Memoar Persahabatan Hamka dan Soekarno

Posted: 20th November 2018 by Hendra Saputra in Biography, History
Tags: , ,
Comments Off on Memoar Persahabatan Hamka dan Soekarno

21 dari 837 halaman yang baru saya baca. Tapi halaman sesingkat itu sudah cukup membuat saya merinding karenanya. Dari halaman sesingkat itu saya pun tersadar akan sesuatu hal. Suatu jawaban dari pertanyaan “Kenapa ya Indonesiaku sekarang seperti ini? Tidak seperti dulu yang walau baru merdeka tapi sangat disegani di dunia Internasional. Bahkan diperebutkan oleh dua kekuatan adidaya saat itu, AS dan Rusia”.

Sedangkan kini kita hanya menjadi sekedar pelengkap hidangan penutup bagi negara-negara berkuasa. Kekayaan alam kita diangkut sekenanya dan menyisakan kesengsaraan bagi rakyat.  Para elit politik sedang sibuk memikirkan kursi kekuasaan mereka tanpa dedikasi yang utuh untuk Indonesia. Penguasa parlemen yang seharusnya mewakili suara rakyat tapi kini kehilangan perannya. Mereka lebih takut diskors oleh partainya dari pada didemo oleh rakyat. Sehingga jadilah mereka hanya sebatas “petugas partai”.

Minggu, 21 Juni 1970 baris pertama pada buku ini dimulai. Sebuah hari duka yang akan selalui diingat sebagai hari terakhir Presiden Soekarno. Sebuah pagi berkabung yang diselimuti awan mendung. Kabar wafatnya Presiden Soekarno menyebar ke seantero negeri melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI) dan layar Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Berita itu menjadi headline utama pembicaraan rakyat dimanapun mereka berada. Sampai pada malam itu, jamaah sholat Isya Masjid Agung Al Azhar turut juga dalam membicaarakan berita itu sambil menunggu sang imam datang. Buya Hamka.

Selepas mengimani jamaah di masjid itu, Buya Hamka langsung bergegas balik ke rumah. Karena sedang ada tamu penting yang menunggu di rumah. Sesampainya di rumah, tamu penting itu ternyata adalah dua orang pejabat pemerintahan yang membawa pesan penting dari Bung Karno untuk Buya Hamka. Isi pesan itu adalah “bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku”.

Enam tahun silam Buya Hamka dipenjarakan dengan tuduhan terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Tapi hari itu sahabat lama yang memenjarakannya itu malah memintanya untuk menjadi orang terakhir yang mengurusi jenazahnya. Tak ada dendam dari Hamka terhadap sahabat lamanya yang membuatnya menderita selama 2 tahun 4 bulan di penjara. Yang ada hanyalah kenangan manis saat pertemuaan pertama mereka di Bengkulu yang menjadi awal persahabatan mereka selama 30 tahun berikutnya.

Dari halaman yang sesingkat itu saya ditunjukkan bagaimana arti dari pentingnya membaca. Dari halaman yang sesingkat itu saya seolah-olah ditunjukkan jawaban atas kegelisahan saya di atas. Mungkin yang menjadi penyebabnya adalah karena Indonesia kehilangan sosok pemimpin seperti mereka. Sosok-sosok pemimpin yang begitu garang memperjuangkan kepentingan rakyat. Yang setiap nafas tindakannya adalah demi kebaikan Rakyat Indonesia. Yang cerdas dan elegan dalam menanggapi setiap perseteruan. Tapi di luar itu mereka menampakkan kepada publik bahwa kita satu Indonesia.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa para pemimpin kita dan memberikan hidayahnya kepada mereka.

wallahu a’lam bishawab

 

Sebuah novel biografi Buya Hamka yang ditulis oleh Haidar Musyafa

 

yang membaca dan menceritakan,

Hendra Saputra