Digitisasi, Digitalisasi, Transformasi Digital

Paradigma digital mengubah kehidupan dan budaya manusia, termasuk aspek ekonomi dan bisnisnya. Sebagai efek baliknya, terjadi berbagai penafsiran atas fenomena digital, pada sisi teknologi, bisnis, budaya, hingga filosofinya, dari berbagai diskursus yang berbeda, yang pada akhirnya menyulitkan pendefinisian atas hal-hal yang fundamental dalam paradigma digital ini.
Untuk mulai menyusun pembakuan, digunakan tata istilah yang dipahami dalam arsitektur ekosistem digital sebagai berikut:

Digitisasi
Digitisasi berarti mendigitalkan data dan informasi ke dalam bentuk yang dapat disimpan, dicari, diolah, dan diintegrasikan. Digitisasi bukan saja mengubah data analog menjadi digital, melainkan meliputi pengolahan data yang kurang terstruktur menjadi lebih terstuktur, pembacaan data melalui sensor dan perangkat IoT lain ke dalam domain digital, serta standardisasi data digital lama ke dalam bentuk bersama yang dapat diintegrasikan.

Digitalisasi
Digitalisasi berarti mendigitalkan proses-proses kerja di dalam organisasi, termasuk bisnis, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung fungsi-fungsi perusahan. Pendigitalan proses ini memerlukan data terintegrasi yang telah disiapkan melalui digitisasi.

Transformasi Digital
Digital Transformation atau transformasi digital, pada intinya adalah menyusun transformasi bisnis dengan dasar analisis dan formulasi yang sarat akan pemanfaatan teknologi, proses, dan budaya digital untuk memberikan nilai maksimal bagi pemangku kepentingan (stakeholder). Maka transformasi digital mengandung unsur:
* Penyusunan strategi digital yang didorong kapabilitas digital
* Penyusunan model bisnis digital yang meningkatkan nilai kustomer
* Penerapan arsitektur digital untuk perencanaan perubahan

Kapabilitas Dinamis

Tujuan utama dalam manajemen strategis adalah mengkaji cara mencapai dan menjaga keunggulan kompetitif. Namun tantangan terbesar saat ini adalah perubahan yang terjadi dengan cepat. Pendekatan kapabilitas dinamis adalah paradigma strategi yang relevan dengan deskripsi Schumpeterian atas kompetisi yang berdasar inovasi, persaingan harga/kinerja, peningkatan laba, dan “penghancuran kreatif” atas kompetensi yang dimiliki.

Paradigma strategi lain yang sebelumnya pernah dominan adalah “kekuatan kompetitif” yang diajukan Porter (1980), yang berfokus untuk menghadang kekuatan kompetitor. Paradigma lain adalah pendekatan konflik strategis, berfokus pada interaksi strategis, dengan memanfaatkan game theory untuk mempengaruhi perilaku pasar dan para pesaing. Kedua paradigma ini memandang bahwa keberhasilan bisnis berasal dari posisi produk di pasar yang lebih baik.

Pendekatan ketiga — disebut resource based perspective — berfokus membangun keunggulan kompetitif melalui keunggulan efisiensi level perusahaan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan kapabilitas spesifik bagi perusahaan. Masalah keberlanjutan (sustainability) turut dikaji, danmun tidak secara spesifik.

Pendekatan kapabilitas dinamis adalah komponen lain dari pendekatan berbasis efisiensi — yaitu mengkaji bagaimana kombinasi dari kompetensi dan sumberdaya dapat dikembangkan, digelar, dan dilindungi (Teece 1997). Perbandingan antara pendekatan kapabilitas dinamis dan pendekatan lain dipaparkan di bawah ini.

Teece (2012) merumuskan bahwa kapabilitas dinamis merupakan kompetensi tingkat tinggi yang menentukan kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan, membangun, merekonfigurasi sumber daya atau kompetensi internal untuk mengatasi (atau justru dalam membentuk) lingkungan bisnis yang berubah cepat. Respons inovatif diperlukan saat timing menjadi kritis, perubahan teknologi sangat cepat, dan terjadi ketidakpastian pada pasar dan kompetisi. Paradigma ini harus berfokus pada kapabilitas, untuk menegaskan peran dari manajemen strategis dalam melakukan adaptasi, integrasi, serta rekonfigurasi atas sumberdaya internal dan eksternal perusahaan.

Inti pembentukan kapabilitas dinamis adalah melalui pengembangan aktivitas kewirausahaan, yaitu penciptaan karakteristik internal yang tak dapat direplikasi melalui kontrak, yang terdiri atas proses organisasi, yang pada gilirannya dibentuk oleh posisi aset, dan path yang tersedia. Posisi dalam hal ini adalah penyediaan teknologi, kekayaan intelektual, aset pelengkap, basis kustomer. Sedangkan path adalah alternatif strategis yang dapat dilakukan oleh perusahaan Proses organisasi terdiri atas koordinasi dan integrasi (statis), pembelajaran (dinamis), dan rekonfigurasi (transformasional).

Koordinasi dan integrasi meliputi juga aktivitas dan teknologi eksternal, termasuk pemanfaatan kemitraan dan aliansi. Pembelajaran pun memiliki dimensi pembelajaran antar-organisasi. Rekonfigurasi memerlukan perhatian atas lingkungan dinamis.

Berkaitan dengan lingkungan dinamis, Teece (2014) menambahkan bahwa aspek inti dari kapabilitas dinamis meliputi: pengenalan dan penilaian peluang (sensing); mobilisasi sumber daya untuk merebut peluang (seizing), dan melakukan pembaharuan terus menerus (transforming).

Beberapa sumber lain yang menelaah kapabilitas dinamis, a.l.

  1. Teece (2007)
    Perusahaan harus selalu merekonfigurasi kapabilitas untuk menghidari kelembaman. Caranya, perusahaan harus mengenali dan merebut peluang, menghindari ancaman, dan menjaga daya saing melalui peningkatan dan rekonfigurasi aset.
  2. Zahra, Sapienza, & Davidsson (2006)
    Kapabilitas dinamis memungkinkan perusahaan melampaui rutinitas saat ini, untuk menyelesaikan masalah dalam lingkungan yang terus berkembang
  3. Ambrosini & Bowman (2009)
    Kapabilitas dinamis kemampuan tingkat tinggi yang berorientasi masa depan
  4. Helfat & Peteraf (2003)
    Kapabilitas dinamis tidak dapat begitu saja menghasilkan produk yang laku dipasarkan
  5. Blome dkk (2013)
    Ketangkasan adalah kapabilitas dinamis yang penting
  6. Ambrosini & Bowman (2009); Zahra dkk (2006)
    Kapabilitas dinamis dapat memiliki efek positif, netral, atau negatif bagi kinerja bisnis perusahaan. Ini yang membedakan dengan kapabilitas biasa.
  7. Drnevich & Kriauciunas (2011);
    Kapabilitas dinamis dianggap lebih penting dalam lingkungan dinamis
  8. Schilke (2014)
    Saat kedinamisan lingkungan sedang rendah, keuntungan potensial dari kapabilitas dinamis menjadi terbatas karena terlalu sedikit hal yang dapat memanfaatkannya secara efektif

Hello World!

Selamat datang ke blog saya. Saya Kuncoro Wastuwibowo. Blog ini adalah efek samping dari penjelajahan saya di bidang yang bagi saya cukup baru, yaitu manajemen bisnis. Diharapkan ruang ini bisa saya gunakan untuk belajar dan berbagi.

Di luar blog ini, saya dapat dihubungi melalui DM Twitter saya dengan account @kuncoro.