Updates from March, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Diana Permatasari Kairupan 10:04 pm on March 27, 2012 Permalink  

    Analisis Drainase, Relief , dan Tone dalam Klasifikasi Bentukkan Lahan 

    Kriteria yang digunakan dalam menguji tingkat kemudahan interpretasi bentukan lahan  ialah :

    1. Relief

    Relief diperinci berdasarkan amplitude , bentuk punggung , bentuk lereng dan bentuk lembah

    2.  Amplitude

    Merupakan beda tinggi antara puncak timbulan dan dasar lekukan (lembah) . amplitude dibedakan menjadi : datar  , Landai  ,berombak , bergelombang  , berbukit kubah ,berbukit dan bergunung .

    Bentuk punggung dibedakan menjadi tajam, membulat ,membulat lebar dan bentuk meja. Bentuk lereng dibedakan menjadi :lurus , cembung ,cekung,cembung , tidak teratur . Bentuk lembah dibedaka menjadi huruf V , huruf U landai, dan berteras.

    3. Drainase (kerapatan dan pola aliran)

    Pola Aliran ( Drainage Pattern )

    Bentuk pola aliran  (drainage pattern) ada bermacam – macam yang

    masing – masing dicirikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut.

    Bentuk pola aliran yang biasa dijumpai ada delapan jenis yaitu :

    • Dendritik.
    • Paralel.
    • Trelis.
    • Rectangular.
    • Radial.
    • Annural.
    • Multibasional.
    • Contorted.

    Bentuk pola aliran dendritik yang lain adalah kombinasi dendritic rectangular . yang terdapat pada batuan metamorfosa dengan puncak membulat. Pola ini memiliki saluran yang hampir sejajar, dalam dan bertekstur halus hingga sedang. Bentuk ini terjadi pada daerah basah. Pada daerah kering dengan batuan metamorfosa dengan bentuk topografi berpuncak sejajar pola yang terbentuk adalah dendritik rectangular halus

    . Bentuk semacam ini terjadi pada daerah kering .

     

    Pada batuan beku , bentuk pola aliran yang terbentuk sedikit berbeda dengan yang telah dikemukakan diatas. Pada topografi menyerupai bukit membulat di daerah basah, pola aliran yang terbentuk adalah dendritik medium

     

     

            3. Tone analysis

    Terdiri dari rona dan warna. Rona alah tingkat kegelapan atau kecerahan objek pada citra . adapun warna adalah wujud yang tampak oleh mata . rona ditunjukkan dengan gelap-putih . ada tingkat kegelapan warna biru ,hijau ,merah , kuning dan jingga . rona dibedakan atas lima tingkat yaitu putih , kelabu putih ,kelabu ,kelabu hitam . Karakteristik obyek yang mempengaruhi rona, permukaan yang kasar cenderung menimbulkan rona yang gelap , obyek yang basah /lembap cenderung menimbulkan rona gelap . contoh pada foto pankromatik air akan tampak cerah

    Sumber Gambar :
    http://www.bpdas-pemalijratun.net/referensi/program/karakteristikjragungtuntang.pdf

     
  • Diana Permatasari Kairupan 11:26 am on March 27, 2012 Permalink  

    Proses Denudasi&Sedimentasi 

    Denudasi

    Denudasi meliputi dua proses utama yaitu Pelapukan dan perpindahan material dari bagian lereng atas ke lereng bawah oleh proses erosi dan gerak massa batuan (masswashting).

    Pelapukan
    Pelapukan adalah proses berubahnya sifat fisik dan kimia batuan di permukaan dan atau dekat permukaan bumi tanpa di sertai perpindahan material. Pelapukan dapat dibagi manjadi pelpukan fisik, dan pelapukan biotic. Pelapukan fisik merupakan proses pecahnya batuan menjadi ukuran yang lebih kecil tanpa diikuti oleh perubahan komposisi kimia batuan. Perubahan kimia merupakan proses berubahnya komposisi kimia batuan sehingga menghasilkan mineral sekunder.

    Factor pengontrol pelapukan adalah batuan induk, aktivitas organism, topografi, dan iklim. Didalam evolusi bentanglahan yang menghasilkan bentuklahan dedasuonal M. W. Davis mengemukakan adanya3 faktor yang mempengaruhi perkembangan bentuklahan struktur geologi, proses geomorfologi, waktu. Dengan adanya factor tersebut maka dalam evolusinya, bentuklahan melewati beberapa stadium ; stadium muda, stadium dewasa, stadium tua.

    Banyak klasifikasi gerak massa batuan tetapi semuanya dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe gerakannya

    a. Gerakan lambat
    Tipe ini disebut tipe rayapan ; (rayapan tanah, rayapan batuan, rayapan batuan gletsyer, dan solifluction.

    b. Gerakan cepat
    Tipe ini disebut tipe aliran ; (aliran lumpur , aliran tanah)

    c. Gerakan sangat cepat
    Tipe gerakan ini disebut longsorlahan (landslide) yang terdiri dari Jatuh bebas : rock-fall, earth-fall Longsoran : rockslide, earthslide, debrisslide

    d. Terban
    Jatuhnya material batuan secara vertical tanpa adanya gerakan horizontal.

    Bentukan lahan asal denudasional
    1. Pegunungan denudasional
    2. Perbukitan denudasional
    3. Perbukitan terisolasi
    4. Nyaris dataran
    5. Lereng kaki
    6. Gabungan kipas kolluvial
    7. Dinding terjal
    8. Rombakan kaki lereng
    9. Lahan rusak
    10. Daerah dengan gerak massa
    11. Kerucut talus
    12. Monadnock

    contoh dinding terjal di depan Kaldera  Gunung Kelud, Tebing Sumbing

    Sedimentasi ( pengendapan )

    Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin .

    Proses sedimentasi atau pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya :
    a. Pengendapan air ( akuatik)

    a)    Meander

    Meander merupakan sungai yang berkelok – kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai dari sungai bagian hulu.Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil.  Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepi sungai yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander.

     Meander biasanya terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisandan Pengendapan terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yangterjadi secara terus menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran sungai, Sehingga terbentuk oxbow lake.

    b)   Delta

    Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan – lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta. Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus panjang disepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal. Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas.

    c)    Dataran banjir dan tanggul alam

    Apabila terjadi hujan lebat, volume air meningkat secara cepat. Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada saat air surut,bahan bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di tepi  sungai. Akibatnya, terbentuk suatu Dataran di tepi sungai. Timbulnya material yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai. Akibatnya tepi sungai lebih tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang alam itu disebut tanggul alam.

    b. Pengendapan air laut ( sedimen marine)

    a)    Slip dan Tombolo

    Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine.Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alamhasil pengendapan oleh air laut, Antara lain pesisir, spit, tombolo, danpenghalang pantai.Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat berfariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjad perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu Disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai (barrier beach).

    Apabila di sekitar spit terdapat pulam, biasanya spit akhirnya tersambung dengan daratan, sehingga membentuk tombolo.

    c. Pengendapan Angin (sedimen aeolis)

    Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan Pasir di sua tu tempat secara bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.

     d. Pengendapan oleh gletser

    Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V menjadi berbentuk U.

    Dampak positif tenaga eksogen antara lain:

    1. Memunculkan habitat.

    2. Memperluas daratan di bumi.

    3. Memperdekat barang tambang ke permukaan bumi.

    Meskipun begitu tenaga eksogen juga mempunyai dampak negatif yang bisa merugikan manusia. Dampak negatif tersebut antara lain:

    1. Kesuburan tanah bisa berkurang (dampak dari erosi).
    2.  Hasil-hasil erosi yang diendapkan (sedimentasi) di muara sungai mengakibatkan  pendangkalan dasar sungai.
    3.  Abrasi dapat menghilangkan garis pantai hilang dihantam
      Lokasi Kecamatan Wates terletak di Kabupaten Blitar bagian Selatan yang memiliki satuan morfologi perbukitan sedimen dengan bukit bergelombang dan kemiringan landai yaitu antara 10-30% yang membentuk punggung bukit tidak teratur.

    Contohnya pada Lokasi Kecamatan Wates terletak di Kabupaten Blitar bagian Selatan yang memiliki satuan morfologi perbukitan sedimen dengan bukit bergelombang dan kemiringan landai yaitu antara 10-30% yang membentuk punggung bukit tidak teratur.

     

     

     
    Pantai Jolosutro berada di desa Ringenrejo, kecamatan Wates, berjarak sekitar 45 km dari kota Blitar.

    Di pantai jolosutro,  terdapat sedimen eolin.Pantai Jolosutro merupakan pantai bagian dari kawasan Laut pantai Selatan yang  terletak di sebuah teluk kecil yang diapit perbukitan dengan garis pantainya yang panjang berpasir hitam. Sementara itu, bagian tengah pantai menyimpan butiran pasir hitam yang serupa. Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis/eolin .

    Sumber Gambar  :

    http://www.eastjava.com/tourism/blitar/ina/jolosutrobeach.html

    http://ayukpiyuk.blogspot.com/2011/11/tebing-unik-indonesia.html

    http://haristepanus.wordpress.com/2011/08/07/tenaga-eksogen-pelapukan-erosi-sedimentasi/

     
  • Diana Permatasari Kairupan 10:04 pm on March 13, 2012 Permalink  

    Kota Blitar (Proses Tektonisme) 

    Nama                            : Diana Permatasari Kairupan

    Nim                               : 09101480213

    Kelas                             : B

    Mata Kuliah               : Analisis Lansekap

    Dosen Pengampu     : Dr.Ir. Sudarto, MS

     

    Gempa Blitar Akibat Tumbukan Lempeng Australia dan Eurasia

    Secara tektonisme laut selatan blitar terletak di lempeng Australia dan Lempeng Eurasia .

    Pada tanggal 17 Mei 2011 , kedua lempeng tersebut saling bertubrukan hingga menyebabkan gempa 6,1 SR yang berpusat di 170 Km tenggara Blitar, Jawa Timur (Jatim), juga dirasakan warga di Yogyakarta dan Denpasar

    Indonesia tergolong negara yang rawan terhadap gempa bumi dan tsunami. Itu tidak mengherankan, karena Indonesia berada di ring of fire atau lingkaran api Pasifik.Lingkaran api Pasifik adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Sedikitnya ada 13 wilayah yang paling rawan diayun gempa teknonik bahkan tsunami, karena berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.
    Menurut Pakar Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Lono Satrio , wilayah itu secara geologis berada pada lempeng-lempeng yang membentuk yang membentuk zona gempa bumi.
    Dinamika lempeng-lempeng tersebut membentuk zona gempa .Wilayah yang rawan gempa adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua.
    Gempa bumi terjadi berawal dari gerakan lempeng benua yang mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi, sehingga menyebabkan penumpukan energi di zona tumbukan (subduksi) dan zona patahan yang menimbulkan tekanan, tarikan, dan geseran. Pada saat elastisitas lempeng terlampaui, maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi.

    Menurut Amin Widodo, ahli geologi dan kegempaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), melihat gempa di selatan Blitar yang tidak menimbulkan tsunami, merupakan gempa dangkal yang kedalamannya tak sampai 100 kilometer.

    Tsunami sendiri terjadi jika patahan bumi naik, sehingga air ikut meluap. Di sekitar Blitar sendiri, patahan ini berada di sekitar jarak 200 kilometer dari bibir pantai. Jika tsunami misalnya berkecepatan 600 kilometer per jam, tsunami harusnya sudah sampai di Blitar pada 40 menit setelah terjadinya gempa.
    ,gempa di Blitar ini kemungkinan juga akan disusul gempa-gempa lainnya di sepanjang tumbukan lempeng tersebut. Apalagi, lempeng yang ada di Blitar itu memanjang mulai dari sebelah barat Sumatra, selatan Jawa, selatan NTT, sampai ke Papua

    Titik-titik berwarna hijau  adalah zona gempa bumi dangkal; titik coklat menandai zona gempa bumi dalam; sementara segitiga merah adalah gunung berapi. Terlihat bahwa titik-titik ini terkonsentrasi di daerah sepanjang pertemuan lempeng benua  segitiga-segitiga berwarna merah di sepanjang peta ditunjukkan oleh gunung berapi

     

    Dalam diskusi di milis Fisika Indonesia (fisika_indonesia at yahoogroups.com)  terungkap bahwa aktifnya lempeng tektonik Asia-Australia ditahun-tahun terakhir ini perlu diwaspadai. Rangkaian pegunungan Bukit Barisan hingga pesisir selatan Jawa-Bali-Lombok akhirnya juga akan terpengaruh aktivitas vulkanismenya. Rangkaian pegunungan (api) tersebut cepat atau lambat akan dipengaruhi oleh tumbukan tektonik dibawahnya yang memberikan tekanan besar pada celah-celah vulkanis diatasnya.

    Tabrakan antar lempeng selain menyebabkan gempa jiga menyebabkan pengangkatan daratan ,terjadinya gunung berapi dan jurang patahan .

    Anonymous.  2005. http://blog.dhani.org/2005/02/lagi-lagi-gempa/. Diakses pada tanggal 13 Maret 2012.

    Anonymous 2010. http://indra-sabosev.blogspot.com/2010/07/penyebab-gempa-di-indonesia.html . Diakses pada tanggal 13 Maret 2012.

    Anonymous . 2011. http://www.sindonews.com/read/2011/10/15/447/515775/13-wilayah-ini-wajib-waspada-gempa. Diakses pada tanggal 13 Maret 2012.

    Anonymous 2011. http://uc1n.blogspot.com/2011/05/gempa-blitar-akibat-tumbukan-lempeng.html. Diakses pada tanggal 13 Maret 2012.

    Anonymous . 2011. http://forum.vivanews.com/berita-dalam-negeri/114666-getaran-gempa-blitar-jangkau-yogya-dan-denpasar.html . Diakses pada tanggal 13 Maret 2012.

     

     
  • Laelatul Nyamiati 1:38 pm on March 2, 2012 Permalink  

    hiiii
    gaya cak pake foto2 segala

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel