Sosiologi Pertanian

CARA BERCOCOK TANAM DI LADANG

            Teknologi bercocok tanam di ladang menyebabkan suatu komu­nitas desa berpindah-pindah yang sangat berbeda dengan komunitas desa menetap yang didasarkan pada teknologi bercocok tanam di sawah. Teknologi bercocok tanam di ladang memerlukan tanah yang luas di suatu daerah yang masih merupakan hutan rimba yang sedapat mungkin masih perawan. Para petani mulai membuka suatu la­dang dengan membersihkan belukar bawah di suatu bagian tertentu dari hutan, kemudian menebang pohon-pohon besar. Batang-batang, cabang-cabang,  dahan-dahan serta daun-daun dibakar, dan dengan demikian terbukalah suatu ladang yang kemudian ditanami dengan bermacam tanaman tanpa pengolahan tanah yang berarti, yaitu tanpa dicangkul, diberi air atau pupuk secara khusus. Abu yang berasal dan pembakaran pohon cukup untuk memberi kesuburan pada tanaman. Air pun hanya yang berasal dari hujan saja, tanpa suatu sistem irigasi yang mengaturnya. Metode penanaman biji tanaman juga sangatlan sederhana.

Teknik bercocok-tanam seperti itu menyebabkan adanya sebutan slash and burn agriculture, atau “bercocok-tanam menebang dan membakar”, yang seringkali diberikan oleh para ahli kepadanya; se­dangkan sebutan yang lain adalah shifting cultivation, atau “pertanian berpindah-pindah”, yang menggambarkan keadaan bahwa setiap kali setelah suatu ladang terpakai sebanyak dua atau tiga kali panen, tanah yang tak digarap dulu serta tak disuburkan dengan pupuk dan air secara teratur itu, lama-lama akan kehabisan zat hara dan tidak akan menghasilkan lagi. Akibatnya ialah bahwa para petaninya harus meninggalkannya dan membuka ladang baru dengan teknik yang sama, yaitu menebang dan membakar bagian yang baru dari hutan. Petani ladang meninggalkan ladangnya setiap dua-tiga kali panen, dan dalam waktu sepuluh tahun sudah berpindah tempat sebanyak lima-enam kali.

Dapat dimengerti bahwa suatu cara bercocok-tanam seperti terurai di atas memerlukan tanah yang luas. Karena itu cara itu hanya dapat dilakukan di daerah-daerah yang padat penduduknya masih rendah, seperti misalnya di Sumatera yang dalam tahun 1971 padatnya rata-rata sekitar 38 orang tiap kilometer persegi, di Kalimantan dengan rata-rata 9 orang tiap kilometer persegi, atau di Sulawesi de­ngan rata-rata 37 orang tiap kilometer persegi. Di Jawa atau Bali, di mana padat penduduknya dalam tahun itu juga secara respektif ada­lah 565 dan 377 tiap kilometer persegi, tidak mungkin dilaksanakan cocok-tanam di ladang. Cara bercocok-tanam di daerah-daerah ini sebagian besar memang dilakukan dengan irigasi di tanah basah, atau sawah.

BERCOCOK TANAM MENETAP DI JAWA. MADURA, DAN BALI

            Seorang petani di Jawa, Madura atau di Bali, dalam kenyataan menggarap tiga macam tanah pertanian, yaitu: (1) kebun kecil di seki­tar rumahnya; (2) tanah pertanian kering yang digarap dengan mene­tap, tetapi tanpa irigasi, dan (3) tanah pertanian basah yang diirigasi.

Di tanah kebun kecil sekitar rumah, yang di Jawa Tengah dan Timur, dan juga di Bali, disebut pekarangan, seorang petani menanam kelapa, buah-buahan, sayur-mayur, bumbu-bumbu dan lain-lain, yang diperlukannya dalam kehidupan   rumah-tangganya sehari-hari. Di antara pohon buah-buahan terdapat jenis-jenis pohon tinggi yang berumur panjang,  seperti bermacam jenis pohon nangka dan sukun; jenis-jenis pohon setengah tinggi seperti berbagai jenis pohon jambu, lamtoro dan lain-lain; jenis-jenis pohon yang berumur pendek seperti pepaya  dan  pisang;  dan jenis-jenis yang tumbuh  dekat di tanah, atau yang berupa belukar, seperti nenas, salak, atau jeruk. Di antara tanaman bumbu-bumbu banyak yang berupa belukar, tetapi ada pula yang  dipergunakan  untuk  meramu   obat-obatan tradisional. Pekarangan tentu juga mengandung tanaman yang berupa umbi-umbian dan akar-akaran seperti berbagai jenis ubi dan singkong. Tak dapat dilupakan, bahwa di pekarangan sering ada pula kolam ikan yang selain untuk tempat pemeliharaan berbagai jenis ikan, tidak jarang pula dipakai  sebagai tempat buang air. Hasil pekarangan sebagian besar dipergunakan untuk konsumsi sendiri, walaupun tidak sedikit pula yang dijual di pasar desa atau kepada para tengkulak kelapa dan buah-buahan.

Di tanah pertanian kering, yang di Jawa biasanya disebut tegalan, petani-petani menanam serangkaian tanaman yang kebanyakan dijual di pasar atau kepada tengkulak. Tanaman itu adalah antara lain jagung, kacang kedele, berbagai jenis kacang, tembakau, singkong, umbi-umbian, tetapi juga padi yang dapat tumbuh tanpa irigasi. Wa­laupun tidak diirigasi, tanah tegalan biasanya digarap secara intensif, dan tanaman-tanamannya dipupuk dan disiram dengan teratur. Tanah yang menjadi tegalan adalah tanah yang kurang cocok untuk dijadikan tanah basah, karena kemampuannya yang rendah untuk mengandung air, atau tanah yang letaknya di lereng-lereng gunung yang terjal sehingga memerlukan investasi tenaga untuk membangun sistem irigasi yang terlampau tinggi. Proporsi tanah pertanian di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berupa tegalan adalah cukup tinggi, yaitu hampir 40 persen, yang berarti sama dengan pro­porsi tanah pertanian yang berupa tanah basah.

Bercocok tanam di tanah basah atau sawah itu, seperti tersebut di atas memang merupakan usaha tani yang paling pokok dan paling penting bagi para petani di Jawa dan Bali sejak beberapa abad lamanya. Dengan teknik penggarapan  tanah yang intensif dan dengan cara-cara pemupukan  dan irigasi yang tradisional, para petani tersebut menanam tanaman tunggal, yaitu padi. Berbeda dengan cocok tanam di ladang, maka cocok-tanam di sawah dapat dilakukan di suatu bidang tanah yang terbatas secara terus-menerus, tanpa menghabiskan zat-zat hara yang terkandung di dalamnya.

PENGERAHAN TENAGA PADA COCOK TANAM DI SAWAH

            Salah satu cara untuk mengerahkan tenaga tambahan untuk pekerjaan bercocok-tanam secara tradisional dalam komunitas pedesaan adalah sistem bantu-membantu yang di Indonesia kita kenal dengan istilah “gotong-royong”. Sistem pengerahan tenaga seperti itu tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di tempat-tempat lain di dunia, di mana produksi bercocok-tanam secara tradisional masih dominan, yaitu di komunitas-komunitas pedesaan suku-suku-bangsa penduduk Afrika, Asia, dan Oseania, dan penduduk pribumi di Amerika Latin. Sistem gotong-royong sampai masa kini bahkan masih terdapat juga di beberapa tempat di Eropa.

Di Indonesia, dan khususnya di Jawa, aktivitas gotong-royong biasanya tidak hanya menyangkut lapangan bercocok-tanam saja, tetapi juga menyangkut lapangan kehidupan sosial lainnya seperti:

  1. Dalam hal kematian, sakit, atau kecelakaan, di mana keluarga yang sedang menderita itu mendapat pertolongan berupa tenaga dan benda dari tetangga-tetangganya dan orang-orang lain sedesa.
  2. Dalam hal pekerjaan sekitar rumah tangga, misalnya memperbaiki atap rumah, mengganti dinding rumah, membersihkan rumah dari hama tikus, menggali sumur, dan sebagainya, untuk mana pemilik rumah dapat minta bantuan tetangga-tetangganya yang dekat, dengan memberi jamuan makan.
  3. Dalam hal pesta-pesta, misalnya pada waktu mengawinkan anaknya, bantuan tidak hanya dapat diminta dari kaum kerabatnya, tetapi juga dari tetangga-tetangganya, untuk persiapan dan penyelenggaraan pestanya.
  4. Dalam mengerjakan pekerjaan yang berguna untuk kepentingan umum dalam masyarakat desa, seperti memperbaiki jalan, jembatan, bendungan irigasi, bangunan umum dan sebagainya, untuk mana penduduk desa dapat tergerak untuk bekerja bakti atas perintah dari kepala desa.

Dalam pertanian di Jawa, sistem gotong-royong biasanya hanya dilakukan untuk pekerjaan yang meliputi perbaikan pematang dan saluran air, mencangkul dan membajak, menanam dan membersihkan sawah dari tumbuh-tumbuhan liar (matun). Untuk pekerjaan memotong padi dipergunakan tenaga buruh tani wanita dan anak-anak yang diberi upah. Di banyak daerah pedesaan di Jawa sistem gotong-royong dalam lapangan bercocok-tanam juga berkurang, dan diganti dengan sistem memburuh. Upah untuk membayar tenaga buruh da­pat berupa (i) upah secara adat, dan (ii) upah berupa uang.

FRAGMENTASI SAWAH DI JAWA, MADURA, DAN BALI

            Laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat itu, terutama di Jawa memang merupakan sebab utama dari proses makin kecilnya usaha tani secara rata-rata. Menurut sensus pertanian 1963, tanah milik petani di Jawa dan Madura adalah rata-rata 0,7 hektar. Tanah pertanian berupa sawah atau tegalan yang sudah demikian kecilnya itu pada umumnya kemudian dipecah-pecah lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi.

Fragmentasi yang sifatnya ekstrim seperti itu terjadi karena petani pemiliknya membagi-bagi tanahnya untuk digarap oleh sejumlah petani lain dengan berbagai macam cara. Di antaranya ada cara yang paling tradisional, yaitu ketiga adat bagi-hasil: maro, mertelu dan merpat. Pada adat maro, petani yang menggarap tanah akan menerima separuh dari hasilnya, dan pajak tanah ditanggung oleh pemiliknya, sedangkan biaya produksi oleh si penggarap. Pada adat mertelu, perjanjian pembagian hasil adalah duapertiga bagi si pemilik tanah dan sepertiga bagi penggarap, dan mengenai biaya-biayanya perjanjiannya adalah sama seperti pada adat maro. Pada adat merpat, pemilik tanah memperoleh tigaperempat bagian tetapi harus membayar pajak tanah dan menanggung sebagian dari biaya produksi, dan penggarap hanya menerima seperempat bagian dari hasil, dan membayar sisa dari biaya produksi. Yang termasuk biaya produksi adalah pembelian bibit dan pupuk. Penggarap juga menanggung biaya untuk membayar tenaga buruh dan untuk menyewa alat-alat pertanian se­perti bajak dan alat penggaru serta hewan untuk menariknya. Dengan meningkatnya jumlah petani yang tidak memiliki tanah, merpat sekarang menjadi adat bagi-hasil yang paling lazim di Jawa, sedangkan adat maro sekarang hanya dilaksanakan antara para petani yang masih ada hubungan kerabat dekat, misalnya antara ayah dan anak-anaknya atau antara saudara-saudara sekandung.

Proses fragmentasi tanah di Jawa dan Madura memang berjalan terus, dan dengan demikian maka tanah pertanian milik para petani itu menjadi semakin kecil juga. Sensus pertanian 1963 juga menunjukkan bahwa dari 7,94 juta unit tanah milik petani di Jawa dan Madura, hanyalah 1,43 juta digarap sebagai kesatuan yang utuh; 5,11 juta unit tanah milik petani terpecah untuk penggarapannya menjadi dua sampai tiga bagian; 1,07 juta terpecah ke dalam empat sampai lima bagian; 0,3 juta ke dalam enam sampai sembilan bagian; dan 0,02 juta bahkan terpecah ke dalam sepuluh bagian atau lebih.

MOBILITAS KOMUNITAS DESA

            Walaupun penduduk desa biasanya terlibat dalam sektor per­tanian, dalam tiap komunitas desa di seluruh Indonesia sudah jelas banyak terdapat sumber mata pencaharian hidup yang lain. Pendu­duk desa pada umumnya juga terlibat dalam bermacam-macam pekerjaan di luar sektor pertanian, dan mengerjakan kedua sektor tersebut pada waktu yang bersamaan, sebagai pekerjaan primer dan sekunder. Tetapi banyak pula desa-desa, terutama di Jawa, di mana sebagian besar penduduknya bekerja di luar sektor per­tanian. Meskipun demikian kepada pegawai sensus, petugas survai KB, atau kepada para peneliti ilmu sosial, mereka itu biasanya mengidentifikasikan dirinya sebagai petani. Bagi seorang peneliti memang sulit untuk menentukan perbedaan antara petani dan non-petani dan juga antara pekerjaan primer dan sekunder itu, hanya berdasarkan atas pernyataan mereka saja.

Seorang petani yang memiliki sebidang tanah yang cukup luas yang juga memiliki sebuah warung yang dijaga oleh ibunya pada awal musim bercocok-tanam, mungkin menerima penghasilan yang lebih banyak dari warungnya daripada dari hasil kebun pekarangannya yang dijual isterinya di pasar desa. Petani itu sendiri tentu saja sibuk di sawahnya, di sawah tetangganya di mana ia memberikan tenaganya berdasarkan adat gotong-royong, dan juga di pekarangan-nya sendiri, untuk memetik buah-buahan yang kemudian dijualnya sendiri menyusuri jalan-jalan di kota kecamatan terdekat, yang jaraknya bisa mencapai kurang-lebih sepuluh kilometer dari desanya. Dengan demikian seorang petani bersama keluarganya sebenarnya sama sibuknya dalam sektor pertanian maupun dalam sektor perdagangan. Apabila musim panen tiba, maka isterinya akan sibuk mengurus para buruh bawon di sawahnya, membantu bawon di sawah tetangga, dan sementara itu petani itu sendiri masih sibuk menjual buah-buahan di kota dan harus segera kembali lagi ke desa untuk menjual sebagian dari hasil padinya kepada para tengkulak dan BUUD. Selama berlangsungnya kegiatan itu seorang petani sebenarnya adalah seorang pedagang; baru apabila ia mulai menanam palawija di sawahnya, ia mulai aktif lagi dalam sektor pertanian.

KOMUNITAS DESA DAN DUNIA DI LUAR DESA

            Sepanjang masa, sebagian besar komunitas desa di Indonesia, dari daerah Aceh hingga Irian Jaya, telah didominasi oleh suatu kekuasaan pusat tertentu. Banyak di antaranya telah mengalami dominasi itu sejak zaman kejayaan kerajaan-kerajaan tradisional; banyak yang mengalaminya sejak zaman penjajahan Belanda atau Inggris, dan banyak pula lainnya yang baru mengalaminya sejak beberapa waktu terakhir ini. Dengan demikian, juga karena makin berkembangnya kesempatan dan prasarana untuk suatu gaya hidup dengan mobilitas geografikal yang tinggi, pada waktu sekarang ini hampir tidak ada lagi komunitas desa bersahaja yang terisolasi di negara kita ini, yaitu desa dengan penduduk yang tidak sadar akan adanya dunia di luar desa itu.

            Usaha yang penting dari para perencana pembangunan masya­rakat desa adalah untuk selalu menyediakan dan menciptakan adanya kepentingan-kepentingan lokal, yang dapat mengembangkan “lapangan-lapangan sosial” dengan ruang-lingkup lokal. Dengan demikian kecenderungan orang-orang desa untuk pindah ke kota dapat terjaga. Juga usaha pengembangan loyalitas nasional pada penduduk desa di Indonesia sebaiknya merupakan usaha pengem­bangan lebih lanjut dari perhatian mereka terhadap masalah-masalah lokal. Dalam hal ini loyalitas nasional merupakan ekstensi dari loyalitas lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>