0

The Leader In Me

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemimpin/pe·mim·pin/ : orang yang memimpin, petunjuk; buku petunjuk (pedoman). Sedangkan memimpin/me·mim·pin/: mengetuai atau mengepalai, memenangkan paling banyak, memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya); membimbing; memandu; melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya) supaya dapat mengerjakan sendiri. Dari makna kata pemimpin dan memimpin sudah sangat jelas bahwa tugas seorang pemimpin begitu kompleks, tidak hanya melulu bagaimana seseorang bisa mengerahkan bawahannya saja tetapi lebih kepada bagaimana proses seseorang bisa membersamai bawahannya agar tujuan organisasi dapat tercapai.

Menjadi seorang pemimpin menurut saya merupakan sebuah tantangan dimana semua orang wajib memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin atau memiliki jiwa kepemimpinan. Untuk mendapatkan jiwa kepemimpinan tentunya tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Contoh kecilnya saja, terkadang kita masih belum bisa memimpin diri kita sendiri, seperti tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, tidak bisa membagi waktu antara bermain dan kuliah, atau ketika kita hanya menjadi “figuran” di dalam kelompok belajar. Logikanya, kalau kita sendiri belum bisa memimpin diri sendiri bagaimana kita bisa memimpin orang lain?

Hal tersebut yang mendasari saya bahwa jiwa kepemimpinan itu sangatlah penting bagi kehidupan saya nantinya. Karena di masa depan, kita pasti akan menghadapi tantangan-tantangan yang tidak terduga, dan tentunya akan berhadapan dengan orang lain. Untuk mendapatkan jiwa kepemimpinan tersebut, saya mengikuti organisasi di dalam kampus, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Fakultas. Tahun pertama, saya merasakan bagaimana posisi saat menjadi bawahan, yaitu menjadi staff departemen. Kita akan lebih diarahkan, dibimbing, dan bagaimana kita dilatih untuk menghadapi dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Dari situ saya belajar, bagaimana tugas, serta tanggung jawab seorang bawahan akan sangat menentukan kinerja organisasi, dan saya juga belajar bagaimana memimpin diri sendiri agar bisa lebih bertanggung jawab, karena kunci menjadi seorang pemimpin salah satunya ialah bertanggung jawab akan bawahan serta tugas-tugasnya.

Pada tahun kedua, saya diamanahkan untuk menjadi sekretaris departemen. Meskipun tidak menjadi presiden BEM atau Kepala Departemen, menurut saya kepemimpinan juga tetap akan dilatih di jabatan saya. Bagaimana seorang sekdept mampu mengarahkan, membimbing, dan membersamai staffnya agar visi misi dari organisasi dapat terlaksana. Dan juga, saya dituntut untuk mengetahui bagaimana keadaan staff saya, dari situ saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah dan memahami karakter staff yang berbeda-beda serta bagaimana menangani permasalahan yang timbul dengan adanya perbedaan karakter tersebut.

Selain mengikuti organisasi, saya juga mengikuti beberapa program kerja yang diadakan di kampus. Di dalam proker pun sama, saya belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain, bagaimana bekerja sama dengan partner yang sejalan maupun tidak sejalan dengan pemikiran kita, dan bagaimana kita untuk tetap berjalan sesuai dengan timeline atau progress yang diharapkan di program kerja tersebut. Saya juga belajar untuk percaya diri, mampu menerima kritik dan saran, serta berani mengakui kesalahan. Seorang pemimpin nantinya menurut saya tetap harus memiliki sifat yang demikian. Seperti sebuah quotes yang saya tanamkan dalam diri saya yaitu “ True leaders always practice three R’s: Respect for self, Respect for others, and Responsibility for all their actions”. Dan kedepannya yang akan saya lakukan untuk melatih leadership di dalam diri saya adalah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi diri kita maupun orang lain seperti kegiata yang diadakan oleh komunitas, karena dari situ pasti saya akan bertemu lebih banyak orang dengan lingkup yang lebih luas dan tentunya pengalaman serta kesempatan saya untuk menjadi seorang leader sejati akan semakin besar!