulp kayu pinus. Potensi pasar serat viscose di Indonesia cukup besar, ha1 ini disebabkan karena jumlah perusahaan yang memproduksi serat viscose di Indonesia hanya dua yaitu PT SPV dan PT Indobarat Rayon. Pada tahun 2005, pangsa pasar PT SPV mencapai 46.67 persen dan sisanya sebesar 33.33 persen dimiliki PT Indobarat Rayon. Sedangkan pangsa pasar untuk serat viscose sebagai bahan tissue danpampers seluruhnya dikuasai oleh PT SPV.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1 Kesimpulan

 

Pemanfaatan hutan selama ini masih memandang hutan sebagai sumberdaya alam penghasil kayu. Kondisi ini mendorong eksploitasi kayu secara intensif untuk memenuhi pasar dunia maupun industri domestik tanpa memperhatikan nilai manfaat lain yang dapat diperoleh dari hutan dan kelestarian ekosistem hutan. Sebagai akibat dari pemahaman tersebut telah terjadi penurunan luas, manfaat dan kualitas ekosistem hutan. Hutan sebagai sistem sumberdaya alam memiliki potensi untuk memberi manfaat multiguna, di samping hasil kayu, hutan dapat memberi manfaat berupa hasil hutan bukan kayu dan lingkungan. Hasil riset menunjukkan bahwa hasil hutan kayu dari ekosistem hutan hanya sebesar 10 % sedangkan sebagian besar (90%) hasil lain berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang selama ini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

 

Dari ke enam jenis bahan yaitu kayu, papan partikel, rotan, bambu, serat alam maupun serat sintetis merupakan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu yang masing-masing memiliki potensi dan keguanaaan yang berbeda-beda. Dan dari penjelasan diatas dapat diketahui bagaimana potensi yang dimiliki oleh kayu, papan partikel,rotan,bambu,serat alam dan serat sintetis. Dan potensi-potensi ini merupakan salah satu sumber pendapatan bagi negara indonesia, sehingga perlu diperhatikan pertumbuhannya, agar tetap terjaga ketersediaannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

——————-. 2012. Konversi Fisis Biomassa. Asian  Biomass Handbook. Diakses Pada Tanggal 15 Oktober 2012. Pukul 13.00 WIB

——————-. 2012. Komposit Epoksi Berpenguat Serat Jute. Diakses Pada Tanggal 15 Oktober 2012 . Pukul  16.00 WIB

Jasni, D. Martono Dan Nana Suprianal. 1999. Sari Hasil Penelitian Rotan. Diakses Pada Tanggal 14 Oktober 2012 . Pukul 19.05 WIB

Taskirawati, Ira. S. Hut.,Msi Dan Ir. Baharudin, Mp. 2009. Hasil Hutan Bukan Kayu. Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanaudin

Prof. Dr.Ir. Adji Sastrosupadi. 2006. Potensi Jawa Timur Sebagai Penghasil Serat Alam Untuk Berbagai Agroindustri. Sinar Tani Edisi 12-18

F., Streptiadi, Budi Dan Eddy Sudarmanto. 1998. Material Kayu. Jakarta. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Depdikbud

Polosakan,Ruddy. 2011. Keanekaragaman Jenis Pohon Dan Potensi Pemanfaatan Kayu Oleh Masyarakat Di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pusat Penelitian Biologi-LIPI.Sukabumi

Pujo, Imam Mulyanto Dan Sarjito Jokosisworo. 2008. Analisa Teknis Penggunaan Serat Kulit Rotan Sebagai Penguat Pada Komposit Polimer Dengan Matriks Polyesteryucalac 157 Ditinjau Dari Kekuatan Tarik Dan Tekuk. Jurnal Teknik Perkapalan. Vol 5 No. 3. Universitas Diponegoro

Your Reply

*