Emotional Execution dalam Edukasi Kependudukan

Untitled

 

Berdasarkan perkiraan penduduk dunia, kepadatan populasi manusia kian bertambah dua kali lipat dalam jarak per 20 tahun. Ledakan jumlah manusia ibarat bom waktu, mudah dibuat namun sulit dikendalikan. Masalah kependudukan tidak bisa lepas dari isu-isu lingkungan hidup, sehingga menjadi masalah karena dibiarkan terus-menerus. Bisa jadi kependudukan merupakan alasan utama mengapa Indonesia hanya begini-begini saja, meskipun ada negara-negara tertentu yang bisa sukses dengan penduduk banyak. Menilik sejarah pertumbuhan penduduk dan prestasi Indonesia, apabila dibuat grafik X-Y, maka panah akan bergeser mendekati sumbu X. Bukti bahwa kependudukan di Indonesia adalah suatu masalah bisa dilihat dari tinjauan berbagai segi. Dari kualitas sumber daya manusia tingkat regional, Indonesia tertinggal jauh dari Singapura (Asian Productivity Organization, 2012). Padahal, jumlah penduduk Singapura jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk Indonesia (Sensus Penduduk, 2010). Singapura memiliki catatan laju pertambahan penduduk terkecil se-ASEAN dalam enam tahun terakhir (Republika, 2010). Dari segi lingkungan hidup, Indonesia jauh dibawah nilai rata-rata dunia di kisaran 80 – 90% (Kementerian Dalam Negeri, 2013). Walaupun pemerintah Indonesia menjanjikan akan melakukan peningkatan skill maupun mengeluarkan beragam kebijakan untuk mendorong peningkatan kualitas lingkungan hidup, banyak pihak akan skeptis dengan solusi-solusi ini. Laju pertumbuhan tidak diimbangi dengan daya dukung lingkungan bahkan daya dukung lingkungan menurun karena laju pertumbuhan penduduk. Intinya pada sebuah perubahan, butuh suatu ketegasan untuk merubah ‘kebiasaan’. Break the habit.

Manusia modern pada umumnya sudah berpikir rasional. Apabila dalam suatu pesan komunikasi ingin diberi ketegasan ada salah satu pendekatan yang disebut pendekatan emosional. Pendekatan ini akan menggugah rasa takut di dalam diri seseorang, sehingga ia akan berpikir ulang bahwa pesan komunikasi tersebut akan membahayakan bila dilanggar. Perlu diperhatikan pada konsep eksekusi ini bahwa informasi yang disampaikan harus membantu mengatasi masalah. Contohnya asuransi, masalah kependudukan tidak bisa dilihat dampaknya sekarang, butuh waktu untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Pendidikan remaja putri adalah hal yang paling sering menjadi kambing hitam. Pendidikan dinilai dapat menggeser konsep kependudukan dari segi kuantitas menjadi kualitas. Namun, hal kontradiktif yang terjadi adalah semakin pintar populasi manusia itu, semakin mereka bersaing, maka degradasi lingkungan semakin meningkat. Ingat bahwa manusia merupakan pemegang peranan vital terhadap perubahan ekosistem, karena manusia memiliki akanl. Konsep dikotomis seperti ‘kepintaran’ tidak pernah dimunculkan di negara berkembang, karena konsep pendidikan hanya manjur di negara maju, meskipun lahan pendidikan di Indonesia semakin banyak.

Perlunya sebuah ketegasan terhadap kependudukan berawal karena perubahan sistem politik, dari otoriter menjadi demokrasi. Alhasil, pengusungan konsep demokrasi tidak berjalan sesuai angan-angan. Begitu pula masalah kependudukan, semakin tahun semakin semrawut. Contoh saja, karena penduduk yang banyak maka sampah pun menumpuk, ini termasuk bagian isu lingkungan hidup. Indonesia mayoritas penduduknya muslim, dan agama Islam mencintai kebersihan sehingga bersih adalah bagian dari iman, namun mengapa di Indonesia banyak sampah bercecer dimana-mana? Dalam edukasi kependudukan, penegasan sering diabaikan. Laju pertambahan penduduk Indonesia masih tinggi, sedangkan kebijakan program Keluarga Berencana (KB) tidak lagi dipegang oleh pemerintah pusat. Karena sistem otonomi ini, agaknya pemerintah daerah kurang memonitor dan mengevaluasi beberapa program. Sedangkan program Keluarga Berencana seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah, sementara pemda tidak berkomitmen tentang kependudukan karena banyak kepentingan politis yang menginginkan hal terjadi secara instan.

Pendekatan dengan emotional execution membutuhkan komitmen dari banyak pihak. Dalam desain visual mengenai informasi, konten dan materi dalam poster harus dibuat menarik. Terkait dengan berbagai poster ataupun selebaran yang ada selama ini, pesan yang ada kurang menunjukkan daya tarik yang baik. Apabila Keluarga Berencana merupakan sebuah produk, maka akan kalah bersaing dengan produk komersial. Produk komersial yang menggunakan branding dari segi konten lebih menarik, dari segi materi juga sederhana dan mudah diingat. Dari sebuah pemilihan kata bisa mempengaruhi pikiran orang. Sebagai contoh, “Keluarga Berencana agar masa depan berkualitas”. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa Keluarga Berencana memang dirancang untuk membentuk kehidupan yang berkualitas (dari berbagai sektor). Manusia hanya mampu menggunakan sedikit persen otaknya untuk mengingat, maka pemilihan kata yang simpel dan menjanjikan, merupakan salah satu bentuk cara agar manusia selalu ingat. Di mana letak emotional execution? ‘Agar masa depan berkualitas’ adalah jawabannya. Coba kalimat tersebut dibaca berulang, kata ‘agar’ memiliki penekanan bahwa tanpa Keluarga Berencana yang ada hanya masa depan suram. Pemilihan kata ‘agar’ dan ‘masa depan’ berkualitas merupakan penekanan inti dari pesan komunikasi. Dengan adanya emotional execution akan muncul suatu tekanan dan sisi kesadaran dari orang yang membacanya terutama bagi manusia usia 20 tahun ke atas. Pada umumnya emotional execution bersifat menakut-nakuti dan hal itu wajar dilakukan apabila menginginkan perubahan yang baik. Ingat, Indonesia adalah negara demokrasi, namun laju pertumbuhan penduduk wajib ditekan.

Copyright © 2021 — Ludya Wahyu Pratiwi's | Site design by Trevor Fitzgerald